07 The Bun is in the Oven

1780 Kata
Ariana POV “Sebelumnya saya minta maaf jika ini terdengar lancang. Satu bulan lalu, dihari jum’at malam saat teman anda nona Shannon Anderson mengadakan pesta lajang, apakah anda menghadirinya?” DEG Apa ini? Bagaimana dia bisa bertanya seperti itu? Apa maksudnya? Tidak mungkin dia tahu aku ada disana, ‘kan? Aku bahkan mengubah penampilanku secara drastis hingga tak seorang pun bisa mengenaliku. Meski saat ini jantungku berdetak dengan sangat cepat bahkan keringat dingin telah membasahi punggungku, untung saja aku masih bisa mengontrol ekspresiku untuk tetap datar. Kupicingkan sebelah mataku seolah tak paham dengan pertanyaannya. Evan pun kembali menundukkan kepalanya seperti biasa dengan canggung. “Darimana kau tahu Shannon mengadakan pesta lajang?” aku balik bertanya untuk mempersiapkan jawaban yang paling tepat. “Ah, itu...saya yang menerima email undangan untuk anda,” jawabnya terbata. “Lalu, kenapa kau menanyakan keberadaanku saat itu?” Dia tampak kebingungan hingga jemarinya saling bertaut dan tampak gusar. Demi keamanan penyamaranku, aku segera menjawab pertanyaan awal Evan sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “Tidak, aku tidak datang dan hanya dirumah!” Jawabku seraya kembali fokus pada dokumen diatas meja. Kegiatan ini hanya kamuflase, sebenarnya aku sangat gugup dan takut akan ketahuan pernah ada di tempat hiburan malam seperti itu. Sangat bukan Ariana. “Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, kembalilah ke tempatmu!” Perintahku mengakhiri diskusi ini. Aku tak ingin semakin terjebak pada pertanyaan-pertanyaannya. “Baik miss, permisi,” balasnya dengan nada yang seolah...kecewa? Kecewa? Karena apa? Sudahlah, tak perlu ambil pusing. Mungkin itu hanya perasaanku. Sebaiknya aku segera menyelesaikan semua pekerjaanku, karena nanti sore aku sudah punya janji yang sangat aku tunggu-tunggu. ♥♥♥ Author POV “Firasat anda benar, nyonya Herbert. Usia janin anda masih sangat muda, empat minggu dan masih cukup rentan. Usahakan anda selalu merasa nyaman dan kurangi pekerjaan berat serta tingkat stress,” ujar seorang berjas putih yang baru saja membersihkan sisa gel dari kulit perut seorang wanita yang berbaring diatas brankar. “Baik, dokter. Terima kasih!” balas wanita yang dipanggil Herbert itu dengan berbinar-binar. Sebelah tangan Herbert membelai perut ratanya penuh harap. Satu tetes air mata pun jatuh membasahi pipinya tanda ia sangat bahagia saat ini. Perjuangannya selama ini tak sia-sia, ia berhasil. “Setelah ini, silahkan ikuti perawat untuk pemeriksaan dasar lalu anda bisa mengambil vitamin penguat kandungan serta obat mual di apotek. Anda bisa mengkonsumsi obat itu jika nanti mulai merasakan mual, tapi jika tidak, tidak dikonsumsi juga tidak apa-apa.” Dokter itu kembali menjelaskan. Tak perlu repot-repot memberikan kertas berisi resep, karena semua sistem telah terhubung secara digital dan pasien hanya perlu mengantre di apotek. Namun, ia tetap mengulurkan buku berisi jurnal kehamilan pada Herbert. “Terima kasih,” balas Herbert sekali lagi seraya menerima bukunya. “Pemeriksaan selanjutnya bisa dilakukan setiap empat minggu sekali atau saat keadaan darurat. Dan sebaiknya anda juga datang bersama suami agar beliau bisa mendapatkan informasi secara faktual.” “Suami saya sudah kembali bekerja di tempat yang jauh, dok. Saya juga menyesal tidak bisa memberitahunya kabar bahagia ini secara langsung.” “Ah, maaf nyonya, saya tidak bermaksud,” “Tidak apa-apa, dok! Sudah biasa,” Balas Herbert maklum. “Kalau begitu saya permisi, dok!” “Iya, nyonya. Sampai bertemu lagi bulan depan.” Herbert berjalan seorang diri keluar ruangan dengan perasaan yang membuncah. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju apotek seperti anjuran dokter. ♥♥♥ Ariana POV “Nyonya Rose Herbert!” “Ya!” Aku berdiri begitu nama itu dipanggil. Benar, itu adalah aku yang kembali menggunakan identitas samaran agar tak ada orang yang mengetahui tentangku. Bagaimanapun, gadis billionaire sebatang kara dengan kisah hidup menyayat hati sepertiku akan selalu menjadi pusat perhatian orang-orang, apalagi media. Karena itulah aku menggunakan nama tengah serta maiden name mendiang mommy. Tak lama kemudian, aku menerima setumpuk vitamin serta obat untuk kehamilanku yang baru berusia satu bulan ini. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan buah hatiku. Dia akan menjadi hartaku yang paling berharga nantinya. “Sehat terus ya birdy,” gumamku sambil membelai lembut perutku. Ah, birdy. Bagaimana bisa aku menyebut anakku seperti itu? Apa karena aku selalu mengingat ayahnya yang memiliki tato burung? Mungkin saja. Tapi itu memang terdengar lucu dan menggemaskan. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirku. Sebuah ekspresi yang sudah bertahun-tahun kulupakan. Tapi sepertinya mulai hari ini aku akan semakin sering menunjukkannya, terutama saat berada di area pribadiku seperti mansion. “Lani! Kemarilah!” Seruku cukup kencang begitu memasuki area ruang tamu. Wanita berusia hampir lima puluh tahun tersebut dengan tergopoh-gopoh mendekat kearahku. Ia memberikan gerak-gerik terintimidasi serta gusar saat ini. Sepertinya aku berteriak terlalu keras dan tiba-tiba hingga membuatnya bereaksi seperti itu. Aku hanya sedang terlalu bersemangat, bukan marah. “Iya, nn-nona!” Lani terbata sambil menundukkan kepalanya. “Mulai hari ini, jauhkan alkohol dariku serta siapkan makanan serta minuman yang sesuai untuk ibu hamil!” Perintahku cukup mengejutkannya. Tampak dari ekspresi Lani yang saat ini sedang bertanya-tanya dan keheranan. “Nn-nona hamil?” “Ya,” jawabku singkat. Wanita itu terhenyak dan semakin bingung. “Kau tidak akan bertanya mengenai siapa ayahnya, ‘kan?” “Ah, nona... itu...” “Kau tidak perlu tahu! Cukup lakukan saja perintahku.” Kemudian aku berjalan melaluinya untuk menuju kamar. Namun, sebelum benar-benar menjauh, masih ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada kepala pelayanku ini. “Pastikan juga orang luar tidak tahu apa-apa tentang kehamilanku!” “Baik, nona!” Bukan tanpa alasan aku membuat perintah itu. Jika hidupku sendiri saja bisa terancam setiap saat, bayiku pun akan mengalami hal yang serupa. Aku tak akan membiarkan sedikit pun ancaman atau bahaya mendekati birdy, sehingga aku akan merahasiakan keberadaannya hingga ia cukup bisa melindungi dirinya sendiri nanti. Setelahnya, aku melanjutkan kembali langkahku menuju kamar. Tubuhku rasanya letih sekali hari ini. Aku ingin segera beristirahat sambil menunggu Lani menyiapkan makan malam. Padahal aku sudah sering meminta Evan untuk melonggarkan pekerjaanku, bahkan mewakilkan meeting diluar pada direktur bagian. Apakah memang seperti ini rasanya hamil muda? “Hai mom, dad! Kalian apa kabar disana? Aku sangat bahagia hari ini. Kalian akan segera memiliki cucu meskipun aku sendiri tidak tahu siapa ayahnya. Maaf, karena aku mendapatkannya dengan cara yang mungkin tidak kalian sukai. Tapi paling tidak, dia akan bisa menemaniku dan menghapuskan rasa kesepianku nantinya. Tolong jangan benci aku karena kenekatanku kali ini, karena aku memang sangat membutuhkannya, mom, dad. Kalian juga tak perlu khawatir! Meski aku sendirian, aku pasti bisa melaluinya serta merawat anakku dengan sebaik mungkin.” Ceritaku dihadapan foto kedua orang tuaku yang masih kupajang di dinding kamar. Selama beberapa saat, aku memandangi potret tuan dan nyonya Durand itu dengan seksama. Aku sangat merindukan mereka. Suaranya, tawanya, omelannya, dan terutama pelukan hangat mereka. Sebuah rasa nyaman yang mungkin tak akan lagi bisa kurasakan. Mengapa Tuhan begitu cepat mengambil mereka dariku? Ya, terkadang aku memang masih sering menyalahkan skenario Tuhan meski aku tahu itu adalah salah. ♥♥♥ Waktu terus bergulir. Aku begitu menikmati kehamilanku yang untung saja sama sekali tidak merepotkan meski aku memang lebih cepat lelah. Terlebih Lani juga sangat kooperatif serta begitu mendukungku. Terkadang aku juga heran, bagaimana dia bisa betah dengan semua sikap dinginku dan tetap bertahan disisiku? Malah Lani selalu bersikap seolah seorang ibu yang begitu mengayomi. Aku tahu jika sikapku padanya tidak patut untuk dilakukan, mungkin nanti suatu hari akan ada waktu dimana aku akan kembali bersikap baik padanya. Tapi tidak sekarang, saat aku masih belum bisa mengontrol duniaku serta memilah siapa yang harus menjadi kawan ataupun lawan. Selesai bersiap-siap, aku segera keluar kamar dan menuruni tangga untuk sarapan. Begitu mencapai bagian tengah lantai berundak tersebut, pandanganku bertemu dengan satu sosok yang sudah hampir satu minggu terakhir ini ada disana. Entah karena apa aku selalu memanggilnya kemari sepagi ini. Padahal kantor sedang tidak terlalu sibuk hingga membutuhkan kehadirannya setiap saat disampingku. Aku hanya... entahlah... ingin selalu melihatnya ada disekitarku. Akhir-akhir ini moodku memang selalu memburuk jika aku tidak melihatnya ada dalam jarak pandangku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa merasa seperti ini. Sangat aneh, tapi aku tak bisa menolak keinginan ini. “Selamat pagi miss Durand!” Sapanya dengan senyum lebar dan ramah seperti biasa. “Hmm. Kau sudah sarapan mr. Young?” Tanyaku seraya berlalu menuju ruang makan. Ya, sosok itu adalah Evander Young. Pria yang sudah dua tahun ini menjadi asisten pribadiku. Aku sendiri yang dulu menawarkan posisi ini padanya, karena kinerja pria itu yang sangat bagus. Sebenarnya juga sangat disayangkan jika Evan hanya bekerja sebagai asistenku. Ia bahkan lebih kompeten dari direktur pemasaran yang saat ini menjabat. Tapi, aku belum bisa memberikan posisi itu untuknya karena aku masih belum sepenuhnya mempercayai loyalitas Evan. Mungkin nanti, suatu hari, entah kapan? “Belum, miss,” jawab Evan singkat dan mengekor dibelakangku. “Lani, siapkan satu porsi lagi untuknya!” perintahku yang langsung disanggupi oleh wanita paruh baya itu. “Tidak perlu miss. Saya tidak apa-apa,” pria itu menolak dan terlihat sungkan. “Asuransi perusahan tidak mengcover karyawan sakit karena kelaparan,” balasku dingin tanpa menginginkan bantahan. “Baiklah. Terima kasih, miss Durand.” Akhirnya, kami pun sarapan bersama di meja yang sama. Ini sudah kesekian kalinya Evan makan bersamaku dan dia masih terlihat begitu canggung. Sesekali ia tampak melirikku waspada, entah apa yang sedang ia pikirkan tentangku. Tapi, lucu sekali ekspresinya. Jika saja aku tidak sedang menjaga wibawaku, mungkin aku sudah akan mencubit kedua pipinya dan menggoda pria itu habis-habisan. Pipinya pasti akan sangat merah dan ia akan salah tingkah. Itu pasti menyenangkan. Sayangnya, hal itu hanya akan terjadi dalam imajinasiku saja. Aku tak akan melakukannya meski aku tahu Evan tak akan keberatan dan malah akan menyukainya. Sraaakkk “Berikan itu pada ibumu,” ujarku tepat setelah kami menyelesaikan sarapan. Kusodorkan satu kotak berwarna biru muda dengan aksen pita diatasnya yang membuat Evan menatapku bertanya-tanya. “Bukankah hari ini ibumu ulang tahun? Kau ingin memberikannya parfum itu, ‘kan?” “Ah, miss, anda tidak perlu,-” “Ambil! Itu perintah!” Aku memotong ucapan gugupnya. “Terima kasih,” balasnya lirih. Dengan ragu Evan mulai mengambil kotak itu. Ia cukup hati-hati saat meraihnya, seolah itu adalah kristal kaca yang akan pecah hanya dengan sekali sentuhan. Setelah itu kuraih s**u hamil yang telah Lani siapkan dan meneguknya hingga habis. Saat di kantor pun aku masih mengkonsumsinya, tentu saja Evan yang membuatkan seperti biasanya. Ia hanya tidak tahu jika bubuk s**u yang kuberikan padanya adalah s**u hamil. Bukan s**u bubuk berasal dari biji-bijian lagi yang kuminum saat ini. Karena sejak sebelum hamil saja aku sudah sering mengkonsumsi s**u, Evan pun sama sekali tidak mencurigainya. Ia juga belum tahu tentang kondisiku yang tengah berbadan dua. Selain Lani serta orang-orang di mansion ini, memang masih belum ada yang mengetahui tentang kehamilanku. “Ayo berangkat!” ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN