08 Craving

1994 Kata
Evander POV Sudah seminggu ini Aria mengurangi waktu istirahatku. Bukannya aku mau protes, karena pada kenyataannya aku sangat senang bisa semakin lama bersama dengannya. Tapi, aku jadi tidak enak pada Michele, manager klub malam tempatku bekerja. Karena jadwalku menjadi semakin keteteran sehingga harus mengambil jam istirahatku. Bayangkan saja, Aria selalu memintaku stand by di mansionnya sejak pukul tujuh pagi. Sore saat jam pulang kerja pun bosku satu itu selalu memiliki pekerjaan yang membuatku harus lembur. Benar, aku. Karena Aria hanya akan melihat tanpa mengerjakan apapun.  Kegiatan itu akan selesai sekitar pukul sepuluh malam dan aku baru bisa sampai ke klub setelahnya. Untung saja mommy selalu membekaliku dengan beragam jenis vitamin agar kondisiku tetap vit. Meski tetap saja ini melelahkan. “Sebenarnya apa yang kau lakukan di luar sana? Kalau kau sudah tidak serius lagi dengan pekerjaan ini, keluar saja! Masih banyak penari lain yang bisa menggantikanmu dan bayaran mereka bisa lebih murah dari tarifmu!” Malam ini Michele kembali memarahiku tepat setelah aku datang. Waktu memang telah menunjukkan hampir tengah malam saat itu dan aku telah terlambat tiga jam. Meski sebelumnya aku sudah meminta izin, namun pria itu tetap melayangkan ceramahnya padaku. “Maaf, boss!”  Hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku belum ingin membela diri saat ini. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Berapa banyak kerugian yang sudah kau buat karena ketidak-hadiranmu?” pria itu masih bersungut-sungut. “Aku tidak bisa memastikannya, boss!” Kepalaku masih terus menunduk. Aku tidak sedang merenungi kesalahanku, hanya saja aku tahu posisiku adalah bawahan Michele yang tidak seharusnya melawannya. “Kuberi waktu sampai minggu depan! Kalau kau masih tetap menyepelekan pekerjaan ini, silahkan angkat kaki dari klub malam ini!” Michele memperingati sambil menunjuk wajahku dengan jarinya. Setelah itu dia pergi meninggalkanku dengan kesal. Jika saja ekonomi keluargaku stabil dan berkecukupan, tanpa disuruh pun aku sudah pasti akan angkat kaki dari tempat ini. Sebenarnya, aku bisa saja menolak permintaan Aria untuk tidak melakukan lembur supaya tidak terlambat datang ke klub. Tapi, sudah kubilang ‘kan kalau aku tak bisa menolak permintaan orang-orang yang kucintai? Dan itu termasuk Aria. Bahkan jika dia memintaku berenang mengarungi laut utara lalu menyeberang ke daratan Eropa hanya untuk mengambil setangkai tulip dari Belanda secara langsung pun, aku akan melakukannya. Ah, membayangkannya saja sudah sangat lucu. ♥♥♥ Boss Girl Sebelum kemari, belikan aku arctic roll di toko roti biasanya! Aku menyipitkan mata sambil membaca pesan teks yang dikirim oleh Aria. Kulirik jam digital yang ada dipojok kanan ponsel dan saat itu masih pukul lima pagi. Ya Tuhan, bahkan belum genap dua jam aku tidur dan dia sudah menyampaikan permintaannya. Me Sepagi ini, miss? Pesan itu kubalas dengan rasa kantuk yang masih sangat terasa. Bahkan aku kembali terlelap saat menunggu balasan dari Aria. Jika saja Troy tidak membangunkanku, aku mungkin akan kebablasan karena getar ponsel itupun tak lagi bisa mengusik tidurku. Boss Girl Pakai selai blueberry! Me Bukankah anda alergi buah berry, miss? Aria tidak pernah mau dekat-dekat dengan segala jenis berry karena alerginya. Tapi kenapa hari ini ia malah meminta arctic roll yang umumnya memiliki isian selai berry? Boss Girl Lakukan saja! Me Baik, miss! Akan kubelikan isian yang lain. Tak akan kubiarkan Aria kesakitan hanya karena permintaan atau keinginan randomnya itu. Tapi sebelumnya, aku harus bersiap-siap terlebih dahulu. Aku turun dari ranjang bawah bunk bed lalu mengulet beberapa saat. Tak lupa aku juga menepuk pipiku beberapa kali agar rasa kantuk ini semakin hilang. Barulah setelahnya aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Untunglah adik-adikku sedang tidak menggunakannya. ♥♥♥ Tepat lima menit sebelum pukul tujuh aku sudah sampai di kediaman Aria. Tangan kiriku membawa paper bag berisi pesanan gadis itu, yang tentu saja sudah kumodifikasi isinya. Biar saja kalau dia sampai marah. Itu lebih baik daripada melihatnya kesakitan. “Sepertinya kau semakin rajin datang kesini, Van!” seloroh Eric, pria paruh baya yang membukakan pintu gerbang untukku. “Permintaan boss, aku bisa apa?” Jawabanku terdengar seperti sebuah protes. Padahal itu hanya kamuflase. “Apa yang kau bawa?” Tanya Eric lagi berbasa-basi. “Pesanan miss Durand,” jawabku sambil mengangkat paper bag sedikit lebih tinggi. “Aku masuk dulu!” Kulangkahkan kakiku menuju pintu besar mansion yang biasanya sudah dibuka. Aku tak perlu repot-repot mengetuk atau membunyikan bel karena para maid sudah hafal dengan jam kedatanganku. Sama seperti hari-hari sebelumnya, kutunggu Aria dari ujung tangga di ruang tamu. Biasanya ia akan muncul tepat pukul tujuh pagi lalu akan mengajakku sarapan bersama. Meski canggung, tapi tak bisa dipungkiri jika aku sangat menyukai rutinitas yang entah karena apa mulai dilakukan Aria. Akhir-akhir ini gadis itu memang perilakunya sedikit berubah dari kebiasaannya dulu. “Kau dapatkan pesananku?” Suara Aria dari tengah tangga membuatku mengangkat kepala agar bisa bertatapan dengannya. Hari ini ia terlihat manis dengan setelan berwarna krem, sepatu flat, serta tas tangan hitam keluaran brand YSL. Sejak menjadi asisten Aria, aku semakin paham dengan brand-brand super mahal tersebut, karena gadis itu kerap kali memintaku mengambilkan pesanannya ke toko. Oh iya, selain perilaku Aria yang berubah, gadis itu akhir-akhir ini juga tak pernah lagi mengenakan high heels. Ia memilih menggunakan flat shoes yang entah apa alasannya? Aku tak berani bertanya. “Ini, miss!” Kuulurkan paper bag yang kubawa padanya. Gadis itu, masih dengan ekspresi datarnya meraih gantungan paper bag lalu mengintip isinya. Didalam sana ada dua gulung arctic roll yang langsung diambil oleh Aria. Matanya memicing begitu melihat jika isian yang kubawakan adalah cokelat, bukan berry seperti yang ia minta. “Kau tidak membaca pesanku?” tanya Aria dingin. Netra hazelnya menatapku dengan tajam dan mengintimidasi. “Anda memiliki alergi, sehingga saya tidak ingin anda sakit karena berry, miss,” jawabku jujur. Aku sudah siap dengan semua cercaannya nanti. Aria menghela napasnya panjang sambil menutup mata. Terlihat sekali jika ia sedang menahan kekesalannya. Ini masih sangat pagi dan aku sudah mengacaukan moodnya. “Aku tidak pernah bilang kalau aku yang akan memakan roti ini,” balasnya dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan. Secara refleks aku mengernyit heran. Untuk apa dia memintaku membeli roti ini kalau bukan Aria sendiri yang akan memakannya? Tak ada orang lain disini yang akan memakannya selain dia. Ah, apa Aria membelinya untuk diberikan pada salah satu maidnya? Bodohnya aku yang tidak berpikir sampai sejauh itu. “Ll-lalu, miss?” Tanyaku dengan terbata. Aria kembali mengulurkan paper bag itu padaku dengan kasar dan tanpa melembutkan tatapannya. “Habiskan!” “Ss-saya, miss?” “Ya! Aku minta selai blueberry karena kau sering makan itu. Jadi, habiskan yang sudah kau beli itu!” Perintahnya seraya berlalu kearah ruang makan. Aku masih berdiri membeku dan bingung ditempatku. Tangan kananku masih mendekap bungkusan roti yang tadi kubeli. Sungguh, aku tak lagi memahami apa mau Aria akhir-akhir ini. Dia semakin aneh. Setelah beberapa saat mencoba memahami maksud bos mudaku itu, aku segera melangkah menyusulnya ke ruang makan. Kulihat ia sudah asyik sendiri dengan sarapannya, full english breakfast serta segelas s**u vanila disamping piringnya. Dan tanpa permisi aku langsung duduk di kursi sebelah kanan Aria yang tak mengalihkan pandangan dari makanannya. “Maksud anda, roti ini memang sejak awal untuk saya?” Tanyaku memastikan. “Hmm,” jawabnya yang hanya berdehem dan terus melanjutkan aktivitasnya. “Untuk apa?” Aku belum puas. KLANG Gadis itu membenturkan garpunya keatas piring hingga bunyi nyaring itu terdengar. Ia juga mengangkat pandangannya hingga terlihatlah tatapan tajam mengintimidasi itu. “Kau sudah menghancurkan moodku sejak tadi. Tak bisakah kau bertanya nanti saja?” “Maaf!” Kutundukkan kepalaku merasa bersalah. Aku memang terlalu penasaran sampai tidak bisa membaca situasi. “Cepat makan atau kita akan terlambat!” Serunya seraya kembali meraih garpu dan melanjutkan sarapan. “Baik.” Aku berdiri dari tempatku lalu mengambil piring yang ada diujung meja serta sebilah pisau yang memang selalu ada disana. Setelah itu, kukeluarkan roti yang tadi kubeli dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Netraku memandang nanar pada roti berisi selai cokelat tersebut. Jika saja aku menuruti permintaan Aria, mungkin aku akan lebih bersemangat memakannya, karena aku memang tidak terlalu menyukai cokelat. Aria lah yang menyukai cokelat. Tapi, ya sudahlah. Sebaiknya lain kali aku bertanya lebih detail saat gadis itu memintaku membeli sesuatu. Saat hendak memasukkan satu potong roti itu kedalam mulut, tiba-tiba saja perutku bergejolak dan terasa sangat mual. Kucoba menahannya dan terus berusaha memakan roti itu. Namun, saat mencium aroma cokelatnya, aku tak lagi bisa menahan bau yang sangat aneh itu. “Huekk!” Aku berlari menuju kamar mandi tamu yang ada didekat ruang tengah tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Entah apa reaksi Aria, perutku lebih membutuhkan perhatian saat ini. Kumuntahkan semua isi perutku kedalam wastafel yang airnya kubiarkan mengalir. Selama beberapa saat aku terpaku disana, tetapi tak banyak yang keluar dari tubuhku. Hanya cairan bening yang sayangnya sangat berhasil membuatku merasa pusing. Tubuhku langsung terasa begitu lelah meski aku masih bisa berjalan. Setelah memastikan perutku tak lagi mual, aku membersihkan wajahku dengan air lalu keluar dari kamar mandi. Tanpa kuduga, Aria sudah ada didepan pintu dan menatapku dengan bertanya-tanya. “Ada apa denganmu?” Tanya gadis itu datar. Setidaknya, aku tahu jika itu adalah caranya mengekspresikan kekhawatiran. Atau itu hanya harapanku saja? Terserahlah, aku tak peduli. “Tidak tahu, miss. Tiba-tiba saja perut saya sangat mual. Maaf mengganggu sarapan anda,” jawabku dengan suara yang lemah. “Lani membuatkanmu teh jahe di meja makan. Minumlah dan ambil makanan apapun yang kau mau, setelah itu kita berangkat!” “Baik miss, terima kasih!” Dengan lemah aku berjalan menuju ruang makan dan benar saja, sudah ada satu gelas teh jahe hangat tersaji disana. Kuambil cangkir itu lalu meminumnya sampai tandas. Setelah itu pandanganku kembali pada roti dengan selai cokelat yang tadi membuatku mual. Apa aku harus memakannya lagi? “Tinggalkan saja roti itu dan ambillah makanan lain yang bisa mengganjal perutmu!” Suara perintah Aria dari ambang pintu langsung menjawab pertanyaanku. Sekilas aku mengangguk lalu berjalan kearah pantri untuk mengambil bahan-bahan makanan yang kumau. Aku membuat hot dog dengan cepat lalu menyusul Aria yang sudah kembali duduk di kursi ujung meja makan. “Duduk!” Seru Aria memerintah sambil menunjuk kursi disampingnya dengan dagu. “Tapi miss, ini sudah,-” “Kau mau makan sambil berjalan?” Kuhela napasku sesaat lalu menuruti perintahnya. Karena tidak ingin semakin terlambat dari waktu seharusnya kami berangkat ke kantor, aku segera memakan hot dog itu dengan terburu. Aku bahkan tidak sadar kalau Aria sedang menungguku makan sambil menatap dengan tatapan anehnya. “Uhuk.. uhuk...” Kupukul dadaku saat tersedak untuk melancarkan jalan roti isi itu masuk kedalam perutku. S*al, karena terburu-buru aku jadi terlihat seperti orang bodoh didepan Aria. “Tidak ada asuransi untuk karyawan yang mati tersedak,” ujar Aria seraya mengulurkan segelas air putih padaku. “Terima kasih,” balasku setelah berhasil meredakan batuk. Lihat ‘kan? Aria sebenarnya sangat perhatian, hanya caranya saja yang berbeda. Jadi, tidak ada alasan yang bisa membuatku sakit hati karena kalimat-kalimat tajamnya. Setelah makanan ditanganku habis, kami segera bangkit dan menuju ke area parkir. Namun, Aria tak kunjung memberikan kunci mobilnya padaku, sehingga aku pun berinisiatif untuk memintanya. “Kunci anda, miss!” Pintaku sambil mengulurkan tangan kanan. “Aku akan menyetir sendiri,” balasnya sambil berlalu menuju sebelah kanan disamping pintu kemudi. “Itu tugas saya, miss!” Aku hendak merebut kunci itu, namun Aria sudah lebih dulu menggenggamnya dengan erat. Mana berani aku mengambilnya kalau dia sudah seperti ini? “Menurut saja!” “Tapi, miss,-” “Kau belum sembuh, jangan membantah!” Ya Tuhan, jadi dia seperti ini karena tadi aku sempat mual? Aria, aku sudah baik-baik saja, sayang! Kau tak perlu seperti ini padaku! Bagaimana kalau aku semakin jatuh cinta padamu kalau kau seperhatian ini? Ah, apa yang aku pikirkan? Perhatian terselubung itu ternyata bisa membuatku berbunga-bunga dan pipiku terasa memanas. Menggemaskan sekali gadis ini! Karena aku tak lagi bisa membantah, kuturuti saja permintaannya. Kapan lagi Aria memanjakanku seperti ini? Kesempatan langka seperti ini tak boleh disia-siakan! Terima kasih arctic roll cokelat, maaf tadi aku sempat hampir memakimu karena sudah membuatku mual-mual. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN