09 A Clue

1725 Kata
Ariana POV “Huek..huekk..” Sudah hampir seminggu terakhir suara itu mengisi pagiku. Tak hanya dirumah, bahkan saat dikantor pun aku mendengarnya. Entah apa yang sedang terjadi pada Evan hingga ia selalu mual setiap pagi. Hanya setiap pagi. Suara itu akan berhenti mulai sekitar pukul sepuluh pagi. Setiap kali aku bertanya mengenai penyebabnya, dia selalu menjawab dengan tidak tahu. Bukankah itu sangat aneh? Brakk Pintu kamar khusus tempatku biasanya beristirahat dikantor terbuka. Evan muncul dari baliknya dengan kondisi yang cukup buruk. Ia terlihat begitu lelah dan berantakan padahal waktu baru menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, baru tiga puluh menit sejak kami sampai di kantor. Tadi, saat kami membahas pekerjaan di ruanganku, tiba-tiba saja Evan merasa mual. Jadi aku mengizinkannya untuk menggunakan ruangan pribadiku saja, karena toilet umum letaknya ada di ujung lorong di luar ruangan. Meski sikapku dingin, aku juga masih memiliki rasa simpatik pada orang lain. Hanya saja, aku tak ingin menunjukkannya. Bruk Evan menghempaskan tubuhnya ke kursi didepanku dengan kasar. Terlihat sekali jika ia memang sedang dalam kondisi tidak fit saat ini. Namun, ia selalu menolak saat aku memintanya untuk mengambil cuti agar dia bisa beristirahat. “Maaf miss, sampai dimana tadi kita?” tanya Evan dengan suaranya yang terdengar serak. Fix, dia sedang sakit. “Akan kukerjakan sendiri. Pergilah ke dokter!” Perintahku tanpa menatapnya lebih lama lagi. “Saya tidak apa-apa,” pria itu membantah lagi. Entah sudah keberapa kalinya. “Kalau begitu, istirahatlah di kamarku!” “Sungguh, saya baik-baik saja.” Dasar keras kepala. “Terserah kau saja,” balasku dingin seraya kembali melanjutkan pekerjaan memeriksa dokumen. Walaupun tak menatapnya secara langsung, aku tahu dia tengah tersenyum saat ini. Dia memang seaneh itu. Tak peduli seburuk apapun aku memperlakukannya, Evan selalu tersenyum, tak pernah tampak kecewa, kesal, apalagi marah. Pria itu kembali larut pada pekerjaannya dari balik mejaku. Membolak-balik berkas, mengoreksi apa yang mungkin kulewatkan, lalu kemudian kembali berdiskusi. Sejak beberapa minggu lalu aku memang lebih sering memintanya untuk bekerja di ruanganku. Aku juga tidak tahu kenapa sampai memintanya melakukan hal itu. Evan adalah pekerja yang cukup menyenangkan untuk diajak bekerja sama, hanya itu alasan yang bisa kupikirkan. Namun, baru dua puluh menit kami larut dalam pekerjaan, Evan kembali merasakan gejolak dalam perutnya. Ia tampak kesakitan sekaligus tidak enak padaku. “Maaf, miss!” Serunya seraya beranjak dan hendak berlari menuju toilet yang ada di kamarku. Sayangnya, ia yang sedang terburu-buru tersebut harus bertubrukan dengan seorang OB yang tadi kuminta membawakan minuman untuk kami. PRANG Dua gelas yang ada diatas nampan jatuh berserakan diatas lantai. Tak hanya pecahan kaca serta isinya yang mengotori lantai ruanganku, sebagian jus alpukat yang pekat juga mengotori kemeja biru Evan. Namun, pria itu tampaknya tak terlalu memikirkannya karena perutnya jauh lebih penting saat ini. Ia kembali berlari meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. “Cepat bersihkan!” Seruku memerintah yang lagi-lagi dengan intonasi yang datar dan terdengar dingin. “Mm-maaf, miss! Maaf,” balas OB tersebut sambil membungkukkan punggungnya beberapa kali. Pria muda yang mungkin masih seumuran denganku itu segera keluar ruangan untuk mengambil alat pel. Tak butuh waktu lama hingga ia kembali dan membersihkan kekacauan tadi. “Maaf miss, saya akan lebih berhati-hati lagi,” ujar OB yang bernama Oscar Wilson. Aku tahu semua nama pegawaiku, bahkan hingga yang memiliki posisi paling bawah sekalipun. Setidaknya mereka yang ada di kantor ini. Sementara yang bekerja di kantor cabang, aku hanya tahu beberapa karena sangat jarang bertemu. Saat Oscar masih menunduk dan menunjukkan rasa bersalah akibat kecerobohannya, aku mengibaskan tangan memintanya segera pergi. Pemuda itu menurut seraya berjalan meninggalkan ruanganku. “Mr. Wilson!” Suaraku menghentikan langkahnya yang kini kembali berbalik menatapku. Aku beranjak dari kursi lalu berjalan mendekat pada Oscar yang menundukkan kepala. Setelah sampai dihadapannya, kuulurkan sebuah kartu kredit berwarna biru milik perusahaan ke hadapannya dan membuat Oscar bertanya-tanya. “Belikan pakaian ganti untuk Mr. Young!” “Baik miss.” Oscar menerima kartu itu seraya beranjak pergi. Sementara itu aku menyusul Evan yang masih menumpahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi. Tanpa berniat mengusiknya, aku menunggu di depan pintu hingga suara air mengalir deras terdengar di telingaku. Tok tok “Sekalian bersihkan dirimu! Aku sudah meminta Mr. Wilson untuk membelikanmu pakaian,” ujarku tanpa menunggu jawaban dari pria dua puluh tujuh tahun tersebut. Cklek Pintu kamar mandi terbuka dan Evan muncul dari dalamnya dengan dengan keadaan yang semakin terlihat kacau. Dasar keras kepala! Sudah tahu dirinya sedang tidak sehat, masih tetap saja memaksa terus bekerja. Lihat saja, siapa yang setelah ini lebih keras kepala? Aku atau dia? “Terima kasih, miss. Tapi anda tidak perlu,-” “Setelah itu pergilah ke dokter! Jangan membantah atau aku akan memecatmu!” Ancamku seraya berlalu pergi. Ancaman itu pasti akan membuatnya tak lagi bisa berkutik. “Tap-tapi, miss,-” Brakk Aku menutup pintu dengan sedikit kasar, tak peduli lagi pada protesnya yang seringkali terdengar sangat cerewet. Tak lama kemudian aku mendengar suara air mengalir dari shower. Akhirnya dia menurut. ♥♥♥ Tok tok “Masuk!” Pintu kaca tebal yang membatasi ruanganku dengan lorong lantai teratas gedung ini pun terbuka. Seorang wanita cantik berambut hitam muncul dari baliknya membawa sebuah paper bag dan langsung berjalan kearahku. Dialah Charlotte Davis. Sekretaris yang sudah satu tahun ini bertugas mengerjakan bagian administrasi untukku. “Saya membawakan pakaian untuk Mr. Young. Oscar menitipkan pada saya karena dia sedang mengobati kakinya yang terkilir,” jelas Charlotte begitu sampai didepan mejaku. “Dimana saya harus mengantarkan pakaian ini, miss?” “Letakkan saja disana, biar aku yang memberikan padanya!” Sahutku cepat. “Baik, miss. Permisi!” Wanita itu meletakkan paper bag serta kartu kredit yang tadi kuberikan pada Oscar keatas meja disamping kursi sofa. Setelah Charlotte meninggalkan ruanganku, barulah aku beranjak meraih paper bag itu. Ada satu potong kemeja berlengan panjang warna abu-abu tua, celana bahan berwarna hitam, serta... segera kututup kembali paper bag itu. Tak seharusnya aku melihatnya karena itu adalah barang-barang pribadi pria. Saat akan membawanya ke kamar, tiba-tiba saja aku berpikir, mengapa harus aku yang memberikannya? Ini adalah hal remeh yang tak perlu kulakukan sendiri. Kenapa tadi aku sampai menghalangi Charlotte memberikan pakaian ini pada Evan secara langsung? “Ck, kenapa aku bisa seaneh ini akhir-akhir ini?” Kepalaku menggeleng tak paham. Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, kuraih gagang pintu kamarku dan segera membukanya. Brakk Setelah pintu terbuka, aku cukup tercekat setelah melihat kejutan didalam ruangan pribadiku. S*al, aku terlalu terbiasa masuk ke tempat ini tanpa mengetuk pintu, dan lihat sekarang apa yang kudapatkan! Asisten pribadiku itu tengah berdiri diujung ruangan, didepan cermin panjang dalam keadaan yang tak pernah kuduga. Kulitnya masih basah oleh air, termasuk rambutnya yang meneteskan bulir-bulir bening. Tubuh bagian atasnya sama sekali tak tertutup apapun. Hanya sehelai handuk putih yang menutupi pinggulnya hingga lutut. Tanpa kusadari, aku memperhatikannya dari atas hingga ke bawah dengan seksama. Tenggorokanku bahkan sampai kesulitan menelan salivaku sendiri. Pemandangan yang indah. Tubuhnya sangat menggiurkan. Sudah berapa lama aku tak melihat pria dalam keadaan seperti ini? Sepertinya dua bulan. Dan itu adalah si pria misterius yang menjadi pendonor dari terbentuknya janin dalam diriku kini. Saat sedang memperhatikannya, dahiku mengernyit begitu pandanganku berhenti pada bahu hingga tulang selangka Evan. Apa itu? Gam...bar? Tat..to? Tatto burung kecil dan jumlahnya, satu, dua, lima? DEG Tiba-tiba saja jantungku berdetak sangat cepat dan tak beraturan. Napasku pun tercekat dan pandanganku sama sekali tak teralihkan dari tatto burung itu. Apa ini sebuah kebetulan? Apa tatto lima burung di bahu adalah umum untuk para pria? Ini sama persis dengan tatto burung pria penari yang kujebak malam itu. Tidak! Tidak mungkin hanya Evan yang memiliki tatto ini. Mereka pasti hanya kebetulan memiliki tatto yang sama. Ya, pasti hanya kebetulan. “Miss! Miss Durand! Anda baik-baik saja?” Suara itu seolah mengembalikan kesadaranku, kembali menapak pada lantai yang kini terasa begitu dingin. Tanpa kutahu, Evan kini telah berdiri dihadapanku dengan wajah cemasnya. Ia juga beberapa kali mengibaskan tangannya saat menyadarkanku. Entah seperti apa ekspresiku saat ini, aku tak terlalu bisa mengontrolnya. Namun, setelah menyadari situasi yang sedang kuhadapi saat ini, aku kembali mengatur emosi serta wajahku kembali sedatar mungkin. Setelah itu kuulurkan paper bag berisi pakaian ganti untuk asistenku tersebut. “Pakaianmu!” “Terima kasih. Anda tidak perlu repot-repot,” balasnya seraya menerima paper bag tersebut. “Anda baik-baik saja, miss?” “Maksudmu?” Tanyaku datar. Sesekali aku masih mencuri pandang pada tattonya yang ada di bahu kanan. Itu sungguh-sungguh mirip. “Anda baru saja melamun, tidak seperti biasanya.” “Aku tidak apa-apa,” balasku singkat. “Cepat kenakan pakaianmu dan pergilah ke dokter! Jangan kembali sebelum sembuh, aku tidak ingin tertular!” Dengan terburu-buru aku kembali menutup pintu kamarku meninggalkan Evan sendirian disana. Perasaanku sangat tidak menentu saat ini. Gelisah. Gusar. Bingung. Penasaran. Penuh pertanyaan. Bahkan setelah duduk kembali di kursi kebesaranku pun aku malah semakin gugup. Segala pikiran positif sedang otakku pikirkan, namun tetap saja itu tak membantu. Bagaimana jika pikiran burukku yang menang? Bagaimana jika kecurigaanku ternyata benar? Bagimana jika Evan memang-? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Aku sudah membuat rencana yang sempurna untuk hal ini. Tidak mungkin Evan. Tidak mungkin. “Miss!” “Ya! Ya? Eoh! Apa?” Tanpa sadar aku tergagap. Suara Evan mengagetkanku dan kembali membawaku kealam kesadaran. “Anda sungguh baik-baik saja?” Pria itu tampak cemas. “Ya,” jawabku singkat tanpa memberikan penjelasan. “Sungguh?” Aku tak menjawab pertanyaan itu dan hanya menatapnya lurus serta tajam. Dengan begini seharusnya Evan tak lagi menanyaiku macam-macam yang malah akan membuatku semakin gugup. Aku tidak suka perasaan ini. Pria itu menghela napas panjang setelah cukup lama aku tak menjawabnya. “Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu ke klinik. Maaf sudah membuat anda tidak nyaman.” “Hmm.” Kakinya mulai melangkah setelah aku membalas kalimatnya hanya dengan deheman. Setelah membersihkan dirinya, Evan memang terlihat lebih segar. Tapi aku tetap memaksanya pergi ke dokter. Setidaknya aku butuh ruang untuk saat ini. Pemandangan tadi sangat mengganggu fungsi kerja otakku. Dan rasa penasaran ini tak akan hilang sebelum aku tahu jawabannya. Untuk menenangkan diriku sendiri, kuraih ponselku yang ada di laci meja. Aku harus menemukan fakta sebenarnya. Dan ada satu orang yang nantinya akan sangat bisa memberiku jawaban ini. “Aku punya tugas baru!” “...” “Cari tahu semua tentang penari pria bernama Juli dari club malam Heaven!” “...” “Semuanya. Sedetail-detailnya.” “...” “Kutunggu kabar darimu secepatnya!” ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN