13 Open Arms

1929 Kata

Ariana POV Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua siang saat aku memarkirkan mobil di area pertokoan ini. Sudah lewat jam makan siang, maka tidak heran jika suasana sudah cukup lengang, meski tak benar-benar sepi karena wilayah ini termasuk daerah yang ramai wisatawan. Beragam jenis restoran khas negara lain menjamur di sepanjang jalan dan tujuanku ada di ujung jalan ini. Sebuah restoran Turki yang sangat jarang sepi. Kling. Lonceng diatas pintu berbunyi, tepat saat aku membuka pintu kaca restoran. Tempat ini tidak terlalu luas, namun cukup nyaman dengan desain interior yang sangat khas Turki. Seorang pramusaji mengucapkan selamat datang dan aku hanya membalasnya dengan senyum simpul serta anggukan kepala. Setelah itu aku memilih menuju kursi di pojokan yang kosong. Tak lama kemudia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN