Ario menghentikan langkahnya, jantungnya berdebar kencang, “Ranti, aku mau, tapi.. Jangan karena aku. Kalau kamu mau dan siap. Aku bersedia menunggu sayang, tidak masalah bagiku.” “Kenapa kamu mau menunggu?” Ranti sedikit terenyuh. Ario ingin menjawab kalau ia sudah menunggu belasan tahun untuk Ranti, tapi.. Ario berpikir ulang. Entahlah, ia ingin Ranti mengingatnya sendiri. Apakah kekasihnya itu mengenalinya? Mengingatnya dari 13 tahun lalu? “Aku mau menunggu karena aku sayang kamu,” Ario tersenyum lebar. “Rasanya bukan hal sulit untuk bersabar kalau itu soal kamu.” Ranti memeluk leher Ario dan berjinjit untuk mencium pipinya, “Terima kasih.” Ario menarik pinggang kekasihnya mendekat, “Kamu belum bilang, apa kamu juga menginginkannya?” Ranti merasa mukanya merah, “Tidak tahu…”

