September 2019
"PAK PARAH!" teriak Fredi ketika tiba di ruangan tim manajemen. Pria berkacamata tebal terlihat berlari ke arah Ardi dengan tergesa-gesa.
Ardi jadi kebingungan dengan sikap Fredi. "Ada apa?" Ardi bertanya sambil menepuk halus punggung Fredi, berusaha menenangkan.
"Ada masalah besar." Fredi menyambar minuman di meja Ardi, kemudian meneguknya hingga habis. "Investor yang harusnya Pak Para temui besok lusa, akan kembali ke Singapura hari ini. Beliau membatalkan meeting dengan perusahaan kita secara tiba-tiba." Napas Fredi masih tersengal.
Ardi terbelalak kaget sekaligus panik. "Lalu bagaimana meeting kita?" sambar Ardi semakin gusar.
"Pak Para sebaiknya menemui beliau sekarang juga. Beliau dua jam lagi akan berangkat ke bandara. Jika Pak Para berangkat sekarang, Pak Para masih punya waktu tiga puluh menit lagi untuk bernegosiasi." Penjelasan Fredi memberi setitik harapan untuk Ardi.
Meski begitu, kecemasan tidak bisa ditampik. "Tapi proposal dan MoU saya belum selesai, Pak Fredi," keluh Ardi sambil memilah-milah berkas yang diperlukan.
"Nggak usah proposal, Pak. Bawa saja sampel produk kita. Kebetulan investor kita ini sedang bersama istrinya. Nah, Pak Para bisa memanfaatkan keberadaan istrinya untuk mengomentari sampel produk kita. Ayo, cepet, Pak!"
Ardi mengemas beberapa sampel ke dalam briefcase dengan gesit, kemudian mengenakan jaket yang tersampir di sandaran kursi.
"Saya pergi dulu," pamit Ardi singkat.
Fredi manggut-manggut seraya memandang punggung Ardi yang lambat laun menghilang.Lima menit setelah Ardi pergi, Fredi melihat sebuah benda berbentuk kotak yang terbuat dari kulit imitasi di atas meja Ardi. "WADUH!" Fredi menggeleng panik.
Lenguhan Fredi mengusik rasa penasaran Wina dan Alika yang tiba beberapa detik lalu. "Pak Pred kenapa?" tanya Wina penasaran.
"Anu—"
Belum sempat Fredi melanjutkan perkataannya, Arka masuk ke ruangan dan memotong perkataan Fredi.
"Pak Fredi sudah bertemu konsultan pajak, ‘kan?" tanya sang manejer dengan pandangan menuntut.
"Iya. Sudah, Pak."
"Kenapa laporannya belum saya terima?" Arka menekankan pertanyaannya,masih dengan ekspresi dan nada yang sama.
Fredi menepuk jidatnya. "Waduh!"
"Wadah-waduh melulu nih, Pak Pred." Wina berkomentar sambil berjalan menuju mejanya.
Mata tajam Arka beralih pada Wina. "Kamu yang membantu siapkan presentasi siang ‘kan, Win?" Arka melakukan konfirmasi dan Wina membalasnya dengan anggukan.
"Waduuuuh!" Lagi-lagi Fredi mengucapkan keluhan yang sama, namun kali ini terdengar lebih putus asa.
Alika akhirnya geram dan menimpuk Fredi dengan penggaris. "Pred. Ada apaan, sih?" tanya Alika jengah.
Sebelum menjawab pertanyaan Alika, Fredi menunjukkan dompet Ardi yang ketinggalan. "Kira-kira Pak Para naik apa, ya?" tanya Fredi retorik.
"Kalo itu mah, nggak usah ditanya. Siluman babi buncit itu sudah pasti naik angkot. Beli alat cukur buat cukur cambang aja nggak mampu, apalagi buat ongkos naik taksi," sinis Alika membuat Fredi semakin iba kepada Ardi.
Arka mengernyit bingung dan memutuskan bertanya pada Fredi yang kini menangisi dompet Ardi. "Ini ada apa sebenarnya?"
Sambil sesenggukan, Fredi menjawab, "Pak Para sedang dalam perjalanan menemui Pak Henry di Hotel Sheraton, sekitar lima menit yang lalu. Nahhh, masalahnya, saya baru saja melihat kalau dompet Pak Para tertinggal di atas meja."
"Kasihan Pak Parah." Menggeleng dengan alis berkerut, Arka rupanya sedang berpikir, siapa yang harus dia kirim untuk menyalamatkan Ardi alias Pak Para.
"Udah sana kamu aja yang susulin Pak Para, Al!" perintah Arka akhirnya jatuh pada Alika.
Gadis yang kini berambut panjang itu mendelik akibat perintah 'laknat' tersebut. "Nggak bisa, Pak. Saya sibuk. Wina aja deh." Alika berkelit seperti usus.
"Wina harus segera menyiapkan presentasi, dan Pak Fredi harus membuat report. Cuma kamu satu-satunya orang yang longgar di tim ini." Arka mengambil dompet di tangan Fredi dan memindahkan secara paksa ke tangan Alika.
"Nggak mau. Lebih baik pecat aja aku, daripada nyusulin si siluman babi!" gertak Alika keras kepala.
Wina mengais dompet Ardi dari tangan Arka sambil berkata, "Tega kamu Mbak Al. Di mana peri kemanusiaanmu? Meletakkan ego di atas segalanya hingga enggan menolong sesama. Sudahlah, biar aku saja yang pergi."
Terpaksa Alika merenggut kembali dompet terkutuk milik Ardi. Sebab si biang gosip yang juga merangkap sebagai tukang ceramah—Wina—sudah beraksi. Alika tidak punya pilihan. Pergi menyusul Pak Para atau namanya jadi bahan gosip semesta. Wajah Alika menunjukkan kejijikan haqiqi. Dia sungguh tak sudi menjalankan misi menyelamatkan seseorang yang dibenci setengah mati.
“Kamu bisa nyetir ‘kan?” tanya Arka. Alika mengangguk tak bertenaga sebagai jawabannya. "Ini, pakai mobil saya saja. Biar lebih cepat." Arka mengulurkan kunci mobil. Sementara Alika hanya pasrah menerima.
***
"Kalau nggak punya duit, jalan kaki aja, Mas. Nggak usah sok-sokan naik angkot. Giliran bayarpakai alasan dompet hilang. Dasar tempe bantet," omel sopir angkot kepada Ardi.
"Pak, dompet saya benar-benar ketinggalan karena tadi terburu-buru. Kalau Bapak enggak percaya, saya minta nomor HP Bapak. Nanti saya hubungi untuk bayar ongkos angkot ini." Ardi menjelaskan dengan serius.
"Koe njaluk nomorku? Wegah! Nanti yang ada kamu terus-terusan telepon saya buat nawarin asuransi," ejek si supir angkot semena-mena.
Kalimat yang benar-benar menjadi tamparan buat Ardi. Dirinya sampai menundukkan kepala untuk mengamati penam-pilan sendiri. Mungkin karena pakaiannya terlampau rapi, Ardi dikira penjaja asuransi. Setidaknya tuduhan itu lebih baik, dari-pada dikira tukang minta sumbangan untuk pembangunan panti fiktif.
Akhirnya dengan rendah hati, Ardi mengucapkan maaf. Dia tidak mau lagi berseteru, karena sia-sia juga menjelaskan ketulusannya kepada orang yang tidak mau percaya.
"Dua puluh menit lagi," gumamnya sambil melihat jam digital di sudut kanan ponsel. Ardi pun bergegas masuk dan menghubungi Pak Henry.
Sementara itu, Alika baru saja memarkirkan mobilnya di basement Hotel Sheraton. Gadis itu masih saja uring-uringan. Bahkan, dirinya melampiaskan kekesalan pada dompet Para.
"Kenapa buluk sekali, sih?" omel Alika seraya meninju dompet Para. "Nggak orangnya, nggak dompetnya, sama-sama buluk," lanjut Alika mengumpat sembari mengamati dompet malang itu. "Kira-kira apa aja ya isi dompet siluman babi buncit ini?"
Akibat rasa penasaran tinggi yang disertai kejahilan garis keras, dia akhirnya membongkar isi dompet tersebut. Alika menemukan uang dua puluh tiga ribu rupiah dengan pecahan selembar dua puluh ribu, selembar dua ribu, dan dua buah koin lima ratusan rupiah. Puas menertawakan kantong cekak rekan kerjanya, kini Alika melanjutkan aksi pada lipatan-lipatan lain di dalam dompet tersebut. Tawa membahana Alika berhenti, saat menemukan selembar foto di antara lipatan dompet Ardi. Foto itu adalah foto dirinya bersama Ardi saat masih kuliah.
Alika tak hanya syok, tapi juga nyaris muntah janin akibat gambar dirinya dalam kertas glossy itu berada di dompet lelaki yang dia umpati beberpa hari ini. Dalam rangka memastikan kebenaran, tangan Alika yang gemetaran mencoba mencari bukti lain dari kartu identitas Para.
Waktu baru menunjukan pukul 11.56 WIB tapi Kota Surabaya sudah sepanas neraka. Alika seolah terbakar, padahal basement hotel ini cukup teduh dan sejuk, AC di dalam mobil Arka juga masih menyisakan sensasi semriwing. Alika jelas kebakaran bukan karena panas cuaca, melainkan karena mengetahui Kenyataan kejam tentang nama yang tertulis di KTP Pak Para.
“Ar-di-an-syah Para-dir-ga.”
Berharap pengelihatannya salah, Alika mengucek kedua matanya lalu membaca ulang indentitas Pak Para. Masih sama. Kepala Alika seolah mendidih. Akankah dia berubah jadi wanita bercula satu yang siap mengempiskan perut Ardi? Saking campur-aduknya perasaannya saat ini.
***
Meeting dadakan telah berakhir. Ardi merasa lega setelah mempresentasikan produknya pada Pak Henry. Memang, Pak Henry tampak kurang puas terhadap hasil presentasi Ardi yang sangat kacau dan kurang persiapan. Namun, karena istrinya sangat menyukai sampel yang dibawa oleh Ardi, akhirnya Pak Henry memutuskan untuk berinvestasi.
Setelah meeting sukses yang membuahkan kontrak baru berakhir, Ardi keluar restoran dengan tersenyum merekah. Hilang sudah perasaan dongkol pada sopir angkutan tadi. Meski begitu, kini Ardi harus memutar otak agar dia tidak perlu jalan kaki untuk kembali ke kantor.
Langkah Ardi terhenti di lobi, karena matanya menangkap sosok yang sampai saat ini menjadi mengikat erat hatinya. Alika Dissa Fahlefi. Kini rambut ala Dora milik Alika telah berubah seperti rambut Barbie. Kulit hitam legam Alika juga telah cerah berseri. Secara kontur, wajah gadis bermata bulat ini memang sudah indah sejak lahir. Yang membuat Alika dulu terlihat amat jelek hanyalah warna kulit dan berat tubuh tidak idealnya. Padahal hidung Alika juga mancung. Mungil namun menanjak tinggi ke atas. Bibirnya imut, namun berisi. Alika yang dulu cungkring pun kini tampil amat seksi. Pakaiannya jadi modis dan rapi. Gadis yang selalu bikin hati Ardi cenat-cenut itu mengayunkan langkah panjang menuju ke arah Ardi. Kemudian tanpa sepatah kata, Alika menangkup wajah Ardi dengan tangannya.
Dia menelusuri lekuk wajah Ardi mulai dari alis, hidung, bibir, hingga rahangnya.
Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana bisa pangeran berkuda putihku berubah menjadi siluman babi buncit? Alika meraung frustrasi dalam hati.
"Ada apa, Bu Alika?" tanya Ardi bingung sekaligus gugup.
Alih-alih menjawab, gadis itu justru merampas satu persatu kancing kemeja berwarna biru muda dari kaitannya. Ardi ter-peranjat. Setelah sebagian kancingnya tanggal, Alika menyibak kemeja Ardi ke atas. Kontan Ardi terkejut dan meronta, tapi dia kalah cepat dari Alika. Semua orang di lobi hotel itu menyaksikan keduanya dengan begitu penasaran.
"Alika, kamu kenapa?!" teriak Ardi.
Sungguh, Ardi tak terima ditelanjangi di depan umum. Apalagi oleh seorang gadis.Lagi-lagi Alika tidak menjawab pertanyaan Ardi. Gadis itu sibuk mencari sesuatu di punggung Ardi, sesuatu yang dapat mengonfirmasi validitas Ardi sebagai cinta pertamanya. Setelah beberapa saat menelisik punggung bidang milik Ardi. Alika akhirnya menemukan bekas luka bakar itu. Luka bakar yang membawa ingatan Alika pada tragedi beberapa tahun lalu. Gerakan Alika yang terhenti. Getar pada tangan dan ekspresi di wajah Alika yang sulit dia gambarkan, membuat Ardi menyadari bahwa gadisnya sudah mengenali.
Ardi pun merapikan baju dan segera mencekal tangan sang pujaan hati. "Alika ... sa-saya minta maaf," lirih Ardi membuyarkan lamunan Alika.
Alika mendongak dan mengusap air di sudut matanya. "Ardiansyah Paradirga, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Kakak bohongin aku?" Alika lalu memukul d**a Ardi dengan sisa-sisa tenaganya.
Babi buncit hanya bisa pasrah dan menerima segala pukulan yang Alika lampiaskan. "Maaf. Maafkan saya yang muncul dengan bentuk seperti ini," balas Ardi sedih.
Alika membisu. Dia tidak tahu harus berpegangan pada apa. Dirinya bingung bagaimana harus bereaksi. Bahagia atau berduka?
"Apa maksud Kakak menyembunyikan fakta ini dariku? Pura-pura nggak kenal, bersikap polos, menerima dengan lapang d**a semua hujatanku. Lalu apa? Di belakangku Kakak menertawakanku? Begitu, 'kan?" teriak Alika. Terlihat sekali jikalau kondisi gadis itu tengah kalut.
Ardi menghela napas berat lalu menjawab, "Kenapa kamu harus semarah ini, Al? Jika kamu sangat membenci saya, pura-pura saja tidak mengenali saya seperti sebelumnya. Saya tidak pernah meminta apa pun dari kamu. Saya juga tidak menuntut kamu untuk memandang saya seperti dulu."
"Aku harap itu bisa terjadi, Kak. Aku harap, aku bisa berpura-pura tidak mengenalmu. Bila perlu aku berharap sebuah kecelakaan besar menimpaku, agar aku kehilangan ingatan ini!" Alika begitu marah, ada erangan dalam isaknya.
"Tolong, jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Kita sudah sama-sama dewasa, lanjutkan hidup kamu seperti sebelumnya dan abaikan keberadaan saya."
Alika berdecih sambil berkacak pinggang. "Ckck, sama-sama dewasa? Siapa yang dewasa? Perut Kakak memang membengkak sebesar ini, tapi hati dan pikiran Kakak belum juga peka dan dewasa. Bagaimana aku bisa mengabaikan keberadaan Kak Ardi, sementara kenangan tiga tahun kita bersama masih melekat di kepalaku?" Jeda sejenak, Alika memijat kening lalu melanjutkan, "Mungkin tiga tahun lalu aku tak ada artinya untuk Kak Ardi. Mungkin kebersamaan kita tak pernah Kakak simpan dalam kenangan Kak Ardi. Mungkin hanya aku yang mencintai dan berjuang. Karena itulah, hanya aku yang tersakiti di sini. Dan, itu juga alasan kenapa rasa sakitku separah ini."
Perkataan terakhir Alika sebelum meninggalkan Ardi, membuat d**a Ardi luar biasa nyeri. Cinta yang tak pernah tuntas lebih mengerikan dibanding dendam kesumat. Asapnya tidak cuma menyesakkan d**a, tapi juga mampu menutup pandangan mereka.
Andai saja kamu tahu bagaimana remuknya perasaanku, Al. Ardi meringis dalam hati.
Kejadian hari ini sempat membuat Ardi memutuskan un-tuk resign. Untung saja dia segera ingat, bahwa dia akan celaka jika sampai berhenti dari pekerjaan ini. Ardi punya banyak tanggungan, mulai dari biaya kuliah sampai cicilan motor adiknya.
***