Jebakan Banci

2358 Kata
  November 2013 "Kau tau adiknya si Ardi?" Alika mengangguk sambil menjawab, "Tau. Ayu 'kan?" Sena manggut-manggut dengan wajah cerah. "Malah dulu aku kira Ayu itu ceweknya Kak Ardi. Makanya aku gigit Kak Ardi buat bebasin si Ayu, eh ternyata dia adiknya." "Huahahaha, ternyata kita sama." Sena mengajak Alika ber-tos-ria. "Gue juga ngira gitu. Gue pikir Ayu adalah penyebab putusnya Ardi dan Nadia, ternyata gue salah." "Kak Nadia mantan Kak Ardi? Kenapa putus?" Alika pe-nasaran hingga berlari kecil untuk mengejar jawaban Sena. "Kak Nad yang cantik kayak Barbie itu, 'Kan?" Sena mengangguk, dia melambatkan jalannya agar Alika bisa menyejajarkan langkah mereka. "Masih lebih cantik Ayu kali, daripada si Nanadi. Makanya gue cinta bangka sama Ayu. Catet, CINTA BANGKA. Bukan cinta mati lagi, tapi dah tahap bangka sebangka-bangkanya. Ngarti kau?" tanya Sena sambil merebut halus buku-buku tebal yang Alika gendong dengan susah payah di pelukannya. "Ndak usah repot-repot, Kak." "Gue bawain, biar kau nggak capek. Bisa susah gue kalau kau kecape'an lalu sakit," Sena tampak begitu menikmati perannya sebagai Ayah tiri Alika. Ayah jadi-jadian yang tidak segan menjadikan puterinya babu serabutan, "siapa nanti yang cuci baju dan bersih-bersih kalo kau sakit?" Mata Alika berputar-putar akhirnya. Wajah maba satu itu langsung kusut layaknya kertas bekas bungkus gorengan. Sena memang tidak pernah sepenuhnya memuji. Setiap kali melam-bungkan seseorang, Sena pasti punya maneuver spesial untuk menghempaskan orang tersebut ke perosok kerak bumi. Harusnya Alika mahfum, namun kelambanan otaknya membuat gadis itu selalu kecolongan dan nelangsa sendiri. "Tunggu, Kak." Langkah Sena berhenti setelah teriakan cakram dari Alika menggelegar. "Aku beli sesuatu dulu," jelas Alika sebelum berbelok ke warung kecil dekat kampus mereka. Pagi ini Sena menemani Alika ke perpustakaan kampus. Selama hampir satu tahun Alika berkuliah di universitas ini, belum pernah sekali pun dia menginjakkan kaki ke perpustakaan. Hari ini, jika bukan karena tugas dari Ardi, Alika tidak akan mungkin mendatangi tempat itu. Alasannya sepele, tidak berani, katanya. Padahal gadis itu punya mata, punya hidung, punya kaki. Apa coba yang membuat si udik itu harus takut? Untung Sena dengan sukarela menawarkan diri untuk mengantar Alika. Eh, aslinya sih, tidak benar-benar sukarela. Sena memang sengaja mencari waktu khusus untuk mendekati Alika, di luar pantauan Ardi dalam misi mencari bukti valid atas prediksinya tempo hari. "s**u? Permen s**u? Roti isi? Apa pulak jajanan kau, hah?" komentar Sena ketika Alika kembali dengan sekanng s**u kotak rasa cokelat, permen lollipop rasa s**u melon, dan roti dengan selai stoberi. "Hehehe, ini bekal aku sejak kecil, Kak." "Iya, tapi sekarang kau sudah bangkotan, Al! Masa kau terus makan begituan? Malu sama ayam, Al." Bibir Alika mengerucut, mata gadis itu juga turut menyipit. "Yeeee ... enak aja bangkotan. Aku masih imyut gini," sergah Alika sambil menyorot tajam Sena dengan tatapan matanya. Kringgggg ... kringggg.... Ringtone antik dari Blackberry Gemini milik Alika terde-ngar sangat nyaring. "Siapa?" tanya Sena sebelum Alika me-ngangkat panggilan itu. Alika menjawab dengan berbisik, "Kak Ardi." Gadis itu memang aneh, padahal dia bahkan belum mengangkat panggilan itu, kenapa pula harus bisik-bisik tetangga terhadap Sena. Odong! "Ada apa?" "Mana aku tau, kan belum aku angkat, Kak." "Ya sudah cepat angkat, ngapaennya kau ngobrol sama gue?" "Lha, ngapain Kak Sena ngajakin aku ngobrol terus?" Sena menepuk jidat. Alika benar-benar mampu menyeret siapa pun ke dunianya, alias menjadi lemot sepertinya. Dua manu-sia i***t itu saling pandang sebelum ringtone dari panggilan kedua berdering. "Cepet angkat!" perintah Sena dengan kedua alis terang-kat tinggi. Alika mengangguk dan mengangkat panggilan Ardi, "Ha-lo. Ya, Kak." "Al, saya harus pulang ke Banyuwangi. Belajar kita malam ini kita tunda lusa saja, ya." Suara Ardi di seberang sana terdengar bergetar. Alika menangkap sesuatu buruk telah menimpa Ardi. "Tapi kenapa, Kak?" "Ayah saya masuk rumah sakit hari ini." "Kak Ardi sekarang di mana?" tanya Alika mempercepat langkah. Sena mengekori Alika dengan kecepatan yang sama. "Saya masih di gazebo depan fakultas kita. Setelah ini saya berangkat ke stasiun." Ardi kemudian mengakhiri panggilan itu dengan salam. Alika berlari, kebetulan posisinya tidak jauh dari posisi Ardi saat ini. Sena membantu membawakan ransel Alika agar gadis itu lebih mudah berlari. Dari ekspresi cemas yang Alika tunjukan di wajahnya, Sena menjadi benar-benar yakin bahwa ada rasa tidak biasa yang disimpan Alika untuk Ardi. "Kak Ardi...." Teguran Alika membuat Ardi mendongakkan kepalanya. Jujur pemuda berahang tegas itu sedang gamang. Hari ini adalah hari terakhir ujian semesternya. Masih ada satu mata kuliah lagi yang harus dia lalui, sementara batinnya terus mendorongnya untuk pulang. "Kau kenapa lagi, Ar? Muka macam anak perawan dapet menstruasi," goda Sena dengan nada bercanda. Ardi yang pikirannya sedang kacau, hanya diam saja dan tidak punya selera menanggapi sahabatnya. "Ayah Kak Ardi baru saja masuk rumah sakit, Kak Sena jangan gitu dong bercandanya." Alika protes sambil mendorong Sena, agar dirinya bisa maju dan lebih dekat dengan Ardi. "Bah, terus kau mau balik ke Banyuwangi?" Pertanyaan Sena dijawab anggukan putus asa oleh Ardi. "Lalu bagaimana ujian akutansi kita?" tanya Sena setengah berteriak. "Bagi kau gampang, bagi gue itu kesulitan di atas kesulitan. Lagian kalo kau balik sekarang, nggak akan membantu, Coy. Kau bukan dokter yang bisa segera kasih tindakan ke bapak kau. Yang ada kau rugi banyak. Bisa-bisa kau kehilangan beasiswa karena mangkir dari ujian." Ardi mengusap kepala, perkataan Sena sedikit banyak ada benarnya. Namun, Ardi tetap tak kuasa mengusir rasa cemas akan keadaan sang ayah. "Setidaknya di sini dulu sampai lepas ujian, siap ujian gue akan antar kau pulang ke Banyuwangi dengan kecepatan formula satu. Dijamin kita sampai Banyuwangi dalam empat puluh menit, Bro." Alika ikut manggut-manggut mendukung penawaran Sena. "Naik motor dari Malang ke Banyuwangi dalam waktu empat puluh menit itu, kalau tidak berakhir di IGD rumah sakit, kita pasti berakhir di kamar jenazah," tanggap Ardi langsung membuat Alika berbalik arah. Gadis itu menyilangkan tangan dan segera mengkampanyekan gerakan tolak ide gila Sena. Alika memaki Sena sambil mendorongnya pergi jauh-jauh dari Ardi. Tapi setelah Sena meyakinkan bahwa dia hanya bercanda, Alika akhirnya mau berdamai. Kini mereka kembali meresapi wajah bimbang Ardi yang menguarkan kesedihan. Gadis yang hari ini mengenakan kaus hijau dan celana monyet kuning itu mengeluarkan s**u kotak rasa cokelat dari dalam tasnya. Alika lalu menyodorkan salah satu bekalnya itu kepada Ardi disertai senyuman manis. "Ini buat Kakak." "s**u cokelat?" Ardi sudah cukup sering melihat Alika membawa benda itu bersamanya. Namun tak pernah sekali pun terbesit di benak Ardi bahwa Alika akan menawarkan s**u anak-anak itu kepadanya. Memang konyol, Ardi merasa dirinya sedang jadi bocah yang disodori s**u oleh ibunya. "Kamu saja yang minum, Al," balas Ardi setelah Alika mengangguk penuh keyakinan untuk memberikan susunya pada Ardi. Sena tertawa hingga jumpalitan. Jarang-jarang Ardi jadi korban kepolosan Alika yang biadab di mata Sena. "Kak Ardi pasti gengsi minum s**u yang beginian, ya. Tapi, aku harap Kakak jangan melihat dari kemasan. Kata orang, cokelat itu bisa memperbaiki mood, lho. Nah, aku yakin minuman ini bisa merilekskan Kakak. Jadi, aku mohon, minum, ya," pinta Alika dengan lembut, disertai wajah melas yang terlihat lebih me-ngenaskan dibandingkan korban Tsunami Aceh. Tiga hal yang sulit Ardi tolak; orang tua, orang sakit, dan orang dengan wajah harus dikasihani. Alika memenangkan salah satu poin di atas. "Ayahnya Kak Ardi pasti baik-baik saja, kok," tutur Alika sambil menepuk lembut bahu Ardi. "Tenangkan dulu emosi Kakak, biar bisa berpikir jernih," lanjut Alika sambil membantu menusukkan sedotan ke kotak s**u. Ardi akhirnya meminum s**u itu ragu-ragu karena malu, tapi jujur dia sangat menikmatinya. Alika benar, s**u cokelat itu berhasil menenangkan perut dan emosi Ardi. Meski begitu, ekspresi Ardi langsung muram ketika menya-dari beberapa mahasiswi terkikik memperhatikan Ardi meminum s**u kotak tersebut. Hal itu dipicu oleh reaksi berlebih Sena. Ya, tawa Sena semakin membahana saat Ardi kalah telak oleh Alika. "Kamu benar-benar tahu cara menurunkan harga diri saya di depan umum, Al," keluh Ardi dengan raut muka yang amat muram. Alika terkekeh lalu mengeluarkan sepotong roti isi stroberi dari tas. "Makan ini juga," kata Alika sambil membukakan plastik roti itu untuk Ardi. "Apalagi sekarang, Al?" "Ini roti rasa selai stroberi favorit aku. Demi Kakak, aku rela bagi bekalku," jawab Alika sambil menyuapkan roti itu ke mulut Ardi. "Bruakakakakak, DEMI KAKAK. Catet demi Kakak. Inget itu ya, Kak Ardi," olok Sena puas. "Enak, 'kan?" tanya Alika setelah Ardi menelan kunyahan pertamanya. Ardi memejamkan mata sejenak, mengusir bayangan wa-jah sengak Sena saat puas mengolok-oloknya. Lalu dengan legowo Ardi mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu kemudian menjejalkan seluruh roti yang tersisa ke mulut Ardi. "Habisin, ya," ujar Alika seraya menepuk lembut kepala Ardi tanpa sungkan. Mahasiswa yang sering terciduk dalam kasus terlalu ganteng itu sebenarnya agak risih dengan perlakuan Alika, yang seperti ibu-ibu sedang menepuk kepala anaknya karena bangga atau gemas. Namun, Ardi tidak marah karena menganggap tindakan Alika sebagai bentuk pelampiasan. Mungkin gadis itu rindu main rumah-rumahan dengan peran sebagai ibu yang sok perhatian. "Udah baik mood kau, Ar?" tanya Sena penasaran. Sebagai sahabat yang mengenal pribadi Ardi luar-dalam, Sena jarang sekali melihat Ardi sejinak ini. Tidak ada satu pun gadis yang dia biarkan lolos setelah menepuk kepalanya seperti anak TK. Tapi hari ini, Ardi bahkan tidak kesal sedikitpun atas perlakuan Alika. Ardi mengangguk sambil mengelus perutnya. "Iya, kayak-nya aku emang lapar," desah Ardi. "Tuh, kan benar. Perasaan buruk Kak Ardi bisa teralihkan dengan makanan!" bangga Alika dengan wajah cerah. "Ini, terakhir." Alika membuka bungkus lollipop rasa s**u melon, lalu menjejalkannya ke mulut Ardi. Ardi hanya pasrah, sementara Sena kini mendapat jawaban sempurna. Bahkan bekal kekanakan Alika bisa menolong Ardi dari frustrasi. Kalau bukan karena cinta, lalu apa yang membuat keduanya bisa saling mengerti dan melengkapi? Keyakinan Sena sudah mencapai 200% tidak ada sedikit pun keraguan atas prediksinya. Saatnya beraksi! *** "Al, Ardi sudah balik!" Teriakan Sena membuat Alika hampir salto dan segera membuka pintu kamar kosnya. Terlihat Sena masih nangkring di atas motor Satria birunya. "Beneran?" tanya Alika mengkonfirmasi. "Iya, tapi Ardi sekarang dalam bahaya. Dia pingsan gegara minum obat pel rasa apel yang kau racik dalam botol air minum mineral." "APAAAAA?" "Gue mau panggil dokter, kau segera ke kosan, terus berusaha bangunin Ardi. Jangan sampe dia mati." Penjelasan terakhir Sena sebelum dia menarik kencang gas motornya. Aduh, bagaimana kalau Kak Ardi mati? Yo'opo iki? panik Alika dalam hati. Sambil mengusap air mata dan ingusnya, Alika berlari ke indekos Ardi. Menerjang apa pun, bahkan lampu merah tidak lagi terlihat merah. Klakson mobil bersautan, para pengendara memaki Alika yang sudah gila. "Kak Ardi!" Alika membuka pintu tidak terkunci tersebut. Memeluk Ardi yang terbaring lemas di ranjangnya. "Kak maafin aku, yo. Jangan mati dulu, Kak! Aku ndak iso hidup tanpa Kakak," isak Alika menjadi. Kepalanya kini ada di d**a Ardi. "Banguno, Kak. Aku janji akan lebih rajin. Janji ndak akan ndoweh saat Kakak ngajarin aku. Janji akan sering buatin pudding pepaya kesukaan Kakak. Janji ndak masukin micin dalam masakan Kakak. Janji ndak jajan mi lidi lagi. Janji ndak ngupil di depan Kak Ardi, pokoknya Kakak kudu bangun. Pehlis, Kak." Kesadaran Ardi tergugah oleh rancau penuh sesal Alika. Namun, saat Ardi hendak membuka mata, gadis absurd yang baru saja menangisi kematiannya itu justru sibuk berbicara di telepon. Speaker ponsel Alika memiliki volume maksimal, itu mem-buat Ardi dengan mudah mendengar suara seseorang di seberang telepon. "Macam mana, Ardi sudah bangun?" Sena bertanya, pura-pura panik. Masih mewek, Alika menjawab, "Belum, gimana ini, Kak Sen? Kakak sudah ketemu dokter?" "Bah, gawat itu Al. Dokternya masih lama. Masih ngoperasi kucing lahiran."  Otak Alika yang lelet tidak menyadari kejanggalan jawaban Sena. Sementara Ardi langsung mengutuk Sena dalam hati. Betapa kurang ajar sahabat somplaknya itu, memanggilkan dokter hewan untuknya saat sekarat. "Hah? Ndak ada dokter lain?" "Nggak ada, Al. Sekarang kau dengar intruksi gue. Kasih napas buatan biar Ardi bangun," perintah Sena yang merupakan salah satu bagian dari jebakan berencananya. Alika menggaruk kepala. Matanya memperhatikan bibir Ardi yang lebih terang warnanya daripada bibir Sena. Wajar saja, Ardi tidak merokok sementara Sena adalah pecandu batang-an kanker. "Aku ndak iso e, ndak tau cara-nya, Kak." "Tempel bibir kau ke bibir istri gue. Terus hisap bibir bawah-nya, pelan-pelan aja. Lakukan sampai Ardi bangun." Sepolos-polosnya Alika, dia masih memiliki perasaan aneh dengan petunjuk Sena. "Terus kapan proses transfer oksigennya kalo gitu, Kak? Maksudku kalau cuma dihisap. Kan harusnya aku niup napas, kok Kak Sena malah ngajarin ngisep?" "Bah, b**o kali kau!"  Sebenarnya batin Sena sedang mengumpati, kenapa otak Alika justru bekerja dengan baik di saat seperti ini. "Itu oksigen dihasilkan karena jantung memompa. Karena jantung berdetak, ngarti kau, Al. Nah, kalo kau hisap itu bibir si Ardi, jantungnya akan berdetak lebih kuat." "Oh, begitu." Alika yang d***u akhirnya percaya saja dengan muslihat Sena Sianipar. Kini, batin Ardi yang bergejolak. Selama ini, Ardi adalah orang yang paling keras menghalau tingkah polah Sena dalam mencemari kepolosan Alika. Namun entah kenapa, kali ini Ardi tidak berniat menghentikan rencana Sena. Dia justru ingin mengetahui sejauh apa Sena akan menjebak Alika. Tidak, tidak ... yang benar-benar ingin Ardi ketahui adalah perasaannya sendiri terhadap Alika. Alika ragu. Tapi tekad bulatnya untuk menyelamatkan Ardi, membuat perawan desa ini terus maju. "Kak Ardi, banguno," isak Alika sebelum mendaratkan bibirnya ke bibir Ardi. Bagaimana jantung Ardi tak berdetak seperti tempo musik disko. Bibir hangat yang sedikit bergetar, dengan aroma serta cita rasa s**u melon milik Alika begitu lembut. Sepertinya gadis itu baru menghabiskan lollipop favoritnya. Alika sendiri gugup melakukan pertolongan pertama dengan cara demikian, terlebih ini adalah pertama kalinya dia melakukan kontak bibir. Lutut gadis yang tahun depan hendak menginjak dua puluh tahun itu sebenarnya lemas akibat sengatan rasa aneh yang bergerilya di pembuluh darahnya. Mata Ardi terbuka. Alika tercekat. Saat gadis itu akan bangun, Ardi menahannya dan membalas ciuman Alika dengan lumatan yang sama. Di situ, Alika menyadari bahwa Ardi baik-baik saja. "Kak Ardi pura-pura?" Alika bertanya dengan air mata yang mulai merembes. Dia mundur beberapa langkah. Dia kecewa. Sangat kecewa. Keluar kamar, berlari pergi. Alika kalut dalam perasaan kocar-kacir yang sulit dia kendalikan. Ardi tidak mengejar, pemuda itu kehabisan kata untuk menjelaskan. Sedikit banyak Ardi bersalah, jika saja dirinya sege-ra bangun dan tidak membiarkan kesalahpahaman ini terjadi. Ah, tapi sudahlah, yang penting kini Ardi menyadari, bahwa perasaannya terhadap Alika lebih dari istimewa. Dalam perjalanan kembali ke indekosnya, Alika mendapa-ti Sena sedang bersama Ayu di angkringan. "Kalau Bang Sena mau dapetin restu Mas Ardi, dengan ca-ra hamilin aku. Abang banci, Bang!" kata Ayu kepada Sena. Alika yang mendengar itu langsung maju dan menya-huti, "Iya, Kak Sena memang banci. Sebanci-bancinya banci. Karena hari ini aku udah kemakan jebakan banci."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN