September 2019
"Dihhh, malah bengong. Kesambet kamu? Atau amazinglihat kecantikan aku, iya?!" sungut Alika, membuyarkan ketakjuban Ardi.
Musnah sudah harapan Ardiansyah Paradirga bahwa ini hanyalah mimpi buruk. Semburan nyinyir panas dari mulut Alika adalah bukti bahwa apa yang saat ini terjadi merupakan kenyataan.
Ya, kenyataan yang sangat mengenaskan bagi Ardi. Gadis yang berdiri di hadapannya telah menjelma sepuluh kali lebih cantik, dibanding gadis yang beberapa tahun laluditinggalkannya.
Ardi tercengang dengan wajah bodoh, sementara raut muka Alika semakin enek melihat reaksi buntalan lemak di hadapannya.
"Aku paham risiko jadi orang cantik itu harus, kudu, siap dimodusin. Tapi enggak kayak gini juga kali. Jangan main seruduk, dong! Lagian sebelum kamu melancarkan modus ke aku, harusnya kamu ngaca dulu. Pantas nggak, kamu godain cewek secantik aku?" nyinyir Alika dengan kesadisan level j*****m, dan kenarsisan tingkat dewa.
Jleb!
Ardi setengah megap-megap mendengar cemoohan Alika. Masih jelas di ingatan Ardi, bagaimana gadis itu mengekorinya selama mereka kuliah. Bagaimana Alika dulu menempel padanya setiap waktu. Bahkan Alika tak segan mencuci pakaian Ardi serta memasakkan makanan untuknya. Namun kini, gadis yang baru saja mencercanya dengan kata-kata pedas tadi, terlihat sangat berbeda.
Gadis dekil itu sudah kinclong.
Gadis lemot itu sudah smart.
Gadis udik itu sudah fashionable.
Gadis polos itu sudah pandai mengumpat.
Ardi benar-benar telah terbunuh oleh kata-kata mematikan yang keluar dari mulut mungil Alika!
Tidak bisa menyalahkan Alika yang tak lagi mengenali-nya. Ardi seratus persen menyadari bagaimana takdir dengan kejam mengutuk fisiknya. Tidak ada pilihan lain, Ardi hanya mampu menghela napas panjang dan meminta maaf secara sopan kepada Alika. "Iya, saya mengaku salah. Maaf, ya. Saya tadi buru-buru dan tidak melihat keberadaan kamu."
"Ya kali, tuh mata digadaikan apa gimana?" Alika memu-tar bola mata.
Belum sempat Ardi menjawab, tiba-tiba datang seorang gadis berhijab memanggil Alika, "Mbak Al, sudah ditunggu di ruang meeting."
Alika menghunus tatapan kesal kepada Ardi, kemudian pergi meninggalkannya.Tentu saja Ardi bernapas lega ketika Alika berjalan pergi. Bertemu kembali dengan Alika setelah pencariannya selama ini, ternyata tak seindah harapan. Ini bukan cinta lama bersemi kembali, melainkan cinta lama bersungut kem-bali!
***
"Apa!" teriak Alika seraya mendelik tajam. "Ini financeal analyst baru kita? Nggak ada yang lebih manusiawi?"
Arka memijit kening karena reaksi berlebihan Alika sukses membuatnya malu di hadapan Ardi. "Tenang dulu, Al. Pak Para ini sangat kompeten dan direkomendasikan langsung oleh Pak Dibyo." Arka memberi penjelasan agar Alika tak lagi meragukan kemam-puan Ardi.
"Tapi, Pak, konsentrasi kerja saya bisa hilang karena berewok dia yang mirip sapu ijuk itu," protes Alika membuat Ardi seketika meraba jambang tebalnya. "Belum lagi tuh perut.Udah kayak orang bunting lima bulan.”Ini berisiko sekali loh, Pak Arka. Nanti kalau dia sewaktu-waktu melahirkan di kantor gimana?" Semena-mena Alika menuduh, sehingga Ardi mengelus perut meski dadanya yang sakit.
“Bu Alika, tolong kondisikan mulut Anda.” Arka memotong nyinyiran Alika dengan peringatan penuh tekanan, untuk meredam suasana gaduh di ruang kerjanya.
Alika mengacak poni dengan frustrasi. “Ini berisiko sekali loh, Pak Arka. Nanti kalau dia sewaktu-waktu melahirkan di kantor gimana?"
Mata Ardi melolong, mulutnya ternganga. Apakah pertanyaan konyol barusan benar-benar mencelus dari bibir mungil Alika?Yakin itu Alika? Sungguh tak dapat Ardi percaya.
Sementara itu,Wwalaupun kesal terhadap sikap Alika, nyatanya Arka merasa meeting kali ini justru lebih mirip komedi petang yang biasa dia tonton. Ekspresi Pak Para alias Ardi yang teraniaya, sambil mengelus-elus perut buncitnya sangat menghibur. Akan tetapi Arka harus menahan tawa agar wibawanya sebagai atasan tak berkurang.
"Sudah-sudah.hHentikan, Al. Pak Para ini akan satu tim dengan kita, jadi kamu harus belajar menerimanya.” Arka berdiri agar tangannya bisa menggapai lengan Alika. Memaksa bawahannya itu duduk dengan sebuah tarikan halus.“Lagipula, Cukup kamutujuan saya secara khusus memperkenalkan kamu ke Pak Para sebenarnya untuk memberitahu, bahwa kamutelah saya tunjuk secara ekslusif untukmengajari dia sistem dan prosedur manajemen di perusahaan kita. Mengerti, Al?"
Baru saja Alika dengan ikhlas memaksakan diri untuk du-duk dan bersikap lebih tenang. Lanjutan kalimat Arka membuat adrenalinnya membuncah lagi. Bola mata "Jadi, tetep nih, Pak?" tanya Alika penuh penekanan.Alika membulat. Mandat laknat macam apa yang baru saja Arka sebut ekslusif?
Didapuk secara ekslusif bokongmu?Umpat Alika dalam hati.
“Seriusss, Ka?” Alika bertanya dengan nada rendah tapi penuh penekanan. Arka menjawab dengan anggukan mantap seraya melempar senyum.
Alika tak mampu berkata lagi, ekspresi Arka menunjukan bahan naik bandingnya sudah pasti tidak akanditerima. Tidak mau membuang waktu, pria tampan bernama Arka—yang rupanya pemilik kacamata, yang tadi digasak Ardi di warung—itu meminta Alika segera mengajak Ardi ke ruang kerja tim mereka.
Ardi pun akhirnya mengikuti Alika sesuai interuksi manager personalia. Sementara Alika yang tak kunjungmemang tidak mengenali Ardi, terus menggerutu mengeluh karena anggota tim barunya ternyata tidak setampan bayangan. Andai Alika tahu siapa yang kini dia cemooh.
Sudahlah, Ardi memang memutuskan untuk tidak mengungkap identitasnya kepada Alika. Hal ini bukan perihal dia sakit hati saat Alika tak mengenali dirinya, melainkan karena Ardi takut melukai Alika dengan perubahan wujudnya saat ini. Lebih dari seratus persen Ardi sadar, bahwa dia sudah tak seindah dulu.
"Itu meja kamu." Alika menunjuk sebuah meja di seberang meja kerjanya.
Ada satu kubikel dengan empat meja di tengah-tengah ruangan. Tripleks berwarna hijau menjadi sekat pemisah antar meja. Pertama milik Alika yang merupakan seorang payroll officer. Tepat di samping meja Alika, ada meja Wina, assistant pay-roll. Lalu, ada Pak Fredi, staf accounting yang berseberangan meja dengan Wina. Terakhir, Ardi sebagai financial analyst baru mendapatkan meja sebelah Fredi yang artinya juga berhadap-hadapan dengan meja Alika secara langsung.
Ardi sangat menikmati dan bersyukur dapat bergabung menjadi bagian dari perusahaan bonafit seperti PT GCI. Walaupun sedikit tertekan, pria yang terpaksa menggunakan nama Para di sini ini masih bertekad untuk terus bertahan. Sial bagi Ardi karena namanya kini dengan mudah dipelesetkan teman-teman sekantornya menjadi '“Pak Parahhhhhhhhhh'.” Lagi-lagi Ardi hanya mampu menghela napas, bersabar sambil mengurut perut.
Beberapa kali pandangan Alika bersemuka dengan mata Ardi. Namun
Beberapa minggu Ardi dan Alika berkerja di dalam satu ruangan, tetapi gadis kelahiran kota apel itu masih tentram dalam amnesia, alias tidak mengenali Ardi. Separah itukah perubahan Ardi? Atau sedangkal itukah cinta dan memori Alika?
Asu ... dahlah.
Hari berganti hari, Ardi sukses adaptasi. Ilmu yang dipelajari saat kuliah dulu ternyata jauh berbeda dengan rumus yang harus dia gunakan saat bekerja. Syukurlah otak Ardi mumpuni untuk mengatasi semua kendala ini. Tidak terasa lima belas hari telah berlalu, hari ini merupakan pertengahan bulan. Bagi tim manajemen, pertengahan bulan adalah masa party. Sebab bisa dipastikan pekerjaan selenggang jalan tol. Ada banyak Wwaktu untuk bersantai, tanpa memikirkan deadline ini dan itu.
Setelah selesai mengerjakan reportmempelajari beragam data yang diberikan Alika kepadanya, Ardi mencoba mengisi waktu luangnya dengan mengintip sejenak media sosial bernamaakun f*******:-nya. Akun itu yangrupanya sudah berdebu, bersarang kutu, dan fakir tamu itu.Yang pasti, terakhir kali Ardi membuka f*******: yakni saat statusnya masih menjadi mahasiswa. Tidak banyak foto di sana, tapi Ardi rajin menulis status berupa kalimat pengingat diri atau sekadar puisi.
"Saya akhirnya mengerti, mengapa cinta tidak berlaku hanya pada orang-orang yang memenuhi syarat. Sebab ada orang penuh kekurangan sepertimu yang berhak mendapatkan kesempatan dicintai." Status f*******: terakhir Ardi
Seberang meja Ardinya, ada Alika yang juga sedang bersantai sambil cekikikan. Gadis bergigi gingsul kelinci itu membalas pesan di ponsel pintarnya. Meja Pak Fredi kosong karena orangnya pergi ke kantor pajak untuk menyerahkan berkas. Lalu Wina sedari tadi asyik menonton drama Korea. Suasana kantor sudah seperti warnet, semua sibuk dengan dunia mayanya.
"Aih, cinta pertama itu mengharukan, ya," celetuk Wina tiba-tiba. "Tapi cinta pertama dalam dunia nyata nggak semanis di drama, deh. Malahan yang ada, berakhir tragis. Hiksss!" lanjut Wina dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Alika meletakkan smartphone miliknya lalu mengomentari perkataan Wina, "Siapa bilang? Cinta pertamaku manistuh."
Jawaban Alika memancing rasa penasaran Wina. "Mbak Al punya cinta pertama?" tanya Wina dengan mata berbinar-binar. Sepertinya, Wina akan mendapatkan korban kepo-kepo bulanan yang bisa jadi bahan bergosip satu kantor.
Alika mengangguk dengan antusias, mulai terpancing. "Namanya Ardi, dia kakak tingkatku waktu kuliah di Malang," jujur Alika tanpa merasa malu.
Pengakuan Alika membuat Ardi yang sedari tadi fokus ke layar monitor, langsung terbatuk dan nyaris tersedak liurnya sendiri. Beruntung, masih nyaris, belum kejadian.
"Terus? Terus?" Wina semakin kepo.
"Dia LGBT."
Wina mendelik dengan mata mau mencelus, sedangkan Ardi syok luar biasa. Irwina Anastasya yang akrab disapa Wina langsung beranjak dan mencubit Alika sambil berteriak, "Mbak Al! Apa-apaan? Masa jatuh cinta sama penganut LGBT, sih?"
"LGBT tuh, lelaki ganteng berhati tulus," Alika terkekeh puas, "jangan baper dulu dong."
Wina kembali ke kursinya dengan tatapan jengkel. "Dih, siapa juga yang baper," elak Wina sinis.
Pujian Alika terhadap dirinya, membuat Ardi sedikit lega tapijuga lumayan frustrasi. Ternyata Alika masih mengingat yang baik-baik tentangnya. Pemuda iniArdisempat berpikir Alika melupakannya karena terlalu sakit hati. Tapi ternyata gadis itu tak pernah melupakannya.