Sudah Jatuh Tertimpa Takdir

717 Kata

Januari 2014 "Nambah seporsi lagi, Yu. Lauknya telor aja, penyetin ke sambal. Nasinya banyakin," pesan Ardi. Perut ratanya meraung. Minta jatah makan lagi, lagi, dan lagi. Masa-masa sakit hati memang membuat perut Ardi menggila. Dia akan kelaparan setiap beberapa menit, demi menyelamatkan mentalnya dari keinginan bunuh diri. Aneh, tapi begitulah cara bujang Banyuwangi itu meratapi nasibnya yang menyedihkan. "Mas Ardi, ini piring terakhir, lho." Ayu menyodorkan sepi-ring nasi dan sebuah cobek berisi sambal serta telur rebus penyet. Ardi tak menggubris peringatan Ayu, dia hanya fokus kepada makanannya. Mencolekkan telor  kesambal, lalu menam-bahkan pulukan nasi untuk dibenamkan ke dalam mulut. Seperti inilah sikap Ardi selama tujuh hari terakhir. Hilang kewarasan. Ardi hanya tahu makan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN