“Kalau begitu, kau harus berjanji padaku untuk selalu menjaga dirimu dengan baik!” Raffa menyusul, menyejajarkan kembali langkahnya dengan Jelita. “Tentu saja. Kau tidak ingat jika aku ini dulu pernah ikut ekskul taekwondo?” Raffa tersenyum meledek seraya menyentil dahi sang gadis dengan perlahan. “Masuk saja jarang-jarang! Jangan sok jago!” Jelita mendelik sekaligus mendesis tak suka. “Ish!” Tak terasa, perjalanan singkat kedua insan yang diselingi canda tawa itu kini telah membawa mereka di tempat tujuan—sebuah halte bus yang sepi. Hanya ada mereka berdua di sana, duduk berdampingan di bangku panjang dengan sinar matahari jingga yang menyengat kulit. “Kau tidak langsung pulang?” Jelita menggeleng seraya menggoyang-goyangkan kakinya bagai anak kecil. “Nanti saja, aku akan menunggu

