“Kalista?” Bibirnya bergumam pelan secara refleks. Ya. Arkana kini melihat kehadiran gadis itu di sudut lain—tepat di depan meja administrasi. Tanpa pikir panjang, Arkana kemudian melangkahkan tungkainya panjang-panjang demi menghampiri, namun sialnya takdir tak berpihak padanya saat ia diharuskan untuk menghentikan langkahnya saat ada pasien darurat yang melewati lobi. Arkana memanjangkan lehernya demi memastikan jika gadis itu masih di sana, namun pandangannya terhalang dengan begitu banyaknya pasien kecelakaan yang baru dilarikan ke rumah sakit. Sial, sial, sial! Setelah lobi lengang, Arkana pun kembali melangkah menuju tempat tujuan awalnya, namun sayang pada akhirnya ia tidak menemukan keberadaan sang gadis di sana. Arkana hanya mampu berkacak pinggang seraya menahan geraman marah

