"Bunda gak marah?" Zira mengernyit lalu menggeleng perlahan. "Buat apa Bunda marah?" "Tapikan nilai aku kecil semua," lirih Kinan yang membuat Zira menarik tangan anaknya itu lembut agar duduk di kasur lantai. "Emang kalau nilai kecil Bunda harus marah?" Anggukan polos dari Kinan membuat Zira terkekeh. Ia menoleh sebentar pada Kenan yang kini kembali memakan sisa roti goreng yang masih lumayan banyak di piring. Tampaknya anak itu tidak peduli dengan keadaan. "Jadi Bunda harus marah?" Kinan menggeleng. Namun sedetik kemudian menggeleng keras. "Jangan!" Tawa Zira akhirnya pecah. "Abang sama adek kesini sebentar," titah Zira setelah meredakan tawanya. Kenan yang tengah menyantap rotinya pun menoleh dan duduk disebelah Kinan. "Bunda mau nanya, nilai itu penting nggak?" Keduan

