Part 13

1520 Kata
Rembulan mengeratkan pegangan pada tali ranselnya. Berjalan melewati g**g hingga beberapa langkah lagi sampai di rumah. Sepanjang perjalanan, Rembulan memikirkan perkataan Iren yang membencinya hanya karena Rembulan pintar. Mengapa Iren harus sebenci itu padahal Rembulan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Rembulan menghela napas panjang, mendongakan kepala. Wajahnya yang semula kusut, bibirnya yang semula hanya menarik garis datar kini terangkat ketika melihat pria paruh baya melambaikan tangannya di teras rumah. "Bapak!" seru Rembulan berlari menghampiri pria paruh baya yang tengah duduk di kursi. "Bapak udah pulang?" tanyanya mencium tangan Wijaya, ayahnya. Binar mata Rembulan terlihat senang ketika melihat keberadaan sang ayah. Pasalnya, sudah beberapa hari ini ayahnya tidak pulang karena sibuk bekerja. Rembulan menarik kursi di sebelah Wijaya dan segera menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu nggak sama Kakakmu?" tanya Wijaya. Rembulan menggeleng mendapati pertanyaan Wijaya. "Nggak, Pak. Paling dia pulang sama temen atau pacarnya." balas Rembulan mengibaskan tangan ke wajah karena merasa gerah. "Kalau kamu punya pacar, Lan?" tanya Bapak setelah menyerput teh dalam mug. Matanya terarah pada Rembulan yang menghela napas, lalu menggeleng. "Bagus itu, masih kecil kamu nggak usah pacaran. Belajar yang rajin, bikin Bapak sama Ibu bangga." ujar Wijaya membuat Rembulan tersenyum kecil. "Iya, Pak." Rembulan melepas sepatunya, meletakkan tas di lantai teras. "Bapak kerjanya sibuk, ya, akhir-akhir ini?" tanya Rembulan membuat Wijaya mengangguk. "Di bandara selalu rame, ya, Pak?" tanya Rembulan penasaran. "Rame. Kenapa memangnya?" tanya Wijaya seraya mencomot goreng pisang di hadapannya. Wijaya menatap putri bungsunya itu yang memasang raut wajah lelah. Rembulan hanya menggeleng, menyandarkan tubuhnya ke kepala kursi. Melihat raut wajah putrinya membuat Wijaya mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Lan?" tanya Wijata ketika melihat raut wajah Rembulan tidak seperti biasanya. "Nggak apa-apa, Pak." balas Rembulan menggelengkan kepalanya. "Kalau ada apa-apa, cerita sama Bapak." ujar Wijaya membuat Rembulan hanya mengangguk. "Sekolah kamu gimana?" tanya Wijaya lagi. "Lancar kok, Pak." Rembulan kembali diam, matanya memandang langit-langit di teras sore hari. Beberapa saat dia hanya terdiam, mendengarkan suara berisik burung milik tetangga sebelah. Lalu, menoleh lagi ke arah Wijaya. "Bapak dulu pernah punya cita-cita nggak?" tanya Rembulan penasaran. "Cita-cita?" Rembulan mengangguk. "Ada." jawab Wijaya membuat Rembulan penasaran dengan jawaban ayahnya itu. "Cita-cita Bapak jadi sopir bus apron yang muter-muter di lapangan pacu bandara?" tanya Rembulan lagi membuat Wijaya terkekeh. "Cita-cita Bapak sederhana kok." Wijaya menyeruput teh dalam mugnya. "Cita-cita Bapak menyekolahkan anak-anak Bapak sampai jadi orang-orang sukses." Wijaya tersenyum, menepuk puncak kepala Rembulan berkali-kali. Rembulan tertegun, ditatapnya wajah Wijaya yang kian menua. Bagian bawah matanya yang sudah mengendur dan menghitam. Kulitnya yang sudah tak sekencang saat masih muda. Rambut yang kian memutih,juga telapak tangan dan kakinya yang kasar. "Hanya itu cita-cita, Bapak?" tanya Rembulan lagi. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menelusup relung hatinya ketika melihat wajah sang ayah. Ayah yang rela banting tulang hanya untuk menafkahi anak-anaknya. Bekerja keras agar Rembulan bisa bersekolah. "Cita-cita Bapak ada di kamu dan Pelangi. Bapak minta, jadi orang bermanfaat buat orang sekitar kamu, ya, Lan. Tolongin orang yang butuh bantuan kamu, meskipun orang itu nggak minta. Tanpa pamrih. Insya Allah, mulia hidup kamu, Lan." ucap Wijaya. "Iya, Pak." jawab Rembulan menganggukan kepalanya. "Kenapa Bapak nggak bercita-cita untuk jadi presiden, pilot, atau dokter?" tanya Rembulan lagi. "Atau polisi mungkin?" Rembulan mengangkat bahu. "Kenapa kamu jadi nanya Bapak, Lan?" Wijaya tetkekeh. "Sekarang Bapak tanya sama kamu, kalau sudah semakin dewasa, Bulan mau jadi orang yang seperti apa?" tanya Wijaya membuat Rembulan mengernyit. "Orang yang seperti apa?" tanya Rembulan mengulang pertanyaan Wijaya. Rembulan terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya berbicara lagi. "Mau jadi seperti Bapak?" jawabnya. Wijaya terkekeh, menepuk puncak kepala Rembulan yang terbalut hijab di kepalanya. "Boleh. Kamu mau jadi dokter, kan, Lan?" tanya Wijaya. "Tapi, Pak, kata temen-temen Bulan, sekolah dokter itu mahal harganya, Pak. Bulan nggak mau nyusahin Bapak. Nanti Bulan pikir-pikir lagi deh cita-cita Bulan itu apa." balas Rembulan ketika mengingat bagaimana teman-temannya yang mengatakan bahwa Rembulan tidak akan mampu menjadi dokter. "Loh, kok gitu?" protes Wijaya mengerutkan keningnya. "Kenapa temen-temen kamu cuma bilang kalau sekolah dokter itu mahal? Kenapa mereka nggak bilang kalau sekolah dokter itu harus murid yang pintar?" tanya Wijaya membuat Rembulan menggeleng. "Kamu, kan, pintar. Kenapa mereka nggak memuji kepintaran kamu aja daripada bilang biayanya. Memangnya mereka yang mau membiayai sekolah kamu?" tanya Wijaya membuat Rembulan terdiam. Perkataan Wijaya memang benar, teman-temannya bahkan tak membiayai sekolah Rembulan, tapi begitu repot mengomentari kehidupan Rembulan. "Nggak tahulah, Pak. Temen-temen Bulan emang suka ngomong kayak gitu setiap kali Bulan bilang cita-citanya mau jadi dokter. Terus, mereka juga bilang kalau dokter itu harus yang cantik dan langsing, Pak. Bulan, kan ..., gendut, Pak." Kedua bahu Rembulan menurun, wajahnya mendadak muram. Seketika memori pahit yang pernah Rembulan rasakan terputar lagi di kepalanya. "Siapa yang bilang begitu?" tanya Wijaya geleng-geleng kepala. "Anak Bapak itu semuanya cantik kok. Kata siapa dokter itu harus cantik dan langsing? Istrinya temen Bapak, dia nggak langsing, tapi jadi dokter." jelas Wijaya mencoba untuk mengembalikan rasa percaya diri Rembulan. Rembulan menghela napas panjang, mengangkat bahunya. "Bulan bingung, Pak. Sekarang Bulan nggak tahu cita-cita Bulan mau jadi apa." balas Rembulan. Nada suaranya benar-benar terdengar bingung. Setelah apa yang Rembulan terima, kepercayaan dirinya seolah lenyap begitu saja. Mimpi yang indah dan tinggi itu telah dipatahkan berulang kali oleh banyak orang. Rembulan sadar bahwa terkadang perkataan orang lain menyakitkan sekaligus menyadarkannya. Namun, Rembulan tidak tahu lagi bagaimana dia bermimpi setelah banyak orang yang mematahkan harapannya hanya dengan ucapan. "Lan, hanya orang hebat yang berani bangun di saat dirinya jatuh berkali-kali. Hanya orang-orang hebat yang mau bermimpi lagi setelah semua orang mematahkan harapannya." Wijaya menepuk pundak Rembulan berkali-kali. "Kamu anak Bapak pasti bisa lewati ini semua. Bapak titip mimpi Bapak ke kamu, ya, Lan. Bapak percaya sama kamu." ujar Wijaya menyemangati anak bungsunya. Rembulan mengangguk, mengembuskan napasnya gusar. Perkataan Bapak ada benarnya, tapi sering kali perkataan orang lain terngiang-ngiang di telinganya. "Pak," panggil Rembulan lagi membuat Wijaya bergumam. "Jadi orang pinter itu salah, ya?" tanya Rembulan membuat Wijaya mengernyitkan keningnya. "Lho, kok gitu pertanyaannya?" balas Wijaya tak mengerti dengan maksud pertanyaan Rembulan. "Ya, Bulan cuma nanya aja, Pak. Apa selama ini Bulan pinter itu salah? Buktinya, temen Bulan ada yang nggak suka sama Bulan karena Bulan pinter dan selalu jadi juara satu di kelas. Dia nggak suka karena Bulan pinter, Pak. Berarti Bulan salah, Pak?" tanya Rembulan lagi membuat Wijaya terkekeh. "Kamu nggak salah. Nggak ada yang salah dengan orang pintar. Yang salah itu kalau dia pintar tapi nggak mau berbagi ilmunya sama yang lain. Yang salah itu kalau dia pintarnya hanya untuk diri sendiri saja. Itu baru harus dipertanyakan kepintarannya. Kalau kamu merasa nggak melakukan kesalahan apa-apa, ya nggak apa-apa. Bukan kamu yang salah, tapi pemikiran temenmu itu, Lan." jelas Wijaya lagi yang mengernyit menatap anak bungsunya. "Memangnya siapa yang nggak suka sama anak Bapak yang pintar ini?" tanya Wijaya menatap Rembulan yang kini menghela napas lagi. Banyak, Pak. Batin Rembulan. Namun, Rembulan tak ingin orang tuanya tahu bahwa banyak yang tak menyukai Rembulan entah karena dia pintar atau bahkan karena tak memiliki fisik yang sempurna. Rembulan tak ingin membuat orang tuanya merasakan apa yang Rembulan rasakan ketika tahu anaknya dipandang berbeda oleh orang lain. Rembulan tidak masalah jika harus memendamnya sendirian. Meski rasanya tak akan mudah, tapi Rembulan berusaha untuk tetap tegar. "Tapi, ya, Lan. Nggak masalah kalau ada yang nggak suka denganmu. Setiap hidup, pasti ada aja orang yang nggak suka dengan kita. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk selalu suka dengan kita. Mereka punya hak untuk suka atau tidak. Begitu juga dengan kita. Kita punya hak yang sama untuk memilih suka atau tidak." jelas Wijaya. "Kamu sekarang sudah SMA, Lan. Sudah bisa menentukan apa yang baik dan yang buruk. Apa yang seharusnya kamu sukai dan yang tidak. Bapak ingin kamu selalu ingat pesan-pesan Bapak dan Ibu. Kamu sudah dewasa, Lan. Hidup nggak selalu tentang hal yang kamu inginkan." pesan Wijaya membuat Rembulan menganggukan kepalanya. Rembulan memang lebih sering membahas hal-hal seperti ini dengan ayahnya. Meski mereka jarang bertemu karena ayahnya harus sibuk bekerja, tapi Wijaya selalu tahu apa yang dirasakan oleh anak-anaknya. "Iya, Pak, Rembulan ngerti." Rembulan menganggukan kepala. "Ya sudah, kamu sudah salat ashar?" tanya Wijaya membuat Rembulan mengangguk lagi. "Udah, Pak, di sekolah sebelum pulang." jawab Rembulan. "Makan dulu sana, tadi Ibu masak sup ayam kesukaanmu." suruh Wijaya menggerakkan dagunya ke pintu rumah. "Beneran, Pak?" Mata Rembulan seketika berbinar, dengan segera membawa sepatu dan tasnya ke dalam rumah. Tak sabar untuk menikmati sup ayam buatan ibunya. Melihat hal itu, Wijaya terkekeh sembari geleng-geleng kepala. Wijaya menghela napas, memikirkan perkataan yang dilontarkan Rembulan beberapa saat lalu. Anak bungsunya itu memang lebih sering bertanya. Wijaya tahu bahwa Rembulan anak yang baik. Rembulan tak pernah melawan ucapan orang tuanya. Rembulan anak yang sangat penurut. Selalu membantu orang tua di rumah dan anak yang rajin. Tak heran jika dia selalu mendapat peringkat pertama di sekolah karena rajin belajar. Rembulan akan lebih memilih berkutat di dalam kamar seharian dengan buku-bukunya daripada bermain. "Kamu dan Kakakmu pasti jadi orang sukses, Lan." gumam Wijaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN