Part 14

1529 Kata
"Lo yakin nggak bakal ketahuan, kan?" tanya Rembulan sangsi menatap surat yang ada di tangannya. Dia dan kedua temannya sengaja membuat rencana mengirim surat di meja kelas Bintang. Sengaja datang pagi-pagi sekali agar tidak ketahuan ketika menyimpan surat ke atas meja Bintang. Sebenarnya mereka tidak tahu di mana keberadaan meja Bintang. Namun, kemarin Pita dan Yura ternyata sudah bekerja sama untuk bolak-balik melewati kelas Bintang hanya untuk memastikan keberadaan tempat duduk Bintang. Jadi, sekarang mereka sudah sangat yakin karena telah mengetahui di mana letak meja Bintang agar memudahkan menyimpan surat. "Yakin, Lan. Ini masih jam enam pagi, yang datang ke sekolah baru Pak Satpam doang." jawab Pita meyakinkan keraguan Rembulan. "Bangku Bintang itu di paling deket meja guru, Lan." jelas Yura membuat Rembulan geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia sudah tahu karena teman-temannya bercerita lebih dulu saat sampai di depan gerbang sekolah. Namun, Rembulan masih tidak menyangka dengan rencana yang dijalankan oleh Yura dan Pita hanya untuk mengetahui respons Bintang saja. Bahkan, mereka benar-benar niat sampai mencari di mana bangku Bintang yang biasa lelaki itu duduki ketika di kelas. "Beneran?" tanya Rembulan lagi, sangsi. "Nanti lo salah lihat lagi." ucap Rembulan takut jika teman-temannya salah melihat meja Bintang. "Ya elah, nggak, Lan. Gue sama Pita udah—eh, berapa kali bolak-balik kita kemarin, Ta?" tanya Yura terlihat berpikir untuk mengingat kemarin saat bolak-balik di depan kelas Bintang. "Lima, enam, dua belas ada kayaknya, Ra." jawab Pita yang dibalas anggukan oleh Yura. "Bener, Lan. Posisinya itu di depan meja guru. Ya, masuk akal dong, dia kan pinter, Lan. Pasti disayang guru-guru, kayak lo." seru Pita, kepalanya celingukan untuk memastikan keadaan. "Udah deh, mumpun keadaan masih sepi dan aman. Lo simpen suratnya di atas meja Bintang yang di sana tuh!" Telunjuk Pita terarah ke meja paling depan dekat meja guru. Mereka hanya melihat dari jendela, memastikan keadaan aman dan sepi. "Nggak ah, jangan gue. Lo aja, Ta." suruh Rembulan menyerahkan surat ke hadapan Pita. "Kok gue?" Pita menggeleng tak terima. "Lo lah, Lan. Kan ini surat pertama, jadi harus lo yang simpen langsung." seru Pita lagi. "Nggak. Ini kan rencana kalian berdua. Gue tugasnya cuma nulis surat aja. Lo aja yang masuk, Ta." Rembulan mendorong bahu Pita membuat perempuan itu mendengkus. "Lo aja sana, Ra." Pita justru menyuruh Yura yang sedari tadi celingukan. "Loh, kok gue?" Yura menunjuk dirinya sendiri. "Lo aja sana." balasnya menyuruh Pita. "Kan, ini juga ide lo, Ra. Udah deh, kan, lo yang niat banget bolak-balik mastiin tempat duduk Bintang kemarin. Jadi, lo pasti nggak bakalan salah alamat." ujar Pita lagi yang masih kukuh. "Cepet—" "Eh, eh, itu udah ada yang dateng, siapa tuh?" Rembulan menyipitkan matanya ketika melihat ada seorang siswa yang tak dia kenali. "Eh, udah ayo kabur aja. Nggak usah ngirim surat segala, kelamaan nanti keta—" "Ah, kelamaan lo berdua!" Yura gemas sendiri, menarik surat di tangan Rembulan dan segera berlari ke kelas Bintang untuk meletakkan surat ke atas meja lelaki itu. Bisa-bisanya Pita dan Rembulan justru tertawa melihat Yura yang buru-buru karena takut ketahuan. Hanya butuh waktu sebentar dan setelah yakin surat telah diletakkan di atas meja Bintang, ketiganya kompak berlari seperti sedang dikejar-kejar oleh orang gila. "Eh, sumpah, ya, jangan lari dong!" Rembulan ngos-ngosan, mengatur napasnya yang tersengal. "Pita! Yura!" panggilan Rembulan membuat Pita dan Yura mendadak berhenti, menoleh ke arah Rembulan yang tertinggal di belakang. "Cepetan, Lan!" teriak Pita menggerakan tangannya untuk menyuruh Rembulan segera mengejarnya. "Jangan lari, yang ada nanti malah dicurigain. Jalan santai aja." ucap Rembulan ketika sudah berjalan sampai di hadapan Pita dan Yura. "Lagian juga capek. Udah jalan aja, pura-pura kita baru datang ke sekolah kayak biasa." ujar Rembulan lagi yang masih sibuk mengatur napasnya. Yura dan Pita kompak melihat sekeliling koridor. Beberapa siswa sudah mulai berdatangan membuat keduanya menghela napas. "Oke, santai. Ayo, kita jalan santai!" ajak Pita berjalan dengan sangat pelan membuat Rembulan berdecak. "Nggak gitu juga, Ta." dengkusnya membuat Pita dan Yura terkekeh. Pagi-pagi sudah membuat lelucon yang beberapa tahun kemudian mungkin tak akan terlupakan untuk mereka. Mengukir kenangan manis dan lucu yang sesekali mengundang tawa. *** Bintang baru saja duduk di kursinya dan mendapati sebuah amplop berwarna pink di atas mejanya. Mata Bintang menyapu ke seluruh kelas, teman-temannya sibuk dengan kegiatan masing-masing mengingat pelajaran pertama akan ada ulangan Matematika. Bintang menoleh ke kursi sebelahnya, kursi Ibrahim, tapi hanya menemukan tasnya saja. Bintang menoleh lagi ke seluruh kelas dan mendapati Ibrahim sedang berdiskusi dengan teman yang lain di meja paling belakang. Bintang menatap amplop di tangannya lagi, membalikkannya dan menemukan tulisan tangan yang tertera di sana. "Untuk Bintang," gumam Bintang membaca tulisan yang tertera di depan amplop. Dahi Bintang berkerut bingung. Bintang tahu bahwa dia sudah terbiasa mendapatkan kejutan-kejutan dari siswi-siswi yang menganggumi Bintang. Seperti setangkai bunga mawar, cokelat, gelang, topi, atau bahkan bekal untuk sekolah yang berisikan roti. Sering kali ada saja yang mengiriminya barang-barang seperti itu—yang Bintang saja tidak tahu dari siapa. Kebanyakan menyembunyikan nama, tapi ada juga yang terang-terangan ingin dikenal oleh Bintang. Namun, ini adalah surat. Bintang belum pernah mendapatkan surat dari orang yang mungkin mengaguminya. Mungkin jika pesan-pesan di i********: banyak yang mengirimnya. Pun, nomor-nomor tak dikenal di WhatsAppa berkeliaran meneror Bintang meski sudah berkali-kali Bintang ganti nomor, tetap percuma. Mereka akan tetap mencari cara untuk mendapatkan nomor Bintang—entah dari grup kelas Bintang atau ekstrakurikuler. Jujur, Bintang sedikit terkejut ketika mendapati sebuah surat yang ditujukan untuknya. Zaman sekarang sudah canggih, biasanya orang akan langsung menghubungi via chatting orang yang disukainya, mengajaknya berkenalan, basa-basi, lalu berakhir nyaman atau ditinggalkan. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah surat. Meski Bintang tidak menganggapnya penting, tapi tetap saja heran karena perkembangan zaman yang sudah modern, masih juga ada yang mengirim surat seperti kisah cinta tahun 90-an. Bintang duduk di kursinya, membiarkan amplop pink itu tergeletak di atas meja. Tangannya sibuk mengeluarkan buku paket dan catatan matematika. Masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi, Bintang menggunakan waktunya untuk mereview materi ulangan. Namun, Bintang tidak bisa fokus ketika terus memikirkan mengapa masih ada orang yang mengiriminya surat di zaman serba modern seperti sekarang? Bintang memainkan bolpoinnya, tangannya meraih amplop yang semula dia biarkan tergeletak di atas meja. Bintang membaca lagi tulisan tangan yang tertera di depan amplop pink itu. Perlahan, tangannya bergerak untuk membuka amplop dan menemukan sebuah kertas berwarna biru muda di sana. Bintang penasaran, meski sebenarnya dia tahu isinya tidak akan lebih dari pujian dan kekaguman mereka terhadap Bintang. Bola mata Bintang bergerak membaca tulisan tangan yang sangat rapi di kertas itu. [Dear, Bintang Halo, Bintang! How are you today? I hope you okay. Aku tahu, mungkin aku adalah orang ke sekian yang menganggumi kamu. Aku tahu, mungkin aku adalah orang ke sekian pula yang akan kamu abaikan. Aku tahu, mungkin aku adalah orang ke sekian yang nggak akan kamu anggap penting. Aku tahu, mungkin ini terkesan lebay. Aku nggak berharap apa-apa kok. Tapi, aku cuma mau bilang, terima kasih sudah mau lahir ke dunia. Terima kasih sudah menjadi Bintang. From: orang yang nggak perlu kamu tahu.] Dahi Bintang berkerut, geleng-geleng kepala dengan tulisan dari surat yang dia temukan di atas mejanya. Pagi-pagi sekali Bintang sudah mendapatkan ucapan terima kasih karena dia sudah lahir ke dunia. Aneh, sekaligus lucu juga. Begitu pikir Bintang. Namun, seperti biasa, itu tidak bisa membuat hati Bintang tertarik hanya karena tulisan-tulisan puitis sekaligus receh yang sudah sering dia temukan. Bintang menutup kertasnya dan memasukkan kembali kertas ke amplop. "Apaan tuh?" Bintang menoleh ketika mendapati Ibrahim, teman sebangkunya, sudah duduk di sebelahnya. Ibrahim menatap surat di tangan Bintang penasaran. "Surat?" tanya Ibrahim mengerutkan kening, dia merebut surat di tangan Bintang dan membacanya tanpa menunggu persetujuan si pemiliknya. Meski begitu, Bintang hanya membiarkan temannya itu membaca isi surat dari seseorang untuk Bintang. Toh, lagi pula selama ini yang selalu kenyang makan cokelat pemberian itu adalah Ibrahim. Orang yang selalu kenyang makan roti pemberian entah dari siapa yang Bintang berikan kepada Ibrahim, daripada mubazir. Tawa Ibrahim membuat Bintang menoleh di sela kegiatan menulisnya. Ibrahim melipat kertas di tangannya, menoleh pada Bintang yang hanya mengangkat alis. "Sumpah, ngirim surat cuma mau bilang makasih doang nih?" tanya Ibrahim dengan suara tawanya. "Kocak juga nih orang." seru Ibrahim tertawa. Bintang memilih untuk mengangkat bahu. "Gue nggak tahu, tiba-tiba aja pas gue dateng udah ada di atas meja." ujarnya, matanya kembali melihat ke buku. "Lho, emang, ya?" tanya Ibrahim mengerutkan keningnya. "Kok gue nggak lihat?" tanya Ibrahim lagi dengan raut wajah bingung. "Lah, mana gue tahu." Bintang mengangkat bahu tanpa menoleh ke arah Ibrahim. "Oh, gue inget." Ibrahim menggebrak meja membuat Bintang yang tengah menulis jadi mendengkus kesal. "Tadi pas dateng tuh gue langsung nyimpen tas, terus buru-buru ke kantin karena laper. Habis itu sibuk diskusi sama temen-temen di belakang. Nggak sadar kalau ada surat di meja lo. Lagian, aneh aja zaman sekarang masih kirim surat cinta kayak begini. Jarang, kan, ada yang ngirimin surat kayak gini ke lo?" tanya Ibrahim lagi. "Padahal ngasih cokelat aja, kan, bisa dimakan. Lah, ini kertas doang buat apaan?" Ibrahim mendengkus, geleng-geleng kepala. "Serah lo deh, Im!" balas Bintang mendengkus mendengar ucapan teman sebangkunya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN