Keringat bercucuran di wajah Rembulan. Berkali-kali dia mengatur napasnya yang tersengal setelah berhasil menjalankan salah satu misinya di hari pertama—jalan kaki dari rumah ke sekolah. Jarak dari rumah Rembulan tidak begitu jauh, juga tidak begitu dekat. Namun, cukup melelahkan jika harus jalan kaki, terlebih ini adalah Rembulan yang notabenenya jarang sekali olahraga.
Rembulan mengelap keringat di dahinya dengan ujung kerudung yang dia pakai. Sudah habis setengah botol minum, padahal ini masih pagi. Yura dan Pita hanya tertawa ketika tahu bahwa Rembulan datang dengan napas tersengal, tapi mereka tetap menyemangati Rembulan untuk terus berusaha dan konsisten.
"Lan, salah satu kunci keberhasilan itu konsisten. Percuma aja lo olahraga seharian, tapi cuma sehari, itu sama aja nggak ada hasil. Beda dengan lo yang dikit-dikit gerak olahraga, tapi rutin setiap hari. Hasilnya akan beda, Lan. Percaya sama gue, lo pasti bisa, Lan. You are smart girl!" ucap Yura menatap Rembulan dengan serius. "Matematika, kimia, fisika aja udah digenggaman lo, apalagi olahraga yang nggak harus pake mikir dan ngitung segala?"
"Ra, itu, kan, poinnya beda. Nggak semua orang bisa. Allah kasih kelebihan dan kekurangan setiap orang itu berbeda. Nggak semua orang mampu melakukan hal yang ternyata lo mampu melakukannya. Kayak kemampuan lo nggak sebanding dengan kemampuan eksak Rembulan. Itu juga persis seperti lo nggak bisa maksa Rembulan untuk dengan mudah sama rata seperti lo yang ringan-ringan aja olahraga." Pita yang sedang merapikan hijabnya dengan bijaksana memberitahu Yura. "Nggak semua orang harus sama, Ra."
Dari sekian banyak perbincangan mengenai keluhan-keluhan yang dibicarakan Rembulan, perempuan itu lebih sering menjadi pendengar dari perdebatan kedua temannya. Yura dan Pita lebih sering berdebat mempermasalahkan hal-hal yang menyangkut Rembulan. Mempertahankan argumennya masing-masing, memberikan pendapat, dan akhirnya Rembulan jugalah yang harus menghentikan perdebatan kecil itu.
"Masih pagi nggak usah debat, Ra, Ta. Mendingan kita belajar, setelah istirahat, kan, mau ada ulangan kimia." ujar Rembulan menghentikan perdebatan kecil kedua temannya sebelum melebar ke mana-mana.
"Aduh, Lan, males deh diingetin sama kimia. Gue itu nggak suka, bikin kepala gue mau pecah rasanya. Bisa-bisanya, ya, lo senang belajar." ucap Yura membuat Pita menjentikkan jarinya.
"That's point, Ra. Itu maksud gue untuk mendebat pernyataan lo tadi. Lo merasakan itu, kan? Jadi, jangan menghakimi sebelah dong, Ra." balas Pita geleng-geleng kepala. "Maksudnya, kasihan Rembulan kalau dipaksa gitu."
"Pita, Pita, Pita...," Yura menghela napas gusar. "Kan, lo yang maksa banget buat bantuin Rembulan. Jangan nanggung dong, Ta. Itu artinya semangat buat Rembulan untuk berusaha. Kita nggak bisa bantu banyak selain nyemangatin Rembulan."
"Yura, Pita, udah, ya. Gue tahu niat kalian berdua baik mau bantu gue. Tapi, stop. Gue nggak apa-apa kok. Gue—"
"Assalamualaikum, selamat pagi semua!"
"Waalaikumsalam, pagi, Bu." kompak serentak semua murid di kelas menjawab ketika Pak Ahmad masuk pertanda pelajaran akan segera dimulai.
Perdebatan Yura dan Pita akhirnya terpaksa terhenti dan Rembulan bisa bernapas lega dengan kedatangan Pak Ahmad karena telinganya tidak lagi kepanasan mendengar perdebatan kedua temannya.
"Yah, emangnya udah bel, ya?" tanya Pita cengo ketika Pak Ahmad sudah duduk di kursinya.
"Udah dari tadi sebelum kalian berdua debat."
***
Setengah jam sudah berlalu, murid-murid kelas XI IPA 5 masih sibuk berkutat dengan soal-soal ulangan kimia. Sebagian dari mereka memilih untuk merenungkan jawaban sembari melamun, memijat kening dan pangkal hidung yang mendadak pening, menggerakan kepala ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi aman, ada juga yang tenang dan damai dengan persiapan belajar yang matang.
Pita sibuk menghitung dengan jarinya, sesekali meracau tidak jelas. Entah sudah kali ke berapa Pita mengeluhkan jawaban yang selalu salah dihitung olehnya. Rembulan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.
Sedangkan Yura sedang melamun meratapi kertas ulangannya karena masih banyak soal-soal yang belum dia isi. Lain halnya dengan Rembulan, dia sama sekali tidak terbebani ketika melihat rentetan soal-soal kimia yang membuat sebagian teman-temannya mendadak mual meski hanya melihatnya saja. Rembulan menghitung dan mengerjakannya dengan konsentrasi, bahkan dia sudah mencapai soal terakhir. Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, Rembulan menyelesaikan ulangannya.
"Alhamdulillah...."
Rembulan menghela napas lega, memeriksa kembali jawaban di kertas ulangan, takut jika ada yang kurang teliti. Rembulan mendongak, teman-temannya masih sibuk berkutat dengan soal. Namun, mata Rembulan terfokus kepada Iren yang duduk di depan dekat meja guru. Rembulan tidak biasanya melihat Iren melamun saat mengerjakan soal. Bahkan beberapa kali saat matanya tak sengaja menangkap Iren yang terlihat frustasi menjawab soal-soal ulangan kimia. Pasalnya yang Rembulan tahu, Iren sama seperti dirinya yang tidak masalah dengan ulangan apa pun, bahkan dadakan sekali pun. Namun, kali ini Rembulan melihat Iren berbeda dari biasanya. Iren terlihat seperti orang yang sedang kepusingan menghadapi soal.
"Lan, udah?" tanya Pita ketika menyadari Rembulan hanya diam saja.
Rembulan tersentak, menganggukan kepala. "Udah. Lo udah, Ta?"
"Ya ampun, belumlah, Lan. Masih banyak. Sumpah, ya, otak lo itu bener-bener emang deh!" Pita bergidik sembari geleng-geleng kepala. Beruntung Bu Ina sedang telepon, jadi mereka tidak ditegur karena berbicara saat ulangan. Itu pun harus berbicara dengan suara yang sangat pelan. "Ya udah, kumpulin sana!"
Meski Pita tahu bahwa Rembulan pintar, tapi Pita cukup tahu diri untuk tidak meminta jawaban kepada Rembulan. Meski terkadang jika kepepet mengerjakan tugas, dia akan menyalin milik orang lain, tapi jika ulangan, patut diacungi jempol bahwa Pita berprinsip: benar atau salah urusan belakangan, yang penting jujur dan selesai.
Biasanya Pita akan lebih memilih diajari oleh Rembulan daripada meniru hasil kerja orang lain. Lagi pula, Rembulan tidak akan dengan mudah merelakan hasil kerjanya untuk dilihat orang lain. Untuk hal-hal seperti ini, Rembulan memang pelit jawaban. Murid pintar memang selalu diuji jiwa solidaritasnya. Maka, tak heran jika Rembulan selalu didatangi jika ada yang membutuhkan otaknya saja.
"Hei, jangan ribut. Kerjakan dengan tenang! Bagi yang sudah selesai bisa langsung kumpulkan jawabannya di depan." seru Bu Ina usai bertelepon ketika suara gaduh di kelas terdengar.
"Ta, gue duluan, ya." ucap Rembulan kepada Pita yang masih sibuk berhitung yang dibalas anggukan kepala oleh perempuan itu. Rembulan menarik napas, mengucapkan basmalah sebelum mengumpulkan hasil ulangannya ke meja guru dan langsung keluar kelas.
Mendadak Rembulan menjadi pusat perhatian teman satu kelasnya karena sudah berhasil jadi orang pertama yang mengumpulkan hasil ulangan. Sudah bukan hal baru lagi jika orang itu adalah Rembulan atau Iren. Karena hanya mereka berdualah yang selalu berhasil menjadi orang pertama yang mengumpulkan hasil ulangan. Jika tidak Rembulan, maka Iren, dan sebaliknya.
Melihat Rembulan sudah keluar kelas membuat Iren mengembuskan napas gusar. Dia melihat lembar kertas ulangannya. Iren terlihat ragu dengan jawaban yang sudah dia tulis. Iren tidak benar-benar yakin dengan jawabannya. Jika biasanya Iren akan dengan sepenuh hati yakin dengan hasil kerjanya, tapi kali ini Iren seperti hilang konsentrasi.
Iren kembali menghela napas, menatap kertas ulangan dan Bu Ina bergantian. Memijat dahi dan pangkal hidungnya yang mendadak pening. Untuk yang ke sekian kali, Iren memastikan hasil jawabannya dengan menghitung ulang soal-soal di hadapannya. Berharap bahwa dia tidak lagi mengecewakan Mia, mamanya.
***
"Lan, lo seriusan nggak ikut les di mana-mana? Atau les privat gitu?" Yura bertanya di sela kegiatan makan siangnya. Meski ini bukan kali pertama menanyakan hal yang sama, tapi Yura sangsi jika Rembulan tidak mengikuti les mengingat prestasi-prestasi yang sudah dicapai temannya itu.
"Nggak, Ra. Biaya les, kan, nggak murah. Gue nggak mau membebankan orang tua selagi gue bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Gue belajar sendiri di rumah." balas Rembulan menyuapkan siomay terakhirnya ke mulut.
"Kok gue nggak bisa kayak lo, ya, Lan?" Yura mengerutkan kening, menyeruput es teh dalam gelas plastik di hadapannya. "Rahasianya apa sih, Lan, biar pinter dengan cara sendiri? I mean, cara belajar lo seperti apa?"
Pita yang sedari tadi sibuk menambahkan sambal ke bakso jadi ikut menoleh, menunggu jawaban Rembulan karena memang dia juga penasaran mengapa semudah itu Rembulan mengerjakan soal-soal.
"Kalau orang lain belajar sekali, gue berkali-kali, Ra. Gue belajar satu materi, tapi merambat ke mana-mana. Why? Karena gue orangnya penasaran, gue nggak akan nyerah kalau jawabannya belum gue temukan. Jadi, gue berusaha nyari ke akar-akar permasalahannya. Lebih tepatnya, gue belajar memahami konsep karena itu dasar terpenting. Kalau kita udah paham konsep sebuah materi, mau dikasih soal seperti apa pun, pasti ngerjainnya gampang." jawab Rembulan yang masih mengunyah es batu sisa es teh miliknya dalam gelas.
"Ah, I see!" Pita menjentikkan jari. "Gue pernah denger itu konsep orang yang sukses dan berhasil. Teori rahasia belajar Rembulan nggak jauh berbeda dari konsep-konsep orang sukses yang pernah gue baca. Ketika orang lain tidur, santai-santai, kita harus bekerja keras. Ketika orang lain bekerja keras, kita harus bekerja keras berkali-kali lipat dari mereka. Dan gue yakin, ketika gue tidur, Rembulan pasti belajar. Ketika gue memilih santai-santai main ponsel dan nonton YouTube, Rembulan lagi belajar. Itu poinnya, kan, Lan?" Pita mengangkat alis menunggu jawaban Rembulan.
Sedetik, dua detik, Rembulan mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah es batu. "Mungkin kurang lebih kayak gitu, Ta, Ra."
"Are you kidding?" Yura membelalak, menggelengkan kepalanya tak menyangka. "Segila itu lo belajar, Lan?"
"Bukan gila, Ra. Tapi gue cukup tahu diri aja. Gue nggak mampu mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk nyewa guru privat atau ikut bimbel di luar jam sekolah. Maka dari itu, gue berusaha sendiri. Konsekuensinya, ya, gue udah rasain sendiri. Capek, ngeluh juga sering, rasanya pengin menyerah, pengin kayak orang-orang yang bisa santai. Tapi, gue berpikir lagi, gue nggak bisa kasih apa-apa ke orang tua selain membanggakan mereka—untuk saat ini." jelas Rembulan membuat kedua temannya melongo dan menelan saliva susah payah mendengar penjelasan temannya itu.
"Emang cita-cita lo apa, Lan?"
Pertanyaan Pita berhasil membuat Rembulan terdiam. Rembulan bahkan tidak tahu tujuannya akan ke mana. Dia tahu bahwa sejauh apa pun dia berjalan, bahkan berlari sekali pun, jika dia tidak memiliki tujuan, maka tidak akan pernah sampai. Rembulan pernah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter, tapi banyak sekali orang-orang yang mematahkan semangatnya.
Rembulan bukanlah anak orang kaya, kerap kali tetangga dan teman-teman sekolahnya dulu mengatakan bahwa biaya sekolah kedokteran sangatlah mahal, dan mengatakan bahwa Rembulan tak akan mampu meraihnya. Rembulan sering mendapat perlakuan yang menyakiti hatinya, stigma orang lain yang seakan-akan membully dirinya. Rembulan bahkan lupa kapan terakhir kali dia bermimpi. Orang lain mematahkan sayapnya untuk terbang tinggi.
"Lan, woi, malah bengong!"
"Kepo!"
"Dih, gitu, ya!"
"Udah, ah, nggak usah bahas lagi. Bahas yang lain aja." Pita dan Yura saling pandang, mengangkat bahu tak mengerti.
Mengerti bahwa pertanyaan itu sepertinya sensitif untuk Rembulan, Pita memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Gimana perkembangan misi lo, Lan? Udah jogging, kan, tadi pagi?"
"Udah, tapi kemarin malem gue laper. Gue makan nasi goreng jam sembilan malem. Tapi gue janji, mulai malam ini berhenti makan lewat dari jam enam sore. Gue—"
"Lan, Lan, ada Bintang, tuh!" Mendengar seruan Yura membuat ketiganya kompak menoleh. Namun, Rembulan yang pertama kali mengalihkan pandangannya dan menghela napas. "Beneran lo nggak mau deketin Bintang?"
Rembulan mendengkus, menatap Yura dan Pita bergantian. Dengan cepat dia menggeleng. "Ngapain dan untuk apa? Sama aja mendekati zina, kan? Gue nggak mau sakit hati, gue rasa perasaan suka itu normal-normal aja sih selagi nggak melewati batas. Jadi, gue berharap batas itu nggak pernah gue lewati."
"Seandainya orang-orang mau mengenal lo, berteman dengan lo lebih jauh, nggak membeda-bedakan. Mereka pasti merasa comfortable sama lo. Sama halnya seperti gue yang merasa terbuka pikirannya setelah ngobrol-ngobrol sama lo, Lan." ucap Pita setelah mengunyah dan menelan baksonya.
"I think our friends full so themselves." ucap Yura menambahkan membuat Rembulan terkekeh.
Ketika banyak orang yang tidak mau berteman dengannya, tapi Rembulan masih beruntung memiliki Yura dan Pita yang setia mau berteman dengannya meski dia juga tidak tahu alasan apa yang membuat mereka bertahan hingga saat ini.
***