"Beda lima itu berarti sekali untuk nilai kamu, Iren! Kamu harusnya bisa dapet nilai seratus seperti Rembulan. Jangan mau kalah! Mama sudah daftarkan kamu les sana-sini, tapi hasilnya apa? Kamu selalu kalah dibandingkan dengan Rembulan. Kamu nggak bisa jadi juara satu, dan soal nilai matematika aja kamu cuma dapat 95. Emangnya apa sih yang membuat si Rembulan itu lebih unggul dari kamu? Dia les di mana sampai bisa ngalahin kamu, Iren?!" seru Mia, mama Iren, membuat Iren menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sepulang sekolah, seperti biasa, Mia selalu menanyakan nilai-nilai Iren. Terlebih Mia tahu bahwa hari ini ada ulangan harian di kelas anaknya itu. Setiap hari Mia selalu mengawasi perkembangan Iren. Sejak kelas dua SMP, Iren tidak bisa mendapat peringkat pertama lagi semenjak dia berada satu kelas dengan Rembulan. Mia sudah mencari cara, bahkan Mia meminta pihak sekolah untuk mengizinkan Iren pindah kelas agar tidak sekelas lagi dengan Rembulan. Namun, pihak sekolah tidak bisa mengganti ketentuan yang sudah ditetapkan. Pasalnya, Iren selalu berada di bawah Rembulan. Sedangkan yang Mia inginkan bahwa Iren harus menjadi peringkat pertama.
"Mama, kan, udah bilang sama kamu, Iren! Setiap hari Mama ingetin, pantau dan awasi kamu untuk fokus belajar. Kamu lupa pekerjaan Mama kamu ini seperti apa? Jangan bikin malu Mama, Iren." Mia menghela napas panjang, menunjuk kertas ulangan milik Iren di tangannya. "Kamu mau Mama tambah jam les kamu, Iren?"
"Ma—"
"Besok kamu ada ulangan kimia, kan?" tanya Mia membuat Iren menganggukkan kepalanya, sangsi. "Mama minta kamu harus bisa dapat nilai seratus. Kalau sampai kamu nggak bisa melewati target yang Mama kasih, jam les kamu bertambah, Iren!"
Iren hanya bisa mengangguk, dia pamit untuk ke kamarnya. Pegangan pada tali ranselnya semakin kuat. Iren menutup pintu kamarnya. Dia baru bisa menghela napas setelah di kamar. Setelah tidak berhadapan dengan Mia.
Pundak Iren menurun melihat buku-buku yang sudah menumpuk rapi di atas meja belajarnya. Tangannya terkepal, dia duduk di tepi kasur. Melepas ransel, menutup wajahnya dengan pundak naik-turun. Selama ini, dia mati-matian berusaha keras untuk mengikuti keinginan mamanya. Semenjak kehadiran Rembulan yang selalu berada dalam satu kelas dengannya hingga beberapa tahun belakangan ini, Iren tidak lagi mendapat posisi nomor satu. Iren menjadi yang terbelakang, tergantikan oleh Rembulan yang dibanggakan oleh guru-guru.
Iren menangis sesenggukan, seperti hari biasanya, dia akan menangis sepulang sekolah ketika nilainya tidak sempurna. Ketika orang lain susah payah mendapatkan nilai 95, justru Mia menginginkan nilai yang lebih dari anaknya itu. Nama Rembulan selalu menjadi perbandingan untuk Iren. Dan, tiga tahu pula semenjak mereka berada dalam satu kelas yang sama, Iren tidak menyukai Rembulan. Iran membenci Rembulan yang selalu lebih unggul darinya.
Setiap semester, jam les Iren terus bertambah. Dia bahkan tidak tahu kapan waktunya istirahat karena sepulang sekolah, dia harus siap-siap untuk berangkat les. Lalu setelah pulang, dia akan kembali ikut les privat Bahasa Inggris di rumahnya. Belum lagi, jika hari libur, Iren masih harus mengikuti les. Setiap hari, waktu Iren tersita oleh banyak les yang Mia suruh.
Iren mengusap air mata di pipinya. Dia harus bersiap untuk berangkat les sebelum Mia memanggilnya. Iren tidak boleh terlambat karena kata Mia: time is money. Mata Iren menangkap sebuah foto yang wajahnya tidak nampak karena dicoret-coret oleh Iren. Tangan Iren mengambil spidol di atas meja belajarnya, mencoret foto yang sudah kusut di dinding kamarnya. Kali ini, fotonya berhasil robek karena gerakan tangan Iren terlalu kuat. Perasaannya kesal setengah mati. Hanya itu yang bisa melampiaskan kekesalannya. Mencoret-coret foto Rembulan hingga robek.
"Gue pasti bisa! Gue nggak akan pernah kalah lagi sama lo, Iren!"
***
Rembulan menaruh pulpen yang semula diapit di jemarinya. Dia memegangi perut, sudah jam sembilan malam dan dia merasa lapar. Terakhir kali Rembulan makan sejak jam lima sore. Rembulan benar-benar melakukan misi yang diberikan oleh teman-temannya. Termasuk untuk tidak makan setelah melewati jam enam sore. Namun, beberapa hari ini Rembulan selalu menahan laparnya saat malam. Belajarnya menjadi tidak fokus karena perutnya terus bersuara, demo meminta untuk diisi.
Rembulan benar-benar lapar, dia keluar dari kamar menuju dapur. Suara perutnya terus berbunyi. Biasanya Rembulan akan makan lagi di jam seperti ini, atau sekadar makan mi instan. Namun, Rembulan teringat dengan misinya. Rembulan harus bisa menahan diri agar misinya berhasil. Rembulan mengisi gelasnya dengan air dari dispenser. Berharap bahwa dengan minum saja bisa meredakan kerusuhan cacing-cacing di perutnya.
"Lan," Suara Ibu mengejutkan Rembulan. "Kamu kalau mau makan lagi, tuh, ada nasi goreng sisa tadi sore masih ada. Sayang kalau nggak dimakan, takut basi."
"Nasi goreng?"
"Iya, kamu makan aja abisin. Takut basi soalnya." jawab Riana setelah merapikan piring kotor ke tempat cuci.
Ketika Riana sudah pergi, Rembulan menelan salivanya. Nasi goreng. Sepertinya tepat dengan keadaan Rembulan yang sedang lapar. Seolah-olah nasi goreng buatan ibu diciptakan memang untuk Rembulan.
Rembulan menahan langkahnya yang hendak mendekati meja makan. Dia menggelengkan kepala. "Kuat, Lan, kuat. Godaan!" ucapnya pada diri sendiri.
Rembulan menarik napas panjang, ketika hendak melewati meja makan, dia melirik tudung saji berwarna biru itu. Rembulan menelan ludah, cacing di perutnya benar-benar tidak bisa dikompromi, seolah memberitahu Rembulan bahwa dia harus menjemput nasi gorengnya.
"Padahal udah minum, kok masih laper, ya?" Rembulan bermonolog. Perutnya terus berbunyi, terlebih ketika Riana memberitahu bahwa masih ada nasi goreng. "Makan, jangan, makan, jangan, makan, jangan, makan ..., " Rembulan menggigit jemarinya. "Kata Ibu, kan, sayang kalau nggak dimakan. Takut basi, nanti mubazir." ucapnya lagi, sangsi mendekati meja makan.
Tangan Rembulan membuka tudung saji dan menemukan satu piring nasi goreng telur. "Sekali ini aja, pasti boleh. Besok-besok janji nggak makan malem. Daripada mubazir, kan. Makan deh!" ujarnya lagi bermonolog.
Rembulan, cita-citanya ingin kurus, tapi usahanya tidak ada. Sekalipun ada, dia sendiri yang selalu menggagalkan usahanya. Rembulan tidak benar-benar berusaha untuk diet. Rembulan ingin kurus, tapi apa dia harus menahan terus-menerus ketika perutnya lapar sekali?
Rembulan masih belum bisa menahan diri untuk tidak selalu mengikuti nafsunya. Rembulan selalu bimbang dan labil. Rembulan paling mudah tergoda oleh banyak makanan, terlebih ketika dia benar-benar lapar, sulit baginya untuk menolak makanan.
Malam itu, jam sembilan malam, setelah belajar untuk ulangan besok, Rembulan menghabiskan satu piring nasi goreng. Rembulan memanjakan cacing-cacing di perutnya. Rembulan belum bisa menolak permintaan cacing-cacing yang terus mengadakan konser di perutnya. Lalu setelah kenyang, Rembulan akan menyesali perbuatannya yang sudah makan melewati batas. Rembulan gagal menjalankan misi yang dibuat oleh teman-temannya.
Untuk yang ke sekian kali, Rembulan menyesal setelah perutnya kenyang. Untuk yang ke sekian kali, Rembulan gagal menjalankan misinya. Untuk yang ke sekian kali, Rembulan kalah oleh seruan cacing-cacing di perutnya.
***
Usai salat subuh, Rembulan berencana untuk jogging. Dia sudah siap dengan pakaian olahraga dan handuk yang melekat di lehernya. Rembulan merapikan letak kerudung instan miliknya, mematut diri di depan cermin. Rembulan melirik ke arah jendela, langit masih gelap karena waktu masih subuh. Rembulan menarik napas panjang, dia harus berusaha untuk menjalankan misi dari teman-temannya. Rembulan ingin balas dendam karena kemarin malam bablas memakan nasi goreng yang berakhir menyesal setelah makan. Rembulan tidak bisa menahan nafsu ketika melihat makanan, terlebih ketika perutnya terasa sangat lapar.
Setelah dirasa cukup, Rembulan keluar dari kamar dan menemukan ibunya baru saja keluar dari kamar mandi. Riana terkejut mendapati anaknya yang sudah dandan rapi sambil membawa sepatu.
"Lan, kamu mau ke mana subuh-subuh gini? Kepagian kalau berangkat sekolah, Lan."
"Rembulan mau jogging, Bu." Rembulan tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih.
"Jogging?" Dahi Riana berkerut, wajahnya yang bercucuran air menatap anak bungsunya itu sambil geleng-geleng kepala. "Pagi amat joggingnya? Mau jogging ke mana?"
"Deket-deket sini aja, Bu. Paling keliling lapangan di belakang rumah deket kantor kepala desa aja." Rembulan berjalan mendekat ke arah ibunya. "Rembulan pergi dulu, ya, Bu." pamitnya mencium tangan Riana.
"Ya udah, tapi kamu hati-hati, ya, Lan." pesan Riana sebelum Rembulan benar-benar pergi. "Laaan, kamu udah salat subuh belum?" teriak Riana ketika Rembulan hendak membuka pintu.
"Udah, Bu. Rembulan pergi dulu! Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam...."
Rembulan duduk di depan teras rumah, memakaikan sepatu olahraga berwarna pink miliknya. Setelah semuanya selesai, Rembulan membuka gerbang dan mulai berjalan melewati g**g rumahnya. Suasana rumah Rembulan bukanlah komplek perumahan mewah dan elegan. Rumah Rembulan hanya biasa saja, tapi nyaman dan asri. Beberapa kali Rembulan menyapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman di pagi buta seperti ini, ada juga yang sedang menjemur pakaian seolah-olah takut ketinggalan sinar matahari.
"Pagi, Neng. Mau jogging, ya? Tumben, Neng." Suara Mas Boy yang rumahnya hanya terhalang beberapa rumah dari rumah Rembulan itu menyapa. Mas Boy tengah menata beberapa sayuran ke catornya, sepertinya Mas Boy baru saja pulang dari pasar mengingat dirinya berjualan sayur keliling.
"Pagi, Mas Boy. Iya, nih, Mas Boy habis dari pasar, ya?" Rembulan berhenti sejenak, menopang kedua tangannya di pagar besi rumah Mas Boy. "Belanja sayur banyak, Mas?" tanya Rembulan ramah.
Di rumahnya, Rembulan terkenal dengan anak yang ramah dan santun. Rembulan selalu menyapa orang-orang yang dikenalinya. Maka, tak heran jika sosialisasi Rembulan lebih kuat dibandingkan dengan Pelangi jika di rumah. Pelangi lebih sering menghabiskan waktu mudanya bersama teman-teman. Entahlah, Rembulan dan Pelangi memiliki prinsip yang berbeda meski mereka sedarah.
"Iya, Neng. Biasa, cari rezeki pagi-pagi biar rezekinya nggak dipatok ayam." ujar Mas Boy terkekeh di akhir kalimatnya. Biasanya Rembulan akan bertemu Mas Boy ketika dia hendak berangkat sekolah saja. Kali ini, Rembulan mencoba hal baru, yang sebenarnya bukan baru-baru sekali, hanya saja Rembulan baru pertama kali jogging di pagi buta seperti ini.
"Semoga hari ini dagangannya laris-manis ya, Mas Boy! Semoga lancar dan berkah."
"Aamiin.... Waduh, makasih banyak udah didoain."
"Ya udah, Rembulan jogging dulu, ya, Mas Boy." Rembulan pamit dan melambaikan tangannya yang langsung dibalas lambaian tangan oleh pria yang sudah memiliki tiga anak itu.
"Hati-hati, Neng!"
Rembulan kembali berjalan, dia baru sadar jika suasana pagi terasa menyegarkan dan menenangkan. Rembulan berpikir bahwa ketika dia jogging pagi hari akan terasa sangat dingin dan malas bergerak, tapi hari ini Rembulan terlihat bersemangat setelah bertemu beberapa tetangga yang dia sapa barusan.
Lima belas menit berkeliling, Rembulan sudah sampai di lapangan. Sepi, hanya ada Rembulan sendirian di sana. Lagi pula ini masih pukul lima pagi, jarang ada orang yang memilih jogging di hari kerja. Kecuali jika hari libur, biasanya lapangan akan ramai oleh anak-anak muda hingga yang tua sedang jogging. Lalu, sorenya akan ramai dipakai untuk bermain bulu tangkis atau sepak bola.
Dulu saat masih kecil, Rembulan sering main di lapangan ini dekat rumahnya. Namun, ketika sudah beranjak remaja, Rembulan sudah jarang bermain lagi. Rembulan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk belajar dan membantu orang tuanya.
Rembulan sudah kelelahan, maklum karena dia jarang berolahraga dan jarang melakukan pergerakan untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Jadi, sekali gerak biasanya dia akan mudah lelah dan menyerah.
Rembulan menghela napas, duduk di rerumputan lapangan. Menengadah ke arah langit yang menerang. Matahari mulai mengintip dan menyapa semua orang.
Mengapa orang-orang selalu memandang Rembulan buruk? Memangnya apa yang salah dengan tubuh gendut?
Itulah yang ada di pikirannya saat ini. Rembulan selalu merenung, bahkan yang lebih parah merendahkan dirinya sendiri. Meski Rembulan terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Namun, ketika hati Rembulan bersedih, dia selalu ingat bahwa, "Allah tidak pernah memandang hamba-Nya dari fisik. Allah tidak pernah membedakan hamba-Nya kecuali karena amal perbuatannya."
***