Misi 7 Hari Pertama Rembulan
1. Dilarang naik angkot, pulang-pergi ke sekolah harus jalan kaki.
2. Kurangi porsi makan.
3. Dilarang makan lebih dari jam enam sore.
4. Olahraga setiap hari.
5. Dilarang makan gorengan dan makanan berlemak lainnya.
6. Harus rutin pakai perawatan wajah biar hasil jadi maksimal.
7. Kalau bisa minum s**u diet.
8. Tidur sebelum jam sembilan malam.
9. Olahraga pagi (jogging).
10. Banyakin makan sayuran.
Mulut Rembulan membentuk huruf O ketika membaca catatan yang ditulis oleh Pita. Dia menelan salivanya susah payah, menatap Yura dan Pita bergantian. Sepuluh percobaan di minggu pertama saja sudah membuat Rembulan menarik napas panjang. Dia geleng-geleng kepala. Dulu, Rembulan pernah mencoba sebagian dari misinya itu, tapi gagal. Rembulan tidak berhasil mencapai semua itu.
"Yang bener aja dong, Ta?" tanya Rembulan menghela napas. "Ini kebanyakan, dikit-dikit kenapa sih, Ta? Lo pikir gue apaan yang sekali diet langsung kurus."
"Yah, Lan. Lo harus usaha kalau lo mau hasilnya bagus. Lo harus kerja keras buat diri lo sendiri. Kan, lo yang nggak mau dipandang beda sama orang. Lo selalu ngeluh, makanya gue pengen bantu lo, Lan." ucap Pita memakai tas ke punggungnya. Dia menoleh lagi kepada Rembulan. "Lo harus berusaha, Rembulan."
Rembulan menarik napas panjang, memejamkan mata, meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melakukan misi yang sudah teman-temannya buatkan. Mata Rembulan membaca lagi kertas berisi catatan misi untuknya.
"Beneran nih gue bakalan bisa?"
"Kalau belom dicoba, lo nggak bakalan tahu hasilnya, Lan. Udah, pokoknya lo coba dulu, kalau lo konsisten, gue yakin berhasil." ucap Yura meyakinkan Rembulan untuk melakukan misi dietnya.
"Lo harus coba, Lan. Lo harus bisa. Lo nggak mau, kan, dihina terus dan dianggap beda karena fisik lo?" tanya Pita membuat Rembulan membenarkan apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
"Oke, gue coba."
Ketiganya kompak menuju gerbang. Mereka sudah memutuskan untuk menemani Rembulan jalan kaki ke minimarket yang jaraknya paling dekat dengan sekolah. Sebisa mungkin mereka mengingatkan Rembulan untuk tidak naik kendaraan umum dan lebih baik jalan kaki saja.
"Duh, capek gue!" keluh Rembulan mengeratkan pegangan pada tali ranselnya. Napasnya memburu, kentara sekali bahwa Rembulan kelelahan. "Masih jauh nggak sih?"
"Ini udah setengah jalan, Lan. Bentar juga nyampe."
Mata Rembulan membelalak, mengatur napasnya yang tersengal. "Astagfirullah, segini baru setengah jalan, Ta?" tanya Rembulan geleng-geleng kepala. "Masih jauh dong. Naik becak ajalah, capek."
"Eits!" Yura dan Pita menarik ransel Rembulan bersamaan. Mereka kompak menggelengkan kepala dan memperingati misi yang sudah direncanakan.
"Ya ampun, Lan. Ini mungkin pertama kalinya, tapi lo bakalan terbiasa kok. Jaraknya juga nggak jauh banget, Lan. Lo harus kuat, dikit-dikit pasti jadi bukit." ucap Pita mengangkat kedua tangannya—seperti kartun yang suka makan bayam—menyemangati Rembulan.
"Semangaaaat!" ucap Yura yang mengobarkan rasa semangat dalam benak Rembulan.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di minimarket yang jarak normalnya lima belas menit dari sekolah. Hanya saja sepanjang perjalanan, Rembulan terlalu banyak istirahat sehingga memakan banyak waktu.
Rembulan hendak membeli minuman rasa jeruk di minimarket, tapi melihat Yura dan Pita menggelengkan kepala seolah memperingati akan misinya membuat Rembulan kembali meletakkan minuman di tempatnya semula.
"Air putih aja, Lan. Emang minum lo habis?" tanya Pita mengingat Rembulan selalu membawa air mineral ke sekolah.
"Abis, Ta."
"Ya udah, belinya air mineral. Jangan yang manis-manis."
Rembulan menghela napas, tapi tetap menurut mengingat misi yang beberapa saat lalu dibuat oleh Yura dan Pita. Membayangkannya membuat Rembulan tidak yakin bahwa dia akan sanggup. Namun, semangat dari teman-temannya membuat Rembulan ikut semangat. Jika teman-temannya saja bersemangat untuk membantunya, mengapa Rembulan tidak?
Mereka mulai memilih produk-produk perawatan kulit terkhusus wajah, mencari produk yang sedang dicari seperti yang sudah direkomendasikan oleh salah satu beauty vlogger di YouTube.
"Nah, ini, Lan!" seru Yura menunjukkan salah satu produk dengan kemasan berwarna pink. Dia mengambil satu paket produk yang komplit dan memberikannya pada Rembulan.
"Bukan, Ra. Ini mah untuk kulit kering. Gue, kan, kulit yang berminyak gitu. Iya, sih, produknya yang ini. Tapi beda keluhan kulitnya." ujar Rembulan mengingat dengan jelas rekomendasi dari salah satu beauty vlogger yang sudah ditontonnya.
"Ini nih, Lan! Untuk kulit berminyak." Pita membaca bagian kemasan yang menunjukkan untuk keluhan kulit berminyak.
"Eh, kok ada kalian di sini?" Suara seseorang membuat ketiganya kompak menoleh ke sumber suara dan mendapati Iren sudah ada di hadapan mereka. "Lagi ngapain?" tanya Iren mengangkat alisnya, dia melihat produk di tangan Rembulan dan Pita bergantian. "Oh, lo mau perawatan kulit biar wajah lo nggak item maksudnya, Lan?"
"Lo ngapain di sini, Ren?" tanya Yura tanpa menjawab pertanyaan Iren barusan.
"Ini minimarket kali, Ra. Ya, gue mau belanjalah. Lagian gue juga nggak sendiri kok. Tuh, gue sama Tiara. Dia lagi belanja juga." balas Iren mendengkus. "Coba gue lihat!" Iren merebut produk di tangan Rembulan membuat ketiganya kompak melotot.
"Ren—"
"Lo repot banget, ya, Lan ngurusin diri lo sendiri? Sampe-sampe lo harus ngerepotin dua temen lo juga. Dan, lo berdua dikasih apaan sama Rembulan sampe mau aja nganter dan bantuin dia?" Iren tersenyum miring. Dia membaca kemasan dalam produk itu. "Gue rasa, kulit lo nggak bakal berubah deh, Lan. Item mah item aja udah, alami. Buang-buang duit tau nggak, yang ada nanti muka lo jerawatan. Ih, kan makin nggak lucu kalau liat muka lo terus jerawatan." Iren bergidik ngeri.
Pita merebut kembali produk di tangan Iren. "Ren, lo kalau nggak suka sama Rembulan jangan kelewatan gitu dong. Lo bisanya menghina mulu, emangnya lo udah sempurna?" tanya Pita mulai terpancing. "Emangnya lo nggak pernah diajarin sama orang tua lo untuk berperilaku baik dan sopan sama orang lain?"
Mendengar hal itu membuat amarah Iren naik pitam. Dia mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan kesal. "Nggak usah sok tahu deh lo, Ta. Asal lo tahu aja ya, Lan. Yura dan Pita mau temenan sama lo itu karena otak lo. Gue tahu kok mereka malu temenan sama lo yang gendut. Temenan sama lo itu malu-maluin. Coba aja lo tanya ke mereka, kenapa mereka mau temenan sama lo. Mikir dong, emangnya apalagi kalau bukan karena manfaatin otak lo?"
"Jaga mulut lo, ya, Ren!" seru Yura mulai terpancing.
"Lho, gue bilang fakta, kan, Ra? Lo sendiri yang pernah bilang ke gue kalau Rembulan banyak bantuin ngerjain soal-soal yang lo nggak ngerti, lo ngerasa nggak enak kalau nggak temenan sama dia. Masih inget, kan, waktu awal-awal masuk kelas sepuluh, Ra?" Iren tersenyum miring, menatap ketiganya dengan puas.
"Gue cuma minta sama lo, ngomongnya dijaga. Jangan ikut campur urusan orang lain, Ren. Hidup mah masing-masing aja." Pernyataan Pita telak habis membuat Iren bungkam. Iren memutar bola matanya jengah. Sedangkan Rembulan hanya diam, memandang produk di tangannya dengan hampa.
"Ah, emang susah ngomong sama kalian semua. Gue cuma mau bilang aja sih ke lo, Rembulan. Apa pun yang dilakukan lo, itu nggak akan berhasil, Lan. Dasarnya, kan, emang lo nggak bisa merawat diri sendiri. Jadi, ya, percuma aja sih. Gue cuma kasihan sama lo, buang-buang waktu sama hal yang hasilnya nggak akan nyata." ucap Iren sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka.
"Huh, beraninya menghina doang!" seru Pita ketika Iren sudah pergi. "Dateng cuma ngomong gitu doang, bisanya cuma menghina."
"Udah, Ta. Nggak apa-apa kok." balas Rembulan, dia melirik Yura yang hanya diam saja.
"Lan, omongan Iren tadi nggak bener kok." Yura menggelengkan kepalanya. "Dan, lo juga jangan mau kalah sama Iren, Lan. Kalau dia menghina lo, harusnya lo bales. Dia, kan, nggak bisa ngalahin lo sebagai juara satu, Lan."
"Iya, Lan. Iren, tuh nggak bisa didiemin doang. Dia anaknya ngelunjak. Songong banget!" tambah Pita setuju.
Terkadang ketika Rembulan ingin berusaha, selalu ada saja ada perkataan orang lain yang mematahkan semangatnya. Rembulan selalu memikirkan apa yang orang lain katakan. Rembulan ingin bodo amat, tapi perkataan itu membuatnya tidak nyaman. Rembulan hanya bisa sabar. Ibunya selalu mengatakan bahwa sabar akan berbuah manis. Semoga saja.
***