Part 16

1525 Kata
Seperti tahun-tahun sebelumnya, SMAN 1 Nusa Bangsa selalu mengirimkan perwakilan murid-murid berprestasi yang terpilih berdasarkan penyeleksian untuk mengikuti berbagai olimpiade. Dan tahun ini sudah diumumkan dibukanya penyeleksian untuk murid-murid berprestasi yang akan terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade. Pengumuman itu disampaikan oleh Pak Joko, wali kelas XI IPA 1, kelas Rembulan. Pak Joko mengumukan bahwa setiap kelas akan dipilih dua orang untuk mengikuti seleksi yang akan mewakili sekolah saat olimpiade. Dan, tentu sudah bukan menjadi pertanyaan atau hal yang membingungkan bagi kelas XI IPA 1 untuk memilih siapa dua orang tersebut. "Kepada Rembulan dan Iren, kalian berdua akan mengikuti penyeleksian untuk mewakili sekolah kita. Setiap kelas akan dipilih dua orang untuk ikut seleksi, nanti akan dites semuanya. Dan hanya ada tiga orang dari banyaknya siswa terpilih untuk mewakili sekolah." ujar Pak Joko membuat sekelas bertepuk tangan atas terpilihnya dua orang dari kelas mereka untuk diseleksi. "Ada tiga olimpiade yang akan diselenggarakan. Olimpiade matematika, olimpiade fisika, dan olimpiade kimia." jelas Pak Joko lagi. Mendengar namanya dan nama Rembulan disebut, Iren langsung menoleh ke belakang, ke meja Rembulan. Iren menghela napas, saingannya selalu saja Rembulan. Saat kelas sepuluh pun, mereka berdua turut serta menjadi peserta penyeleksian ajang olimpiade. Rembulan mengikuti olimpiade matematika dan Iren mengikuti olimpiade kimia. Namun, akankah tahun ini mereka menjadi perwakilan sekolah lagi? Yura dan Pita mengangkat jempolnya ke hadapan Rembulan membuat perempuan itu tersenyum kecil seraya mengangguk. "Untuk Rembulan dan Iren, pulang sekolah diharapkan untuk kumpul di depan ruang OSIS karena akan ada pengumuman untuk info penyeleksian lebih lanjut. Bapak harap kalian berdua bisa memberikan yang terbaik untuk kelas kita dan sekolah. Dan untuk teman-teman lain yang belum terpilih jangan berkecil hati, Bapak menyeleksinya karena memilih murid berprestasi atas. Yang belum terpilih, masih ada kesempatan-kesempatan lain yang menunggu kalian. Intinya, selalu Bapak ingatkan supaya kalian rajin belajar dan semakin semangat sekolahnya." Pak Joko mengambil pulpen dan buku di atas meja yang tadi dia bawa saat memasuki kelas. Matanya menyapu ke seluruh kelas. "Baik kalau begitu pertemuaan kali ini kita akhiri. Semangat berjuang. Terima kasih! Wassalamualaikum ...." ucap Pak Joko keluar dari kelas dengan menenteng buku. "Waalaikumsalam. Terima kasih, Bapak!" kompak jawaban kelas XI IPA 1. Akhirnya mereka bisa bernapas lega setelah jam pelajaran Pak Joko berakhir. Kini tinggal menunggu guru selanjutnya yang akan mengisi jam kelas mereka. "Selamat, Lan. Gue sih udah yakin kalau lo selalu terpilih. Dan pasti ikut olimpiade lagi kayak waktu kelas sepuluh itu, Lan." seru Pita girang, dia menepuk tangannya berkali-kali. Merasa bangga dengan temannya itu. "Sekamat ya, Lan. Gue bangga temenan sama lo." ucap Yura membuat Rembulan menatap kedua temannya bergantian seraya tersenyum. "Makasih ya, kalian berdua selalu dukung gue." balas Rembulan yang dibalas acungan jempol oleh kedua temannya. Rembulan memasukan buku-buku di atas meja ke tasnya. Menggantinya dengan buku jadwal matematika. Namun, kegiatannya terhenti ketika mendapati Iren sudah ada di hadapannya. Rembulan mendongak, begitu pun Yura dan Pita yang semula mengobrol jadi ikut menoleh melihat kehadiran Iren di dekat mereka. "Lan," panggil Iren membuat Yura dan Pita mendengkus. "Kenapa?" tanya Rembulan. Mata Iren melirik Yura dan Pita yang terus menatap ke arahnya. Iren mendengkus, tak menghiraukan tatapan mereka. "Lo mau ikut seleksinya?" tanya Iren. Rembulan mengangguk. "Iya, kan, dipilih sama Pak Joko, Ren." jawab Rembulan bingung dengan pertantaan Iren barusan. "Emang kenapa?" tanya Rembulan berusaha menghilangkan rasa penasarannya. "Lo yakin bisa menang?" tanya Iren menatap Rembulan dengan tatapan meremehkan. "Tahun kemarin, kan, lo cuma bisa jadi juara dua aja, Lan." ucap Iren lagi mengingatkan saat mereka masih kelas sepuluh. "Lo datang ke sini cuma mau ngomong itu doang, Ren?" tanya Pita yang mulai sewot. Kehadiran Iren selalu mengundang aura-aura permusuhan di antara mereka. "Lo mau menyombongkan diri dengan bilang kalau tahun lalu lo berhasil juara satu olimpiade kimia, gitu maksudnya?" tanya Pita mulai tak tahan dengan topik pembicaraan Iren. "Lho, emangnya gue bilang kalau gue juara satu?" tanya Iren mengangkat alisnya. "Gue nggak sombong, itu fakta, Ta. Ya, gue harap sih lo nggak bikin malu nama sekolah kita, Lan." Mata Iren kembali terarah pada Rembulan yang kini memilih diam. "Harusnya lo juga bisa jadi juara satu, dulu." seru Iren lagi membuat Rembulan menghela napasnya. Sedangkan Pita dan Yura sudah geleng-geleng kepala mendengar ucapan Iren. Entah mengapa, Iren selalu saja memancing aura permusuhan di antara mereka. Padahal Rembulan tidak pernah mencari masalah. Namun, Iren sepertinya sangat ingin menjatuhkan Rembulan dan membuat Rembulan tidak percaya diri atas kemampuannya. "Lo jadi orang kenapa sih, Ren, julid banget?" Yura berdiri dari kursinya. Suara Yura berhasil membuat satu kelas mendadak hening dan menoleh ke arah mereka. "Rembulan itu nggak pernah cari masalah sama lo, ya, Ren. Tapi kenapa lo selalu cari masalah duluan. Mau lo apa sih hah? Lo ganggu ketenangan kita tau nggak?" sewot Yura kesal. "Ra, udah, Ra." balas Rembulan menyentuh tangan Yura berusaha untuk meredam emosinya. Belum sempat Iren membalas ucapan Yura, seorang guru memasuki kelas mereka menandakan pelajaran akan segera dimulai. Kelas mendadak panik dan buru-buru duduk di kursi masing-masing ketika guru sudah duduk di kursinya. Rembulan menghela napas lega. Dia menatap Iren yang duduk di meja depan. Menggelengkan kepalanya mengingat apa yang barusan Iren katakan. Perkataan Iren selalu membuat Rembulan jadi memikirkannya. Namun, tepukan berkali-kali di pundaknya membuat Rembulan menoleh mendapati Pita yang tersenyum. Seolah-olah Pita tahu apa yang sedang dirasakan oleh Rembulan. *** "Lan, kita pulang duluan, ya. Lo hati-hati dan semangat!" ucap Pita setelah memaikan ransel ke punggungnya. "Iya, Lan. Kita duluan, ya. Bye!" Yura melambaikan tangannya lalu mulai berjalan keluar kelas bersama Pita. "Iya, hati-hati!" seru Rembulan yang masih merapikan alat tulisnya ke dalam tas. Rembulan memakaikan ranselnya ke punggung. Mengeratkan pegangan pada tali ransel. Matanya menyapu ke seluruh ruangan kelas yang sudah sepi. Hanya tinggal dirinya saja di sana karena harus mencatat tulisan dari papan tulis. Seperti yang sudah Pak Joko katakan bahwa Rembulan ditunggu di depan ruangan OSIS untuk informasi lebih lanjut penyeleksian olimpiade. Rembulan tidak menemukan Iren, sepertinya Iren sudah lebih dulu menuju ke ruang OSIS. Kaki Rembulan melangkah keluar kelas. Namun, suara seseorang di belakangnya membuat Rembulan menoleh dan terkejut mendapati Iren yang baru saja memanggilnya. Rembulan berhenti melangkah, menunggu Iren sampai di hadapannya. "Gue kirain lo udah ke ruang OSIS, Ren." ucap Rembulan ketika ternyata Iren berada di hadapannya saat ini. "Ayo, kita ke ruang OSIS bareng aja." ajak Rembulan yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Iren. "Nggak. Gue manggil lo bukan mau bareng ke ruang OSIS." ucap Iren yang dibalas kernyitan dahi oleh Rembulan. "Gue cuma mau mastiin lo beneran mau ikut seleksi atau nggak?" tanya Iren lagi. Entah dengan maksud dan tujuan apa Iren menanyakannya, Rembulan benar-benar tidak mengerti. Mengapa Iren seperti tidak menginginkan kehadiran Rembulan dalam penyeleksian olimpiade itu padahal sudah jelas-jelas Pak Joko memilihnya. "Dari tadi lo nanya itu mulu. Maksudnya apa, Ren? Gue nggak ngerti." Rembulan menggelengkan kepalanya menatap Iren dengan tatapan tak mengerti. Iren menghela napas panjang. Memutar bola matanya jengah. "Gini, ya, Lan. Lo itu nggak usah naif deh. Sekolah itu maunya kita juara satu. Sedangkan kalau kita berkaca dari tahun lalu, lo cuma dapet juara dua. Lo gagal selangkah lagi. Dan gimana kalau tahun ini lo juga nggak bisa meraih target itu?" tanya Iren melipat kedua tangannya di d**a. "Tapi, kan, sekolah nggak pernah maksa kita untuk juara satu, Ren. Sekolah nyuruh kita untuk melakukan dan memberikan yang terbaik." balas Rembulan mengeratkan pegangan pada tali ranselnya. "Lagian itu hanya kemungkinan, belum pasti, Ren. Gue akan berusaha semampu gue kok. Kita bisa berusaha semampu kita." ucap Rembulan membuat Iren terkekeh kecil. "Kita?" tanya Iren mengangkat alisnya. "Maksudnya lo sama gue gitu?" tanya Iren lagi, dia mengibaskan tangannya. "Lan, tahun lalu itu gue juara satu, lho, kalau lo lupa. Harusnya lo yang berusaha lebih keras lagi. Lo, kan, tahu gue jago di kimia." balas Iren tersenyum miring menanggapi Rembulan. Rembulan menghela napas gusar. Menatap kedua ujung sepatunya, lalu mendongak lagi menatap Iren. "Gue tahu lo jago, Ren. Tapi akhir-akhir ini gue sering lihat lo kurang fokus." Rembulan mengembuskan napas gusar. "Gue tahu nilai ulangan kimia lo yang lo buang di belakang sekolah deket toilet, Ren." balas Rembulan membuat Iren membulatkan matanya panik. "M-maksud lo apa ngomong kayak gitu?" tanya Iren, wajahnya memerah. "Lo ngikutin gue?" tanya Iren membuat Rembulan menggeleng. "Gue ada di toilet waktu itu dan nggak sengaja lihat lo." balas Rembulan dengan tenang. "Lo tenang aja, Ren. Gue nggak akan bilang siapa-siapa kok." Rembulan menepuk pundak Iren berkali-kali. Usai mengatakan itu Rembulan kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru dua langkah, Rembulan kembali menghampiri Iren. "Oh, iya, Ren. Gue sekarang ngerti sama pertanyaan lo tadi. Gue akan tetep ikut untuk seleksi olimpiade. Lo nggak usah khawatir. Kita bersaing secara sehat. If we never try, we never know." ujar Rembulan tersenyum menatap Iren yang mendadak terdiam. "Gue harap lo nggak benci lagi sama gue, Ren. Karena gue nggak pernah benci sama lo." Usai mengatakan itu, Rembulan berlalu meninggalkan Iren di tempatnya. Iren terpaku dengan ucapan Rembulan. Bagaimana Rembulan bisa mengetahui nilai ulangan kimianya yang tidak sempurna itu? Bagaimana jika Rembulan menceritakannya pada orang lain? Bagaimana jika Mamanya tahu hal itu? Iren mengepalkan kedua tangannya. Dadanya bergemuruh menahan amarah dan kesal. "Gue benci sama lo, Rembulan!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN