Part 17

1809 Kata
Di depan ruangan OSIS SMAN 1 Nusa Bangsa sudah ramai dipenuhi beberapa siswa yang hadir di sana. Mereka pasti murid-murid berprestasi yang terpilih untuk ikut penyeleksian olimpiade tahun ini. Mata Rembulan menatap siswa yang hadir satu per satu. Sebenarnya dia tidak begitu terkejut ketika tahu bahwa Bintang juga terpilih untuk ikut penyeleksian. Siapa yang tidak mengenal Bintang yang pintar? Berprestasi di sekolah dan kesayangan guru-guru? Pun, demikian, siapa yang tak mengenal Rembulan yang langganan naik panggung dan ke maju saat upacara berlangsung ketika dipanggil atas prestasi yang diraihnya. Namun, entah mengapa mungkin mereka hanya mengenal Rembulan, tapi tak ingin benar-benar mengenalnya. Rembulan tak memiliki banyak teman, hanya satu dari sekian yang mau berteman dengannya. Mungkin karena Rembulan tidak memiliki fisik yang bagus seperti teman-teman lain. Mata Rembulan bisa menangkap sosok tubuh tinggi Bintang yang tengah berdiri bersandar di dinding seraya mengobrol bersama yang lain. Beberapa siswi tentunya memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa berbicara dekat dengan Bintang. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya Rembulan yakini, mereka sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya pada Bintang. Rembulan mengembuskan napas gusar. Rembulan mana berani berbicara sedekat itu dengan Bintang. Baiklah, Rembulan akui mungkin Bintang mengenalnya. Namun, kejadian beberapa hari lalu, saat bola basket mengenai kepala Rembulan, dia jadi tidak yakin Bintang mengenalnya atau tidak. Atau mungkin, Bintang pura-pura tak ingin mengenalnya sebenarnya dia tahu nama Rembulan. Meski tak begitu memiliki banyak teman, tapi nama Rembulan cukup populer sebagai salah satu murid berprestasi. Rasanya tidak mungkin jika Bintang tak mengenalinya. Ah, atau saja memang Rembulan tak begitu penting untuk dikenal. "Rembulan!" panggilan seseorang membuat Rembulan menoleh dan mendapati Jia, teman yang pernah berada satu SMP dengannya. Jia tersenyum menghampiri Rembulan, menepuk lengan perempuan itu. "Hai, Ji!" sapa Rembulan balas tersenyum. Ah, beruntung sekali Rembulan bertemu Jia. Rembulan baru ingat bahwa dia juga pernah memiliki teman yang baik seperti Jia saat SMP. Rembulan juga baru ingat jika Jia merupakan salah satu murid yang pintar. "Kamu ikut penyeleksian juga?" tanya Rembulan membuat Jia mengangguk. Rembulan dan Jia memang berbeda kelas. Mereka sudah jarang berkomunikasi setelah lulus SMP karena memang keberadaan teman baru mengharuskan mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebenarnya Rembulan dan Jia bukanlah teman dekat saat SMP. Hanya saja Jia orang yang baik dan merupakan ketua kelas saat mereka masih SMP kelas tiga. Namun, mereka cukup berteman baik. Jia tak memandang fisik Rembulan. Mereka juga lebih sering menghabiskan waktu untuk berdikusi—mendiskusikan materi-materi yang harus dipecahkan. Namun, tunggu! Ini adalah Jia. Seketika mata Rembulan membulat, tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah biasa saja. Jia satu kelas dengan Bintang. Itu yang membuat Rembulan terkejut saat mengingatnya. "Di kelas kamu, siapa aja yang terpilih, Lan?" tanya Jia penasaran. "Uhm, aku sama Iren, Ji." jawab Rembulan tersenyum membuat Jia membulatkan mulutnya seraya mengangguk. "Iren sikapnya masih sama kayak dulu ke kamu, Lan?" tanya Jia membuat Rembulan hanya tersenyum saja. Mereka bertiga memang berada di SMP yang sama dan pernah satu kelas. Jia tahu betul bagaimana Iren yang tak menyukai Rembulan. Namun, Jia juga cukup berteman baik dengan Iren dan Rembulan. Melihat Rembulan hanya tersenyum membuat Jia geleng-geleng kepala. "Di kelas kamu yang terpilih juga dua orang, Ji? Kamu sama ... " Rembulan menggantungkan kalimatnya. Belum sempat Rembulan melanjutkannya, Jia sudah menjawab lebih dulu. "Iya, aku sama Bintang." balas Jia menganggukan kepalanya. "Padahal aku nggak pinter-pinter banget, Lan. Nggak tahu deh wali kelas malah milih aku." Jia mendengkus mengangkat bahunya membuat Rembulan terkekeh. Obrolan keduanya harus terhenti ketika Pak Yunanto, guru kesiswaan, menyuruh murid yang hadir untuk berkumpul dan baris sesuai kelas masing-masing. Rembulan melihat Iren baru saja datang dan langsung berbaris di depannya membuat Rembulan mundur beberapa langkah. "Baik, semuanya sudah kumpul, ya." ucap Pak Yunanto, matanya menyapu ke seluruh siswa untuk memastikan banyaknya yang hadir saat ini. "Setiap orang sudah dipilih dua orang. Hadir semua, kan?" tanya Pak Yunanto membuat murid serentak menjawab. "Hadir, Pak." "Baik. Kalau begitu untuk mempercepat waktu, Bapak akan informasikan terkait penyeleksian untuk olimpiade yang akan mendatang sekitar dua bulan lagi. Sekolah ingin mempersiapkannya dengan matang. Jadi, yang ikut olimpiade itu belum fix. Kami masih harus menyeleksi di antara kalian siapa yang mampu untuk mewakili sekolah kita. Dan beberapa di antara kalian yang nanti tidak terpilih akan menjadi cadangan bila sesuatu terjadi untuk mengantisipasi." ucap Pak Yunanto membenarkan posisi pecinya. "Begini, penyeleksian untuk olimpiade tahun ini dilaksanakan tiga kali tes. Tes yang pertama, tes tulis. Tes kedua, tes lisan. Tes yang ketiga, tes tulis dengan sistem siapa cepat siapa tepat. Seiring berjalannya waktu, Bapak akan informasikan lebih lanjut mengenai tesnya. Jadi, biar prosesnya cepat, hari ini kalian diminta untuk memilih bidang apa yang ingin kalian ambil untuk proses penyeleksian nanti. Setiap bidang hanya akan dipilih satu orang saja dan tambahan satu orang sebagai cadangan. Untuk IPA, ada tiga bidang. Fisika, kimia, matematika, masing-masing satu orang. Lalu, IPS ada dua bidang. Matematika dan ekonomi, masing-masing satu orang dan sisanya akan dipilih lagi untuk ikut sebagai cadangan, tapi tidak semua siswa yang saat ini hadir akan ikut sebagai cadangan. Total siswa keseluruhan yang akan fix mengikuti olimpiade hanya lima orang saja yang mengikuti ujian." Pak Yunanto memberikan sebuah map kepada Ketua OSIS yang sejak tadi berdiri di sampingnya. "Sampai di sini, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Pak Yunanto yang dibalas gelengan kepala oleh murid-murid. "Oke, lanjut. Ada yang ingin mengundurkan diri sebelum berperang?" tanya Pak Yunanto lagi, tapi tak ada yang mengangkat tangan menunjukkan bahwa semua setuju. "Baik, semua setuju berarti, ya?" tanya Pak Yunanto lagi membuat semua kompak mengangguk. "Kalau begitu, biar lebih mudah mengelompokkannya, ketua OSIS akan mendata bidang yang kalian pilih. Bapak harap kalian memilih bidang yang tepat untuk kalian dan memang kalian mampu di bidang tersebut. Jangan ikut-ikut teman kalian." ucap Pak Yunanto membuat Ketua OSIS segera mendata satu per satu murid yang hadir untuk memilih bidang. "Pak, kalau misal kebanyakan milih bidang Fisika, terus Kimia sedikit yang milih atau bahkan nggak ada yang milih, gimana, Pak?" tanya salah satu siswa berkacamata setelah mengangkat tangannya. "Sekarang Bapak akan memberikan keluasan dan kebebasan untuk kalian memilih. Tapi, kalau memang bidang dipilih ternyata berat sebelah, Bapak akan diskusikan kepada wali kelas kalian masing-masing. Jadi, fix-nya akan kami umumkan lebih lanjut kalian ada di mana sesuai bidang yang kalian inginkan. Karena kami akan tahu kalau kalian berbohong. Kami akan melihat data-data nilai kalian." jelas Pak Yunanto membuat semuanya mengangguk. "Lo mau ambil Kimia kayak tahun kemarin, Ren?" tanya Rembulan ketika ketua OSIS sedang mendata bagian kelas IPS lebih dulu. Iren tak bergeming, matanya menatap lurus ke depan seolah-olah suara Rembulan tak terdengar di telinganya. "Ren?" panggil Rembulan lagi ketika tak mendapat respons dari Iren yang masih diam saja. Tangan Rembulan terangkat untuk menyentuh pundak Iren, tapi dengan cepat Iren menepisnya dan berbalik menatap Rembulan. "Apaan sih, Lan?" tanya Iren menatap Rembulan dengan tatapan tak sukanya. Iren melipat kedua tangannya di d**a, menunggu Rembulan kembali bicara meski sebenarnya malas. "Lo mau ambil Kimia kayak tahun kemarin?" Rembulan mengulangi pertanyaannya membuat Iren mendengkus, tapi tetap mengangguk. "Ya, lo tahu sendiri, kan, tahun kemarin gue yang kepilih untuk ikut olimpiade kimia. And see, gue juara satu. Mana mungkin sekarang gue nggak ikut." balas Iren membuat Rembulan hanya mengangguk. Lalu ketua OSIS mulai berada di dekat mereka dan menananyakan bidang apa yang akan mereka ambil setelah menanyakan kelas. Ketua OSIS itu mengangsurkan kertas di papannya kepada Iren yang langsung diisi oleh perempuan itu. Lalu, Iren memberikannya kepada Rembulan. "Lo tetep mau ambil Matematika?" tanya Iren tersenyum kecut setelah ketua OSIS itu pergi untuk mendata siswa lain. Rembulan mengangguk. "Gue lebih suka matematika." jawabnya membuat Iren menatap Rembulan seraya mengangkat sebelah bibirnya. Iren mengibaskan tangannya, lalu kembali menghadap ke depan ketika Pak Yunanto kembali berbicara. "Baik anak-anak, Bapak lihat sekilas semua bidang nggak ada yang berat sebelah. Jadi, nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Bapak harap, kalian benar-benar serius mengikuti penyeleksian kali ini. Untuk tes pertama, kita akan lakukan hari Senin, setelah ashar pulang sekolah. Kalian akan menghadapi tes dan mengerjakan soal sesuai dengan bidang yang sudah kalian pilih masing-masing. Tidak ada yang boleh mengubah bidang lagi. Bapak anggap ini sudah fix karena harus diurus untuk segala keperluan tesnya. Intinya minggu besok akan sangat padat untuk penyeleksian. Kalau ada pertanyaan, 'Pak kenapa kok dadakan?'. Baik, Bapak akan jawab karena dadakan atau tidak, itu yang akan menunjukan kemampuan kalian sebenarnya. Kami akan mencari yang terbaik dari yang baik. Kami akan mencari yang paling bersinar di antara yang bersinar. Bapak harap, kalian bisa mempersiapkannya dengan matang untuk penyeksian full minggu depan. Karena setelah fix kandidat yang terpilih untuk olimpiade akan langsung diberi pelajaran tambahan latihan-latihan soal untuk mempersiapkan olimpiade." jelas Pak Yunanto. "Sampai di sini, paham?" tanyanya. "Paham, Pak." jawab serentak murid. "Ya sudah, untuk hari ini cukup sekian. Ketemu lagi di hari senin, kita akan melaksanakan tes di aula sekolah. Tolong persiapkan dengan serius dan sungguh-sungguh, ya!" seru Pak Yunanto yang dibalas anggukan oleh murid. "Cukup sekian saja, terima kasih. Segera kami informasikan apabila ada informasi tambahan. Kalian boleh pulang." ucap Pak Yunanto membuat serentak menghela napas lega karena informasi yang diberikan tak begitu memakan waktu lama. Satu per satu murid berpamitan hanya menyisakan anggota OSIS dan Pak Yunanto di sana. Rembulan berjalan keluar gerbang. Namun, suara seseorang di belakangnya membuat Rembulan langsung menoleh. "Bintang!" Iren berlari tergesa-gesa memanggil nama Bintang yang berjalan mendahuluinya. Rembulan menyaksikan keduanya yang kini mengobrol di hadapannya. Sesekali mata Rembulan bertemu dengan mata Iren yang meliriknya. Mungkin perkataan Iren saat itu benar bahwa Iren mengenal Bintang dekat karena mereka teman satu bimbel. Lagi pula, siapa yang tak mengenal Bintang? Dan siapa pula yang tak mengenal Iren? Entah apa yang Iren bicarakan kepada Bintang, tapi sepertinya mereka terlihat sangat akrab sekali. Bintang juga sesekali terkekeh ketika menanggapi Iren. Hingga di depan gerbang ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat saat Bintang keluar. Rembulan memilih untuk memelankan langkah kakinya. Telinganya mendengar Bintang yang pamit duluan untuk pulang kepada Iren. Ah, memang anak orang kaya harus diantar-jemput pakai mobil mewah, ya? Seperti Bintang saat ini? "Dadah, Bintang. Hati-hati!" teriak Iren melambaikan tangannya yang langsung dibalas lambaian tangan oleh Bintang yang sudah masuk ke mobil mewahnya. Rembulan mengembuskan napas gusar. Menatap ujung sepatunya setelah mobil yang dinaiki Bintang berlalu dari hadapannya. Rembulan mengeratkan pegangan pada tali ransel ketika mendapati Iren berbalik menghadapnya. Iren tersenyum penuh arti, lalu berbalik dan pulang. Sosok Bintang begitu banyak dipuja bukanlah hal yang aneh. Bintang memang sudah seperti bintangnya sekolah, seperti namanya; Bintang. Bintang selalu bersinar, entahlah seperti ada sinar yang selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Menganggumi Bintang hanya akan terus menyakiti Rembulan. Bukan salah Bintang, melainkan Rembulan yang salah menaruh harap. Rembulan harus sadar bahwa dirinya tak akan bisa bersanding dengan Bintang. Rembulan tak boleh berharap lagi. Sudah cukup, atau jika tidak, dia akan terus menyakiti hatinya. Menyakiti perasaannya sendiri dan menjadikannya sebagai korban patah hati yang tak sengaja diciptakan sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN