Setelah beberapa minggu kemudian, suasana heboh sekolah karena kedatangan murid baru mulai reda, meskipun masih banyak gadis yang berlalu lalang sebagai fans setia Kevin, namun perbuatan mereka tidak seheboh seperti kemarin-kemarin, itu di karenakan Kevin melapor ke pihak sekolah tentang perbuatan gadis-gadis yang mengejarnya.
Begitupun Arni yang menjalani kehidupannya seperti biasa, ia sudah tidak berhubungan lagi bersama manusia astral yang berasal entah dari mana, manusia astral itu adalah Kevin Andreansyah Alvaro.
Bahkan tempat duduk juga Arni sudah tidak bersama Kevin tetapi ia bersama Maya sedangkan Kevin bersama Agus KW. Meskipun Kevin dan Arni satu kelas dan satu ruangan akan tetapi mereka hanya bertegur sapa dan berbicara seadanya.
Melihat berita tentang murid baru mulai mereda, Arni hanya ingin menggelengkan kepalanya antara tidak percaya atau menyayangkan perbuatan gadis-gadis tersebut.
Masalah Kevin masih populer atau tidak? Setahu Arni Kevin sangat populer, bahkan ia di beri gelar
'The Most Wanted-nya SMANMAB"
Tapi yang membuat Arni menggelengkan kepalanya adalah Kevin terkenal dengan embel-embel brandal karena ia bergabung bersama geng Agus KW. Mereka memang nakal akan tetapi setiap pembagian ranking nama Agus dan kawan-kawannya selalu nangkring di pringkat 20 besar, untuk itu mereka masih bertahan di kelas unggulan bersama Arni sekarang.
Entahlah setahu Arni. Agus KW, Kevin and the g**g mereka biasa saja, tidak nakal, hanya saja mereka terlalu over untuk dihargai di sekolah, namun ada beberapa orang yang mengeluarkan pendapat bahwa mereka berandal dan tukang tawuran.
Bukannya Arni tidak ingin menginterogasi langsung kepada Agus KW ataupun Kevin tapi ia juga terlalu sibuk mengurus organisasinya yang sebentar lagi akan diadakan pergantian jabatan, dari mulai LDKS, pelantikan, Musis, dan Kampanye kandidat terpilih, belum juga kepengurusan MPK yang ceritanya akan di laksanakan minggu sekarang. Mengingat juga bahwa ia sekarang sudah menjadi kelas 12 yang artinya harus mempersiapkan segalanya dari sekarang.
"Huftt!!" Arni mengusap keringat di pelipisnya ia baru saja menyelesaikan pelajaran olahraga lari estafet.
"Capek?" tanya Maya yang sudah duduk di sebelah Arni bersama para murid lainnya. Arni hanya mengangguk lemah menjawab Maya. Sebenarnya Arni sedang kurang enak badan dan pikirannya selalu mengatakan untuk tidak ikut kelas Olahraga, namun mengingat saat ini dia sudah kelas 12 jadi, dia harus semangat untuk menjalankan setiap pelajaran.
Mereka kini sedang berada di pinggir lapang sambil melihat beberapa siswa-siswi yang belum menyelesaikan kegiatan olahraganya.
"Capek juga! Halah!!!" Suara cempreng milik Lala langsung mengalihkan pandangan Maya dan Arni.
Tiba-tiba Lala duduk di depan Arni sambil menggerak-gerakkan botol minuman di tangannya dengan wajah yang bahagia, dengan sigap Arni meraih botol minum tersebut dan langsung meneguk airnya sampai tandas karena ia kelewat haus dan capek. Masalah Lala marah, itu urusan belakangan yang penting hausnya dulu di selesaikan. Setelah Arni meminumnya dengan habis, dia menyerahkan botol minum itu kepada pemiliknya sambil nyengir kuda, sedangkan Lala hanya melongo sekaligus syok.
"It-itu minuman punya Al loh Ar!" ucap Lala sambil menatap botol minuman itu dengan Horror.
Arni langsung terbatuk dan otaknya sedikit lama untuk merespon.
"Uhuk-uhuk-uhuk. Lo kenapa ga bilang!!" tanya Arni dengan sarkatis sambil mengusap-ngusap bibirnya. Pasalnya tadi juga ia melihat Kevin minum dengan mulutnya sama dengan apa yang dia lakukan. Rasanya Arni ingin mencuci mulutnya dengan air di tujuh sumur yang berbeda. Bukan karena jijik tapi risih!
"Lo tadi langsung ambil aja! Duhh gimana nih!!!" Lala menggelengkan kepalanya panik sambil mencak-mencak tidak jelas. Melihat tingkah Lala yang lebih over daripada dia. Arni memutar bola matanya dan melirik Kevin yang masih serius mengobrol dengan Agus KW dan yang lainnya. Arni mencoba tenang dan mengenyahkan pikiran-pikiran aneh tentang Kevin dan dirinya.
"Ya udah sih, tar gue ganti" ucap Arni dibuat sesantai mungkin.
"Iihh bukan itu maksudnya, beli sih gampang tapi kalau di butuhinnya sekarang gimana?? Kantinkan jauh Ar!!" Lala masih mencak-mencak tak jelas sambil mengerucutkan bibirnya.
Arni memutar matanya kesal
'segitunya ya sama Kevin!!'
Mata Arni jelalatan kesana-kemari ia kembali melirik Kevin yang masih asyik mengobrol bersama yang lain tapi sekejap-sekejap mata mereka bersitatap. Jadi dengan cepat Arni mengalihkan pandangannya.
"Noh lo kesana bilang ke Kevin Minumannya gue minum, tapi ntar gue ganti" ucap Arni santai dan ia langsung berdiri sambil membersihkan kotoran yang menempel di sekitaran celana olahraganya.
"Nah-nah lo mau kemana? Enak aja lari dari tanggung jawab!" Lala mulai heran melihat Arni sudah bersiap akan pergi
'katanya mau tanggung jawab, tapi pergi'
"Kan gue mau beli minum!! Udah sana-sana lari!!!! liat tuh Kevin mulai ngelirik ke elo terus!!" kibas Arni ke arah Lala. Lala hanya mengangguk dan berlari membelah lapangan ke arah Kevin berada.
Arni berjalan sedikit tergesa-gesa untuk menuju kantin sekolah yang lumayan jauh yang berada di belakang kelas 11.
Ketika ia sedang berjalan fokus, tiba-tiba sebuah tangan mencengkram pergelangan tangan kanannya dan menarik Arni dengan cepat.
"Ee- apaan ini??"tanya Arni yang merasa dirinya di tarik paksa. Sedangkan yang di tanya bungkam. Saat melihat siapa yang menariknya Arni dibuat keheranan, namun dia langsung sadar akan kesalahannya tadi.
"Vin-vin haduhh, gue minta maaf udah ngabisin minuman lo, tapi--tapi ga gini juga!!" pekik Arni kewalahan dengan langkah Kevin yang cepat.
"Duhh Vin!! Maaf deh, Vin??" Arni terus meronta-ronta, bukan karena tarikan Kevin yang terlalu cepat juga, tapi sekarang hampir seluruh sekolahan melihat mereka dengan pandangan campur aduk.
"Diam!!" Kevin berucap dengan dingin. Saat mendengar nada tajam milik Kevin Arni pasrah dan dia menyerah entah akan di bawa kemanapun, asalkan dia di kembalikan masih dalam keadaan utuh dan masih gadis
'hayati lelah bang!!'
Arni ditarik menuju lab kimia yang berada di belakang ruang guru dan Kevin langsung melepaskan pergelangan tangan Arni.
"Aww. Hisshh" ringis Arni pelan sambil menatap Kevin aneh, dia masih heran, hanya karena minuman Kevin langsung marah, Kevin ga bakalan sejijik itukan sama dirinya, tapi harusnya dia yang merasa jijik karena minum di bekas minum Kevin.
"Lo tuh ya, salah gue apa coba! Oke gue minta maaf, gu--"
Prakkk
Seketika mata Arni melotot dan ia tidak bisa melanjutkan omelannya terhadap Kevin. Arni melotot dengan tidak percaya.
"Vi-vin. Ma-maksudnya i-ini apaan?" tanya Arni sambil memegang benda itu dengan tangan sedikit bergetar, tapi dia berusaha untuk tenang dan tenang.
Kevin hanya menaikkan sebelah alisnya santai dan langsung duduk di kursi menghadap Arni. Satu senyuman lolos dari bibir Kevin.
"Wah posisi kita keren!" ucap Kevin kelewat santai. Arni melotot tajam kearah Kevin
"Apa mau lo?" tanya Arni to the point dan sudah kembali kedalam kondisi Arni si Ketua OSIS yang tidak suka basa-basi.
Kevin melihat tepat kearah mata Arni, mereka saling pandang. Bedanya Kevin menatap Arni santai dengan sedikit senyuman, sedangkan Arni menatap Kevin dengan tajam penuh kebencian. Ruangan Lab Kimia yang memang hening semakin hening dengan aura masing-masing.
Memandang wajah bak dewa Yunani di depannya, Arni sedikit miris sebagai wanita yang tidak pernah dekat dengan pria tampan, karena ketampanan Kevin tidak bisa di ragukan lagi. Beberapa kali jantungnya berdegup kencang. Antara takut dengan apa yang akan dikatakan Kevin atau karena Kevin memandang dirinya terlalu lama.
Normalkah dia bila terpesona melihat Kevin?