"Organisasi adalah sebuah keluarga yang terbentuk dari berbagai golongan dan bukan tempatnya orang-orang naif berada"
--A
_____________________________
Arni memasuki gerbang sekolah yang memang masih sepi, karena kebetulan ia ada jadwal piket sekarang, jarang sekali dia bisa datang pagi mengingat dia anak perempuan terakhir di keluarganya, meskipun di sekolah ia Ketua OSIS akan tetapi yang di rumah lebih utama. Kadang ia juga mengabaikan kewajibannya bantu-bantu di rumah di karenakan terlalu cape mengurusi di sekolah sampai-sampai pulang sekolah ia langsung tertidur.
Tapi perjuangannya yang selama beberapa bulan ke belakang itu hanya di anggap jasa biasa oleh sebagian orang di sekolahnya.
Arni berjalan melewati parkiran dan menaiki tangga melewati ruang guru, sekilas ia melihat bu Dahlia sedang bercakap ceria bersama guru yang lainnya. Kilatan memori yang menyesakkan kembali terngiang di pikirannya. Ia masih mengingat bagaimana bu Dahlia protes dengan proses kerja dia pada saat MPLS kemarin, bu Dahlia marah di karenakan ia terlalu lelet saat di panggil oleh bu Dahlia atau jabatannya di sekolah sebagai Wakasek Kesiswaan sekaligus pembina OSIS.
Flashback
"Arni di panggil bu Dahlia tuh!" Dika menghampiri Arni yang sedang turun dari tangga menuju lapang yang sudah di penuhi oleh siswa-siswi baru di sekolahnya.
"Mau apaan Dik" tanya Arni melangkahkan kakinya menuju ke tengah lapang tempat Dika berada
"Ga tau!, tadi juga gue di panggil kok!" ucap Dika santai
Jantung Arni berdetak kencang pasalnya sampai jam 15:45 kegiatan MPLS belum berakhir padahal tadi bu Dahlia sudah mengingatkannya bahwa selesai apel kegiatan selesai.
Tanpa ba-bi-bu lagi Arni berlari menuju ruang guru, ia celingak-celinguk mencari keberadaan bu Dahlia, tapi hasilnya nihil. Iapun turun ke bawah menuju lorong tempat TU berada, di sanapun tidak ada bu Arni, ketika Arni berjalan dengan gontai ia sampai di perpustakaan dan bersalaman dengan pak Alex pegawai TU di sekolahannnya.
"Pak liat bu Dahlia enggak?'" ucap Arni sambil terlihat gusar
"Oh biasanya ada di ruangan pak Rahman!" Arni hanya menganggukkan kepalanya dan menuju ke ruangan pak Rahman.
Arni melihat raut wajah bu Dahlia, pak Rahman dan Pak Wilan yang kesal dan datar seolah-olah mengatakan bahwa Arni terdakwa yg amat salah sampai suara bu Dahlia terdengar
"Arni ibu panggil kamu dari tadi dan setelah 15 menit baru ke sini!!!" tandas bu Dahlia.
"Iya di panggil itu cepet ke sini Ar, sudah lama loh ini!" sambung pak Wilan dengan nada datarnya, biasanya Arni melihat wajah pak Wilan ceria dan baik kepadanya kini tatapan itu penuh ke tidak sukaan.
"Ibu-ibu nelpon Arni. Maaf bu HP Arninya mati tadi!" jawab Arni cepat menjelaskan situasinya.
"Pulangin Ar anak2 udah sore!" ucap bu Dahlia tegas, sedangkan Arni langsung mengangguk dan keluar ruangan, Arni tak habis pikir
Arni sadar bahwa dia salah, tapi mengapa seolah-olah disini hanya Arni yang salah?
Arni mengimbau semuanya untuk mempercepat jalannya acara, dan acarapun selesai banyak siswa-siswi yg mengucapkan 'terimakasih dan sapaan biasa.
Setelah melakukan brefing dan arahan kepada anak buahnya, Arni berjalan ke arah gerbang. Walaupun suasana hatinya sedikit kesal mengingat kejadian tadi di ruang pak Rahman tapi dia dengan sopan bersalaman dan berpamitan kepada beberapa guru yang masih hadir. Ketika hendak bersalaman dengan pak Wilan Arni di persilahkan duduk untuk mendengarkan penuturannya
"Arni nanti lagi kalau di panggil sama guru tuh cepet-cepet samperin, tadi bapak nunggu 15 menit lagi loh!"
"Kan kata Arni juga HP Arninya mati pak!"
"Ah tadikan bapak nyuruh Dika langsung, tapi Arni lama datangnya, kamu tuh harus seperti Dika di panggil langsung ada, seperti Rega, seperti Aam mereka langsung cepet kalau di panggil"
Arni sedikit melamun jauh di sana, hatinya bergejolak ingin memberontak.
nah inilah yang paling arni tidak suka terhadap sebagian orang-orang
'mereka selalu membanding-bandingkan, padahal manusia itu memiliki karakter yang berbeda'
namun salahnya Arni tidak menjelaskan bahwa ia sudah mencari kemana-mana keberadaan bu Dahlia, entahlah rasanya pikiran Arni sudah pusing dan lelah
'sekeras-kerasnya ia memberikan alasan. Apakah benar para guru itu akan percaya?, dengan menyesal hatinya menjawab
tidak! Karena anak di larang membantah orang yang lebih tua?'
batin arni bergejolak lagi
'pemikiran apaan itu!'
Dia menggelengkan kepala dan dengan ikhlas menerima apa yang terjadi hari ini untuk kemudian di masa depan dia akan memperbaiki kesalahannya dan berjanji bahwa keslahannya hari ini tidak akan terulang!
Flashback_End
Kilasan ingatan itu membuat Arni tersadar. Boleh Arni mengeluarkan keluh kesahnya. Jujur dari awal ia tak pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS, hanya saja dulu ia di suruh partisipasi oleh imas wakil ketua MPK, dan pada akhirnya ia menang suara.
Senang?
Antara senang dan tidak entahlah!
Tapi terkadang Ia juga frustasi selama menjabat sebagai ketua OSIS, banyak permasalahan yang diluar logikanya, jika dia bukan orang yang sabar dan berpikiran terbuka mungkin mentalnya cukup terganggu di saat
guru dan teman-temannya memarahinya, mereka tidak mengetahui keadaan Arni di rumah bagaimana, mental Arni bagaimana, sikapnya!
Dengan mendesah Arni memberi pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah menanyakan hal itu, karena yang mereka mau hanya kata 'sukses nya acara'.
Arni berjalan cepat ke arah kelasnya, karena sekarang ia akan melaksanakan kegiatan piket. Ketika Arni berlari ia menabrak seseorang hingga membuat buku-buku yang di bawa oleh orang itu tergeletak naas di atas lantai
"Maafin gue!" sambil membantu memunguti buku-buku tersebut
"Ga usah!" tukas seseorang itu, lantas membuat Arni mendongkak
"Pras!" ucap Arni pelan, dan Pras sudah berjalan tergesa-gesa meninggalkan Arni. Arni yg seakan sadar dengan keadaan berlari menyusul Pras
"Pras!" teriak Arni yang langsung membuat Pras terdiam di tempat
"Bukunya ketinggalan!" Arni langsung meletakkan buku yg ada di genggamannya ke atas tumpukan buku di tangan Pras, sedangkan Pras langsung bergegas pergi meninggalkan Arni.
Arni berjalan santai dengan pemikiran yang entah ada dimana ia masih heran. Setau dia Pras adalah jiwa yang santai dan selalu meremehkan, tapi mengapa saat bertemu dia kali ini Pras terlihat ketakutan
Apakah karena kejadian kemarin? Seharusnya Arni yg takut karena bisa saja Pras menyebarkan berita yg tidak-tidak tentangnya.
Brakkkkk
"Hisss, p****t gue" ringis Arni sambil memegang pantatnya yang sudah terduduk di lantai koridor kelas.
"Heh! Kalau jalan pake mata dong!" omel Arni lagi
"Jalan tuh pake kaki bodoh! Bukan pake mata!" ucap si penabrak dengan nada datar dan cuek.
Arni mendongkakkan wajahnya dan melotot tajam seperti laser.
"Apaan hah! Loe yg nabrak, jadi gue yg di marahin!" sulut Arni sambil berdiri.
"Heh yg nabrak tuh lo, orang gue di sini dari tadi berdiri!" ucap Kevin tak mau kalah
"Ya udah sih maaf, awas-awas!" kibas Arni dengan santainya. Reflek Kevin menyingkir.
Arni heran tampangsih oke, tapi kalau datar tanpa ekspresi di tambah mata yg tajam dan sikap yang dingin, membuat siapapun merinding di dekat seorang Kevin.
Arni berjanji ia tidak ingin berurusan lagi bersama yang namanya Kevin Andreansyah Alvaro.