Cekrek
...
Satu Blitz kamera menerangi ke dalam toilet mereka saat ini, membuat Kevin dan Arni terlonjak kaget dan bangkit hingga akhirnya mereka mengetahui sebuah kebenaran, ternyata yang mendorong pintu bilik toilet secara tiba-tiba adalah lelaki yang juga memotret mereka berdua.
Kevin langsung merampas ponsel lelaki yg bername tag PRASETYA NOVAN tersebut dan menarik kerah bajunya, hingga Prass terdorong ke westafall.
"Loe ngapain HAH!!!!!" Wajah Kevin yang memantul dari cermin di depannya, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan sempurna.
"Oyy uhuk! Uhuk!! s
Santai bro,, lanjutin aja. Biasa kok main-main sama cewek" Meski mendapatkan tekanan dari Kevin, lelaki tersebut tetap tersenyum dengan santai dan menepuk bahu Kevin.
"Semua ga sama kayak lo!!" Ekspresi Kevin berubah menjadi sangat mengerikan dengan tatapan setajam laser, jika Kevin manusia super hero mungkin tatapan itu seperti menembus ruang dosa si penatap hingga mengubahnya menjadi abu dan hangus dalam seketika. Tanpa menunggu jawaban dari Prass, Kevin secara langsung membabi buta dengan memukul Prass tanpa ampun
"LO! Berengsek!!" Teriak Kevin
Bugh-
Bugh-
Bugh-
Kevin meninju habis Pras dengan kesetanan, Pras pun melawan dengan balik meninju Kevin, namun karena tenaga Kevin di atas normal, Pras pun tersungkur sedangkan Arni yang mulai bangkit dan menyadari jalan ceritanya memekik kaget.
"Kevin Cukup!! Vin!" Arni menghalagi Kevin dan membantu Pras untuk berdiri. Arni tahu niat Pras jahat, tapi hati nuraninya masih menguasai dan kalaupun berita yg tidak-tidak itu di sebarkan
'toh semuanya ga nyata'
"Kalau loe masih mau hidup dan ponsel loe balik. Temui gue besok jam 7 malam di Black Street Arena" ucap Kevin mengintimidasi dan ia menyeret Arni keluar dari toilet menuju UKS. Arni awalnya ingin melepaskan tarikan Kevin, namun melihat profil samping Kevin yang terlihat mengerikan dengan darah di mulut dan pelipisnya membuat Arni memegang dadanya untuk bersabar dan mengikuti dengan pasrah makhluk brandal di depannya tersebut.
Di perjalanan Arni dan Kevin dihadang oleh Dika sang Ketua MPK yang diketahui sangat bersaing dengan Arni.
"Loe napa Tarik-tarik Arni!" ucap Dika sambil melipat tangannya di atas d**a.
"Eh Dika," Arni tersenyum kikuk dan berusaha melepaskan cengkraman Kevin, bukan karena dia takut Dika cemburu, namun sekarang banyak orang yang memperhatikan mereka bertiga, layaknya sebuah drama cinta remaja yang berkisah dari cinta segitiga.
"Ikut gue Ar, ada yang mau di omongin" Dika menarik lengan kiri Arni yang tidak dipegang Kevin dan hampir menyeret Arni, namun ternyata cengkraman Kevin lebih erat daripada tarikan Dika, hingga akhirnya mereka berdua saling tatap dengan mata dingin masing-masing.
"Arni ikut gue!" Kevin berucap dengan nada yang datar dan dingin. Momentum suhu tubuhnya membuat siswa-siswi yang melihat menjadi bergidik ngeri, namun membuat para siswi terpesona juga akan keduanya.
"Loe Siapa?" tanya Dika sambil menatap nyalang Kevin dan memprovokasi Kevin lewat hinaan di matanya.
"Arni milik gue!" Dika mendorong d**a Kevin dengan kasar.
"No! Arni milik gue!" Kevin semakin menampilkan wajah datar dan semakin mencengkram erat pergelangan Arni.
Arni yang mulai jengah melihat adegan sinetron di hadapannya itu langsung menengahi perdebatan mereka.
"Emm, maaf ya ! Gue disini bukan milik siapa-siapa!! Gue masih milik tuhan sama ibu bapak gue kok" Arni Cengengesan kikuk, karena sebenarnya dia juga takut akan amukan dari kedua remaja keras kepala di depannya itu.
"Gue Gak Perduli!!" tangkas Dika dan Kevin secara bersamaan membuat Arni bungkam dan cemberut.
"Ar iku gue!" Dika menarik Arni, tanpa bantahan dan mulai menyeretnya lagi, namun Kevin kembali membawa Arni kesisinya. Darah di pelipis Kevin semakin mengalir ke sudut matanya.
"Arni sama gue!"
Arni yg mulai khawatir melihat kondisi Kevin langsung melihat Dika dengan pandangan yang meminta maaf.
"Eh Dik kayaknya gue mau bawa dulu nih bocah ke UKS deh!! Maaf ya tar gue nyusul loe ke Ruang OSIS, Oke!!" ucap Arni sambil melepaskan genggaman tangan Dika dan menarik Kevin menuju UKS, namun sebelum berjalan ia melihat kebelakang dan menemukan perang senyuman tipis antara wajah Kevin dan Dika lebih tepatnya senyuman mengejek dari Kevin untuk Dika, kemudian batinnya bertanya.
'Tapi mengapa?'
Brukkk
Arni terbanting di dinding ruangan UKS yang memang sedang sepi, karena kelas masih bebas dan siswa-siswi sedang heboh menonton pertandingan futsal di lapangan.
"Obati Gue!" Ucap Kevin memerintah sambil berbaring di atas kasur.
Arni masih memegang pergelangan tangannya yang masih sakit akibat cengkraman Kevin. Meskipun tadi dia tidak mengeluh, tapi jujur sebenarnya itu sakit.
"Kalau mau di obatin, ya duduk dong!" ucap Arni sarkastis sambil mengambil kotak obat di lemari
"Tumben UKS sepi, kemana anggota PMR" gumam Arni pelan sambil terus mencari obat yang ia perlukan.
"Ketemu!" pekiknya girang dan mulai melirik Kevin yang sedang memijat keningnya.
"Loh tuh ya! Udah anak baru! Songongnya juga minta ampun dah, tapi anehnya banyak yang suka sama loe, lebih anehnya lagi loe makhluk paling tidak peka di dunia. Hahaha
Terus Tadi Main tonjok-tonjokan lagi. Lo kira lo Naruto gitu yang bisa cepet sembuh, ingat loe tuh manusia makhluk tuhan yang paling L.E.M.A.H!!" omel Arni tanpa henti sambil membersihkan luka-luka di sekitaran wajah Kevin.
"Siapa tadi?" tanya Kevin dengan Datar tanpa menanggapi celotehan Arni.
"Oh Dika, dia ketua MPK. Musuh gue, heran dia segitu bencinya sama gue, sampe gue deket sama anak cowok aja ga boleh, ntar bilangnya 'centillah', 'jadi ketos ga berwibawalah', 'inilah-itulah'. Heran gue!! Hih~"
"Selesai" ucap Arni bangga akan usahanya dan menunjukan senyuman manisnya, ternyata tanpa disadari oleh Arni, sedari tadi Kevin menatap Arni lekat-lekat dan intens, menyebabkan jantung Arni berdegup kencang
Dug
Dag
Dig
Dug
'Jantung gue kenapa!!!!!'.
"Lo kenapa natap gue gitu!! Astoge mulut gue bau ya!!" ucap Arni spontan dan ia menutup mulutnya sambil menghembuskan napasnya
"Ah engga Ah, wangi mint Ah!!!" Arni menggeleng-gelengkan kepalanya dan kebingungan.
lantas mengapa Kevin menatapnya intens seperti ia mangsanya saja.
"Lo bilang gue makhluk yang paling tidak peka sedunia???" tanya Kevin langsung tanpa menjawab pertanyaan dari Arni.
"Emm ya iyalah" jawab Arni polos, Kevin tersenyum mengejek dan ia mendekat ke arah Arni untuk kemudian menatap Arni tajam yang membuat Arni melotot gugup. Dan jantungnya berdegup semakin kencang.
Dug
Dag
Dig
Dug
'Kesehatan jantung gue ga baik! Ya ampun kayak mau copot aja ni jantung'
batin Arni berteriak. Sampai Kevin mengatakan sesuatu.
"Tapi menurut gue, orang yg paling tidak peka di dunia itu Lo!" tungkas Kevin tepat di depan wajah Arni
"Jantung gue vin!!" ucap Arni panik memegang jantungnya dan menghiraukan perkataan Kevin tadi
"Vin jantung gue.. Huaa" Arni semakin panik sedangkan Kevin mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kenapa jantung lo?" tanya Kevin penasaran melihat kepanikan Arni
"Udah dua kali jantung gue mau copot pas lo ada dideket gue, gimana dong!! Kayaknya gue alergi di deket elo deh. Jauh-jauh sana!! Hus-hus-hus"
Arni menjauhkan wajah Kevin yang ada di hadapannya dengan menonyor kening Kevin perlahan. Kevin hanya memutar matanya sebal dengan tingkah Arni, namun sedetik kemudian ia tersenyum.
"Nah lo malah senyum!, senengkan gue cepet mati!! apa gue kedokter aja gitu ya?" Racau Arni lebih bertanya kepada dirinya sendiri.
Kevin hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang masih melekat.
sungguh ia baru mengetahui bahwa di dunia ini ada makhluk yang kadar kepekaannya nol besar melebihi dirinya. Ini bukan tidak peka tapi terlalu polos.