18. Cinta dan Cemburu.
Semalaman Keyra tak bisa tidur. Pagi harinya ia akan menikah dengan Danish. Meski itu hanya pernikahan sandiwara. Gadis itu merasa nervous. Keyra terus menatapi langit-langit kamarnya. Pikirannya jauh menerawang ke depan. Ada rasa sedih menyelinap di hatinya.
Sang ibu, sudah tidur di sampingnya. Bagaimana, apa yang akan terjadi nanti. Setahun ke depan saat ia sudah bercerai dengan Danish Alexi, menjadi janda muda. Bu Riani pasti akan menangisinya. Dan sekarang setelah sandiwaranya dengan Danish sudah begitu jauh, Keyra baru memikirkan semuanya.
Keyra mengubah posisi tidurnya, menghadap sang ibu, yang tertidur pulas. Ia menatapi kulit wajah ibunya yang sudah keriput. Wanita yang kuat, meski seorang janda karena suaminya sudah meninggal, Bu Riani tak pernah menyerah mencari uang demi menyekolahkan Keyra.
‘Bu, Keyra minta maaf,’ gumam hadis itu pelan. Sadar betul jika yang di lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan, yang akan membuat ibunya bersedih. Namun, Keyra tidak bisa menolak karena sudah menandatangani kontrak dengan Danish.
Keyra bangun, meraih ponselnya di atas nakas. Hatinya menggebu untuk menelefon Danish, setidaknya ia akan mencoba melakukan sesuatu.
Panggilan telefon terhubung.
“Hallo,” sapa Danish dengan suara serak, khas bangun tidur.
“Mas Danish, aku ingin bicara?” pinta Keyra. Ya malam ini bukan hanya dirinya dan Danish. Pak Suryo dan Sella beserta keluarganya sudah tiba di hotel, menginap. Besok akan diadakan ijab kabul dan di lanjutkan resepsi pernikahan kedua petinggi hotel. Itu peristiwa penting dan jarang terjadi.
“Bicara saja!” titah Danish. Sudah sangat mengantuk, bukan hanya mengurus pernikahan, pria itu juga tetap mengerjakan rencana pembangunan cabang hotel di Semarang.
“Aku ingin bertemu!” tolak Keyra. Tidak ingin melakukan pembicaraan di telefon.
“Key, ini sudah larut malam. Dan besok hari pernikahan kita, tidak bagus kalau kita bertemu apa lagi berduaan,” protes Danish yang sudah sangat mengantuk.
“Aku mohon,” rengek Keyra. Tidak peduli dengan jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Baiklah, kita bertemu di atap!” jawab Danish terpaksa.
“Ok,” Keyra bersemangat lalu mematikan panggilan telefon.
Keyra keluar dari kamar hotelnya, bersama dengan Danish. Mereka berada di lantai yang sama, yaitu kamar hotel spesial yang hanya digunakan pemilik hotel.
Danish dan Keyra berada di lift, menuju atap hotel. Tempat teraman yang tidak akan diketahui siapa pun.
Begitu sampai di atap dengan yang berada di atas lantai 18, angin bertiup lebih kencang. Hawa dingin menyeruak menerpa kulit Keyra. Ia memeluk dirinya sendiri, untuk mengurangi rasa dingin. Sementara Danish, terlihat datar, lebih fokus dengan rasa kantuknya.
Atap hotel, adalah tempat yang sangat indah. Bukan hanya pemandangan dari atas saja yang indah. Atap hotel, digunakan sebagai taman bagi tamu yang menginap. Sengaja di desain menjadi taman yang ramah lingkungan dengan tanaman bunga yang menarik, membuat tamu betah berlama-lama di tempat itu.
“Apa yang ingin kamu katakan, Key?” tanya Danish. Ia melihat gadis yang berdiri di sampingnya. Menguap panjang karena masih mengantuk. Berat sekali membuka kelopak matanya.
“Apa kita bisa membatalkan pernikahan?” tanya gadis itu. Keyra menggigit bibir bawahnya, menegak saliva, takut sekali mengatakan hal itu pada Danish. Memikirkan ibunya yang sedih ketika mengetahui semuanya, Keyra memberanikan diri membuat permintaan pada Danish.
“Apa!” teriak Danish. Pria itu menoleh, menatap tak percaya pada gadis yang berdiri di sebelahnya. Rasa kantuknya lenyap dan hilang begitu saja. Permintaan Keyra membuatnya sangat terkejut.
Keyra menunduk, tak berani membalas tatapan Danish. Memilih diam dan memejamkan mata. Menunggu reaksi Danish selanjutnya.
“Apa yang kamu pikirkan Key! Kamu mau mempermalukanku apa bagaimana, yang benar saja kamu ingin membatalkannya! Kita sudah menandatangani perjanjian, pokoknya aku tidak mau membatalkannya!” tegas Danish. Kedua manik matanya melebar, menahan marah. Tak habis pikir dengan permintaan Keyra. Nafasnya menjadi berat dan cepat, ingin menerkam calon istrinya itu.
“Emm,” gumam Keyra. Suara dan tatapan Danish menguasai suasana membuatnya ketakutan. Debar jantungnya menjadi sangat cepat.
“Sudah jangan bimbang, jangan berubah pikiran. Apa pun alasannya aku tidak ingin membatalkan pernikahan, cukup jangan berpikir yang macam-macam, jangan membatalkannya, percayalah aku akan membayarmu lebih dari yang aku janjikan semula!” jelas Danish. Menebak-nebak jika alasan Keyra, ingin membatalkan pernikahan karena uang yang ia janjikan terlalu sedikit.
Keyra menatap Danish, air matanya merebak. Sekuat tenaga menahan tangis.
“Ayo kita turun, kamu harus tidur!” ajak Danish. Ia meraih tangan Keyra, menuntun untuk mengikuti langkah kakinya. Mereka harus secepatnya tidur, besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk mereka.
Danish terus membawa tangan Keyra dalam kuasanya. Ketika pintu lift terbuka, dalam keheningan dan pikiran sibuk masing-masing tak sejenak pun, ia melepaskan tangan calon istrinya itu.
Pintu lift terbuka, bersamaan dengan Sella yang sedang keluar dari kamarnya.
“Apa yang kalian lakukan?” selidik Sella. Kedua manik matanya menatap tajam, memicing fokus dengan tangan Danish yang menggenggam erat jemari Keyra.
“Yakin kamu ingin tahu?” tantang Danish. Dapat membaca wajah Sella, dengan raut cemburu.
Sella tak menjawab. Memilih diam dan membalas tatapan Danish.
“Tentu saja aku berduaan, dengan calon istriku, aku tidak sabar ingin berduaan dengan Keyra,” jawab Danish. Ia menantang Sella. Itu menjadi hobinya saat ini. Melihat Sella cemburu adalah kesenangan tersendiri.
“Hah, yang benar saja, pernikahan kalian hanya sandiwara, aku tahu itu!” balas Sella. Seolah tahu semuanya. Baginya semua terasa mencurigakan, belum ada sebulan Danish memohon cintanya, tapi sudah mencintai gadis lain.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu!” sahutnya dengan tegas, menatap Sella dengan tajam. Menuntun, Keyra melewati Sella begitu saja.
“Keyra, istirahatlah, aku tidak ingin kamu kelelahan, tidur yang nyenyak, Sayang!” ucap Danish dengan suara keras, sengaja agar Sella mendengarnya.
“Iya,” jawab Keyra menurut.
Danish mengantar Keyra sampai di depan kamarnya baru kemudian ia masuk ke kamarnya sendiri.
**
Pagi harinya di ruang make-up.
Keyra dan Sella, duduk bersebelahan dengan dua perias masing-masing. Mereka sudah hampir selesai, tinggal menata bagian rambut dengan tiara.
Gaun berwarna perak, dengan hiasan manik yang detail, di desain khusus untuk kedua mempelai, oleh desainer ternama. Sella sudah selesai terlebih dahulu, ia menatap sinis ke arah Keyra yang selalu ditemani ibunya dengan setia. Sedangkan dirinya, ditemani Tante Desi yang tak henti-hentinya berkomentar. Berbeda dengan ibunya Keyra yang selalu memuji dan melihat kagum ke arah putrinya itu.
Kini mereka hanya berdua di ruang ganti, Sella yang membenci Keyra menggunakan kesempatan itu untuk mengancam gadis yang akan menikahi Danish itu.
“Gadis kampungan, lihatlah wajahmu, masih terlihat jelek meski sudah di rias sedemikian rupa!” ejeknya dengan nada merendahkan senyum sinis menyungging di sudut bibirnya.
Keyra hanya diam, sampai saat ini dia tidak berani menjawab apa pun yang di ucapkan Sella. Dia pun tidak tahu apa alasan Sella yang selalu membencinya. Namun, tetap saja ia selalu hormat, mengingat wanita itu akan menjadi ibu mertuanya.
“Aku akan pastikan hidupmu tidak akan tenang karena berani menikahi Danish!” tegasnya. Jari telunjuk mengarah tepat di wajah Keyra dengan mata melotot yang berhasil menakuti Keyra.
Keyra masih tak menjawab. Ajaran dari Bu Riani agar selalu sopan dengan ayah dan ibu mertuanya membuatnya tidak berani membalas apa yang di ucapkan Sella. Meski dalam bentuk perkataan, tindakan atau pun hanya sekedar membalas tatapan calon ibu mertuanya itu.
Sikap Keyra yang memilih diam benar-benar membuat Sella merasa gemas. Hampir saja ia menarik tiara yang bertakhta di atas kepala calon istri Danish Alexi. Namun, suara panggilan dari luar ruang ganti menghentikan niatnya.
“Nona Keyra dan Nona Sella, mempelai pria sudah siap, bergegaslah acara ijab kabul hampir dimulai,” kata seorang wanita di luar sana.
“Iya,” teriak Sella. Ia mendorong tubuh Keyra baru keluar, masih marah. Belum bisa terima jika Danish menikahi gadis kampungan itu.
Keyra yang terdorong ke dinding bangkit. Saat ini, ia mendapat firasat buruk mengenai kehidupan pernikahannya dengan Danish, meski hanya satu tahun, hari-hari berat segera menantinya. Mimpi buruk hidup satu atap dengan mertua perempuan terbayang di depan mata. Keyra mengusap dadanya, menelan saliva, menguasai emosi dirinya.
Di ruangan make-up, Danish dan Pak Suryo duduk menanti mempelai wanita. Mereka mengenakan tuxedo warna putih dengan dasi kupu. Kalung bunga melati melingkar di leher, memanjang menghiasi bagian depan baju yang mereka kenakan.
Pak Suryo terlihat sangat berkarisma ketampanannya masih terpancar dengan seluruh aura yang dimilikinya. Senyum mengembang di bibirnya senada dengan hatinya yang sangat bahagia. Mempersunting Sella, gadis muda yang cantik adalah kepuasan dan kesenangan tersendiri bisa mendapatkan cinta darinya.
Berbeda dengan Sella yang tersenyum palsu, di hari ini dia dan Danish akan menikah, di hari yang sama, waktu yang sama hanya saja dengan pasangan yang berbeda. Sejenak, dia menyesal telah menerima permintaan Tante Desi untuk mendekati Suryo, membuat pernikahan impiannya dengan Danish harus terkubur dalam-dalam.
Pak Suryo berdehem, dia beranjak dari duduknya. Menghampiri pengantin wanitanya, menuntun Sella, yang sangat cantik dengan balutan baju pengantin. Sangat serasi dan cocok di pakai olehnya.
Kemudian, Keyra keluar, Danish dapat membaca raut sedih dari mata gadis itu. Ia menuntun Sella dan berjalan, mengikuti Pak Suryo ingin segera melaksanakan prosesi ijab kabul.
**
“Kamu menangis?” tanya Danish, melihat wajah Keyra di pantulan cermin di kamar hotel.
Keyra dan Danish sudah sah menjadi sepasang suami istri. Begitu pun Pak Suryo dan Sella. Mereka baru saja melakukan proses ijab kabul di sebuah masjid yang tidak jauh dari Cakrawala Hotel.
“Jangan menangis, aku akan menepati semuanya yang ada di surat perjanjian!” ucap Danish, masih tidak tahu alasan istrinya itu menangis di hari bahagia ini.
Keyra masih tak bergeming. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedih, menyesal, dan takut berkecamuk berpadu dalam hatinya.
“Tidurlah sejenak, dua jam lagi masih ada resepsi pernikahan yang di hadiri ribuan tamu, jangan buang tenagamu hanya untuk menangis!” pintanya. Ia merebahkan tubuhnya. Melihat keluar jendela, berharap semua akan baik-baik saja. Danish sadar, jika ia masih sangat mencintai Sella. Hanya saja, tidak mungkin mundur. Sudah sejauh ini ia melangkah, tetap maju dan menjalani semuanya.
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu