17. Saling Menyerang
Setelah kepergian Sella. Perlahan Danish melepaskan kaki Keyra dari pegangannya.
“Sebentar, aku lupa sedang menunggu pesan dari Doni,” ucap pria itu beranjak dari duduknya.
“Iya,” sahut Keyra.
Kemudian, Danish pergi ke kamarnya. Keyra yang masih duduk di depan TV, merasakan ada yang aneh. Namun, dia belum paham juga apa yang membuatnya merasa tidak biasa seperti itu.
“Ah sudahlah!” gumam Keyra pelan. Dia melupakannya, lebih memilih dan mengingat kembali perhatian Danish hari ini, ya berkali-kali hari ini ia dibuat berdebar karena sikap dan perhatian pria itu.
Keyra bangkit dari duduk. Berjalan pelan dan tertatih menuju ke kamarnya. Meski sudah dipijat kakinya masih sakit.
Sampai di kamar, Keyra merebahkan tubuhnya. Meraih ponselnya. Gadis itu melihat kembali hasil photoshoot bersama Danish.
Dipandanginya dengan saksama, foto itu. Meski bersandiwara, Danish dan dirinya terlihat seperti model profesional karena benar-benar terlihat mesra.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan dari Diego. Ekspresi tak percaya terlihat di raut wajah gadis itu! Pasalnya baru pertama cowok itu menelefonnya.
Keyra menggeser layar ponselnya menerima panggilan.
“Halo,” sahut Keyra.
“Benar ini nomor Keyra?” tanya Diego.
“Iya, ini siapa?” tanya Keyra berpura-pura pasalnya Diego belum tahu kalau Keyra menyimpan nomornya.
“Aku, Diego,” jawab pria di seberang telefon.
“Oh, iya, tumben telefon, ada apa?” tanya Keyra. Penasaran hal penting apa yang membuat Diego menelefonnya.
“Tidak, ada hal penting sih, aku hanya ingin, Kamu menyimpan nomorku,” sahut Diego.
“Oh, baik, aku akan menyimpan nomor kamu,” ucap Keyra tidak pernah menyangka Diego akan menghubunginya.
“Oh, ya, apa kita bisa jalan bersama, entah kapan, menonton atau sekedar makan malam bersama,” tawar Diego yang sebenarnya selama ini menaruh hati pada Keyra.
“Bisa,” jawab Keyra bersemangat. Ini adalah salah satu keinginannya. Kencan dengan Diego.
“Kalau begitu kapan kita pergi bersama?” tanya Diego.
“Nanti aku akan mengabarimu lagi ya?” ujar Keyra dengan suara lembutnya.
“Oh, Ok, sampai ketemu besok di kampus, ya!
“Iya,”
“Selamat malam,”
“Selamat malam,”
Klik! Keyra bangkit dari duduk dan refleks melompat, membuatnya mengaduh sakit. Kakinya yang terkilir, masih bengkak.
“Yes,” teriak Keyra begitu bahagia.
Kemudian, dia berusaha untuk tidur. Meski besok pagi dia tidak ada acara, tapi hari ini cukup melelahkan untuknya yang jarang melakukan photoshoot.
**
Danish masih terjaga. Pria itu sedang duduk termenung di kursi rotan yang berada di balkon. Tempat favoritnya merenung dan berpikir.
Pria itu, merasa aneh. Dia masih bisa melihat kalau Sella masih mencintainya. Lalu kenapa gadis itu tiba-tiba menikahi Papanya. Danish yakin pasti ada sesuatu alasan yang di sembunyikan Sella.
“Kenapa aku tidak mencari tahu saja,” gumam Danish. Kemudian, ia membuka layar ponselnya. Ternyata sudah pukul 23.17 Doni pasti sudah tertidur.
Danish : [Doni, mulai besok kamu cari tentang Tante Rossa, yang memperkenalkan Sella dengan Papaku].
Pesan itu segera di kirim, ke Doni. Asistennya.
Dan benar saja 15 menit kemudian, tak ada balasan dari Doni. Pasti sudah tidur lelap, tidak seperti dirinya yang masih segar, dan enggan terlelap.
Danish memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya, lalu berusaha untuk tidur.
.
.
Pagi harinya Keyra bangun pagi. Ia sudah terlebih dahulu dudu k di ruang makan bersama Pak Suryo karena Danish belum juga selesai bersiap.
Tepat pukul 7.00 Danish baru saja turun dari kamarnya, ia berjalan menuju ruang makan.
“Pagi, Pa, Keyra?” sapanya. Kemudian ia duduk di kursinya, sebelah kanan tempat duduk Pak Suryo.
“Pagi, juga, ayo kita makan,” ajak Pak Suryo. Dia dan Keyra sudah terlalu lama menunggu.
Kemudian, mereka bertiga mulai sibuk, dengan menu makan paginya. Danish lebih suka sarapan dengan roti. Sedangkan, Pak Suryo lebih suka buah dan sayur. Keyra sendiri memilih nasi dan lauk, seperti biasa anak kos selalu sarapan dengan karbohidrat yang lebih.
“Pagi ini Papa akan jemput Tante Sella?” tanya Danish antusias.
“Tentu,” jawab Pak Suryo. Masih sibuk dengan makanan di piringnya.
“Aku ingin pulang ke kos, kakiku sudah sembuh!” celetuk Keyra, berharap Danish mengantarnya.
“Kamu bisa naik taksi kan?” tanya Danish refleks, karena sedang berencana untuk menjebak Sella.
“Danish!” panggil Pak Suryo dengan raut wajah keheranan.
“Iya, Pa,” jawabnya masih belum sadar akan kesalahan yang dilakukannya.
“Kamu yakin akan membiarkan Keyra pulang sendiri?!” protes Pak Suryo.
“Tidak Pa!” jawab Danish menyengir. “Tentu saja aku akan mengantarkan Keyra!” ucap Danish tersenyum menatap gadis yang duduk di sampingnya.
Selesai makan Pak Suryo bersama sopir pribadinya, menjemput Sella. Sedangkan Danish, akan mengantarkan Keyra terlebih dahulu baru berangkat ke kantor.
Di dalam mobil.
Danish fokus menyetir. Keyra duduk di sampingnya. Ada hal yang ingin ia tanyakan, tetapi gadis itu ragu untuk menyampaikannya.
“Mas Danish!” panggil Keyra dengan pelan.
“Iya,” sahut Danish datar. Ketika Sella tidak ada! Ia sama sekali tidak berselera memperhatikan calon istrinya itu.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” lirih Keyra mengucapkannya.
“Tanyakan saja!” sahut Danish.
“Apa aku boleh menemui teman pria ku?” tanya Keyra dengan suara bergetar.
“Temui saja!” ujarnya.
“Oh, Ok!”
Setibanya di gang menuju tempat kosnya, Keyra turun. Sedangkan Danish melanjutkan perjalanannya ke kantor.
**
Keyra sedang bersiap menemui Diego. Jawaban dari Danish bahwa tak masalah bagi Keyra menemui teman prianya. Membuat gadis itu mengiyakan pertemuannya dengan Diego.
Suara klakson motor terdengar. Setelah itu ponsel milik Keyra bergetar. Ada panggilan telefon dari Diego.
“Aku sudah di depan kosmu!” ucap Diego. Kemudian, mematikan telefon sebelum Keyra sempat membukanya.
Keyra segera mengakhiri ritual dandannya. Kali ini ia memakai dress kasual panjang selutut, di padu dengan sepatu kets yang nyaman. Dengan langkah cepat Keyra menuruni tangga. Sesampainya di ujung tangga ia melihat Diego. Masih di atas motornya.
Kemudian, ia berjalan menghampiri Diego. Pria itu mengenakan outfit
“Ini helmnya,” Diego memberikan pelindung kepala itu pada Keyra.
Keyra memakainya.
“Ayo naik!” suruh Diego.
Keyra membonceng Diego.
“Pegangan!” pinta pria itu.
Dengan ragu Keyra berpegangan Pada Diego.
“Kita berangkat, ya!” kata Diego memberitahu. Kemudian,
“Kita berangkat, ya!” kata Diego memberitahu. Kemudian, Diego mulai menjalankan motornya.
Keyra melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul 4 sore. Dan ketika Diego melewati Cakrawala Hotel, Keyra senantiasa mengamati bangunan megah itu. Ada rasa, bahagia dan juga marah. Gara-gara perjanjian pernikahan dengan Danish, ia tak bisa bebas melepas segala rasanya pada Diego, dan mungkin harus menundanya selama satu tahun.
Diego menghentikan motornya, di sebuah kafe yang tak jauh dari Cakrawala Hotel.
Keyra turun dari motor Diego.
“Kita makan di sini ya?” ucap Diego.
“Iya,” jawab Keyra. Tak merasakan firasat buruk sama sekali.
Diego membantu melepas, helm yang dikenakan Keyra. Pada saat itu juga, Sella yang sedang melintas di kafe itu melihatnya, dia mengambil foto adegan itu.
Diego memberanikan diri menggandeng tangan Keyra, lalu mengajaknya masuk ke dalam kafe. Karena kafe penuh dengan pengunjung, tidak ada pilihan lain kecuali satu-satu nya meja kosong yang berada di tengah ruangan. Pria itu menuntun Keyra duduk di sana.
Kemudian, mereka memesan makanan.
Sementara itu, Sella mengirim foto yang baru saja di ambilnya ke nomor kontak Danish, melalui aplikasi berwarna hijau di gawainya. Dia tersenyum puas karena dia yakin satu hal, Keyra hannyalah kekasih bohongan Danish.
Tak lupa Sella menambahkan pesan di bawah foto itu.
Sella : [Lihat pengantin wanitamu! Dia sedang jalan dengan pria lain, aku tidak sebodoh itu bisa kamu bohongi, dengan sandiwara murahanmu Danish! ]
**
Danish sudah bersiap untuk pulang, tak ingin berlama-lama di kantornya dengan Doni. Di hadapan asisten sekaligus sahabatnya itu, dia benar-benar merasa sangat bodoh mengenai sandiwara pernikahannya.
“Aku pulang dulu,” ucap Danish.
“Iya,”
“Jangan lupa, terus selidiki Sella dan Tantenya itu!” titah Danish tegas. Hanya dengan cara itu ia mempertahankan wibawanya di hadapan pria itu.
“Siap!” jawab Doni.
Danish keluar dari ruangannya. Dia berjalan menuju lift. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Kemudian, Danish meraih benda pipih nan canggih yang ada di saku jasnya. Pria itu membuka aplikasi pengantar pesan yang ada di ponsel.
Danish mendapat satu gambar yang di kirimkan oleh Sella. Di dalam foto itu terlihat Keyra sedang tersenyum ke arah seorang pria. Berada di tepi jalan dan sepertinya akan segera masuk ke dalam kafe.
Dari waktu yang tertera di foto, terlihat kalau foto itu baru saja di ambil.
Pintu lift terbuka. Tanpa memberikan kesempatan orang lain masuk ke dalam lift Danish segera menekan tombol lantai dasar. Membuat para staf dan karyawan tak berani masuk ke dalam lift dan rela menunggu.
Lift sampai di lantai dasar, pintu terbuka. Danish berjalan cepat menuju tempat parkir dengan langkah cepat. Dia hafal di mana kafe di foto itu.
Danish menghidupkan mobilnya dengan tergesa, berjalan di belakang lalu melajukannya keluar dari tempat parkir. Tidak sabar! Danish memutar balik mobilnya sembarang, tak memperhatikan kendaraan lainnya. Dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya menuju kafe, yang tidak terlalu jauh dari hotelnya.
Tidak sulit bagi Danish, menemukan kafe itu, karena setiap hari ia melewati rute yang sama. Kafe itu berada di tepi jalan yang di lalui Danish setiap pagi.
Danish menepikan mobilnya. Pria itu memarkirkan mobilnya sembarang. Dia keluar dari mobil.
Brak! Suara pintu mobil yang ia dorong dengan sekuat tenaga. Kemudian, dengan langkah lebar dan cepat ia memasuki kafe yang berada di foto yang di kirimkan Sella.
Pintu kafe terbuka.
Danish berdiri, matanya menelisik seisi ruangan mencari di mana Keyra berada. Kemudian, di tengah ruangan ia mendapati Keyra yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Mereka terlihat akrab, saling mengobrol, dan tertawa bersama.
Danish menepis tangan pelayan yang baru saja masuk dan memberikan buku menu untuknya. Pria itu melangkah menghampiri Keyra.
“Ayo pulang sekarang!” ajak Danish dengan suara kerasnya.
Keyra menatap Danish, begitu pun Diego yang keheranan melihat Danish yang tiba-tiba masuk dan berteriak.
“Lo siapa ya?” tanya Diego melihat Danish dengan tajam.
“Ayo pulang!” pinta Danish menarik tangan Keyra.
“Tunggu! Lo siapa ya berani merusak acara makan gue!” protes Diego mulai tidak terima. Menghadang Danish yang sudah menuntun Keyra dan bersiap untuk pergi.
Danish membalas tatapan tajam Diego. Sementara itu, seluruh pengunjung kafe tertuju dengan kegaduhan yang terjadi di tengah ruangan.
“Gue, enggak ada urusan sama Lo!” tolak Danish. Ia mendorong tubuh Diego. Kemudian, ia melangkah cepat menuntun Keyra dalam kuasanya. Meninggalkan Diego yang sedang marah di sana sendirian. Sedangkan Keyra tak bisa menolak. Genggaman tangan Danish terlalu kuat. Gadis itu menunduk malu karena menjadi pusat perhatian, pengunjung di kafe itu.
Sesampainya di luar kafe, Keyra melepaskan tangannya dari genggaman Danish.
“Sakit!” pekik Keyra karena cengkeraman tangan Danish.
Danish melepaskan tangan Keyra, karena gadis itu menghentikan langkahnya.
“Masuk mobil sekarang!” perintah Danish. Sorot matanya yang berubah tajam, membuat Keyra ketakutan.
Keyra menunduk, air matanya merebak. Dia mengikuti langkah Danish masuk ke dalam mobil Ferrari warna hitam milik pria itu.
Danish membuka pintu mobilnya.
“Masuk!” perintah pria itu, masih marah! Kali ini air mata Keyra benar-benar menetes karena ketakutan.
Danish berjalan mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi. Ia menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya.
Di dalam mobil Keyra tidak berani mengangkat kepalanya. Dia menyembunyikan air matanya, meski isaknya terdengar oleh pria yang duduk di sampingnya.
“Beraninya kamu jalan dengan pria lain! Kamu tahu? Meski hanya bohongan sebentar lagi kita akan menikah! Bagaimana kalau papaku sampai melihatmu jalan dengan pria lain hah!” ucap Danish marah.
Isakan Keyra semakin terdengar.
Danish baru sadar kalau gadis itu menangis.
“Astaga,” umpat Danish kesal. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan karena baru pertama menghadapi wanita menangis di hadapannya.
Danish menunggu sampai isakan Keyra mereda. Tidak tahu harus berbuat apa. Danish menepikan mobilnya. Tidak ingin Keyra turun, sebelum air matanya berhenti mengalir.
Danish diam, menunggu Keyra berbicara terlebih dahulu.
“Tadi pagi Mas Danish mengizinkan aku pergi dengan teman pria ku, kenapa sekarang marah! Membentakku!” ucap Keyra terbata-bata diselingi isaknya.
“Cup, cup diam dulu! Jangan berbicara sambil menangis!” bujuk Danish sembari mengingat kejadian tadi pagi saat Keyra berbicara dengannya. Namun, ia tak mengingat apa-apa karena yang dia ingat hanya bagaimana membuat Sella merasa cemburu padanya.
Keyra menahan isaknya, air matanya sudah berhenti.
“Kenapa Mas Danish memarahi ku, padahal tadi pagi mas Danish mengizinkanku, bertemu dengan teman priaku!” Keyra mengulangi perkataannya.
“Benarkah?” tanya Danish ia tak yakin dengan izin yang di berikannya tadi pagi.
“Iya,” jawab Keyra tegas.
“Baiklah, sekarang aku tidak mengizinkan kamu jalan dengan teman priamu, siapa tadi namanya?” Danish mencoba mengalihkan perhatian.
“Diego!”
“Ya! Selama kita masih terikat kontrak pernikahan, jangan sampai Kamu terlihat jalan di depan umum, selain denganku mengerti!” jelas Danish.
“Iya, tapi tidak seharusnya Mas Danish kasar denganku! Tanganku sakit tauk!” Keyra kembali mengingat kejadian tadi.
“Aku minta maaf ya, Kamu mau aku beli in apa?” tanya Danish.
“Es krim,” jawab Keyra yang tadi belum sempat memakan es krim yang di pesannya.
“Baiklah ayo kita makan es krim!” jawab Danish. Pria itu kembali menjalankan mobilnya, merasa senang karena ternyata Keyra bukan tipe gadis marah dan mengambeknya lama. Hanya dengan es krim dia sudah kembali tersenyum ceria.
Keyra pura-pura ceria, sebenarnya hatinya sedang dongkol. Danish adalah orang pertama kali yang berani memarahinya di depan umum. Namun, dia benar-benar tidak enak marah dengan pria itu, dia hanya mampu memendam menahannya saja.
Danish menghentikan mobilnya di sebuah kedai es krim yang cukup terkenal.
Kali ini dia menyempatkan membuka pintu untuk Keyra. Danish refleks menuntun gadis itu masuk ke dalam kedai. Kali ini Keyra merasakan hal yang berbeda. Gadis itu mulai bimbang, sentuhan Danish juga menggetarkan hatinya.
“Sudahlah!” Keyra menggelengkan kepalanya tidak ingin di bingungkan siapa pria yang membuatnya jatuh hati.
Dia terus berjalan mengikuti Danish! Tidak sabar ingin memesan es krim.
“Tunggu di sini!” ucap Danish menyuruh Keyra menunggu, sedangkan dirinya memesan es krim untuk Keyra.
Setelah beberapa saat, Danish membawa sendiri pesanan es krimnya, ke hadapan Keyra.
“Silakan di makan,” tawar Danish.
“Iya,” Keyra tidak sabar.
“Sebentar,” cegah Danish.
Kemudian, dia menyuapi Keyra dan tidak lupa mengambil foto. Setelah itu Danish mengunggah foto itu di story akun sosial medianya. Tidak lupa ia menambahkan ungkapan yang indah di bawah foto itu. ‘Makan yang manis, bersama yang manis’.
Danish, tersenyum sangat yakin Sella akan cemburu melihat unggahannya itu. Benar saja, belum ada satu menit Sella sudah melihat apa yang di pamerkannya.
“Kenapa Mas Danish tersenyum?” tanya Keyra penasaran.
Danish tidak menjawab.
“Apa Mas Daniah tidak memesan es krim?” tanya Keyra.
“Tidak! Aku tidak suka es krim!” jawab Danish.
“Coba dulu, ini sangat enak!” pinta Keyra.
“Untuk kamu saja!” tolak Danish masih sibuk memandangi layar ponselnya.
Keyra kembali sibuk makan es krim.
“Sini!” pinta Danish merangkul Keyra dengan mesra dan kembali mengambil foto.
Danish kembali sibuk dengan ponselnya, menulis pesan untuk Sella, rasanya belum puas jika belum membalas foto yang dikirim kepadanya tadi.
Danish : [Yang kamu lihat tadi sepupu Keyra, aku sengaja menyuruhnya untuk menjemput Keyra,]
Pesan itu ia kirim beserta foto mesranya dengan Keyra.
Danish, tak merasakan hal apapun ketika dekat dengan Keyra. Karena tujuannya hanya membuat Sella, cemburu. Namun bagaimana dengan Keyra? Akankah dia biasa saja, tak merakan getaran cinta, atas semua sikap Danish itu?
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu