16

1885 Kata
16 . Masih Cinta. Siang hari setelah selesai istirahat makan siang. Danish menyuruh Doni untuk mengurus semua pekerjaannya. Dia harus melaksanakan foto peewedding sekaligus foto keluarga bersama Pak Suryo, Sella, dan Keyra. Pak Suryo dan Sella sudah berangkat terlebih dahulu ke lokasi pemotretan yang ada di puncak. Sedangkan Danish, dia harus menjemput Keyra terlebih dahulu. Danish segera melajukan mobilnya menuju ke tempat tinggal Keyra. Kemudian, mereka berdua menyusul ke tempat yang sudah dipilih menjadi lokasi photoshot. Setibanya di sana Keyra segera masuk ke ruang make-up di mana Sella sudah berada di sana. Sudah siap dengan baju dan make-up yang sempurna. Cantik! Begitulah pikir Keyra. “Ayo, segera pakai gaunmu! Kita segera lakukan pemotretan!” perintah Sella. Bagaimanapun, wanita itu tidak bisa memarahi Keyra tanpa alasan. “Iya, Tante!” sahut Keyra. Seorang perias membantu Keyra memakai dress dengan warna senada yang di kenakan oleh Sella. Konsep yang pertama adalah foto keluarga. Setelah selesai Keyra ikut bergabung dengan Pak Suryo, Sella, dan Danish. Pak Suryo memakai setelan jas, hampir sama dengan yang di kenakan Danish. “Sini Sayang,” pinta Danish agar Keyra tidak canggung. Keyra berjalan menghampiri Danish yabg sudah bersiap. Pak Suryo dan Sella dengan pose duduk sedangkan Danish dan Keyra berdiri. Sang fotografer memberikan aba-aba. Semua tersenyum kecuali Sella. Ya! Seharusnya dia yang berada di sebelah Danish bukan Keyra, tiba-tiba dia menjadi kesal dan saat itu juga, muncul kebencian pada Keyra. Setelah beberapa pose dan angel diambil. Selanjutnya adalah foto prewedding untuk Danish dan Keyra. Pak Suryo dan Sella beristirahat sembari melihat hasil foto barusan. “Sayang, kenapa kamu tidak tersenyum sama sekali?” tanya Pak Suryo pada Sella yang duduk di sebelahnya. “Aku hanya tidak nyaman memakai sepatunya,” jawab wanita itu beralasan. “Bukankah kemarin Kamu sudah membeli sepatu yang baru?” tanya Pak Suryo memastikan. “Iya,” jawab Sella datar. Rasa cemburunya pada Danish membuatnya benar-benar tidak antusias. Beberapa saat kemudian, Danish dan Keyra sudah selesai berganti baju. Mereka berdiri di depan kamera. Dengan setting lampu dan background yang sudah diatur sebelumnya. Danish mengenakan kemeja putih dengan jas hitam yang sangat pas membalut tubuhnya. Celana hitam yang dikenakannya juga begitu serasi sesuai ukuran. Sepatu hitam mengkilap dan dasi kupu khas pengantin melengkapi penampilannya saat ini. Sedangkan Keyra ia mengenakan gaun warna putih bak princess, dengan renda yang menjuntai ke bawah. Di atas kepalanya ada tiara yang cantik yang menyempurnakan penampilannya. Make-up nya kali ini benar-benar bisa membuatnya terlihat sangat cantik. Sampai Danish tak henti-henti menatapnya. Ingin selalu mengarahkan indra penglihatannya ke wajah Kayla. Namun, ada satu hal yang tidak di ketahui orang lain. Keyra tidak nyaman dengan sepatu highheels nya. Maklum, gadis itu tak biasa memakainya. Sehingga ia hanya berdiri saja, sangat berhati-hati melangkahkan kakinya. Fotografer mulai mengambil gambar, dari bergandeng tangan, saling bertatap mesra, memeluk, dan seolah berciuman. Danish dan Keyra bak sepasang model, mereka sangat lihai bersandiwara. Membuat Pak Suryo yang menyaksikannya sangat percaya kalau mereka berdua saling mencintai. Tapi tidak dengan Sella, hatinya panas terbakar cemburu. ‘Seharusnya aku yang ada di samping Danish, bukan kamu Keyra!,’ batin Sella kesal sembari mengepalkan kedua tangannya. Sang fotografer memberi isyarat kalau pemotretan Danish dan Keyra sudah selesai. Danish berjalan terlebih dahulu. Kemudian, Keyra berjalan di belakangnya. Namun, tiba-tiba gadis terjatuh karena tidak terbiasa dengan sepatu hak tingginya. Semua orang melihat ke arah Keyra karena kaki gadis itu mengenai kabel. Lampu pemotretan itu akan jatuh menimpanya. “Aak,” teriak Sella. Namun, dengan sigap Danish melindungi Keyra, berlutut dan memeluk tubuh mungil gadis itu dalam kuasanya. Seketika jantung Keyra kembali berdebar karena Danish. Kemudian, Danish menggendong Keyra ke samping. Pria itu tersenyum puas melihat ekspresi Sella yang seolah cemburu padanya. Melihat adegan itu Sella segera berjalan ke ruang ganti. Ingin bersiap untuk pemotretannya. Sialnya, di ruang ganti itu dia melihat Keyra. Gadis itu tidak sendirian. Danish sedang berlutut dan memijat pelan kaki Keyra yang terkilir. “Dasar ganjen!” umpat Sella pelan dari kejauhan. Danish yang melihat sekilas kedatangan Sella, semakin mendekatkan dirinya pada Keyra. Entahlah, dia benar-benar sangat menyukai ketika Sella cemburu dengannya. Sayangnya, Keyra yang tidak mengetahui jika hal itu hanya pura-pura, perlahan melabuhkan hatinya pada Danish. Getar-getar cinta dalam hati Keyra semakin kuat karena perlakuan Danish Padanya. Keyra, mengarahkan pandangan pada jam dinding. Sudah waktunya dia pulang karena ada jadwal kuliah. “Mas Danish, aku harus pulang sekarang, nanti ada jadwal kuliah,” kata Keyra. “Ok, aku akan mengantarmu sekarang,” jawab Danish. Keyra mencoba berdiri, tetapi kakinya masih sakit. Danish yang melihatnya merasa kasihan. “Ayo naik!” pinta Danish yang sudah berlutut di depan gadis itu. Keyra ragu, ia melihat ke arah Sella yang menatapnya sinis. “Ayo!” paksa Danish. Akhirnya, Keyra naik di punggung Danish. Pria itu menggendongnya keluar dari gedung pemotretan. “Apa aku berat?” tanya Keyra menyengir. “Lumayan!” jawab Danish berbohong. Berat tubuh Keyra sangat ringan. Dia tidak tinggi dan badannya mungil. “Biar aku jalan sendiri saja!” pinta Keyra. “Sudahlah! Lagi pula sudah dekat,” jawab Danis. Sesampainya di mobil Danish membuka pintu mobil. Dia menurunkan Keyra di kursi belakang. Saat itulah kedua matanya saling bertatap dengan Keyra. Sekian detik mereka seling mengamati satu sama lain. Begitu sadar, mereka salah tingkah dan membuang pandangan ke arah lain. “Hem,” Danish berdehem. Dia menutup pintu lalu berjalan mengitari mobil. Dia duduk di belakang kemudi. “Kita berangkat sekarang,” ucapnya sembari memakai sabuk pengaman. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Dan kali ini Keyra memberanikan diri menanyakan sesuatu yang mengganggu hatinya. “Mas Danish, bolehkan aku bertanya?” tanya Keyra. “Tentu,” jawab Danish tetap fokus mengemudi. “Apa Mas Danish sudah punya pacar sebelumnya?” Keyra terus menatap lekat pria yang duduk di sampingnya. “Memangnya kenapa?” Danish bertanya balik. “Kalau Mas Danish tidak mau menjawab, tidak apa-apa!” sahut Keyra. Dia menggigit bibirnya karena ketakutan. “Aku pernah punya hubungan, satu kali dengan seorang wanita, tapi dia menghianatiku!” jawab Danish jujur. “Oh,” gumam Keyra lirih. “Kamu tidak penasaran kan wanita itu siapa?” tanya Danish. Keyra menggelengkan kepala karena tidak ingin mengetahuinya. Lebih baik dia tidak tahu. Dari pada ia tahu dan mengganggu hatinya. “Tenang saja, Key, suatu hari aku akan bercerita semuanya denganmu, mungkin setelah kita menikah!” ucap Danish. Pria itu memang belum mempunyai waktu luang untuk sekedar bercerita dengan Keyra. “Iya,” jawab Keyra sembari tersenyum. Mobil terus melaju, membelah jalanan ibu kota, dengan kecepatan sedang. Sepuluh menit lagi, mobil akan tiba di tempat kos Keyra. Gadis itu kembali mengingat sesuatu yang mengganggu isi kepalanya. “Mas Danish, bolehkah aku bertanya lagi,” Keyra menoleh ke wajah tampan di sampingnya. “Iya, tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui,” jawab pria itu. “Ini tentang Tante Sella,” ujarnya. “Kenapa dengan wanita itu?” Danish ingin tahu. “Beberapa kali aku melihat dia menatap ku sinis, bukan hanya itu dia juga berbicara denganku dengan nada ketus, apa setelah menikah kita akan tetap tinggal satu rumah dengan Om Suryo dan Tante Sella?” tanya Keyra. Dia perlu memastikan kehidupannya nanti setelah menikah dengan Danish. Meski hanya satu tahun, jika harus seatap dengan wanita yang membencinya, terlebih Sella adalah ibu mertua. Keyra, perlu mempersiapkan hal itu. “Tentu, kita tidak akan pernah angkat Kaki dari rumah itu, kecuali aku sedang ada pekerjaan di luar kota,” jelas Danish tak bisa merasakan kekhawatiran gadis itu. “Oh, iya,” Keyra mengangguk lesu. Mobil berhenti di gang tempat kos Keyra. “Apa yang harus aku ambil di kamarmu?” tanya Danish. Tidak tega membiarkan Keyra berjalan di saat kakinya masih sakit. “Biar aku sendiri yang mengambil!” tolak Keyra, malu sekali jika Danish melihat isi kamarnya. “Kamu di sini saja!” paksa Danish. “Tas dan laptop saja!” sahut Keyra ragu. Danish turun dari mobil dan segera ke kamar kos Keyra, mengambil dua benda itu dan akan segera mengantar Keyra kuliah malam. Tak berapa lama Danish kembali dengan dua benda itu di tangannya. Dia menaruh di kursi belakang dan kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba ponsel Keyra bergetar ada pesan dari nomor yang tak di kenalnya. [Gadis kampungan, kamu bisa menikahi Danish, tapi aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan hatinya! Jangan bermimpi! Dan satu hal lagi! Jangan coba-coba merayu Danish! Mengerti! Aku tahu pernikahan kalian hanya sandiwara.] Keyra membaca pesan itu, dengan tubuh bergetar dia kembali menutup layar ponselnya. Kemudian, menaruh benda pipih nan canggih itu di sling bag nya. “Pesan dari siapa?” tanya Danish! “Salah sambung!” jawab Keyra berbohong. Tidak ingin menyibukkan Danish dengan hal yang tidak penting seperti itu. Sampailah mereka di kampus Keyra Danish membantu menuntun gadis itu ke kelasnya. Kemudian, ia menunggu Keyra di salah satu tempat nongkrong di kafe yang berada di depan kampus. Dengan setia, Danish menunggu sampai Keyra selesai dengan mata kuliah hari ini sekitar pukul delapan malam. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. “Aku, mengantarmu ke rumah sakit?” tawar Danish. Membayangkan Keyra di kos dan tidak ada yang merawatnya. Hati kecilnya tergugah dan merasa kasihan. “Tidak perlu, ini hanya sakit sedikit, besok sudah sembuh,” tolak Keyra. “Baiklah, kalau Kamu tidak mau aku bawa ke rumah sakit, menginaplah di rumahku, ada tiga pelayan yang akan merawatmu!” tawarnya lagi. “Tidak perlu! Antar aku ke kos saja!” tolak Keyra. “Key, berhentilah menolak tawaranku, bagaimana pun kamu sudah banyak menolongku!” protes Danish. Keyra mengangguk dan bersedia menginap di rumah Danish malam ini. Tiba di rumah Danish. Setelah mandi dan membersihkan diri. Keyra memilih duduk di ruang tengah, ruang menonton televisi sekaligus base camp favorit Pak Suryo. Sedangkan Danish, memilih duduk di balkon kamarnya. Menunggu kedatangan Sang Papa. Sudah di pastikan Sella akan mampir terlebih dahulu ke sini, sebelum pulang ke rumah saudaranya. Danish, memiliki inisiatif untuk membuat Sella, cemburu. Akhir-akhir ini ada kesenangan tersendiri baginya ketika melihat wanita itu merasa cemburu. Meski itu tidak adil untuk Keyra, Danish cukup yakin itu sah-sah saja. Karena Keyra sudah terikat perjanjian dengannya. Suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumahnya. Danish, beranjak dari duduknya. Segera berlari ke lantai dasar. Mencari keberadaan Keyra. Kebetulan gadis itu sedang di depan TV, menganjur kedua kakinya lurus ke depan. Danish berjalan menghampiri Keyra, duduk di sebelahnya. “Sini biar aku pijat,” pinta Danish. “Tidak usah Mas,” cegah Keyra, menggeser duduknya. Namun, dengan cekatan Danish meraih kaki calon istrinya ke atas pangkuannya. Jelas sekali kaki Keyra bengkak. “Sakit ya?” tanya Danish pura-pura perhatian. Sesungguhnya, dia hanya ingin membuat Sella cemburu. Keyra mengangguk, perhatian Danish hari ini sangat berlebihan. Danish mulai memijat pelan, menggosoknya dengan minyak. Bahkan dia meminta pelayan untuk mengambil air untuk merendam kaki Keyra setelah di pijat. Meski tangannya terus memijat, tetapi indra pendengaran Danish tertuju dengan suara langkah kaki yang berjalan menghampirinya. Tepat saat Pak Suryo dan Sella sampai di belakang mereka Danish, membuat gerakan seolah dirinya baru saja mencium Keyra. “Danish,” panggil Pak Suryo pelan tetapi berhasil membuat Keyra terkejut. “IYA,” sahut Danish dan Keyra bersamaan. Pak Suryo berjalan menghampiri mereka berdua. Sedangkan, Sella masih berdiri mematung dengan raut muka kusut. Seharian ini, dia benar-benar dibuat cemburu atas perlakuan Danish terhadap Keyra. “Apa Keyra akan menginap di sini?” tanya Pak Suryo. “Iya, Pa, Kaki Keyra terkilir, aku tidak tega membiarkan dia sendirian di kos!” jawab Danish. Seketika Sella mengingat beberapa waktu yang lalu, ketika dirinya sakit. Danish, tidak berangkat kerja demi merawatnya. Hatinya menjadi sakit, nafasnya berat, dan air matanya mulai merebak. Danish kini bukan miliknya lagi. “Aku pulang sekarang!” pamit Sella. Tidak tahan lagi melihat adegan-adegan yang membuat hatinya terbakar api cemburu. “Sayang, kamu tidak jadi makan malam bersama kami di sini?” protes Pak Suryo. Ia menatap calon istrinya penuh keheranan, bisa-bisanya berubah mood secepat itu, semaunya sendiri. “Tidak!” jawabnya kesal, segera berbalik. Kemudian, melangkah cepat menuju pintu depan. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN