08

1696 Kata
8. Ancaman. Sebelum melepaskan Sella Danish menciumnya dengan dalam dan kuat. “Datang ke sini!” pinta Danish, pria itu memberikan kunci sebuah kamar hotel. “Kalau kamu tidak datang, aku akan membongkar semuanya pada Papaku mengerti!” bentak Danish, berbalik lalu duduk di kursinya lagi. Dia menyalakan laptop lalu berusaha menguasai amarahnya, setelah semua yang terjadi ia masih saja mencintai Sella seperti dulu, masih menyayangi dan juga selalu tergoda bila ada dirinya. Danish menelan ludah, gadis itu, calon ibu tirinya sedang berjalan ke arahnya dan jantungnya berdebar. Sungguh sakit cinta tak terbalas itu bagi Danish dan sebentar lagi, cepat atau lambat gadis impiannya itu akan menjadi ibu angkatnya. Sella duduk di kursi yang berada di sebelah Danish, dia berpura-pura menyibukkan diri dengan tumpukan dokumen di meja itu. Takut melihat ke arah pria yang baru saja memberikan sebuah kunci hotel padanya. ** Tengah hari ketika jam istirahat Sella segera keluar dan turun, dia mengambil makan siang dan duduk di kursi paling ujung, sendiri menikmati makan siangnya. Wanita itu menelefon calon suaminya, agar dia tahu kapan dia akan kembali ke kantor, berada satu ruangan hanya dengan Danish membuatnya ketakutan. “Hallo,” sahut suara di seberang dengan antusias. “Hallo, Sayang,” sahut Sella. “Bagaimana, Danish mengajarimu dengan baik?” tanya Pak Suryo penasaran. “Iya, kapan kembali ke kantor?” tanya Sella tidak sabar. “Ini aku akan segera kembali ke kantor,” jawabnya. “Baiklah, nanti aku tunggu di ruanganmu!” jawab Sella segera mematikan panggilan telefonnya tidak ingin Pak Suryo protes karena dia tidak menunggunya di ruangan Danish. Sella, tak menghabiskan makanannya dia hanya mengambil satu suap, dan tidak berselera takut sekali dengan Danish. Dia tahu betul sifat mantan ke kasihnya itu, sampai kapan pun dia akan terus bertanya-tanya mengapa lebih memilih Pak Suryo di bandingkan dirinya. Maka dari itu Sella segera menyiapkan alasan yang tepat, yang masuk akal untuk menutupi maksud dan tujuannya. Setelah jam istirahat selesai Sella segera ke ruangan Pak Suryo, Direktur Utama Cakrawala Hotel. Melewati tangga, tidak melewati lift takut sekali bertemu dengan Danish. Sampai di ruangan Pak Suryo, Sella duduk bersandar pada kursi, benar-benar lelah menaiki tangga dari lantai 1 ke lantai 3, hanya untuk menghindari Danish Alexi. Sementara itu, Danish yang masih di ruangan kantornya dan sibuk dengan pekerjaan, meraup kasar wajahnya. Bekerja dalam suasana hati yang sedang sedih sama sekali tidak menyenangkan, menguras waktu, menguras energi, dengan hasil yang kurang maksimal. Otaknya masih di penuhi dengan Sella, Sella dan Sella, pasalnya dia masih belum rela jika gadis itu lebih memilih Papanya dari pada dirinya. Nanti malam, dia akan menanyakan semuanya pada Sella, dan jika gadis itu tidak memberi jawaban dia tidak akan segan-segan membongkar semuanya pada Papanya. Secangkir kopi, diantarkan seorang pelayan wanita ke ruangannya. “Hey Kau!” teriak Danish pada gadis pengantar kopi itu. “Iya, Pak!” sahutnya dengan suara gemetar dan menunduk. “Aku tidak suka kopi! Apa Kau anak baru!” bentak Danish tidak sabar. “Maaf Pak!” ucapnya masih menunduk. “Apa tidak ada yang memberi tahumu?” Danish seolah melimpahkan semua amarahnya hanya pada gadis pengantar segelas kopi yang ada di atas mejanya. “Maafkan saya Pak!” ucapnya lagi kembali berjalan mendekati meja Danish. Mengambil gelas kopi, tetapi malangnya dia menumpahkan kopi itu, dan tumpahan airnya mengenai kemeja Danish. “Astaga! Apa-apaan ini!” Danish benar-benar marah kali ini. “Maafkan saya Pak!” kata gadis itu semakin menunduk. “Dari tadi kamu Cuma minta maaf, bersihkan ini dan segera keluar dari ruangan ini!” bentaknya sudah sangat emosi. Gadis itu, dengan ketakutan membersihkan meja kerja Danish. Tangannya masih gemetaran tidak berani melihat pria yang ada di hadapannya. Pukul 14.03 siang Doni kembali dalam kantornya, wajahnya terlihat murung. Apalagi saat mendapati Danish dengan ekspresinya yang tak menampakkan keramahan sama sekali. “Kenapa murung gitu?” tanya Danish. “Seharusnya aku yang tanya, kenapa ekspresi wajahmu sedingin itu!” sahut Doni sembari duduk di kursi yang sedari tadi ditinggalkannya. “Lihat ini!” ucap Danish memperlihatkan bekas kopi yang tumpah di kemejanya. Doni yang awalnya murung, terpingkal dan merasa lucu dengan kejadian yang menimpa temannya itu. Hening sesaat! “Sebenarnya tadi Om Suryo menanyakan tentangmu!” ucap Doni. “Apa yang Papa tanyakan?” Danish bertanya balik, dia juga penasaran apa yang membuat Sang Papa penasaran terhadap dirinya. “Dia ingin tahu alasanmu akhir-akhir ini sering murung, dan tidak ceria,” sahut Doni jujur. “Lantas apa jawabanmu!” Pria itu benar-benar takut jika Doni mengatakan alasan sebenarnya. “Aku tidak mengatakan apapun,” jawabnya. “Baguslah!” sahut Danish membuang nafas lega. Dua jam lagi sebelum jam pulang kantor. Sella tak kunjung datang ke ruangan Danish, membuatnya bertanya-tanya ke mana gadis itu pergi. “Di mana calon ibu angkatmu?” tanya Doni. “Enggak tahu,” jawab Danish pura-pura cuek. “Bagaimana kalau Kamu yang mengantarkan berkas ini ke ruangan Papamu!” suruh Doni memberi kesempatan pada Danish untuk memastikan kalau Sella ada di ruangan papanya. Tanpa di sangka Danish mengambil berkas itu dan dengan semangat beranjak pergi dari ruang kerjanya. Hal itu membuat Doni sadar, kalau Danish benar-benar masih sangat mencintai Sella, ya tampak sangat jelas dia begitu antusias saat ingin menemui gadis itu. Sejenak Danish ragu untuk masuk ke ruangan Papanya, tetapi dengan yakin dia segera ia memutar daun pintu lalu membukanya. Di ruangan itu tidak ada Pak Suryo, hanya Sella sendirian yang berada di sana. “Di mana Papa?” tanya Danish senatural mungkin. “Papamu sedang menemui salah satu stafnya!” jawabnya tanpa melihat ke arah Danish. “Berikan ini pada Papa!” suruh Danish, meletakkan berkas di meja Papanya. Sella mengangguk, enggan membuka suara. Danish berbalik dan berjalan ke arah pintu. Kemudian, dia kembali lagi menghampiri Sella. “Jangan lupa nanti malam aku menunggumu! Kalau Kamu berani tidak datang aku pastikan akan membatalkan pernikahanmu dengan Papa!” ancam Danish dengan suara pelan penuh penekanan. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Pak Suryo dengan suara nyaring. Pria berkarisma itu sudah berdiri di pintu masuk. Danish menoleh, melempar senyum ramah yang menunjukkan lesung pipinya. “Ada berkas yang harus Papa tanda tangani,” sahut Danish refleks. “Oh, baiklah!” jawab Pak Suryo pelan. “Danish kenapa dengan bajumu?” tanya Pak Suryo penuh perhatian. “Tadi ada tragedi kecil Pa!” Danish menyengir. “Ganti dengan ini!” Pak Suryo memberikan kaos kasual yang selalu ada di dalam tasnya. Danish mengambil itu. “Oh iya Pa, nanti Danish ada acara, Papa sama Tante Sella yang cantik dan menawan ini pulang dulu saja!” pinta Danish. “Memangnya Kamu mau ke mana! Papa tidak suka Kamu mabuk-mabukan sampai enggak tahu jalan pulang!” protes Pak Suryo. “Enggak, Pa, Danish Cuma mau menikmati masa muda saja, Pa!” alasan Danish. “Baiklah, hati-hati!” pesan Pak Suryo pada putranya. “Papa juga harus hati-hati, sekarang banyak wanita yang menawan tetapi berhati iblis!” ucap Danish melihat ke arah Sella. “Hah!” celetuk Pak Suryo. “Banyak iblis yang menawan Pa,” jawab Danish berlalu begitu saja. ** Jam pulang kerja, Danish tidak segera pulang, kembali sibuk di depan layar laptopnya. Memeriksa rencana pembukaan cabang hotel di Semarang dua bulan lagi. Dia kembali mengingat Sella, terlalu sulit dalam satu hari saja tak mengingatnya. Pikirannya kembali ke dua tahun silam. Awal mula bertemu dengan Sella Anindya. Danish dan Doni sedang memilih mobil sport untuk dipakai dirinya sendiri. Sella yang bekerja di Sorum itu, mendampingi mereka berdua. Menjelaskan satu persatu kekurangan dan kelebihan mobil yang di minati Danish. Danish yang kala itu tak pernah mengenal wanita atau berniat berpacaran, terpesona melihat Sella di perjumpaan mereka yang pertama. Suara, senyum, penampilannya begitu berkesan. Sehingga, Doni yang melihat gelagat Danish yang tak biasa meminta nomor Sella, agar temannya itu bisa mencari kesempatan untuk bertemu lagi dengan gadis bernama Sella itu. Entah sebuah kebetulan, atau Sella yang mencari kesempatan. Mereka berdua sering bertemu, dan Danish yang saat itu memang sudah tertarik dengan Sella, tak kuasa untuk tidak jatuh cinta. Dalam waktu satu bulan kenal, mereka sudah saling akrab dan sebagai puncaknya, Danish mengutarakan perasaan pada Sella. Gadis itu, menerima dengan senang hati. Sejak saat itu Danish yang tak pernah menjalin hubungan dengan wanita menjadi sangat bersemangat. Setiap harinya, pengertian, sikap dewasa dan cara bicara Sella yang pintar dan keibuan, membuat pria itu jatuh hati setiap waktu. Dia berkeyakinan ingin membawa hubungannya dengan Sella ke jenjang pernikahan karena sudah benar-benar cinta mati. Apartemen, mobil mewah, uang belanja bulanan ia berikan cuma-cuma agar Sella bertahan dengannya. Hal itu berhasil dalam jangka waktu dua tahun. Suara dering ponsel yang berbunyi, menghentikan lamunan Danish. “Hallo, Pa,” sapa Danish. “Papa sudah di rumah, kenapa kamu membuang dompet pemberian papa,” protes Pak Suryo mendapati Bi Inah yang baru saja memungut benda itu dari tempat sampah kamar Danish. “Mungkin jatuh Pa!” sahut Danish Santai tidak curiga sedikit pun jika Sang Papa menemukan foto Sella di dompet putranya. “Oh,” sahut Pak Suryo pura-pura paham. “Ok Pa, sudah dulu ya!” pamit Danish. “Iya,” jawabnya. Panggilan telefon terputus. Danish melihat ke arloji di pergelangan tangannya lalu bersiap pergi. Dia akan segera pergi ke Hotel di mana dia akan menunggu Rena untuk memberikan kejelasan. Pria itu beranjak dari duduknya, dengan langkah cepat menuju lift. Setelah lift berada di lantai dasar dia berjalan ke arah tempat parkir. Kemudian, ia masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pria itu tidak sadar, jika ada seseorang yang mengikutinya. Setelah perjalanan selama tiga puluh menit, Danish sampai di tempat yang ia tuju. Tanpa curiga dan menoleh ke sampung kanan dan kiri ia masuk ke dalam hotel. Di dalam kamar hotel berbintang lima, pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang king size di ruangan itu. Sangat nyaman, lalu dia meraih ponselnya menulis pesan untuk Sella. Danish : [Segera datang, atau besok aku akan membatalkan pernikahanmu dengan, Papa!] Pesan itu ia kirim ke nomor baru milik Sella yang ia dapatkan dari Sang Papa. Sembari menunggu balasan Danish menatap langit-langit kamar hotel dengan perasaan yang masih sedih, mendapati nasib cintanya yang begitu memilukan. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN