07

1394 Kata
7. Mantanku, Calon Ibu Tiriku. Pagi hari di kala sinar matahari masuk dari celah jendela kamar Danish, sinarnya begitu cerah. Namun, berbeda dengan hati Danish yang sedang mendung, gemuruh dan marah. Meskipun begitu, dia tetap beranjak dari tidurnya, melakukan ritual mandi dan juga memakai baju kemejanya. Danish berdiri mematut di depan cermin melihat bayangan dirinya di sana, menyedihkan. Semua menjadi rumit, hatinya masih sangat mencintai Sella, tetapi sebentar lagi Sang Papa akan menikahi wanita itu. Satu rumah, satu tempat kerja dengan wanita yang ia cintai, tetapi itu adalah hal buruk karena Sella, tak lagi menjadi kekasihnya atau tunangannya. Namun, menjadi ibu tirinya. Danish menelan ludah! Memukul pelan cermin di depannya hingga retak. Kemudian, dia segera keluar dari kamarnya untuk makan bersama papanya. Pria itu menuruni tangga dengan cepat, tak menghiraukan rasa sakit ditangannya. Berjalan duduk menghampiri papanya. “Pagi, Pa!” sapanya dengan melempar senyum, senyum kesedihan tentunya. “Pagi,” jawab Pak Suryo yang sedang menyesap teh hangatnya. Danish lalu duduk, sebisa mungkin memaksa untuk menelan makanan meskipun hanya sedikit saja. “Apa ada masalah?” tanya Pak Suryo, melihat gelagat tak semangat dari putranya. “Enggak, Pa,” jawab Danish tanpa ekspresi. Pak Suryo melihat jam di tangannya, sudah waktunya untuk berangkat. “Ayo kita berangkat sekarang!” pintanya, lalu menghabiskan kopi yang ada di cangkirnya. “Iya, Pa,” jawab pria itu datar tak bersemangat. Kemudian, mereka berdua beriringan keluar rumah, berjalan ke garasi. Danish duduk di belakang kemudi dan Pak Suryo duduk di kursi belakang. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang, karena masih terlalu pagi. Danish mencoba fokus mengemudi, di tengah-tengah pikiran kacaunya. Dia masih sangat mencintai Sella, begitulah yang ia rasakan saat ini. “Kita jemput Tante Sella dulu ya!” pinta Papanya dengan tangan dan mata masih fokus terpaku dengan layar ponsel. “Iya,” jawab Danish singkat. Setelah perempatan lampu merah Danish segera membelokkan mobilnya, ke tempat tinggal Sella, masih belum bisa bersikap biasa, rasa cintanya yang begitu dalam membuatnya selalu terkoyak lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap harinya melihat gadis itu akan menikah dengan papanya. Mobil pun sampai di depan tempat tinggal Sella, Danish membunyikan klakson agar orang yang ditunggu papanya segera keluar. Dan benar saja, tak berapa lam wanita itu keluar dengan langkah kaki begitu menawan. Sepatu hak tingginya, yabg berwarna hitam benar-benar elegan dan sangat serasi di pakainya. Hari ini dia mengenakan rok jeans selutut dengan atasan gelap, lengan panjang, dan berkerah rendah. Rambutnya yang di ikat ke atas, membuat leher jenjangnya terlihat jelas. Danish tak berkedip menatap wanita itu berjalan masuk ke mobilnya. Di kursi belakang, wanita itu memilih duduk dengan Pak Suryo. Dengan sopan Sella mengecup punggung tangan calon suaminya, lalu mereka saling menatap mesra. Danish, yang melihat adegan itu dari spion depan, merasa sedih. Dia ingin sekali di posisi Papanya, dicium dan di hormati wanita itu. Pria itu menunduk, menahan perih di hatinya, masih belum mendapat jawaban mengapa Sella lebih memilih Papanya dibandingkan dengan dirinya. “Kita berangkatnya,” ucap Danis dengan suara beratnya, tanpa menunggu jawaban dari dua orang yang duduk di kursi penumpang, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu sengaja menyalakan musik agar tidak mendengar pujian yang terlontar dari dua orang yang sedang kasmaran itu, benar-benar seperti sepasang burung merpati yang sedang di cinta. Danish fokus menyopir, dia berusaha untuk tidak melihat spion depan, tetapi di lampu merah terakhir sebelum sampai di Cakrawala Hotel, tempat mereka bekerja, jalan sudah mulai macet, mobil pun berjalan merayap. Karena berhenti terlalu lama, Danish akhirnya melihat ke spion depan. Tampak Sella sedang bersandar nyaman di d**a Papanya dan pria berkarisma itu menatap mesra ke arah Sella Anindya. Danish kembali menelan ludah, tangannya yang berada di atas kemudi mengepal karena kesal. Untung saja ada suara klakson yang menghentikan amarahnya. Kemudian, ia kembali menjalankan mobilnya menuju Cakrawala Hotel. ** Danish masuk dalam ruang kerjanya, di ikuti Sella. Doni sudah datang terlebih dahulu. “Doni!” panggil Danish. “Iya,” jawabnya. “Tolong ajari Tante Sella, aku yang akan pergi menemui klien hari ini!” ucap Danish. “Baik,” jawab Doni menurut. Namun baru saja ia mau beranjak dari ruangannya Pak Suryo datang dengan wajah yang serius. “Ada apa? Pa?” tanya Danish. “Aku akan mengajak Doni, sampai jam makan siang, biar papa sama Doni yang temui, klien. Kamu ajari Tante Sella!” pinta Sang Papa. “Baik, Pa,” jawab Danish hanya bisa menurut. Doni mematikan laptopnya dan memasukkan dalam ransel, segera berjalan mengikuti Pak Suryo. Doni berjalan di belakang pria paruh baya itu, dengan sedikit berlari untuk mengikuti langkahnya. “Kenapa, Anda tidak membiarkan Danish yang bertemu klien, biasanya Anda lebih suka di dalam ruangan?” tanya Doni setelah berhasil menyepadankan langkahnya. “Aku lihat, Danish tak bisa dekat dengan Sella, aku ingin mereka segera akrab karena aku ingin secepatnya menjadikan Sella istriku!” jawab Pak Suryo bersemangat. Doni mengangguk pelan, takut berpendapat. “Apa Om sudah yakin dengan Sella?” tanya Doni menyelidik. Yang jelas sampai saat ini dia tidak bisa melihat nilai positif gadis itu selain cantik dan enak di lihat. “Tentu! Hidupku kembali bersemangat saat kehadirannya!” jawab Pak Suryo. “Bagus lah Om, jika seperti itu aku bahagia, kalau Om Suryo bahagia,” sahut Doni, memanggil pemilik perusahaan itu dengan sebutan ‘Om’ ketika mereka hanya berdua. Mereka masuk ke dalam lift, turun ke lantai dasar dan berjalan menuju tempat parkir. Seorang sopir mengantar mereka menuju resto tempat bertemu dengan klien. Di dalam mobil, Pak Suryo dan Doni duduk bersebelahan di kursi belakang. “Don!” panggil Pak Suryo pada sahabat putranya. Pria itu menghentikan lamunannya dan segera menoleh ke arah pria berkarisma di sampingnya. “Iya, Om,” jawabnya sopan dan serius. Terlihat sangat menghormati pria itu. “Apa Danish sering bercerita kepadamu tentang masalahnya? Atau mungkin dia sedang memikirkan sesuatu yang berat?” tanya Pak Suryo, ini adalah kesempatannya untuk menanyakan perubahan sikap putranya. “Memangnya kenapa Om?” tanya Doni menyelidik, dalam hati kecilnya dia lebih berpihak pada Danish di bandingkan dengan Papanya. “Akhir-akhir ini dia sering merenung sendiri dan tidak bersemangat, apa mungkin dia memiliki teman wanita? Kamu sahabatnya mungkin dia bercerita kepadamu,” jelas Pak Suryo berharap bisa tahu masalah yang sedang dihadapi putranya. “Saya kurang tahu Om, mungkin Om bisa menanyakan sendiri dengan Danish, karena akhir-akhir ini Danish juga jarang nongkrong atau pergi denganku,” jawab Danish berbohong tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. “Oh iya-iya,” sahut Pak Suryo dan segera fokus dengan layar ponselnya karena ada panggilan telefon dari calon istrinya. ** Setelah Pak Suryo dan Doni keluar dari ruangan Danish, kini hanya ada Sella yang bersamanya. Sella diam, tidak ingin memulai masalah dengan pria di hadapannya, meski pun Danish berwajah imut seperti anak kecil tetapi dia sangat keras kepala, terlihat jelas dari rasa cintanya pada Sella, masih belum menyerah meski sudah di tolak. “Kamu lihat ini!” Danish menunjukkan cincin berlian dari balik saku jasnya. “Malam saat aku mendapat pesan darimu, aku sudah merencanakan lamaran yang sempurna untukmu! Tetapi Kamu malah mau menikahi Papaku! Kamu manusia apa bukan! Ini hati!” Danish menunjuk dadanya. “Bukan, batu yang bisa kamu Injak-injak Semaumu!” tegas pria itu berjalan menghampiri Sella yang masih berdiri di pintu. Sella diam, menunduk ketakutan, merasa bersalah. Dengan gesit Danish menutup pintu, dan mendorong Sella yang ada di hadapannya. “Kamu yang bilang sama Papaku atau aku yang akan mengatakan semuanya! Aku tidak kuat, aku tidak bisa melihat gadis yang aku cintai bermesraan dengan Papaku! Sakit ngerti enggak!” protes Danish dengan wajah marah karena emosi. Kini Sella sudah bersandar pada dinding, menghindari Danish yang terus memaksa berjalan ke arahnya. “Cukup!” teriak Sella menghentikan pria yang sedang marah itu. Danish diam menghentikan langkahnya, dia tak habis pikir dengan Sella yabg sudah tidur dengan Papanya, selama ini dia selalu menjaga kesucian wanita itu, tetapi yang terjadi sekarang benar-benar di luar dugaannya. Dengan mudahnya Sella menyerahkan harta paling berharga yang di milikinya begitu saja. “Dasar murahan!” umpat Danish. “Diam kamu!” bantahnya. “Sebentar lagi aku akan menjadi ibumu, jadi hargai aku sebagai ibumu!” tegas Sella menghentikan Danish yang sudah bersiap untuk menciumnya. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN