14. Alasan.
Danish sudah tiba di rumah. Pak Suryo masih menunggunya di ruang tengah, di tempat favoritnya.
“Papa belum tidur?” tanya Danish duduk di sebelah Papanya.
“Belum, papa mau bicara, sama kamu,” ucap Sang Papa.
“Boleh Pa, sudah lama kita tidak seperti ini, duduk berdua dan bicara. Sederhana yang membahagiakan,” kata Danish.
Pak Suryo melebarkan bibirnya. “ Sepertinya Keyra gadis yang baik,” ujar Pak Suryo membuka pembicaraan mengenai calon menantunya itu.
“Calon istriku, memang baik Pa!” sahut Danish bangga.
“Ternyata kamu sudah besar, Danish! Papa tidak menyangka akhirnya kamu akan menikah juga,” Pak Suryo mengutarakan pendapatnya sembari memperhatikan putranya.
Danish bergeming, hanya bisa diam. Jarang sekali Pak Suryo menatapnya dengan cara seperti itu.
“Jadilah suami yang baik untuk Keyra, berusahalah membahagiakan dia dan belajar untuk tidak keras kepala,” nasihat Pak Suryo.
Danish menelan ludah. Tak pernah menyangka akan mendapat nasihat sedalam itu dari Papanya.
“Jangan sampai ada masalah yang membuat kalian bertengkar hebat apalagi sampai berpisah!” pintanya.
“Iya, Pa,” jawab Danish membuang pandangannya ke arah lain. Menikah dengan Keyra adalah keputusannya yang salah. Benar-benar salah, tetapi terlambat juga bila dia mundur.
“Papa akan selalu di belakangmu dan mendukungmu, Nak!” ucap Pak Suryo kembali menatap putranya dengan tatapan haru seperti sebelumnya.
“Terima kasih, Pa,” sahut Danish.
“Anak Papa sekarang sudah dewasa,” celetuk Pak Suryo.
Danish tersenyum sumbang. Tidak yakin dengan ucapan Papanya. Bahkan, saat ini dia yakin bahwa dirinya memang kekanak-kanakan. Membenarkan ucapan Sella dan Doni.
“Aku istirahat dulu, Pa,” pamit Danish segera berdiri berjalan menuju kamarnya.
“Iya,” jawab Pak Suryo.
**
Setelah sampai di rumah Tante Rossa, Sella segera berjalan masuk ke dalam kamarnya. Enggan sekali berbicara dengannya. Ya! Wanita itu yang menyebabkan hidupnya berantakan seperti sekarang ini.
Wanita itu mendorong pintu kamar, lalu menguncinya. Sella merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali mengingat apa yang terjadi dua bulan yang lalu.
Sella sedang duduk bersantai, menggeser layar ponsel. Membalas pesan dari Danish yang setiap malam tidak pernah absen untuk memastikan keadaan dirinya baik-baik saja. Benar-benar beruntung Sella mendapatkan pria yang seperti itu. Sangat perhatian.
Suara bel berbunyi, menghentikan simpul senyum karena membaca pesan dari kekasihnya. Dia menaruh ponsel di meja lalu bergegas menuju pintu dan membukanya.
Tante Rossa datang dengan wajah ditekuk, sendu. Sella yang melihatnya pun merasa kasihan.
Sudah dua tahun, Sella tak bertemu dengan wanita yang mengasuhnya. Pasalnya wanita itu mengusir dirinya setelah ia lulus kuliah. Hal itu yang menjadikan Sella mandiri seperti sekarang. Keadaan yang memaksanya harus kuat.
“Silakan masuk, Tante,” pinta Sella masih keheranan dari mana wanita itu mengetahui tempat tinggalnya saat ini.
Tante Rossa, melangkah pelan terhuyung begitu lemas.
Mereka duduk di ruang tengah. Tante Rossa melihat ke sekeliling.
“Kamu sekarang sudah hidup enak dan lupa denganku yang membesarkanmu ya!” ucap Tante Rossa, merasa iri.
“Aku Cuma menumpang, Tante,” sahut Sella jujur. Dia bukan pemilik dan juga tidak menyewa apartemen yang di tempatinya. Danishlah yang menyuruhnya untuk menempatinya.
“Tante ingin minum apa?” tawar Sella sopan.
“Aku tidak mau minum, aku ke sini hanya ingin meminta bantuanmu!” jawabnya menahan marah.
“Meminta bantuan apa Tante?” tanya Sella penasaran.
“Aku sakit hati dengan Suryo!” Tante Rossa mengawali curahan hatinya.
“Siapa Suryo, Tante?” tanya Sella mencoba ramah.
“Suryo itu sahabatku,” jawab Tante Rossa lalu diam menunduk, seolah apa yang sedang dihadapinya benar-benar berat.
“Apa yang dilakukan Suryo?” Sella tidak tahu apa yang terjadi dengan tantenya itu.
“Dia, tidak jadi berinvestasi di usaha butik yang sedang aku jalani,” jawabnya sedih.
“Tante bisa mencari investor lainkan!” lirih Sella.
“Tidak, aku sudah terlanjur sakit hati karena dia mengataiku bodoh, miskin, dan tidak bisa diandalkan!” teriaknya.
“Lantas apa yang bisa aku bantu, Tante?” tanya Sella.
Wanita pemarah itu, diam.
“Apa aku harus mencari investor lain untuk butik, Tante?” tanya Sella.
“Tidak perlu, kamu tidak perlu mencari investor!” tolaknya tegas.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Sella mulai penasaran apa rencana wanita itu.
Tante Rossa diam sejenak, dia menatap Sella lalu tersenyum.
“Apa kamu bersedia melakukan apa yang aku suruh?” ucap wanita itu tersenyum lebar.
“Apa yang harus aku lakukan Tante, aku akan membantunya, sebisaku,” ucap Sella.
“Aku ingin Suryo jadi miskin! Tidak punya apa-apa lagi!” kata Tante Rossa.
Sella mulai berpikir, ingin rasanya dia mundur. Namun, dia tidak enak hati karena Tante Rosa sangat berjasa dalam hidupnya.
“Bagaimana caranya Tante?” Sella memberanikan diri untuk bertanya.
“Tenang saja! Aku sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang! Kamu hanya perlu menuruti arahanku!” Senyum Tante Rossa semakin melebar.
“Iya, Tante akan aku lakukan sebisaku,” jawab Sella. Tante Rossa sudah seperti ibunya sendiri, ketika wanita itu datang dan menemuinya. Itu adalah sesuatu yang sangat langka bagi Sella Anindya.
“Pertama, aku ingin mengenalkanmu pada Suryo, selanjutnya Kamu harus bisa mendapatkan hati pria itu, dan berhasil menjadi istrinya? Bagaimana?” tawar Tante Rossa dengan antusias.
“Apa aku harus menikahinya?” tanya Sella memastikan.
“Iya, setelah Kamu berhasil menjadi istrinya kamu akan lebih mudah menguasai hartanya!” jelas Tante Rossa begitu yakin.
“Tapi Tante!” protes Sella.
“Apa?” jawab wanita itu ketus.
“Aku punya pacar, yang sangat aku sayangi! Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja!” tolak Sella. Menuruti keinginan Tantenya sama saja menyudahi hubungannya dengan Danish.
“Oh jadi kamu lebih memilih pacar Kamu yang tidak jelas itu daripada membantuku, yang sudah jelas-jelas berjasa mengasuhmu dari kecil!” teriak Tante Rossa marah.
“Bukan begitu, Tante!” tolaknya lagi.
“Lakukan perintahku, atau aku akan menghancurkan hidupmu!” ancam wanita itu. “Jangan kira aku tidak memiliki rahasia yang bisa merusak hidupmu Sella!” ucap Tante Rossa dengan nada lebih tinggi satu oktaf dari sebelumnya.
“Iya, Tante,” jawab Sella menurut. Ancaman dari Tante Rossa tidak bisa dianggap ringan.
Sejak saat itu, jalan hidup Sella mulai di atur kembali oleh Tante Rossa.
Tak terasa air mata membasahi pipi Sella Anindya. Dia sangat merindukan Danish. Namun, saat ini pria itu bahkan sangat membencinya.
“Danish, maafkan aku,” gumamnya pelan. Memeluk gulingnya dengan erat.
**
Bertemu Ibu Keyra.
Hari minggu siang, Keyra, Danish, dan Pak Suryo bersama sopir baru mereka hampir tiba di rumah Keyra. Butuh dua jam perjalanan untuk tiba di tempat tinggal Bu Riani.
Keyra, adalah anak yatim. Ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya bekerja untuk menghidupi dirinya dan juga kebutuhan Keyra.
“Sudah hampir tiba,” ucap Keyra memberitahu.
Pak Suryo dan Danish mengangguk.
Danish melihat Keyra, meski ini hanya pernikahan sandiwara tetapi jantungnya berdebar sangat kencang. Pasalnya ini kali pertama ia bertemu dengan orang tua pasangannya. Sebelumnya, tidak pernah sama sekali. Pria itu mengambil ponsel untuk meredakan rasa groginya.
“Berhenti di sini!” pinta Keyra.
Si sopir menuruti perintahnya. Mobil berhenti tepat di depan rumah Keyra.
Keyra keluar dari mobil terlebih dahulu diikuti Danish, Pak Suryo dan Sopirnya yang terakhir kali masuk ke dalam rumah Bu Riani.
Keyra segera memeluk ibunya dengan erat. Ingin menangis, ia yang awalnya ingin jujur dengan Sang Ibu memilih untuk bersandiwara. Mengikuti alur yang telah diciptakan Danish.
Di rumah itu, ada beberapa kerabat dekat Keyra yang ikut menyambut kedatangan calon suami dan calon mertua dari Keyra.
Sementara semua orang sedang berkenalan dan membahas pernikahan. Keyra masuk ke dalam kamarnya. Menggandeng Desi, sepupu yang seumuran dengannya. Namun, gadis itu tidak kuliah, dia bekerja di pasar membantu kedua orang tuanya.
“Keyra,” panggilnya haru, sembari memeluk Keyra dengan erat. Tidak menyangka sepupunya itu akan lebih dulu menikah dibandingkan dirinya.
Keyra membalas pelukan Desi tak kalah erat. Tak tahu mengapa rasanya ingin menangis. Ada beban di hatinya yang tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Desi mengurai pelukannya.
“Kamu beruntung banget Key, dinikahi orang kaya seperti Pak Danish! Aku sudah tahu semua ceritanya dari ibumu,” kata Desi dengan wajah berbunga-bunga.
Keyra hanya menunduk, enggan menjawab. Desi tidak tahu jika pernikahannya dengan Danish hanya sandiwara, demi tambahan uang. Juga demi kuliahnya yang harus tetap ia teruskan sampai ia lulus.
“Selamat ya, akhirnya sahabatku akan menikah juga!” ucapnya lagi.
Keyra tersenyum sumbang hanya mengiyakan.
“Aku juga ingin seperti Kamu, menikah dengan pengusaha kaya!” celetuk Desi.
“Apa Kamu mau menggantikanku?” tanya Keyra sambil tertawa.
“Hehe,” Desi hanya menyengir.
Keyra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mencoba beristirahat sejenak sebelum kembali melakukan perjalanan.
Suara ketukan pintu terdengar.
Desi segera membukanya, Bu Riani berdiri di balik pintu.
“Di mana Keyra?” tanya Sang Ibu.
“Iya, Bu,” sahut Keyra.
“Ayo, temani calon suamimu,” pintanya.
“Memangnya Pak Suryo ke mana?” tanya Keyra.
“Ayo sini!” suruh Bu Riani menarik tangan Keyra lalu menuntunnya ke ruang tamu di mana Daniah sedang duduk sendirian.
“Nak Danish, ini Keyra akan menemanimu!” kata Bu Riani sambil duduk di sebelah putrinya.
“Iya, Bu,” jawab Danish sopan.
Suasana seketika menjadi hening.
“Nak Danish,” panggil Bu Riani. Sebelum mereka kembali pulang ke Jakarta ia merasa perlu untuk mengatakan sesuatu yang mengganggu hatinya.
“Iya, Bu,” sahutnya.
“Ibu ingin mengatakan sesuatu, kiranya kamu berkenan,” ucap Bu Riani.
“Aku sangat senang, Nak Danish mau menikahi putriku yang penuh kekurangan ini, aku terharu dan tidak menyangka, Keyra hanya gadis biasa tak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Jadi, apa Nak Danish sudah siap menerima semua kekurangan putri saya,” kata Bu Riani dengan pipi yang bercucuran air mata.
“Iya Bu,” jawab Danish ikut terharu melihat raut wajah Bu Riani. Kini di dalam hatinya sedang berpadu bermacam perasaan. Tidak menyangka sandiwaranya akan menjadi sejauh ini, melibatkan banyak orang dan semakin membohongi orang-orang terdekatnya.
Hening!
Keyra menatap ke arah lain. Salah tingkah, merasa kasihan dengan ibunya. Dia sungguh merasa bersalah karena telah membohongi wanita yang paling dicintai dalam hidupnya itu.
“Tenang saja Bu, aku akan memastikan Keyra akan selalu bahagia,” ucap Danish.
Bu Riani tersenyum dan percaya mendengar ucapan calon menantunya. Sedangkan Keyra, melebarkan bibirnya sumbang. Tidak menyangka Danish sepandai itu dalam bersandiwara.
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu