13 . Cemburu
Sella menghentikan aktivitasnya. Diam, bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian, dia berdiri meninggalkan meja makan. Berjalan ke dapur.
Kini hanya ada Pak Suryo, Danish, dan Keyra di ruang makan.
“Kenapa Papa membentak Tante Sella, tentu saja dia tahu aku alergi udang karena Doni yang memberitahunya Pa,” jelas Danish, dia melihat ke arah papanya yang masih merasa curiga.
“Kapan Doni memberitahu?” selidik Pak Suryo.
“Apa Papa lupa Tante Sella pernah satu ruangan denganku, Pa?” ucap Danish membela.
Hening!
“Sepertinya papa salah,” gumam Sang Papa pelan.
“Biar saya yang membawa Tante Sella kemari,” izin Keyra, ia berdiri ingin menyusul Sella ke dapur.
Dengan langkah pelan, gadis itu berjalan ke belakang menuju dapur. Terlihat Sella sedan berdiri memunggunginya.
“Tante,” panggil Keyra berjalan lebih dekat.
“Iya,” jawab Sella menghapus air matanya lalu berbalik.
“Ayo kita kembali ke meja makan,” Keyra menggandeng tangan wanita yang lebih tua dari dirinya itu.
Mereka berdua berjalan beriringan ke ruang makan.
Sella kembali duduk di sebelah Pak Suryo sedangkan Keyra duduk di samping Danish. Tanpa berkata-kata mereka melanjutkan, acara makan malam.
“Sudah berapa lama kalian saling mengenal?” tanya Pak Suryo.
“Sudah sekitar empat bulan, Om,” jawab Keyra, setelah terlebih dahulu melihat ke arah Danish.
Sella menyimak pembicaraan mereka berdua. Sesekali ia melihat ke arah Danish yang terkadang mencuri pandang ke arahnya.
“Keyra apa yang Kamu suka dari Danish?’ tanya Pak Suryo kedua kalinya.
“Emm... ,Danish pria yang lembut, perhatian dan penuh pengertian. Bukan hanya itu dia sangat baik, itu yang membuat aku jatuh cinta padanya Om,’’ jawab Keyra. Kemudian, ia mendongak ke arah Danish yang sedang memperhatikannya berbicara.
“Apa kalian sungguh sudah siap mengikat hubungan kalian dalam ikatan perkawinan, terutama kamu Keyra, bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Pak Suryo.
“Tenang saja Pak, aku dan Keyra tidak berencana memiliki bayi dalam waktu dekat, lagian Keyra baru semester empat, aku akan sabar menunggunya,” sahut Danish.
Pak Suryo mengangguk, pandangannya beralih pada Keyra. “Bagaimana denganmu Keyra?” tanya Pak Suryo lagi masih belum percaya dengan hubungan Danish dan Keyra seolah mendesak dan terlalu terburu-buru.
“Saya akan mengikuti apa yang Mas Danish, mau Om,” jawab Gadis itu di sertai senyum yang begitu melebar membuat Pak Suryo begitu percaya padanya.
Mereka berempat kembali menyantap makanan masing-masing. Danish terus berpura-pura memberikan perhatian pada Keyra yang membuat Sella belingsatan menahan cemburu.
Apalagi saat Danish menyuapi gadis itu. Meski Sella mengetahui kalau itu hanya sandiwara, tetapi hatinya terbakar api cemburu. Kemudian, ia meletakkan sendok di piringnya kasar. “Sayang, sepertinya aku harus pulang sekarang,” izin Sella pada Pak Suryo, merasa tidak tahan.
“Apa kamu marah, karena tadi aku membentakmu?” tanya Pak Suryo memperhatikan calon istrinya itu dengan saksama.
“Tidak, Sayang, aku hanya sedikit flu,” jawab Sella beralasan.
“Jangan mengemudi sendiri, biar Danish yang mengantarmu!” suruh Pak Suryo.
“Tapi Pa ...,” Danish ingin menolak.
“Danish antarkan Tante Sella sebentar!” perintah Pak Suryo pada Danish.
“Baik Pa,” Danish menurut.
“Sayang, aku mengantar Tante Sella dulu, ya?” izin Danish pada Keyra yang tidak ingin di tinggal.
“Iya, Sayang,” kata-kata itu keluar dari bibir manisnya meski begitu berat karena takut Pak Suryo menanyakan sesuatu yang tak bisa di jawabnya.
Kemudian, Danish mengikuti langkah Sella keluar dari kediaman Pak Suryo. Danish mengantarkan Sella dengan mobilnya sendiri, sedangkan kendaraan wanita itu iya biarkan di garasi miliknya.
Danish duduk di belakang kemudi. Sella duduk di sebelahnya. Danish menghidupkan mesin, mobilnya mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
Danish menyalakan audio mobilnya. Sengaja memutar lagu karena tidak ingin membuka pembicaraan dengan Sella.
Mobil terus berjalan tanpa obrolan di antara keduanya. Tiba-tiba Sella menekan tombol off, mematikan musik. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a.
Danish menoleh, menatapnya dengan datar. “Aneh,” gumamnya pelan dan kembali fokus mengemudi.
“Apa tujuanmu menikahi cleaning sevice itu?” tanya Sella tegas dengan suara ketus.
“Bukankah aku yang seharusnya tanya, kenapa tiba-tiba kamu menikahi Papaku? Kamu benar-benar tak memilik hati Sella! Di saat aku masih cinta, aku harus menerima pernikahanmu dengan Papaku! Dimana hatimu!” ucap Danish marah.
Sella hanya bisa diam, melihat keluar.
“Apa iya, aku harus tinggal serumah dengan wanita yang aku cintai, sementara aku hanya menyaksikan Kamu dan Papa, bermesraan! Aku tidak sebodoh itu Sella!” ucapnya lagi.
Sella mengalihkan pandangannya ke arah Danish. Sungguh, dia masih peduli dengan, pria itu. Meski Danish kekanak-kanakan dan lebih muda darinya, tetapi dalam hatinya Sella masih menyayangi pria yang penuh kasih dan selalu mengayomi itu.
“Apa Kamu cemburu melihat kedekatan dengan Keyra?” tanya Danish, sinis.
“Untuk apa aku cemburu! Itu hanya pura-pura kan? Aku tahu semuanya,” sahut Sella percaya diri.
“Kamu salah besar, aku tidak pernah bersandiwara!” tegas Danish dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.
“Bohong kamu! Akui saja sebenarnya Kamu yang cemburu kan melihat aku bermesraan dengan Papamu!” jawab Sella lebih tegas mengimbangi suara Danish.
“Awalnya aku cemburu, sekarang jangan harap aku memiliki perasaan rendahan seperti itu, cemburu hanya untuk orang-orang yang lemah, dan sekarang Keyra sudah hadir dan menguatkanku! Mengerti! Jadi jangan terlalu percaya diri seperti itu, sekarang aku benar-benar muak denganmu!” jawab Danish.
Sella beringsut, dia tak berani menjawab.
Suasana kembali hening, hingga mobil yang mereka naiki sampai di depan rumah saudara Sella.
Mobil berhenti.
Hening!
“Sella,” panggil Danish.
“Iya,” jawabnya pelan tak bersemangat.
“Karena, sebentar lagi kamu akan menjadi pasangan Papaku, aku mohon satu hal sama kamu!” kata Danish dengan suara berat dan ekspresi serius.
“Apa?” tanya Sella kali ini dia tak sepercaya diri sebelumnya. Ada kesedihan dalam pandangannya.
“Aku harap kamu bisa menciptakan kebahagiaan untuk Papaku, karena selama kepergian Mama aku tak pernah melihat lagi senyumannya yang tanpa beban seperti dahulu. Demi aku yang sudah terluka dan merelakanmu, bahagialah bersama papaku,” kata Danish. Pelan, serius dan penuh harap.
Sella melihat sorot mata Danish, dapat melihat kesungguhan di sana. Dia membuka pintu lalu beranjak dari duduknya. Pergi begitu saja tanpa menjawab pemintaan Danish.
**
Setelah Danish pergi mengantarkan Sella kini hanya Keyra dan Pak Suryo di meja makan. Meski canggung Keyra, mencoba senatural mungkin duduk di hadapan Pak Suryo.
“Keyra makanan apa yang Kamu sukai, biar Bi Inah membawakan untuk dibawa tempat kosmu,” ucap Pak Suryo mencoba lebih dekat dengan calon menantunya.
“Tidak perlu, Om, saya sudah kenyang,” sahut gadis itu.
“Untuk meyakinkan diriku sendiri, apa kamu benar-benar sudah yakin menikah dengan Danish?” tanya Pak Suryo. Dalam hatinya masih ada rasa ragu yang tak bisa ia jelaskan.
“Iya, Om, saya sudah sangat yakin menikah dengan Mas Danish,” jawabnya.
Pak Suryo mengangguk, keraguannya menghilang begitu saja kala melihat wajah tulus Keyra.
“Danish itu, kadang kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi dibalik sikapnya itu, dia sangat baik dan mempunyai hati yang tulus,” kata Pak Suryo, perlu memberitahu Keyra mengenai kekurangan putranya.
Gadis itu hanya tersenyum, sesuai perintah Danish. Hanya ingin bicara ketika memang perlu bicara.
“Aku kira dia akan sulit menemukan wanita yang bersedia menjadi istrinya karena sifatnya itu, aku harap meski usiamu lebih muda dari Danish, kalian bisa saling melengkapi dan bersama sampai maut yang memisahkan kalian,” kata Pak Suryo memberitahu harapannya.
Degh! Ucapan Pak Suryo membuat d**a Keyra terasa berat. Dia yang semula pernikahan ini hanya sebuah mainan kaget mendengar harapan dari calon mertuanya.
Keyra bengong.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Pak Suryo yang melihat perbedaan di raut wajah Keyra.
“Tidak, Om tidak apa-apa?” jawabnya.
“Emm, Keyra adakah yang ingin kamu tanyakan sebelum Danish pulang?” Pak Suryo melihat arloji di pergelangan tangannya. Sekitar sepuluh menit Danish akan tiba di rumah.
“Apa, Mas Danish pernah mengenalkan seorang wanita. Kepada Om?” tanya Keyra. Dia mulai penasaran. Adakah wanita yang pernah singgah di hati Danish.
“Danish tak pernah sekali pun memperkenalkan pasangannya padaku, tenang saja Keyra, Kamulah gadis pertama-dan satu-satunya yang di bawa Daniah pulang ke rumah,” jawab Pak Suryo jujur.
Keyra tersipu malu, meski sadar betul hubungannya dengan Danish hanya sandiwara.
“Oh, iya, Keyra, terima kasih ya Kamu sudah mau menerima Danish sebagai calon suami kamu,” ucap pria itu.
“Iya, Om,” sahutnya singkat.
Suara pintu depan yang terbuka, dilanjutkan suara telapak kaki yang berjalan mendekat ke ruang makan. Membuat Keyra bisa bernafas lega, akhirnya Danish kembali tiba di rumah. Ia tak sendiri lagi menjawab interogasi dari calon papa mertuanya.
Danish kembali duduk di tempatnya semula.
“Pa kita butuh sopir dan pelayan baru!” ucap Danish cemberut.
“Kenapa?” tanya Pak Suryo.
“Sebentar lagi kalau Papa sudah menikah dengan Tante Sella, dan aku sudah menikah dengan Keyra aku sudah akan kelelahan jika terus mengatar ke sana ke mari setiap hari!” keluh Danish.
“Iya, kita akan menambah dua orang sopir dan satu pelayan!” jawab Pak Suryo menuruti kemauan putranya itu. Memang manja.
Keyra hanya tersenyum, ucapan Pak Suryo benar. Danish memang kekanak-kanakan.
“Jadi, kapan kamu mau menemui orang tua Keyra?” tanya Pak Suryo pada putranya.
“Memangnya kenapa aku harus menemui orang tua Keyra?” Danish bertanya balik.
“Danish! Bukannya Kamu ingin menikahi Keyra? Kamu harus meminta izin pada orang tua Keyra! Menikah itu bukan hanya menyatukan kalian, tapi menyatukan dua keluarga, keluarga kamu dan keluarga istrimu!” kata Pak Suryo serius.
Danish menggigit bibirnya, benar-benar tidak menyangka sandiwaranya akan menjadi serumit dan senyata ini. Ya! Sebentar lagi dia akan menikah dan menjadi suami dari gadis yang baru dua hari di kenalnya.
Awalnya hanya sebuah kebohongan, tapi perlu kebohongan-kebohongan lain yang seolah menumpuk dan membuatnya menjadi rumit. Sekarang dia menyadari satu hal, perkataan Doni adalah sebuah kebenaran.
“Minggu sahut, Pa!” sahut Danish asal.
“Baiklah, besok minggu Papa dan Tante Sella akan mengantarmu ke rumah Keyra.
Keyra mengangguk.
“Keyra, kamu jangan lupa ya beri tahu ayah dan ibu, kalau Danish mau datang, ke rumah, mengerti?” tanya Pak Suryo.
“Iya, Om,” jawab Keyra.
“Pa, aku antar Keyra pulang sekarang ya? Kalau Papa masih ingin bertanya pada Keyra, aku kasih nomor ponselnya, biar Papa bisa menelefonnya!” kata Danish kesal. Berat sekali beban di pikirannya.
“Kamu boleh mengantar Keyra sekarang! Papa juga ingin istirahat!” jawab Pak Suryo.
“Hati-hati ya,”
“Iya, Om,”
Danish mengantar Keyra, sedangkan Pak Suryo beralih ke ruang keluarga. Di sofa warna cokelat ia merenung. Tak menyangka sebentar lagi putra semata wayangnya akan menikah, itu adalah hal yang tak terduga dan lebih penting dari pada pernikahannya dengan Sella.
**
Di dalam mobil Danish fokus mengemudi, sedangkan Keyra sesekali melihat ke arah pria di sampingnya. Penasaran dengan kehidupan percintaan pria itu. Namun, ia tidak berani menanyakan langsung. Entahlah, gadis itu merasa ada tembok tinggi dan kuat yang membuatnya tidak bisa bersikap santai kepada Danish Alexi.
“Apa tadi Papa bertanya padamu?” tanya Danish tetap fokus melihat ke arah jalan.
“Tidak, Om Suryo tadi bercerita mengenai Pak Danish,” jawab Keyra jujur.
“Jangan percaya kata-kata Papa, dia adalah orang yang paling tidak paham mengenai aku!” sahut Danish tertawa nyaring.
“Kenapa seperti itu?” tanya Keyra keheranan.
“Coba saja tanya siapa wanita yang pernah menjadi kekasihku, pasti Papa tidak tahu!” ucap Danish.
“Ada dua alasan mengapa Om Suryo tidak mengetahui siapa pacar Mas Danish!” tebak Keyra tiba-tiba bisa memanggil Danish dengan lebih akrab.
“Apa?” tanya Danish antusias.
“Pertama, Mas Danish memang tidak memiliki kekasih, yang ke dua, Om Suryo bukan tidak mengetahui siapa kekasih Mas Danish, beliau hanya pura-pura tidak tahu saja!” ucap Keyra.
Danish yang mendengarkan ucapan Keyra, terdiam. Bagaimana kalau sebenarnya selama ini papanya tahu kalau Sella adalah kekasihnya. Tidak! Danish menepis pikiran itu jauh-jauh.
“Kamu bisa saja Key, terima kasih ya untuk hari ini, semoga sandiwara kita bisa berjalan lancar!” kata Danish. Kemudian ia menepikan mobilnya karena sudah sampai di gang tempat kos Keyra.
“Iya, Mas Danish, sama-sama,” ucap Keyra diakhiri dengan senyuman manisnya.
Degh! Untuk pertama kalinya Danish memperhatikan senyuman gadis itu, mengagumkan membuat kedua manik matanya terpana, terpaku melihat kecantikannya yang sedari tadi tidak di sadari oleh nya.
“Aku, masuk dulu Mas Danish!” izin Keyra lalu beranjak dari duduknya, keluar dari mobil. Menoleh ke arah Danish memperhatikannya dengan saksama. Jujur, Danish terlihat tampan baginya.
“Iya, Key sampai jumpa lagi,” sahut Danish. Masih mengamati Keyra dengan indra penglihatannya. Memastikan gadis itu masuk ke gerbang kosnya.
Kemudian, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, menuju rumah.
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu