12. Perjanjian Kontrak Pernikahan.
Keyra tiba di depan ruangan Danish. Setelah ia kembali mengayuh sepedanya. Keringat membasahi keningnya karena cuaca yang sangat panas. Bukan hanya itu, dia juga sangat lapar karena belum makan sama sekali.
Pintu terbuka otomatis.
Keyra melangkah maju, Danish sudah duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Tatapannya penuh percaya diri merasa menang.
“Kemarilah!” suruh Danish.
Keyra berjalan maju, masih menahan lapar.
“Karena Doni sedang menggantikanku rapat rutin mingguan, Kamu tunggu dulu di sini!” jelasnya.
“Baik Pak,” jawab gadis itu lemah, tak bertenaga.
“Oh iya, karena aku baik hati, aku akan memberikanmu hadiah karena kamu telah bersedia menerima tawaranku, aku akan mengabulkan 3 permintaanmu,” ucap Danish. Dia benar-benar tidak suka melihat gadis itu tidak bersemangat. Tidak ada salahnya dia memberikan hadiah, mungkin Keyra sedang menginginkan tas branded, atau baju yang sedang trend saat ini, atau bahkan liburan. Danish akan mengabulkan semuanya.
“Terima kasih Pak Danish, tapi bolehkah saya menggunakan hadiahku saat ini?” pinta Keyra.
“Boleh, hari ini aku akan mengabulkan satu permintaanmu!” jawabnya mantap.
“Aku ingin satu bungkus indomie goreng yang di masak dengan dua telur, saat ini juga,” jawab Keyra yang sudah sangat lapar dan ingin sekali makan mie favoritnya.
“Apa?” tanya Danish, telinganya gatal tak percaya mendengar permintaan gadis 18 tahun itu. Hanya satu bungkus Indomie. Danish menertawakannya dalam hati.
Keyra ingin mengulangi ucapannya. Namun, Danish sudah pergi ke arah telepon untuk menghubungi seseorang. Setelah selesai pria itu kembali menghampiri Keyra.
“Sebentar lagi pesananmu akan datang, tunggu di sini! Aku harus kembali bekerja!” jelas Danish.
“Iya, Pak Danish!” jawab Keyra menurut. Kedua tangannya memeluk perut. Menyembunyikan cacing-cacing yang sedang meraung meminta makan.
Danish kembali duduk di kursi kebanggaannya. Ia kembali fokus dengan layar laptopnya, meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang ke ruang kantor Danish. Ia membawa nampan dengan kedua tangannya berisi mangkuk dan segelas jus jambu.
“Pak Danish, saya membawa pesanan Anda,” ucap pelayan itu. Menatap sinis ke arah Keyra. Ingin tahu kenapa gadis itu berada di ruangan si tampan.
“Berikan itu pada Keyra, dan kamu boleh pergi!” suruh Danish.
“Baik, Pak,” jawabnya. Kemudian, ia meletakkan nampan di depan Keyra. Wanita itu segera berbalik dan pergi dari ruang kerja Danish.
Pintu kembali tertutup.
Keyra melihat indomie goreng di mangkuk dengan dua telur, seperti melihat air di padang pasir. Di segera mengambinya dan perlahan menyuapkan ke dalam mulutnya. Sangat nikmat, begitulah yang ia rasakan.
Tanpa di sadari Danish mengamati Keyra yang sedang melahap indomie dengan begitu antusias. Dia menggelengkan kepala, tidak percaya akan menikahi gadis itu, sangat sederhana. Sebungkus indomie sudah membuatnya sangat bahagia.
Keyra menghabiskannya hanya dalam waktu dua menit. Danish yang terus memperhatikannya hanya bengong saja. Pria itu menunda pekerjaannya dan berjalan menghampiri Keyra.
“Apa makanan itu begitu enak?” tanya Danish penasaran.
Keyra, menyengir segera meletakkan mangkuk ke dalam nampan. “Saya lapar,” jawab Keyra, jujur.
“Memangnya Kamun tidak sarapan?” tanya Danish mencoba perhatian.
“Sebenarnya, saya bahkan tidak sempat makan, semalam,” sahut gadis itu. Ia menunduk, ada rasa malu yang tiba-tiba ia rasakan.
Danish hanya mengangguk dan kembali berjalan ke tempat duduknya. Keyra benar-benar gadis yang sederhana, berasal dari kalangan bawah. Dia tersenyum setidaknya gadis itu bisa membuatnya lepas dari pikiran negatif Pak Suryo kepadanya.
**
Jam makan siang Doni dan Keyra duduk di resto hotel yang berada di lantai dasar. Mereka berdua saling berhadapan dengan minuman favorit masing-masing.
“Silakan dibaca,” suruh Doni mengulurkan beberapa lembar kertas yang berada di dalam map merah muda. “Apabila ada yang tidak kamu mengerti, bisa kamu tanyakan padaku,” ujarnya lagi.
Keyra mulai membacanya, dengan lebih teliti dari pada semalam. Tiap poin ia pahami dengan saksama.
“Kontrak pernikahan, akan berlangsung selama satu tahun, terhitung dari tanggal kamu dan Pak Danish menikah,” jelas Doni.
“Baik, saya mengerti,” jawab Keyra.
“Kemungkinan besar pernikahan akan di adakan satu bulan lagi bersamaan dengan pernikahan Pak Suryo dan Sella,” jelas Doni memberikan informasi tambahan.
Keyra mengangguk.
“Di rumah yang kamu tempati nanti, hanya ada Pak Suryo, Sella dan Pak Danish. Tugasmu hanya berpura-pura menjadi istri bagi Pak Danish, jadi aku harap bisa berpura-pura menjadi istri yang sebenarnya bagi Pak Danish, mengerti?” tanya Doni. Memperhatikan gadis di hadapannya itu.
“Iya, saya paham,” jawabnya.
“Kamu memang akan tidur satu ruangan dengan Pak Danish, tapi aku yakin dia tidak akan melakukan hal macam-macam, aku bisa memastikannya!” ucap Doni. Sangat yakin kalau Keyra bukanlah tipe wanita yang di sukai Danish. Sahabat sekaligus atasannya itu tertarik dengan wanita yang lebih dewasa dan keibuan, sedangkan Keyra sangat berlawanan, dia lebih muda dan terlihat seperti gadis remaja. Danish jelas tidak menyukainya.
“Apa itu artinya, aku bisa menjalin hubungan dengan laki-laki lain?” tanya Keyra. Sejenak dia mengingat Diego, teman satu jurusan yang di taksirnya.
“Emm,” gumam Doni. Pria itu berpikir sejenak. “Boleh, asalkan tidak ada orang yang mengetahuinya, kamu bisa berpacaran atau berkencan asalkan itu hanya kamu sendiri yang tahu, jangan sampai Pak Danish, Pak Suryo atau bahkan orang lain tahu.
“Baik, Saya mengerti,” jawab Keyra sembari tersenyum setidaknya ada harapan baginya untuk tetap mendekati Diego.
Keyra sudah cukup paham dia tak membaca semuanya, yang dia butuh kan hanya uang. Tidak ada masalahnya dia menikah, kampus juga tidak melarangnya. Namun, bagaimana dengan ibunya? Dia menggelengkan kepala tidak yakin Bu Riani akan merestui pernikahannya yang mendadak.
“Ini, ada kartu ATM yang bisa Kamu gunakan, kamu bisa mengambil uang, tapi kamu harus berhati-hati karena Pak Danish akan meminta penjelasan dari uang yang Kamu gunakan,” ucapnya memberikan kartu ATM beserta buku tabungannya.
Keyra mengangguk, sangat senang akhirnya dia bisa membayar kosnya yang sudah menunggak selama tiga bulan.
“Aku akan kembali bekerja, apa bila ada yang ingin kamu tanyakan Kamu bisa menelefonku, aku akan segera mengangkatnya jika panggilan itu darimu!” ucap Doni.
“Iya,”
Doni berjalan menuju lift kembali ke ruang kantornya.
**
Tak lama kemudian, gantian Danish yang menghampiri Keyra. Pria itu duduk di hadapan Keyra, dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
“Apa Doni sudah menjelaskan semuanya?” tanya Danish. Ini kali pertamanya ia bisa memperhatikan gadis itu dari dekat, sebelumnya ia tidak berani menatap Keyra sejeli ini.
“Sudah Pak,” jawab Keyra. Saat ini juga, ia sadar satu hal. Danish memang sangat tampan, benar apa yang di katakan temannya. Pria yang kini sedang di hadapannya, memang memesona. Memiliki daya tarik sendiri lewat wajahnya yang imut dan badan yang kekar. Tampak jelas dari kemeja yang pas membalut tubuhnya. Rambutnya yang selalu di sisir ke belakang dan terlihat rapi.
“Nanti malam, aku akan memperkenalkanmu dengan Papaku, ini tugas pertamamu!” kata Danish memberikan titah pertamanya.
“Baik Pak!” jawabnya gagap karena masih bengong mengamati Danish.
“Oh iya, kamu jangan panggil aku ‘Pak' itu akan membuat sandiwara kita hancur,” jelas Danish.
“Iya Pak! Eh-,” celetuk Keyra segera menutup bibir dengan kanannya.
“Ayo kita pergi sekarang?” Danish beranjak dari duduknya.
“Ke mana?” tanya Keyra.
“Nanti Kamu juga tahu,” jawab Danish menggandeng tangan gadis itu. Memaksa agar mengikutinya menuju tempat parkir.
Dari jauh seseorang melihat kedekatan Danish dan Keyra. Ada sesak yang teramat berat di dalam hatinya.
**
Danish sudah tahu semuanya mengenai Keyra, dia tahu tempat tinggal, tempat kos bahkan dia tahu kalau gadis itu sedang mengalami masalah ekonomi. Menurutnya, pernikahan kontrak ini seperti simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak. Dia bisa Membuat Papanya percaya kalau dia tidak ada hubungan apa pun dengan Sella. Untuk Keyra, setidaknya ia tidak perlu bekerja menjadi cleaning service lagi agar bisa lulus kuliah. Ya! Danish akan membiayai kuliah Keyra sampai dia lulus.
Mobil terus berjalan membelah keramaian ibu kota, Danish menepikan mobilnya. Kemudian, berhenti di sebuah pusat perbelanjaan.
“Temani aku belanja!” suruh Danish.
“Iya,” jawab Keyra. Kali ini Danish terlihat lebih bersahabat dan ramah. Membuatnya tidak canggung lagi.
Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki mall. Kemudian, Danish menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah gerai baju khusus wanita.
Dua orang SPG antusias menghampiri Danish.
“Ada yang bisa kami bantu?” tawar salah satunya.
“Bantu gadis ini memilih baju,” jawab Danish.
Keyra berjalan masuk ke dalam dan memilih, sedangkan Danish menunggunya di depan ruang ganti.
Keyra mulai memilih baju, ada sekitar 10 baju wanita yang di pilihnya. Salah satu SPG membawakannya ke depan ruang ganti.
“Cobalah satu persatu, aku akan memilih satu yang paling bagus untuk dipakai nanti malam,” suruh Danish lalu dia kembali duduk dan menatap layar ponselnya.
“Iya,” jawab Keyra. Dia masuk ke ruang ganti. Kemudian, memilih satu gaun sederhana dan mencobanya.
Sampai lima kali ia mencoba dan Danish yang perfectsionis, selalu menggelengkan kepala. Keyra hampir putus asa mencoba gaun yang ke enam, gaun sederhana berwarna jingga. Berlengan panjang dan memiliki kerah dan hiasan kancing di bagian depan.
Keyra keluar dari bilik. Danish melihatnya dan mengangguk. “Pakai itu saja!” ucapnya segera menundukkan kepala.
“Baik Pak Danish,” jawab Keyra bernafas lega.
Kemudian, Danish membayar semua baju yang di coba Keyra, tak lupa ia memilih flatshoes untuk Keyra. Yang sesuai dengan seleranya.
Jam menunjukkan pukul 4.23 ketika mereka keluar dari pusat perbelanjaan. Danish membuka pintu mobil untuk Keyra, sekalian untuk latihan.
Keyra masuk ke dalam mobil, begitu pun Danish. Dia duduk di belakang kemudi dan segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan selanjutnya.
Sekitar lima belas menit perjalanan Danish kembali menepikan mobilnya. Di sebuah salon wanita. Tempat biasa ia mengantarkan Sella melakukan perawatan.
“Ayo turun,” ajak Danish.
Keyra mengangguk dan mengikuti Danish.
Keyra segera duduk di depan cermin. Seorang penata rambut mulai merapikan rambutnya.
Danish dengan setia, duduk dan menunggu. Dia mengacuhkan beberapa pekerja yang salon yang berbisik di belakangnya. Pasalnya mereka semua sudah hafal dengan Sella. Ketika Danish mengantar gadis lain, mereka akan penasaran dan ingin tahu.
Dua puluh lima menit, Keyra selesai dirias. Gadis itu berdiri dan berbalik ke arah Danish. Melempar senyum malu. Ini kali pertamanya ia berpenampilan sangat feminin seperti itu.
Sekejap Danish terkesima. Kemudian, dia berjalan ke kasir untuk membayar. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil.
Danish duduk di belakang kemudi, dan Keyra berada di sebelahnya.
“Baik Key, mungkin kita baru saling kenal, tapi aku harap kita bisa bekerja sama,” ucap Danish lalu ia menghidupkan mobil.
“Iya, Pak Danish!” sahut Keyra.
Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
“Nanti kalau bisa kamu jangan memanggilku ‘Pak' kamu bisa menggantinya dengan sebutan ‘sayang' mengerti?” pinta Danish.
“Iya saya, mengerti.”
Mobil terus berjalan, suasana menjadi hening karena mereka berdua memilih diam. Danish dan Keyra sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mobil berhenti di lampu merah yang cukup lama. Sekilas Danish melirik ke arah Keyra. Ya! Dia mengakui jika sebenarnya gadis itu tidak jelek juga. Sedikit riasan saja bisa membuat banyak perubahan di penampilannya. Sangat berbeda dengan kemarin, saat ia menciumnya di hadapan Pak Suryo dan Sella. Pria itu, menggigit bibirnya mengingat hal itu.
Danish membelokkan mobilnya ke kiri dan terus lurus menuju rumahnya.
Dan tibalah mereka di rumah kediaman Suryo Alexi.
Seorang satpam membuka pintu gerbang. Danish menghentikan mobil di garasi rumahnya. Dia dan Keyra bersamaan turun dari mobil.
Mereka berjalan menuju teras rumah.
“Key, mana tanganmu?” pinta Danish sebelum membuka pintu.
Keyra mengulurkan tangannya. Danish segera menggenggam tangan gadis itu.
“Oh iya, nanti kalau Papaku banyak tanya, biar aku yang menjawab ya!” ucap Danish.
“Iya,”
“Sekarang, coba Kamu panggil aku ‘Sayang’?” suruh pria itu.
“Sa-yang,” pelan sekali Keyra mengucapkan kata itu. Maklum tak ada satu pun lelaki yang pernah dipanggilnya dengan sebutan itu.
“Ok, kita mulai sandiwaranya sekarang,” kata Danish antusias.
Keyra mengangguk yakin.
Danish membuka pintu. Dia berjalan ke dalam langsung menuju ruang makan. Ia punya firasat Sang Papa dan calon istrinya sudah menunggunya dari tadi.
Tebakannya benar kedua orang itu sudah menunggunya di ruang makan. Dengan berbagai hidangan yang sudah di siapkan.
Sebelum duduk Danish berdiri di sebelah Papanya.
“Pa, kenal in ini Keyra, calon istriku,” ucap Danish.
“Saya Keyra Om, Tante,” sapa Keyra memperkenalkan diri menjabat tangan Sella dan Pak Suryo bergantian.
Kemudian, Keyra duduk di sebelah Danish.
“Emm, sebelum kita berbincang sebaiknya kita makan terlebih dahulu,” suruh Pak Suryo.
Sella mulai aktif, dia mengambilkan nasi dan lauk untuk Pak Suryo. Kali ini dia tampak sedikit murung, tidak suka melihat Danish dekat-dekat dengan cleaning service itu.
“Sayang ambilkan makanan untukku juga!” pinta Danish. Sangat natural benar-benar seperti sepasang ke kasih.
Keyra mengambil nasi dan udang yang di masak asam manis, hanya menebak mungkin Danish menyukainya. Karena Tante Sella mengambil lauk tersebut untuk Pak Suryo.
“Kamu ingin menyakiti Danish ya, Danish itu alergi udang!” bentak Sella membuat Keyra terpaku dan menghentikan kegiatannya.
Seketika suasana menjadi hening.
Danish memandang Sella dengan tatapan dingin. Sedangkan Pak Suryo menatap calon istrinya dengan penuh tanya.
“Dari mana Kamu tahu kalau Danish alergi dengan udang?” tanya Pak Suryo suaranya berat. Menyimpan banyak tanya.
Sella bungkam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu