11

2025 Kata
11. Kontrak Pernikahan. Danish dan Keyra berjalan berdampingan menuju lift. Keyra masih diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk. Seper menit kemudian, mereka sampai di lantai dasar. Beberapa karyawan mengangguk sopan ke arah Danis dan bertanya, mengapa seorang cleaning service yang bersamanya. Sampai di tempat parkir. “Pak Danish, aku akan mengganti pakaianku sebentar,” izin Keyra, tidak mungkin mengenakan seragam hotel untuk pergi ke kampusnya. “Baiklah, aku akan menunggumu di sini!” jawab Danish masuk ke dalam mobilnya. Keyra berjalan ke arah toilet. Dia segera masuk ke dalam bilik yang kosong dan mengganti bajunya, dengan atasan berwarna abu tua. Untuk bawahannya ia memakai celana jeans dan mengenakan sepatu yang sama yang ia gunakan untuk bekerja yaitu sepatu kets warna hitam yang nyaman. Keyra keluar dari bilik itu, dia berdiri mematut di depan cermin. Kemudian, dia mencuci mukanya dari air kran wastafel di hadapannya. Ikatan di rambutnya ia lepas dan membiarkan jatuh terurai. Gadis itu menaburkan bedak tipis dan pelembab bibir. Setidaknya dia harus berpenampilan modis karena akan bertemu dengan Diego, cowok satu jurusan yang di sukainya. Keyra mengakhiri ritual dandanya, dengan tersenyum di depan cermin. Menyemangati dirinya. Lalu dia keluar dari toilet dan kembali ke mobil Danish. Gadis itu membuka pintu mobil, lalu duduk di samping Danish yang sudah terlebih dahulu duduk di belakang kemudi. “Pakai sabuk pengamannya,” perintah Danish melirik sekilas mengamati Keyra. Gadis itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Namun, tetap masih jauh dari tipe idealnya. “Baik Pak,” sahutnya. Danish menghidupkan mobilnya, lalu mobil mulai berjalan meninggalkan area parkir, dengan kecepatan sedang. “Aku sangat berharap, Kamu bisa menyetujui penawaranku,” ucap Danish membuka pembicaraan. Dia memelankan kecepatan mobilnya, agar bisa lebih lama merayu gadis itu. Keyra diam tak menyahut. “Kamu tidak perlu khawatir, itu hanya pernikahan di atas kertas, kita hanya hidup satu atap dan kita bisa menjalani hidup kita masing-masing,” jelas Danish. “Iya, Pak Danish, sepulang kuliah aku akan memikirkannya,” ucap Keyra. “Baiklah Keyra, aku harap Kamu bersedia menikah kontrak denganku,” kata Danish masih berharap. Keyra tersenyum, lalu melihat keluar jendela. Dia menepis semua tentang Danish dan tawaran nikah kontraknya, kali ini dia lebih fokus dengan presentasinya hari ini. Mobil berhenti di depan gerbang, Keyra turun dari mobil Danish. Tidak lupa ia membawa map berisi perjanjian pernikahan kontraknya. “Nanti malam aku akan menelefonmu tepat jam sembilan, aku harap kamu bersedia dengan tawaranku!” ucap Danish mengingatkan tidak sabar. “Iya,” jawab Keyra mengangguk kemudian berbalik melangkah cepat takut tertinggal mata kuliah hari ini. Danish kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ingin segera sampai di rumah. Dalam waktu dua puluh menit ia sudah tiba di rumah. Setelah memarkir mobilnya pria itu masuk ke dalam rumah. Danish berjalan cepat, ingin segera bersembunyi di kamarnya sebelum Papanya tiba di rumah. Namun, dia salah ternyata Pak Suryo sudah tiba di rumah terlebih dahulu. “Sini, duduk di samping Papa!” pinta Pak Suryo yang sedang duduk bersantai di depan televisi. Pria itu menaruh ponselnya karena ingin fokus berbicara dengan putra semata wayangnya. Danish menurut, ia duduk di samping Sang Papa. “Kamu yakin ingin menikahi Keyra?” tanya Pak Suryo sambil mengusap halus pundak putranya. Danish menunduk, berpikir masih ada kesempatan baginya untuk mundur, tapi rasa gengsi yang lebih besar membuatnya kekeh. Tidak ingin menarik kembali ucapannya. “Tidak, Pa aku sudah yakin dengan Keyra!” jawab Danish meyakinkan. “Sungguh?” tanya Pak Suryo keningnya sampai berkerut. “Papa rasa, gadis itu bukan seleramu! Koreksi, kalau papa salah!” ucapnya. “Keyra gadis yang lemah lembut dan aku sangat menyukainya, aku bahkan sudah tidak sabar ingin membina rumah tangga dengannya!” jawab Danish mengarang bebas. “Kamu yakin? Dia masih 18 tahun, dan seorang mahasiswi!” protes Pak Suryo. Kali ini dia benar-benar merasa tidak mengenali Danish lagi, yang pemilih dan tidak sembarangan memilih pasangan. “Sangat yakin! Danish ke kamar dulu Pa!” izin Danish, ingin segera kabur dari interogasi papanya. Pria itu berdiri, melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. ** Keyra memesan ojek online untuk mengantarnya menuju tempat kos. Dia tidak bisa fokus dengan mata kuliahnya malam ini. Jam menunjukkan pukul 08.13 ketika ia sampai di depan tempat kosnya. Sebuah tempat kos khusus untuk cewek, kebanyakan mahasiswi dan karyawan. Bangunannya terdiri dari dua lantai, terdapat tiga kamar tidur di lantai bawah, satu kamar mandi dan dapur yang berada di ujung. Di lantai dua ada empat kamar tidur dan satu kamar mandi dan balkon yang tidak terlalu luas. Menjadi tempat favorit ketika malam tiba. Keyra, melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua, kamar paling ujung dengan dua ventilasi dan jendela yang mengarah ke depan. Berukuran 3x3 meter, sangat sempit. Hanya ada satu tempat tidur ukuran mini, satu lemari tempat baju, satu meja belajar sepasang dengan kursinya. Dia merebahkan tubuhnya di kasur, hari ini sangat melelahkan. Keyra sudah mengambil keputusan, lebih baik dia keluar kerja dari hotel dari pada harus menikah kontrak dengan atasannya. Mulai besok gadis itu tidak akan berangkat kerja dan mencari pekerjaan lain. Drrrrtttt... Drrrrtttt... Ponsel Keyra bergetar, membuatnya terbangun. Dia mengucek mata lalu meraih ponselnya. Ternyata dia hanya tertidur sekian menit saja. Kemudian, ia menerima panggilan telefon dari Bu Riani, ibunya. “Hallo,” sapa Keyra. “Hallo, Nak, kamu sehat?” tanya Bu Riani di seberang telefon. “Sehat, bagaimana dengan ibu? Sehat juga kan?” tanya Keyra dia punya firasat baik, pasti kali ini ibunya mau memberitahu kalau sudah mengirim uang ke nomor rekeningnya. “Ibu sehat juga, begini Keyra,” Bu Riani mulai mengatakan maksudnya. “Iya Bu ada apa?” sahut Keyra. “Besok, ibu akan mengirim uang untukmu, jadi kamu bisa membayar kos yang sudah menunggak tiga bulan, juga membeli keperluan yang kamu butuh kan,” kata wanita paruh baya itu. “Benarkah? Syukurlah! ,” jawab Keyra sangat bahagia akhirnya dia bisa yakin untuk tidak menerima tawaran Danish Alexi. “Baik lah Nak, bulan depan ibu juga akan usahakan untuk mengirim uang padamu,” ucapnya. “Iya, Bu terima kasih ya,” “Iya, kamu serius yang kuliahnya, jaga kesehatan juga,” pesan Sang Ibu. “Iya, Ibu juga,” “Iya,” Klik! Panggilan telefon berakhir. Gadis itu sangat senang bisa terbebas dari masalah ekonominya. Bukan hanya itu, yang paling penting ia tidak takut lagi, menolak tawaran dari Pak Danish. Keyra beranjak dari tidur. Tangan kirinya menjulur meraih map berwarna merah muda yang di berikan Danish kepadanya. Kemudian, gadis membukanya. Keyra mencobanya membaca isi perjanjian itu. Meski tidak terlalu paham. ‘Tidak ada hubungan intim, selama terjalin dalam ikatan pernikahan’ Membaca salah satu syarat itu, Keyra tersenyum geli. ‘Selamat tinggal,’ batinnya puas. Melempar map merah mudah itu ke kursi. Keyra melihat jam di pergelangan tangan, sudah pukul 21.09. Gadis itu segera meraih ponselnya untuk menghubungi Pak Danish. Ingin memberi jawaban agar pria itu tidak menantinya. Panggilan telefon terhubung. Tidak ada jawaban. Keyra berusaha menghubungi nomor Pak Danish lagi. ** Setelah mandi Danish hanya merebahkan tubuhnya di ranjang king size nya. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan kecuali menunggu jam sembilan tepat. Berharap gadis berumur 18 tahun yang menjadi cleaning service di hotel miliknya, bersedia menikah kontrak dengannya. Berkali-kali Danish mengganti posisi tidurnya, miring, terlentang, telungkup dan memeluk guling. Tak satu pun, posisi itu membuatnya merasa nyaman. Alarm ponsel Danish berbunyi pukul sembilan tepat. Danish yang sedang bengong sembari menatap langit-langit kamarnya segera meraih ponsel lalu memetikannya. Pria itu membuang nafas kesal, besok dia akan malu di hadapan papanya. Danish meremas rambutnya kesal. Kemudian, meraup kasar wajahnya. Semua berjalan tak sesuai keinginannya, seolah takdir tak berpihak padanya. Ponsel Danish berbunyi, panggilan telefon dari Keyra. “Dasar bocah! Kamu benar-benar sudah membuatku khawatir!” gumam Danish membiarkan ponselnya terus berdering tidak berniat menjawabnya, sangat yakin Keyra bersedia menerima tawarannya. Sejenak kemudian, ponselnya berdering kembali. Danish memutuskan untuk tidak menerima panggilan itu. Akhirnya malam ini ia bisa tidur nyenyak. . . . Pagi harinya, Danish dengan ceria turun ke lantai satu, ke ruang makan. Pak Suryo sudah menunggunya. “Ayo, makan dulu,” pinta Pak Suryo. “Iya, Pa,” sahut Danish yang tiba-tiba bersemangat. Mereka berdua mulai sibuk dengan makanan di piring yang ada di hadapan mereka. Pak Suryo sesekali memperhatikan raut wajah putranya yang lebih ceria dari hari-hari kemarin. “Jadi kapan Kamu akan mengenalkan Keyra kepada Papa?” tanya Pak Suryo. “Secepatnya Pa,” “Sungguh?” Papanya memastikan. “Iya!” “Baiklah kalau begitu nanti malam undang gadis itu makan di sini!” pinta Pak Suryo. “Siap Pa!” sahut Danish begitu yakin. Pagi ini Pak Suryo berangkat kerja di antar sopir karena ingin menjemput calon istrinya. Sedangkan Danish ia memilih berangkat ke kantor sendiri. Sudah tidak sabar menunggu Keyra datang ke kantornya. ** Jam sudah menunjukkan pukul 8.00, semua karyawan dan staf ‘cakrawala hotel’ sudah tiba sedang bekerja sesuai bagiannya masing-masing. Danish sedang duduk di singgasananya ketika ia melihat Keyra di CCTV yang tersambung ke laptopnya. Dia tersenyum, sudah tidak sabar mendengar jawaban gadis itu. Pintu terbuka otomatis. Keyra dengan langkah pasti masuk ke ruangan Danish Alexi dengan surat pengunduran diri yang di pegang erat dengan tangan kananya. Dia berdiri di hadapan Danish. “Pak ini surat pengunduran diri saya, saya tidak bisa menerima tawaran Anda!” ucapnya begitu lantang. Danish yang awalnya ceria, menjadi bungkam. Ternyata dia terlalu percaya diri. Menganggap gadis itu akan menerima tawarannya. “Saya pamit,” katanya lalu Keyra menaruh surat pengunduran diri itu di meja Danish. Kemudian, ia berbalik dan ingin segera keluar dari ruangan kantor Danish. “Tunggu!” cegah pria itu. Dia menatap Doni meminta bantuan. “Iya,” sahutnya. “Apa Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” Danish memohon dengan cara yang tidak memalukan baginya. “Iya, Pak saya sudah yakin!” tegas Keyra dan melangkah cepat ke pintu. Danish terduduk lesu. Tidak tahu apa yang ia katakan nanti malam di depan Papanya. Sedangkan, Sella ia menuju tempat parkir dan mengambil sepedanya. Ingin segera sampai di kos dan akan mencari lowongan pekerjaan lain. Keyra, mengayuh sepeda dengan semangat hingga dia tidak mendengar ponselnya yang terus berbunyi. Dua pulih menit kemudian sampailah gadis itu di tempat kosnya. Ia memarkir sepeda. Kemudian ia mengambil ponsel di saku bagian belakang celana jeans nya . Ada pesan dari ibunya. Bu Riani : [Nak, maafkan ibu tidak bisa kirim uang, karena uangnya mau buat bayar hutang, ibu malu di tagih setiap hari.] Keyra : [Iya, Bu, tak apa, aku masih punya uang dan punya pekerjaan. ] Keyra membalas pesan ibunya, dia berbohong karena tidak ingin membuat ibunya khawatir. Ia melangkahkan kakinya lemas menuju ke kamar kosnya. Keyra melempar ponselnya sembarang. Mengingat uang di dompetnya sudah habis. Dia sudah tidak memiliki uang lagi untuk makan karena sudah habis untuk membayar ojek online tadi pagi. Dia menelungkupkan wajahnya di bantal, menghunjamkan kuat-kuat. Ingin menangis, bukan hanya tidak punya uang sama sekali, dia juga sudah menunggak bayar kos selama tiga bulan. Gadis itu membalikkan tubuhnya, sehingga kedua kakinya menendang kursi dan menjatuhkan map yang di berikan Pak Danish. Dia memungutnya dan segera menghubungi nomor Pak Danish. Berharap tawaran pria itu masih berlaku karena dia ingin mengubah keputusannya. Panggilan telefon terhubung. “Hallo,” sapa pria itu, terdengar datar. “Hallo, Pak Danish ini saya Keyra!” ucap Keyra ramah. “Iya,” sahut Danish pelan, bersandiwara tidak ingin Keyra besar kepala, karena masih berharap gadis itu merubah keputusannya “Pak Danish, saya ingin mengubah keputusan yang telah saya buat, karena saya bersedia menerima tawaran Anda,” ucap Keyra dengan jelas dan tegas. “Benarkah?” celetuk Danish tidak percaya. “Iya, Pak, Saya bersedia menikah kontrak dengan Anda,” jawab gadis itu yakin. “Apa kamu sudah membaca isi perjanjiannya?” tanya Danish. “Sudah Pak, tetapi aku belum paham semuanya,” jawab Keyra jujur. “Emm, baiklah sekarang kamu ke ruanganku biar Doni yang menjelaskan semua untukmu,” jelas Danish. Dia tersenyum lebar merasa sangat senang. “Iya, Pak,” jawabnya singkat. “Baiklah, Keyra, aku ucapkan terima kasih, sekarang aku ingin melanjutkan pekerjaanku,” pamit Danish. “Tunggu sebentar Pak,” cegah gadis itu. “Iya, ada apa?” “Bolehkan aku mengambil uangnya terlebih dahulu!” pinta Keyra membuang rasa malunya. “Tentu,” sahut Danish, terjawab sudah alasan Keyra berubah pikiran. Demi uang. Klik! Panggilan telefon dimatikan. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN