10

1696 Kata
10. Rencana Pernikahan Mendadak. Pak Suryo yang awalnya yakin kalau pelayan wanita itu adalah kekasih Danish, menjadi bimbang kala melihat ekspresi gadis itu yang ketakutan. “Papa tidak semudah itu Kamu bohongi, Danish! Papa ini orang tuamu dan paham betul tipe wanita yang Kamu sukai!” protes Pak Suryo. Danis mengernyitkan dahi, menyatukan alisnya. Berpikiran ingin mengaku saja. Ya, ingin mengakui semuanya. Namun, bagaimana jika Sella dan Papanya benar-benar saling mencintai? Itu sama saja ia menghalangi Sang Papa untuk bahagia. Pria itu, berpikir sejenak tidak ada salahnya dia mengalah, mungkin saja Sella memang yang terbaik untuk mendampingi Pak Suryo. “Jangan diam saja Danish!” bentak Pak Suryo. Danish berpikir, semua orang menatapnya dengan pandangan yang tidak sabar. Pria itu mulai mengingat senyum Sang Papa akhir-akhir ini yang membuatnya tidak tega menghapus kebahagiaan itu begitu saja. Kemudian, Danish menggenggam tangan Keyra. “Saat Papa menikahi Tante Sella, saat itu juga Danish akan menjadikan Keyra sebagai istri Danish!” ucapnya dengan tegas dan lantang, sangat meyakinkan. “Baiklah, papa percaya!” sahut Pak Suryo tersenyum, membuang semua amarahnya. “Sayang ayo kita, kembali ke ruangan kita!” ajak Pak Suryo pada calon istrinya. Dia keluar dari kantor Danish. Kembali ke ruangannya diikuti Sella yang mengekor di belakangnya. Begitu pun pria suruhan Pak Suryo yang segera pergi dari sana. Kini di ruangan itu hanya ada Danish, Doni, dan Keyra. Doni yang awalnya berdiri segera duduk dan pura-pura sibuk menatap layar laptopnya. Danish melihat ke arah Keyra. Gadis itu mencoba protes, dari pandangan matanya yang membesar. Namun, Danish membuang muka begitu saja. “Berikan nomor ponselmu!” pinta Danish memberikan gawainya pada gadis itu. Keyra meraih ponsel Danish, lalu menyimpan nomornya. Kemudian, dia mengembalikan benda pipih nan canggih itu pada sang pemilik. “Temui aku di ruangan ini pukul empat sore!” suruh Danish pada gadis itu. “Baik,” jawab Keyra seraya menundukkan kepalanya. Sebelum pergi dari kantor Danish ia membawa kembali alat pembersih kaca yang ia gunakan. Danish kembali duduk di singgasananya. Dia meletakkan kedua lengan di meja dan menunduk putus asa. Doni yang sedari tadi sangat gemas dengan tindakan Danish, sudah tidak sabar lagi menunggu makan siang untuk meminta penjelasan dari semua tindakan tidak masuk akal dari rekannya itu. “Kamu pintar tapi bodoh!” ucap Doni dengan suara keras sambil berjalan ke arah Danish. Pria itu diam, sangat sadar dengan kebodohannya. “Kenapa kamu tidak memberitahukan semuanya! Jujur saja! Kenapa bersandiwara seperti orang bodoh! Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Danish!” tegas Doni hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya. Danish menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya. “Dengarkan aku! Jangan mengatai aku bodoh! Ingat ya aku ini atasanmu!” sanggah Danish tidak terima Doni mengejeknya. Doni diam, bergeming. Hening! “Aku sangat menyayangi Papaku, kau tahu sejak kepergian Mama aku tidak pernah melihat papa tersenyum selepas akhir-akhir ini saat dia bertemu dengan Sella!” ucap pria itu mengawali penjelasannya. “Itu bukan alasan yang masuk akal, Danish!” sanggah Doni. “Aku hanya ingin melihat Papa bahagia itu saja! Apa aku salah!” jelas Danish menahan suaranya agar tidak terlalu keras. “Kamu tidak salah, jika Kamu ingin membahagiakan Papa Kamu, tapi Kamu juga tidak harus menghancurkan hidupmu juga kan!” bantah Doni berusaha menyadarkan kesalahan besar yang batu saja Danish lakukan. “Apa maksudmu?!” tanya Danish polos. Dia kadang memang terlihat sangat bodoh ketika membuat keputusan untuk dirinya. Sangat berbanding terbalik dengan prestasi kinerjanya yang selalu bagus. “Untuk apa kamu berjanji menikahi pelayan itu!” kata Doni kesal. “Biar Papa percaya kalau aku tidak ada hubungan dengan Sella dan mereka bisa menikah!” jelas Danish. “Pernikahan bukan sebuah permainan Danish! Aku rasa Kamu belum dewasa! Sekarang aku tahu kenapa Sella lebih memilih papamu dari pada Kamu! Kamu benar-benar kekanak-kanakan!” ucap Doni marah. Ya! Kemarahannya karena dia sangat menyayangi Danish. “Diam Kamu! Aku tidak butuh nasihatmu! Aku akan menikahi gadis itu dan aku yakin Papa pasti akan bahagia lagi seperti dulu!” jelas Danish begitu yakin tidak mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Doni menggelengkan kepala. Untuk pertama kalinya dia merasa Danish yang selalu luar biasa saat bekerja itu. Saat ini benar-benar seperti anak balita yang tidak tahu apa-apa. Dia berjalan kembali ke meja kerjanya. Kini Doni berusaha fokus dengan beberapa dokumen rancangan desain bangunan hotel yang sesuai dan di minati pengunjung. Sedangkan Danish, dia masih saja terdiam, matanya melihat ke layar laptop. Namun, pandangannya kosong sibuk dengan pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya. ** Keyra duduk dengan beberapa pelayan wanita yang lain di belakang ruangan dapur. Gadis itu baru bekerja dua hari di “Cakrawala Hotel’ sebagai cleaning service. Dia masih berusia 18 tahun, dan sedang kuliah jurusan Administrasi di sebuah Universitas swasta di Jakarta. “Apa yang terjadi di ruang si tampan tadi siang?” tanya seniornya yang di maksud adalah Danish, pria itu mendapat julukan di tampan. Sedangkan Pak Suryo mendapatkan julukan si ganteng. Para pelayan itu mengagumi kedua petinggi di hotel tempatnya bekerja. “Aku sedang apes saja!” jawab Keyra asal, dia takut membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. “Aku dengar si tampan menciummu ya?” selidiknya lagi, merasa iri. Dia juga menginginkan ciuman dari bibir Danish. Keyra diam tak menjawab. “Mulai besok aku yang akan membersihkan ruangan si tampan! Kamu anak baru sudah pandai merayu!” sindirnya karena merasa Keyra ganjen, merayu kepala manajer di hotel ini. “Baik Kak,” jawab Keyra menurut, tidak penting baginya siapa yang membersihkan ruangan Danish, yang terpenting adalah ia bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membayar kuliahnya. Ketiga orang lainnya hanya diam, mereka kasihan melihat Keyra. Dia anak baru, wajahnya yang manis dan imut membuat si senior iri, dan menjadikannya sasaran kemarahan. Keyra membuka ponsel, melihat jadwal kuliahnya malam ini. Jam 5 tepat ada jadwal tatap muka. Dia mengangguk dan akan segera menuju kampusnya setelah selesai jam kerjanya pada pukul empat sore. Tiba-tiba terdengar keributan di arah dapur, tak seperti biasanya. Si senior dan semua pelayan wanita yang lain berjalan ke arah dapur penasaran apa yang terjadi di ruangan itu. Mereka semua melongo, Danish Alexi yang tak pernah sekali pun menginjakkan kakinya ke ruang dapur sedang berjalan di lorong dan hampir sampai di tempat masak, tempat para koki menyiapkan makanan untuk para tamu hotel. Di samping pria itu ada asistennya, Doni Dirgantara meski tak setampan Danish Alexi, pria itu juga tidak bisa di acuhkan begitu saja. Seorang koki senior berjalan mendekat ke arah Doni dan Danish. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya lelaki itu dengan tetap menjaga rasa sopan santunnya. “Kami sedang mencari karyawan bernama Keyra Eliana, sepertinya dia masih baru,” ucap Doni pada koki senior itu. Sedangkan Danish diam, stay cool, jaim, sok tampan seperti biasanya. Ya, dia memang tampan. “Sebentar,” jawabnya, menunduk seolah mengingat sesuatu. “Dia sepertinya belum lama bekerja di hotel ini,” jelas Doni. “Oh iya, aku ingat! Pak Danish dan Pak Doni tunggu sebentar biar saya memanggilnya terlebih dahulu,” ucap si koki dan berjalan ke belakang. Mencari Keyra di ruangan belakang, tempat para cleaning sevice istirahat. Koki senior sampai di ruangan belakang. “Keyra Pak Doni dan Pak Danish mencarimu! Ayo ikuti aku!” suruhnya pada Keyra yang masih duduk. Perlahan Keyra beranjak dari duduknya. Di ikuti tatapan dari teman yang lain, mereka menatap sinis dan yakin Keyra akan diberhentikan dari pekerjaannya saat ini juga. Keyra terus mengekor di belakang punggung pria yang memanggilnya itu. Dia berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya setelah ini. “Ini Keyra, saya sebagai atasannya meminta maaf apa bila, bawahan saya melakukan kesalahan,” kata kepala koki itu, dia ingin membela Keyra. Doni tersenyum tipis lalu memberi isyarat agar Keyra berjalan mengikutinya. Danish dan Doni berjalan terlebih dahulu, lalu Keyra berjalan di belakang mereka. Ketika sampai di lift, mereka bertiga masih diam saja. Hening! Keyra terus menunduk, dia sudah pasrah. Apapun yang terjadi, dia akan menjalani semuanya. Pintu lift terbuka. Ruang kantor Danish sudah terlihat. Jantung Keyra semakin berdetak lebih cepat, dan tidak teratur. Pintu terbuka lewat sensor sidik jari. Danish masuk terlebih dahulu di ikuti dua orang lainnya. “Silakan duduk Keyra!” suruh Danish mempersilakan karyawannya duduk di sofa. Keyra duduk, meski canggung dia mencoba menguasai rasa grogi dan ketakutannya. “Aku sudah tahu mengenai semua tentang dirimu Key! Menikah kontraklah denganku selama satu tahun, dan aku akan membiayai kuliahmu juga akan memberikan sejumlah uang berapa pun yang kamu minta!” tawar Danish memberikan map berisi surat perjanjian yang sudah ia siapkan tadi siang. Keyra menerima map itu, masih menunduk. “Di situ tertulis, aturan-aturan dan perjanjian yang tidak boleh kamu langgar sebelum satu tahun pernikahan kita!” jelas Danish. Hening! Doni dan Danish menunggu reaksi gadis itu, tidak sabar. Keyra melihat ke arah pergelangan tangan, jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat tepat, waktu kerjanya sudah habis dan ia harus segera berangkat ke kampus. “Bagaimana kalau aku tidak bersedia menikah dengan Anda?” Keyra memberanikan diri menanyakan hal itu. Danish menelan ludah, tidak percaya gadis itu lebih pemberani dari yang ia sangka. “Kalau Kamu tidak mau, kamu akan kehilangan pekerjaanmu!” jawab Danish santai tidak ingin terlihat memohon. “Saya akan memikirkannya terlebih dahulu, sekarang saya harus pulang,” izin Keyra. “Berapa lama Kamu akan memikirkannya?” tanya Danish tidak sabar. “Tiga hari!” jawab Keyra karena ingin berunding terlebih dahulu dengan ibunya. “Apa itu tidak terlalu lama!” protes Danish menatap tajam. Keyra menunduk diam, suara Danish yang keras membuatnya ketakutan. “Baiklah besok saya akan memberikan jawabannya Pak!” ucapnya lagi. “Jangan besok, nanti malam jam 9, aku tunggu jawabanmu!” balas Danish. “Baik Pak!” Keyra mengiyakan takut terlambat pergi ke kuliahnya sore ini. Keyra sengaja mengambil kuliah sore, agar paginya bisa ia gunakan untuk bekerja mencari uang tambahan. “Saya pergi dulu!” pamitnya beranjak dari duduk lalu tergesa menuju pintu. Maklum dia harus mengayuh sepeda untuk ke kampus. Jadi membutuhkan waktu lebih lama. “Tunggu! Biar aku yang mengantarmu ke kampus!” tawar Danish, mendapat celah untuk merayu gadis itu agar bersedia menikah kontrak dengannya. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN