Satu hari terlewati begitu saja. Baik Mike maupun Kiara, tak saling bertegur-sapa. Mike terlihat berusaha untuk menjaga imagenya di depan Kiara. Meski sejujurnya, ia sangat ingin mendekati Kiara.
Pria itu masih merasakan lembut bibir Kiara pagi tadi. Kecupan, itulah kata yang tepat dengan kejadian itu. Mike mengusap bibirnya lembut. Aroma parfum dan shampoo Kiara, masih terendus oleh penciumannya.
Kiara, kau membuatku gila! Sebaiknya aku segera pulang dan mempersiapkan barang yang harus ku bawa.
Mike segera membereskan meja kerjanya dan memilih pulang. Senin nanti, ia dan Kiara akan bertolak ke Surabaya. Senyum tipis, mengembang di wajahnya. Satu minggu bersama Kiara, membuatnya merasa senang.
Kiara, apa aku bisa memilikimu?
Baru saja Mike menarik handel pintu, ia dikejutkan dengan kedatangan Kiara. Mike berusaha bersikap sewajarnya.
"Ada apa, Kiara?" tanya Mike.
"Begini, Pak." Kiara menarik napas lebih dulu dan menghembuskannya perlahan.
"Apa ada yang bisa saya persiapkan untuk keperluan, Anda, di Surabaya nanti?" tanyanya sopan.
"Tidak perlu. Cukup hotel saja. Masalah kendaraan selama kita di sana, sudah disiapkan oleh direktur cabang." Kiara menganggukkan kepala mengerti.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." Kiara berbalik menuju mejanya.
"Kamu tidak pulang?" tanya Mike, menginterupsi gerakan Kiara.
"Sebentar lagi, Pak," jawab Kiara saat berbalik.
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, dan membereskan meja kerjanya. Sementara Mike, melanjutkan langkahnya menuju lift.
Butuh waktu beberapa menit, hingga lift tiba di lantai, tempatnya bekerja. Saat menunggu, Kiara sudah berdiri di samping Mike. Wanita itu mencoba untuk bersikap biasa saja.
Lupakan, Ki! Kejadian pagi tadi, hanya ketidak-sengajaan!
Lift khusus petinggi lebih dulu terbuka. Mike melangkah masuk dan menekan lantai dasar—tempat lobby berada. Melihat Kiara yang masih menunggu, pria itu menahan lift kembali.
"Ayo, menunggu lift karyawan, akan membuatmu lelah. Ini jam pulang, dan lift pasti akan penuh," tutur Mike.
"Tidak apa, Pak. Biar saya menunggu saja." Kiara menundukkan kepala, memberi hormat.
"Dijemput, atau naik taksi?" Kiara terlihat berpikir.
Kiara menggelengkan kepala. Ia tidak tahu, apakah Kevin menjemputnya atau tidak? Kevin tidak mengabarinya.Kiara berpikir, mungkin suami tercintanya itu tengah disibukkan dengan pekerjaan.
Mike menaikkan sebelah alisnya. "Sudah, masuk saja!" perintah Mike.
"Tapi ...." Kiara tidak bisa melanjutkan ucapannya, saat Mike menarik pergelangan tangan wanita itu.
Hal ini membuat Kiara terdiam. Ia merasakan kecanggungan melingkupi ruang sempit itu. Kiara pun meremas jemarinya pelan. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka, hingga denting lift membuyarkan lamunan keduanya.
"Saya permisi, Pak," pamit Kiara.
Mike hanya menganggukkan kepala. Matanya terus menatap punggung Kiara hingga menghilang dari pandangannya. Mike pun menuju parkiran. Tanpa membuang waktu, ia segera melajukan kendaraannya. keluar dari gedung Prakasa Group.
***
Kiara berdiri di halte, seraya memegang ponselnya. Tidak mendapati sang suami di lobby, membuatnya memesan ojek online. Namun, di tengah penantiannya, sebuah mobil Pajero hitam berhenti didekatnya.
"Kamu mau pulang?" tanya Mike.
"Iya, Pak," jawab Kiara singkat.
"Oh, kalau begitu ayo sekalian," ajaknya.
"Tidak usah, Pak. Biar saya naik ojek saja." Akhirnya Kiara memutuskan menolak tawaran Mike.
"Kamu takut ya?" Kiara tersenyum masam.
"Tenang saja. Ayo!" paksa nya.
Alih-alih menolak, Kiara justru membuka pintu mobil samping Mike dan duduk bersebelahan dengan atasannya itu. Mike segera menjalankan mobil, setelah Kiara menggunakan safety belt.
"Boleh saya minta sesuatu?" ucap Mike memecahkan keheningan. Kiara menatap Mike bingung.
Minta apa? Kiara mengangguk ragu.
"Kalau di luar kantor dan tidak di jam kerja, bisa tidak panggil nama saya saja?" pinta Mike tanpa memandang Kiara.
"Maaf?" Kiara sedikit merasa heran.
"Iya. Tidak usah seformal itu." Kiara menatap Mike tidak percaya.
Mike mengalihkan pandangannya pada Kiara setelah menunggu beberapa menit. Kiara segera membuang pandangannya ke luar saat bertatapan mata langsung, sang atasan.
"Bisa?" Kembali, Mike bertanya.
Saat ini, mereka tengah terjebak lampu lalu lintas yang telah berubah warna menjadi merah. Kiara menarik nafas pelan dan menghembuskannya perlahan.
"Boleh. Mike," ucapnya canggung.
"Ah, begitu terdengar lebih baik."
Mereka pun kembali larut dalam pikiran masing-masing. Keduanya tak menyadari, jika Kiara sudah berada di daerah tempat tinggalnya.
"Sudah, Mike, di sini saja," pinta Kiara.
"Apa masih jauh dari sini?" tanya Mike.
Kiara minta di turunkan di pinggir jalan, membuat Mike sedikit khawatir pada wanita itu. Wanita, yang kini merajai hatinya.
"Tidak, kok. Saya bisa berjalan kaki atau memesan ojek online. Sudah dekat," elaknya.
Mike menganggukkan kepala mengerti dan menghentikan mobilnya. Kiara membuka pintu dan berpamitan. Setelah mobil Mike menjauh, ia segera memesan ojek online. Hari ini, ia merasa sangat lelah. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, ojek pesanan Kiara datang dan mengantarnya, hingga ke tujuan.
***
"Mama," teriak dua bocah kecil menghampiri Kiara.
Baru saja kakinya menapaki jalan, kedua anaknya sudah memeluknya. Kiara berjongkok dan menyambut mereka dalam pelukannya. Ia tersenyum lembut pada kedua malaikatnya. Kiara juga menghujani kedua bocah itu dengan ciuman, hingga mereka terkikik menahan geli.
"Wah, kakak dan adik sudah dicium Mama. Papa juga mau dong, Ma," ucap suami Kiara dengan nada merajuk layaknya kedua anak mereka.
Kiara melepas kedua bocah itu dan bangkit berdiri. Kemudian, ia menatap dalam mata suami tercintanya dan tersenyum. Terlihat binar cinta dalam mata sang suami.
"Papa, minta dicium juga?" Pria di hadapannya itu mengangguk antusias. Kemudian menyodorkan pipinya untuk Kiara kecup.
Kiara pun mengecupnya. Kedua bocah di belakangnya sudah tertawa geli melihat kemesraan kedua orangtuanya. Malam itu, mereka habiskan dengan penuh cinta di rumah kecil mereka. Saling menceritakan kegiatan satu hari ini yang mereka lalui.
***
Di kamar utama. Terlihat pasangan suami istri yang tengah bersandar di kepala ranjang. Setelah mengantar kedua anaknya tidur, Kiara kembali ke kamar dan ikut duduk di samping suaminya.
"Mas, tumben pulang cepat hari ini," ucap Kiara.
"Iya. Pekerjaan ku tidak terlalu banyak seperti kemarin. Lagipula, aku merindukan kebersamaan dengan anak-anak serta dirimu." Mata pria itu menatap Kiara dengan penuh cinta.
Kiara mendekat dan memeluknya erat. "Aku juga, Mas."
Malam itupun berlalu dengan gejolak asmara yang masih membara diantara mereka. Meski sudah lebih dari lima tahun, cinta itu seakan tak lekang oleh waktu. Hampir satu jam, pergulatan mereka baru usai.
"Mas, pertengahan bulan nanti, aku ada pekerjaan di Surabaya," ucap Kiara setelah mereka membersihkan diri.
Wanita itu, kini bersandar nyaman di d**a bidang sang suami. Kevin menyambutnya dengan senyum merekah. Mencium puncak kepala Kiara dengan cinta.
"Berapa lama?" tanya Kevin, kemudian.
"Mungkin satu minggu. Belum tahu juga. Mudah-mudahan bisa selesai cepat," harap Kiara.
"Kamu jangan nakal, ya. Apalagi, bos kamu kelihatan menyukai kamu?" Kiara menengadahkan kepalanya. Menatap manik hitam pekat yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Mas, meragukan ku, ya?" Kevin sang suami terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Aku tidak akan pernah meragukan mu, Sayang," ucap Kevin yakin.
Bukan kamu yang kuragukan, Sayang, tetapi pria itu. Kevin hanya mampu mengatakan itu dalam hatinya.
Kiara pun tersenyum dan kembali menenggelamkan diri dalam pelukan Kevin. Keduanya terlelap dan terbuai dalam mimpi indah.