Semakin Menginginkan Kiara

1286 Kata
Hari ini, Kiara akan melakukan perjalanan bisnis bersama General Manager perusahaannya, Mike. Ia bangun lebih awal dan mulai menyiapkan sarapan, serta membuat lauk pauk yang bisa diolah oleh suami serta ART di rumahnya. Kiara menyiapkan berbagai menu, serta bekal untuk suami dan anak-anaknya tercinta. Pukul enam, ia mulai membangunkan suaminya dan memberikan morning kiss seperti biasa. Jam tujuh, Kiara sudah rapi dengan setelan kerja. Ia mengeluarkan koper kecil miliknya, dan memasukkannya ke dalam mobil. Saat kembali masuk, Devan, Dina dan Kevin sudah duduk di meja makan. Mereka memulai sarapan bersama. Kiara memberikan beberapa petuah pada kedua anaknya. Mengingatkan mereka untuk mematuhi perintah papa serta asisten yang menjaga mereka. "Nanti, saat mama kerja, Kakak sama Adik harus akur, ya. Kasihan Papa dan Mbak. Jangan lupa makan, dengarkan ucapan eyang, Papa sama Mbak, ya, Nak," pinta Kiara dengan lembut pada kedua buah hatinya. Tangannya terulur dan mengusap lembut rambut keduanya, bergantian "Iya, Ma," jawab mereka bersamaan. "Jangan lupa telepon kita, ya, Ma. Terus oleh-oleh juga," teriak Devan putranya dengan suara khas anak-anak. "Siap, Bos." Kiara mengangkat tangan seakan memberi hormat. Devan tertawa. "Dina juga, ya, Ma," putri kecilnya ikut bersuara tak mau kalah. "Baik, Tuan putri," ucap Kiara lembut pada putri kecilnya. "Bagaimana dengan, Tuan raja?" Kali ini, mata Kiara menatap jahil pada suaminya. Kevin menyipitkan matanya seakan berpikir. Kemudian, ia tersenyum menatap lembut pada istrinya itu. "Papa minta apa, ya?" Kiara yang menunggu suaminya bicara tak sabar menggerakkan matanya. Seakan bertanya 'apa'? "Papa cuma minta mama selalu kabari papa seperti biasa. Tapi, jika boleh papa dan anak-anak ingin menyusul, Mama," ucap Kevin seraya menatap kedua anaknya bergantian. Kedua bocah itu berteriak kegirangan menyetujui ide Kevin. Kiara tertawa melihat itu. Seindah inilah keluarganya. "Boleh. Tapi, kalau kalian libur sekolah, dan Papa sedang tidak sibuk," jawab Kiara. Kali ini, Kevin tersenyum senang dan menatap istrinya dengan penuh cinta. Sungguh, wanita dihadapannya ini adalah yang paling sempurna dari semua wanita. Bagi Kevin keluarga kecilnya ini, adalah anugerah terindah dari Tuhan. *** Kiara tiba di kantor tepat pukul setengah sembilan pagi. Seperti biasa, Kevin akan mengantar Kiara, setelah memastikan kedua buah hatinya masuk ke kelas. Kevin memeluk Kiara erat, seakan ia takut kehilangan wanita dalam dekapannya itu. Entah mengapa, kali ini hatinya tak rela melepas Kiara. Ada perasaan aneh, yang membuatnya tak ingin jauh. Rasa yang tak bisa ia jelaskan. Setelah melepas pelukannya, Kevin mengecup keningnya mesra. Tidak lupa ia mengingatkan pada Kiara, agar terus menghubunginya dan anak-anak. Tentu saja hanya dibalas anggukan oleh Kiara. Kiara pun berpamitan. Ia menitipkan kopernya di bagian loby. Ia akan ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa file pekerjaan serta laptop yang sudah ia sediakan. "Sudah siap?" Sebuah suara terdengar dari belakangnya. Membuat Kiara menoleh. Kiara baru saja tiba di mejanya, saat Mike menyapa. Wanita itu bahkan, tidak mengetahui kedatangan sang atasan. Sejak kapan dia berdiri di belakangku? Kaya hantu aja! gerutunya. "Sudah, Pak," jawab Kiara. Mike melangkah masuk dan mengambil beberapa file tambahan yang sudah disiapkan nya. Setelah itu, ia menghampiri Kiara dan mengisyaratkan, agar mereka segera berangkat. Kiara menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Mike. Tiba di lobby, sebuah mobil sudah menunggu keduanya. Kiara mengambil koper miliknya. Supir yang akan mengantar, segera menghampiri dan mengambil koper di tangan kiara. Menghindari kontak langsung, Kiara memilih duduk di bangku penumpang bagian depan. Mike tidak mempermasalahkan, dan membiarkan Kiara dengan keinginannya. *** Tiba di bandara, Mike dan Kiara segera melakukan check in dan boarding pass. Setelahnya, koper mereka dimasukan dalam bagasi pesawat. Kiara, memegang tiket Mike dan dirinya, serta laptop dan file yang sudah di siapkan nya. Sementara Mike, hanya membawa laptop serta file tambahan. Mereka menunggu di ruang tunggu bandara. Setelah lima belas menit, mereka mulai melangkah memasuki badan pesawat. Mereka menempati kelas bisnis, sebagaimana mestinya, dan kursi mereka pun, bersebelahan. Kiara kesulitan mendorong kursinya agak ke belakang. Sejujurnya, ia sedikit mengantuk dan ingin memejamkan mata barang sejenak. Namun, kursi yang di duduki, sepertinya mengalami kemacetan. Mike yang melihat Kiara kesulitan, berniat membantunya. Ia menekan tombol yang ada di bawah kursi Kiara. Aroma parfum lembut milik Mike, memenuhi indera penciuman Kiara. Kiara seakan terhipnotis dengan aroma itu. Sepersekian detik, Kiara terperangkap dalam aroma itu. Bahkan ia tak menyadari, jika Mike sudah menjauh. Mike yang melihat Kiara belum menggunakan seat belt pun, membantunya. Seketika, Kiara tersadar. Namun, kali ini Mike terjebak dalam aroma parfum milik Kiara. Seakan membuat Mike, ingin merengkuh tubuh mungil itu. Mike segera menjauh dan berdeham untuk menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Sungguh, ia ingin mencumbu wanita di sampingnya itu. Ada gejolak yang membakar jiwa kelelakiannya. Dia punya pesona yang tak bisa kuabaikan. Mereka terdiam, hingga perlahan, Kiara terlelap. Mike menikmati wajah cantik wanita di sampingnya ini. Meski sudah menjadi seorang ibu, wanita itu memiliki pesona yang mampu menarik akal sehatnya. Terbersit dalam benaknya untuk memiliki Kiara. Bahkan, ia menginginkan Kiara. Meskipun dirinya hanya akan menjadi yang kedua atau kekasih gelapnya. Jantung Mike berdegup dengan kencangnya saat memikirkan hal itu. Pria itu, mencoba menyadarkan logikanya kembali. Ia membuang muka ke arah lain. Mikir apa kamu Mike, dia itu istri orang. Jangan gila kamu. Apa kamu ingin jadi selingkuhannya? Bodoh, kau itu punya masa depan yang cerah. Banyak gadis singel di luar sana yang tergila-gila denganmu. Sejenak, Mike mengatur nafasnya. Saat ia kembali menatap Kiara, belahan bibir Kiara seakan menggodanya. Mike menggigit bibirnya menahan keinginan yang menggebu dalam benak pria itu. Ia begitu ingin melumat belahan merah muda itu. Terbayang dalam benaknya rasa manis, lembut dan sensasi yang memabukkan saat mencicipi bibir itu. Lagi-lagi, Mike membangkitkan logikanya. Ia kembali memalingkan wajahnya dari wajah Kiara. Tak lama, terdengar pemberitahuan, jika pesawat yang mereka tumpangi, akan segera mendarat. Bisa gila aku! Mike menetralkan degup jantungnya lagi. Ia harus bisa bersikap biasa, di hadapan Kiara. Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, Mike pun membangunkan Kiara. "Kiara, bangun kita sudah sampai," ucapnya. Perlahan, Kiara mulai membuka matanya. Ia bergerak cepat dan meminta maaf pada Mike. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menghampirinya. "Maaf, Pak, saya ketiduran," ucapnya. "Tidak apa. Semalam saya cukup tidur, kok," jawab Mike. Mereka pun bersiap turun dari pesawat. Saat mereka akan menuju lobby bandara, seseorang menabrak Kiara, hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Dengan cepat, Mike menyambar pinggang Kiara dan memeluknya. Detak jantung Kiara dan Mike mulai berpacu saat mereka terlibat kontak fisik. Meski berniat menolong Kiara, nyatanya Mike terhanyut dalam suasana. Sekelebat bayangan yang sempat hinggap saat di dalam pesawat tadi kembali muncul. Kiara sendiri, terhipnotis dengan mata hazel tak berdasar milik Mike. Suara hati Kiara menyadarkannya dan membuat Kiara berdiri tegak. "Terima kasih, Pak sudah menolong saya," ucap Kiara seraya menundukkan pandangannya. Wanita itu tak lagi berani menatap mata hazel milik Mike. Ia takut terhanyut dalam gelombang yang akan membawanya dalam kehancuran. Mike salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan hanya menjawab dengan gumaman. Mereka pun melanjutkan langkahnya. Sedetik kemudian, Mike berbalik dan menatap Kiara. "Sudah ku bilang, jika sedang di luar kantor, kau bisa memanggil namaku," ucap Mike. Kiara tak mampu menjawab dan hanya mengangguk. Kiara mengusap dadanya saat Mike sudah membelakanginya. Sungguh, menatap mata Mike sangat tidak bisa ia lakukan. Kiara, ingat anak dan suami mu. Hati kecilnya, mulai memberi peringatan. Kiara mengikuti langkah Mike, untuk mengambil koper mereka. Setelah mendapatkan barang bawaan mereka, keduanya segera menuju lobby. Di sana, mobil yang menjemput mereka, sudah menunggu. Kiara memilih duduk di kursi depan demi menghindari kontak fisik lanjutan seperti tadi. Saat ini, hanya itu yang bisa ia lakukan. Mobil pun melaju menuju kantor cabang. Tanpa sedikit pun pemberitahuan, jika mereka akan melakukan inspeksi dadakan. Setiap karyawan terkejut, melihat kedatangan atasan yang datang langsung dari pusat. Namun, tidak bagi Direktur cabang di sana. Para karyawan menunduk hormat pada keduanya. Mike meminta setiap divisi, untuk segera menyiapkan laporan dan diserahkan besok sebelum rapat dimulai. Setelah itu, Mike dan Kiara segera berpamitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN