Fantasi Mike

1124 Kata
Pekerjaan hari ini pun usai. Langit berubah jingga, saat keduanya tiba di hotel bintang lima, yang Kiara booking. Sengaja, ia memilih hotel yang tidak terlalu jauh dari kantor cabang mereka. Alasan utamanya, adalah menghindari kemacetan. "Selamat beristirahat, Pak," ucap Kiara, setelah mereka tiba di lantai tujuh, hotel itu. Wanita itu pun segera melangkah menuju ruang kamarnya. "Kiara," panggil Mike. Kiara berbalik dan menunggu Mike bicara. Namun, pria itu hanya diam. Kiara masih menunggu. Detik demi detik berlalu. Setiap kata yang ingin Mike ucapkan terasa tersangkut di tenggorokannya. Mike pun berdeham untuk melegakan tenggorokannya. "Tidak ada. Masuklah ke kamarmu dan istirahatlah," ucap pria itu. Mike pun menutup pintunya. Kiara hanya terdiam melihat keanehan dari atasannya. Ia melangkah meninggalkan lorong dan memasuki kamarnya. *** Di dalam kamarnya, Mike menghembuskan nafas kasar. Hampir saja, pria itu menarik Kiara memasuki kamar yang ia tempati. Sepertinya, ia tak akan mampu bertahan, jika terus memandang ke dalam mata Kiara. Pria itu segera membersihkan tubuhnya. Usai membersihkan diri, Mike membaringkan tubuh lelahnya. Menjadikan lengan sebagai bantal. Mata pria itu, menatap langit-langit kamar. Entah mengapa, bayangan Kiara terlihat menari di atas sana. Melihat senyum di bibir mungil, dan wajah cantik Kiara, seakan membuat Mike ingin berlari menemuinya. Namun, Mike memejamkan mata erat. Mencoba memendam gejolak dalam jiwa. "Andai aku bisa memilikimu, Kiara," gumam Mike. *** Sementara di kamarnya, Kiara tengah melakukan video call dengan anak-anak dan suaminya. Ia begitu merindukan keluarga kecilnya itu. Cukup lama mereka, melepas kerinduan dengan panggilan itu. Menatap wajah malaikat kecilnya, dan wajah teduh Kevin. Puas melakukan panggilan, Kiara pun berniat akan turun ke restoran dan makan malam. Bagaimanapun, ia harus menjaga kondisi kesehatannya. Apalagi, ia tengah berada jauh dari keluarga. Kiara tak ingin membuat mereka khawatir. Wanita itu memutuskan keluar dari kamar. Saat melewati kamar Mike, ia menghentikan langkah. Terdiam sesaat, seakan tengah berpikir. Apa aku harus mengingatkan, Pak Mike untuk makan malam? Tapi .... "Kiara." Suara itu, membuat Kiara tersentak. Kiara ingin mengangkat pandangannya. Namun, tubuhnya terasa kaku, dan tak mampu ia gerakkan. Sekuat tenaga, wanita itu berbalik. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup kencang, saat melihat Mike, dengan outfit santai seperti ini. Tampan, gumamnya dalam hati. "Ya," jawab Kiara. "Mau makan malam?" Kiara menganggukkan kepala. "Ayo! Saya juga lapar," ajak Mike. Oh, tidak. Tidak bisakah kau membiarkan ku pergi sendiri? Kiara tersenyum paksa pada Mike. Keduanya pun berjalan beriringan. Telapak tangan Kiara berkeringat, akibat rasa gugup yang berlebihan. Kiara hanya menundukkan pandangan, saat matanya menangkap bayangan Mike yang menatap dirinya. Dari pantulan lift, Kiara bisa melihat tatapan Mike yang lekat padanya. "Bapak, ingin makan di mana?" tanya Kiara, memecahkan kecanggungan. "Mike, Kiara! Bukan, Bapak!" Mike mengingatkan Kiara dengan wajah datar. "Ah, maaf. Mike," ucapnya. "Kamu sendiri?" Mike balik bertanya. "Saya ingin mencari tempat di luar hotel," jawab Kiara. Kiara terlihat tak lagi canggung, seperti sebelumnya. Wanita itu bahkan sudah mau mengangkat pandangannya. Tanpa Mike ketahui, wanita itu berusaha keras untuk menetralkan diri. "Saya ikut!" Kiara terkejut mendengar jawaban Mike. "Hah?" Mike tak lagi bicara. Pria itu segera melangkah keluar, saat lift terbuka. Kiara pun mengikuti langkah Mike. "Naik mobil, atau jalan?" tanya Mike, saat mereka hampir keluar dari lobby. "Saya ingin jalan kaki saja." Mike menganggukkan kepala dan berjalan lebih dulu. Mereka memilih salah satu tenda yang berjajar di pinggir jalan. Kiara baru mengetahui sisi lain Mike. Jika kebanyakan orang yang berkedudukan tinggi memilih makan di restoran mewah, itu tidak berlaku untuk Mike. Pria itu justru lebih menyukai makanan pinggir jalan seperti ini. "Kamu mau makan apa?" tanya Mike. "Aku mau makan rawon saja," jawab Kiara. "Aku ikut." Mike tersenyum manis pada Kiara. Kembali, wanita itu terkejut dengan ucapan Mike. Kiara, please.... Jangan jatuh cinta pada boss mu sendiri. Kamu ingatkan, kalau kamu sudah punya Devan dan Dina. Kevin itu suami yang baik. Jaga perasaan suami dan anak-anakmu. Kiara terus memperingati dirinya sendiri. Mike dan Kiara memilih duduk di bagian pojok tenda. Setelah mengatakan pesanannya, mereka pun mulai berbincang santai. Bukan tentang pekerjaan, hanya tentang pribadi masing-masing. Mike lebih banyak bertanya tentang anak-anak Kiara. Kiara sendiri tidak menyadari maksud Mike, yang tengah melakukan pendekatan dengannya. Anak, adalah salah satu kelemahan Kiara. Sepertinya, pria itu akan menarik simpati kedua anak Kiara—nantinya. Mike mengalihkan pembicaraan mereka, dengan mempertanyakan suami Kiara. Mencari tahu kelemahan Kevin, agar ia bisa masuk di antara mereka. "Jadi, kamu dan suamimu bertemu di kampus?" Kiara mengangguk seraya meminum kuah rawon miliknya. "Dan sebelumnya, kamu tidak pernah jatuh cinta?" Kiara kembali mengangguk. "Iya. Karena orangtuaku, melarang ku dekat dengan laki-laki. Tapi, saat bertemu Kevin, kedua orangtuaku langsung setuju." Kiara mengambil jus orange miliknya dan meminum secara perlahan. Mike mengangguk. Entah apa yang di pikirkan pria itu. Hanya dirinyalah yang tahu. Mike tersenyum menatap wajah Kiara yang terlihat cantik, meski tanpa make up sekalipun. Cantik dan manis, suara hati Mike. Mata Mike menatap belahan bibir Kiara yang berwarna pink alami. Tanpa sadar, pria itu menggigit bibirnya sendiri dan meneguk salivanya dengan sulit. Pria itu berusaha mengenyahkan pikirannya yang sudah melayang tinggi. Hentikan Mike! Jangan ganggu kehidupan Kiara yang sudah cukup bahagia! Mike memperingatkan dirinya. Tanpa Mike sadari, hati dan pikirannya tidak sejalan. Mike mulai menginginkan Kiara. Ia bahkan berfantasi saat matanya menatap bibir wanita di depan. Mike membayangkan, bagaimana rasanya saat ia meraup bibir itu, atau bahkan mendekap tubuh Kiara dalam peluknya? Menggagahinya dan melakukan percintaan dengan dahsyatnya. Mike tersadar saat Kiara mulai bangkit berdiri. Mereka pun kembali ke hotel setelah membayar pesanan yang mereka makan tadi. Mike hanya terdiam sepanjang jalan. Semua kecanggungan yang sempat mencair, seakan kembali membeku.Kiara tersenyum dan menunduk hormat untuk berpamitan. Setelah itu, Kiara memasuki kamarnya. *** Pagi harinya, Kiara mengetuk pintu kamar Mike. Hari ini, mereka akan melakukan rapat di kantor cabang. Beberapa kali Kiara mencoba mengetuk. Namun, tak ada sahutan dari dalam, hingga sepuluh menit kemudian, Kiara berinisiatif menghubungi atasannya itu. Tak berapa lama, terlihat pintu kamar Mike yang terbuka. Kiara terkejut melihat atasannya itu masih dalam keadaan setengah mengantuk. Apa dia tidak tidur? "Tunggu di dalam saja. Aku kesiangan," ucap pria. Tak ingin berdebat, Kiara pun membantu Mike menyiapkan pakaian dan dasi. Berharap mereka tidak hadir terlambat. Untuk pakaian dalam, Kiara tidak menyentuhnya. Baginya, itu adalah bagian privasi dari Mike. Setelah selesai, Kiara duduk di sofa dan membuka laptopnya sambil menunggu Mike. Saat Kiara tengah memeriksa email, Mike keluar dan mengancingkan kemeja yang dipilih Kiara tadi. Reflek, Kiara maju dan membantu memasangkan dasi. Kini, mereka berdua terlihat sangat dekat. Mike bahkan bisa mencium aroma harum dari tubuh Kiara. Ingin sekali Mike merengkuhnya dan melumat belahan bibir wanita di hadapannya ini. Sejujurnya, Kiara hanya berniat membantu atasannya. Aroma nafas Mike yang segar menerpa wajah Kiara. Detik berikutnya, Kiara menatap manik mata milik Mike. Begitupun pria di depannya. Mereka saling menatap dalam diam. Mike memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir yang jadi fantasi pria itu semalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN