Gejolak yang belakangan menerpa, kini semakin membuncah. Baru saja Mike menggerakkan bibirnya, Kiara segera tersadar. Ia mendorong tubuh Mike sekuat tenaga.
Mike yang tak siap, terjatuh dengan menarik lengan Kiara. Wanita itupun ikut terjatuh dan menimpa tubuh kekar milik Mike. Mata Kiara membola mendapati posisi mereka yang cukup intim. Secepat kilat, Kiara berdiri dan menjauh.
"Ma-maaf," ucap Mike terbata.
Kiara hanya diam tak menjawab. Jantungnya semakin berdetak kencang saat ini. Wajahnya bahkan terlihat pucat pasi.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, Pak." Kiara berjalan mendahului Mike.
Ia tak lagi menoleh. Hatinya terasa berdenyut perih saat bayangan sang suami serta kedua buah cintanya bersama Kevin, melintas. Kiara menggigit bibirnya menahan isakan.
Tanpa terasa, setetes cairan bening meluncur, tanpa bisa ia cegah. Secepat kilat, Kiara menghapusnya. Sementara Mike yang berjalan di belakangnya, menatap nanar punggung wanita itu. Ingin pria itu merengkuh tubuh Kiara dalam pelukannya.
Aku pasti akan memilikimu! Harus! Mike bertekad, untuk merebut Kiara, dari suaminya.
***
Keduanya tiba di perusahaan tepat waktu. Mereka segera menuju ruang rapat. Semua kepala divisi, serta manager yang bekerja di sana telah berkumpul. Mike duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Sementara Kiara, ada dibelakangnya.
Setiap divisi mulai menyampaikan seluruh laporan kerja mereka enam bulan terakhir. Prakasa Group, memang rutin melakukan kunjungan ke setiap cabang selama enam bulan sekali.
Hampir tiga jam mereka berkumpul membahas rencana untuk meningkatkan profit perusahaan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang real estate and property di cabang Surabaya ini, tidak mengalami kemajuan. Bisa dibilang, berjalan di tempat. Mike menunda rapat hingga esok hari. Ia harus memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
Dalam perjalanan kembali, Kiara melirik Mike dengan ekor matanya. Mike yang tengah tenggelam dalam pikirannya, membuat Kiara terkesima. Lagi, Kiara menggelengkan kepala menghapus pikiran yang akan membuat keluarganya hancur.
Mereka pun berjalan menuju lift. Mike masih terlihat sibuk dengan pikirannya. kiara berdeham, dan itu sukses menarik atensi Mike. Pria itu menoleh dan menatap Kiara.
"Kenapa?" tanya Mike.
"Saya hanya ingin bertanya." Mike memberi isyarat, jika Kiara bisa melanjutkan ucapannya.
"Apa perusahaan kita memiliki sosial media, website, atau blog mungkin?"
Mike terdiam. "Ada. Tapi, hanya berpusat di Jakarta."
"Apa dari sana menunjukkan kemajuan?" Mike mengangguk.
"Kenapa tidak diterapkan juga untuk di sini?" tanya Kiara. Mike terdiam sesaat.
"Masalah ini pernah kubicarakan dengan Direktur utama saat rapat terakhir. Tapi, beliau tidak menggubrisnya."
Keduanya terdiam memikirkan jalan keluar atas masalah perusahaan.
"Kiara, aku minta maaf atas kejadian pagi tadi. Aku—"
"Sudahlah. Lupakan saja!" Kiara menyela dan membuang pandangannya.
Jika saja aku tidak membutuhkan pekerjaan ini, sudah sejak awal aku resign.
***
Empat hari sudah Mike dan Kiara bersama di Surabaya. Dengan gencar, Mike selalu mengajak Kiara sarapan, makan siang, hingga makan malam bersama. Awalnya, ia hanya ingin membahas pekerjaan dengan Kiara.
"Kiara," panggil Mike.
Kiara mengangkat pandangannya. Ia menatap lekat manik hazel milik pria di hadapannya itu. Mike pun melakukan hal yang sama. Mereka hanyut dalam tatapan yang tak berujung. Mike dengan tatapan mendamba, dan Kiara dalam tatapan penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Kiara, menyadarkan Mike dari lamunannya.
"Aku hanya ingin tahu, apa alasanmu bekerja? Bukankah suamimu memiliki usaha sendiri?" tanya Mike.
Kiara terdiam. Ia tak langsung menjawab pertanyaan dari Mike. Bukan karena dirinya merasa malu dengan kondisi keluarganya saat ini, tetapi ia tengah menimbang, layakkah ia menceritakan masalah keluarganya pada orang lain?
"Maaf. Jika kau tidak ingin menjawabnya, tidak masalah. Tidak pantas rasanya kalau aku mempertanyakan hal yang sangat privasi seperti ini," ucap Mike cepat.
Selama beberapa waktu ia bekerja bersama Kiara, Mike sadar, jika wanita di hadapannya ini, adalah wanita yang sangat profesional. Membicarakan masalah pribadi pun, Kiara tidak pernah. Atau mungkin, Kiara yang pandai menutupi masalah pribadinya.
"Terima kasih atas pengertianmu. Maaf, karena aku tidak bisa memberitahukan apa pun padamu," ucap Kiara lirih.
"Tidak masalah," jawab Mike.
"Oh, iya. Maukah kau berteman baik denganku? Aku tidak memiliki teman di Indonesia." Kiara menatap Mike dan menganggukkan kepalanya.
"Oke!"
Mike tersenyum manis pada Kiara. Kiara pun membalas senyum Mike.
***
Kiara baru saja merebahkan kepala ke atas bantal, saat ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil ponsel itu. Senyum terkembang di wajah cantiknya, kala melihat sang suami menghubungi dia.
"Mama," sapa kedua anaknya bersamaan.
"Hai, Sayang. Kenapa belum tidur?" tanya Kiara.
"Kita kangen sama, Mama." Devan dan Dina sudah memanyunkan bibir kecil mereka.
Kiara terkekeh melihat wajah lucu anak-anaknya. Mereka pun bersenda gurau, hingga Kevin muncul di layar. Pria itu tersenyum melihat wajah wanita yang dirindukannya.
"Sudah makan?" Kiara mengangguk.
"Apa kau merindukanku?" tanya Kevin sendu.
"Sangat," jawab Kiara.
Matanya sudah berkaca-kaca menatap wajah tampan Kevin dari layar ponselnya. Ingin Kiara menembus ruang dan waktu, hingga ia bisa memeluk dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang sang suami.
"Jangan nangis, dong. Maaf, ya, aku tidak bisa mengunjungimu. Sedang banyak orderan beberapa hari ini. Kasihan Ari dan Cecep kalau aku tinggal."
"Gak apa, Mas. Aku ngerti, kok. Kamu itu pria paling bertanggung jawab yang aku kenal."
"I love you, Kiara. Always."
"I love you too."
Usai melakukan panggilan, Kiara menenggelamkan dirinya pada bantal. Mencoba meredam sesak yang hadir, karena kerinduan. Suara bel pintu, membuatnya segera menghapus air mata yang sudah menetes.
"Mike!" ucapnya terkejut.
Pria itu tersenyum dan mengangkat kantung kresek di tangannya. Kiara mengernyit heran melihat itu.
"Aku tidak bisa tidur. Mau menemani ku menghabiskan martabak ini?"
"Jangan di kamarmu. Kita ke rooftop saja," ajak Mike.
"Oke!" ucap Kiara setuju.
Keduanya menuju rooftop yang ada di atas gedung hotel ini. Di sana, ada sebuah taman yang bisa membuat pelanggan yang menginap, memanjakan mata. Ada berbagai jenis sayuran yang sengaja di tanam untuk kepentingan restoran.
Mike dan Kiara duduk di bangku yang mengarah pada tanaman hijau di depan mereka. Pemandangan menyejukkan mata itu, membuat mereka tersenyum.
"Kau habis menangis?" tanya Mike seraya mengambil sepotong martabak dan memakannya.
Kiara menganggukkan kepala. Ia tak berniat menjawab sama sekali. Matanya masih memandang pada hamparan daun hijau di depan.
"Kenapa?" tanya Mike lagi.
"Hanya merindukan anak-anakku," jawab Kiara singkat.
"Menangis lah. Aku tahu rasanya merindukan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Terutama hati. Kau masih beruntung. Karena kalian hanya terbentang jarak. Beberapa hari lagi, kalian akan bertemu."
Kiara menoleh menatap Mike. Dari ucapan pria itu, Kiara menangkap sebuah kesedihan. Entah itu hanya perasaannya saja, atau tidak.
Seperti aku yang merindukanmu. Meski jarak kita dekat, tetapi ada dinding yang membatasi.