Rapat hari terakhir pun usai. Mike meminta bagian marketing untuk segera membuat website, blog serta akun sosial media untuk mempromosikan gedung apartemen yang baru dibangun Prakasa Group di Surabaya.
Kiara dan Mike berjalan meninggalkan ruang rapat. Direktur cabang menghampiri mereka dan ingin menjamu keduanya dalam acara makan malam bersama. Mike menyanggupinya. Begitupun dengan Kiara.
Setelahnya, mereka kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Mereka akan mengadakan makan malam tersebut di hotel yang disinggahi oleh Mike dan Kiara.
Tepat pukul 6.30, Kiara telah selesai berhias. Ia kembali mematut dirinya di cermin. Dress puti setinggi lutut menjadi pilihannya. Make up flawless andal nya, telah menampilkan sisi cantik wanita itu. Kiara mengenakan high heels setinggi 5cm, untuk mendukung kaki jenjangnya.
Bel di pintu, membuat Kiara segera meraih tas tangannya. Wanita itu yakin, Mike sudah menunggunya. Kiara pun menarik handel pintu hingga terbuka.
"Kau sangat cantik," ucap Mike spontan.
Pria itu tidak sadar, jika ia sudah menata Kiara tanpa berkedip. Kiara pun berdeham untuk menyadarkan Mike.
"Maaf. Aku terpesona melihatmu. Kau sungguh cantik," puji Mike.
Kali ini, Mike memuji Kiara terang-terangan. Ia bahkan melihat wajah Kiara yang memerah. Hal itu sukses membuat Mike merasa semakin gemas pada wanita itu.
Merasa wajahnya panas, Kiara segera membuang pandangannya. Ini adalah kali pertama, pria lain memuji kecantikannya, selain Kevin. Bahkan, tatapan Mike terlihat sangat memujanya.
"Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Kiara.
"Ah, iya."
Keduanya kini segera menuju restoran di lantai tiga gedung ini. Sepanjang perjalanan, tidak ada di antara Kiara dan Mike yang bicara. Bahkan, hingga mereka tiba di restoran. Beruntung, Direktur cabang dan para manager sudah ada di sana.
"Selamat malam, Pak Mike, Bu Kiara," sapa Direktur itu.
Keduanya menganggukkan kepala kecil. Mereka memulai makan malam dengan berbincang tentang pekerjaan dan hal lainnya. Setelah satu jam, Direktur cabang dan para manager pun pamit undur diri.
Tinggallah Mike dan Kiara di sana. Pandangan mata Mike tak lepas dari wajah cantik wanita itu.
"Saya duluan ke kamar," pamit Kiara. Wanita itu pun bangkit berdiri.
"Kiara," cegah Mike seraya memegang pergelangan tangan Kiara.
"Aku ingin bicara."
Mike pun menarik Kiara ke rooftop. Di sana, Mike menatap Kiara dalam. Menunjukkan rasa cinta, yang jelas bisa Kiara lihat di sana.
"Aku jatuh cinta padamu Kiara. Aku tahu, kau sudah bersuami. Aku pun sadar akan kesalahanku. Seandainya hati ini bisa memilih yang lain," ucap Mike sendu.
Kiara tak menanggapi ucapan Mike. Wanita itu membiarkan Mike mengungkapkan isi hatinya. Kiara sadar, jika tidak ada seorang pun yang mampu mengontrol perasaannya. Ia yakin, itulah yang terjadi pada Mike.
"Maaf, saya tidak bisa membalas perasaan, Anda." Kiara berbalik dan meninggalkan Mike di sana.
"Aku tahu!" teriak Mike. Kiara menghentikan langkahnya. Setelah itu, Kiara meneruskan langkahnya.
"Dan aku, akan membuktikan rasa cintaku padamu," gumam Mike.
***
Keesokkan harinya, Kiara dan Mike segera menuju bandara Juanda. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani. Mike pun hanya melirik Kiara sesekali.
Kiara mengirimkan pesan pada Kevin, jika pesawatnya akan take off sebentar lagi dan akan landing, sekitar pukul 8 malam nanti. Setelah itu, ia me-non aktifkan ponselnya.
Mike hanya mengawasi setiap gerak-gerik Kiara. Tak lama, kemudian, pesawat mulai meninggalkan landasan pacu. Selam perjalanan, Kiara memilih memakai headset dan mendengarkan lagu dari ponselnya.
Wanita itu membuang pandangannya ke luar. Menatap awan yang beriringan dengan gerakan burung besi yang ditumpanginya. Menikmati langit yang semakin pekat tertutup gelap.
Penerbangan malam, adalah hal yang paling menjengkelkan bagi wanita itu. Ia tidak bisa melihat indahnya langit biru dan cerahnya mentari. Dua jam melayang di udara, pesawat pun akan segera landing.
Dari pengeras suara terdengar himbauan pada penumpang, untuk menggunakan seat belt. Kiara pun mengenakannya dan merapihkan barang bawaannya. Pesawat pun mendarat dengan mulus di landasan pacu bandara Soekarno-Hatta.
Setelah menunggu koper miliknya, Kiara pun segera meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hingga Mike mengucapkan terima kasih. Kiara berbalik dan menatap Mike bingung.
"Terima kasih?" tanya Kiara. Mike menganggukkan kepala.
"Untuk?" tanyanya lagi.
"Karena—"
Tidak sempat Mike mengungkapkan alasannya, terdengar suara riuh khas anak-anak memanggil Kiara. Mike dan Kiara menoleh dan melihat sepasang anak kecil yang berlari ke arah wanita itu.
Terlihat jelas, senyum di wajah wanita itu. Di belakang kedua anak itu, seorang pria yang Mike kenal sebagai suami wanita yang dicintainya. Cemburu. Itulah yang Mike rasakan saat ini.
"Pak Mike, saya duluan," pamit Kiara.
Mike menganggukkan kepala. Pria itu tersenyum pada Devan dan Dina. Mengusap kepala kedua bocah itu dengan lembut. Keempatnya melangkah, meninggalkan bandara. Mike menatap mereka hingga menghilang dari pandangannya.
***
Senin pun tiba, Kiara sudah tiba di kantor dan melakukan pekerjaannya. Ia terkejut, saat Mike datang dan menyerahkan setangkai bunga mawar merah padanya.
"Bunga yang cantik, untuk wanita cantik," ucapnya.
Pria itu tersenyum tanpa menjelaskan apa pun. Kiara hanya menatap punggung Mike hingga pintu tertutup.
Apa dia sedang merayuku?
Kiara melemparkan bunga itu ke dalam tempat sampah. Tak menghiraukan ucapan pria itu sedikit pun. Kiara tidak ingin menodai pernikahannya. Ia akan mempertahankan keluarga yang dibangunnya bersama Kevin selama tujuh tahun ini.
Suara interkom mengalihkan perhatian Kiara. Melihat nomor ruangan Mike yang memanggil, membuat Kiara segera mengangkat panggilan itu.
"Iya, Pak," sapanya.
"Cantik, apa laporan rapat sudah siap?"
Ada rasa geli di hati Kiara, saat mendengar sapaan Mike padanya. Namun, Kiara menganggap tak mendengarnya.
"Segera saya antarkan," jawab Kiara.
Kiara segera mengambil laporan itu dan membawanya pada Mike. Sengaja, Mike menyentuh jemari Kiara. Tatapannya amat lekat pada wanita itu. Membuat Kiara risih.
Aku benci keadaan ini, gumam Kiara.
"Oh, iya, Kiara. Apakah suamimu tipe setia?" tanya Mike. Ia memeriksa laporan yang Kiara berikan, sebelum mengantarkannya pada Direktur utama.
"Tentu saja," jawab Kiara tanpa keraguan.
Merasa tak lagi ada urusan, Kiara kembali ke tempatnya. Baru saja ia membuka pintu, Mike melanjutkan ucapannya.
"Jika kau membutuhkanku, aku siap membantumu."
Kiara tak menggubris ucapan Mike yang terdengar ambigu. Entah apa korelasi pertanyaan Mike, dengan kata-kata terakhir pria itu.
Jangan ragukan suamimu. Kevin itu adalah pria paling setia yang pernah ku kenal.
Kiara meyakinkan hatinya. Ia tak akan goyah hanya karena ucapan Mike yang tidak diketahui kebenarannya. Kembali Kiara memfokuskan diri pada komputernya.
Tak lama, terlihat Mike yang keluar dan menaruh coklat di meja Kiara. Kemudian, mengedipkan sebelah matanya pada wanita itu.
Lama-lama aku risih.