Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian di Surabaya. Kiara masih bertahan di sana karena usul dari Kevin. Meski sejujurnya, ia sudah merasa tak nyaman di sana.
Malam ini, akan ada jamuan makan dengan klien di sebuah restoran. Kiara sebagai sekertaris, harus mengikuti acara tersebut. Kiara pun mengirimkan pesan pada Kevin, jika ia akan pulang terlambat. Tak butuh waktu lama bagi Kevin untuk menjawabnya.
"Tidak masalah, Sayang. Jika kau ingin di jemput, segera beritahu aku." isi pesan Kevin tadi.
Kiara segera menyiapkan semua keperluan untuk jamuan makan. Dikarenakan jamuan ini bersifat formal, maka Kiara akan tetap menggunakan pakaian kerjanya. Sepuluh menit sebelum mereka berangkat, Kiara menuju toilet untuk memperbaiki make up, serta tatanan rambut dan pakaiannya. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke mejanya.
Pintu ruangan Mike pun terbuka. Mike segera memberikan kode pada Kiara. Kiara mengerti dan segera mengikuti langkah kaki Mike.
Kiara teringat dengan ucapan Kevin, ketika ia baru tiba di kediaman mereka. Saat itu, Kevin seakan mengetahui hal yang terjadi selama wanita itu di Surabaya.
"Atasanmu, sepertinya menyukaimu," ucap Kevin tiba-tiba.
Kiara terkejut. Namun ia tak memperlihatkan wajahnya pada sang suami. Jujur saja, rasa takut mulai memenuhi hati dan pikirannya. Meski dirinya sudah menolak Mike, entah mengapa rasa takut itu masih menghinggapinya.
"Entahlah. Aku tidak tahu," jawab Kiara. Kevin terkekeh.
"Bagiku, yang terpenting kau tidak memberinya kesempatan," ucapnya seraya mengusap rambut panjang Kiara.
Haruskah ku beritahu jika Mike mencium ku? Tidak Kiara, tidak.
"Eum." Kiara mengangguk.
"Apa, aku berhenti bekerja saja?" Kiara mendongak dan menatap suaminya penuh harap.
Kevin pun balas menatap istrinya dengan lembut. Kevin tersenyum dan mencium pucuk kepala sang istri.
"Aku tidak akan melarang mu jika kau ingin bekerja. Aku lihat, kau menikmatinya." Kiara mendesah.
"Sebenarnya, aku tidak tega pada anak-anak dan mama." Kiara memanyunkan bibirnya.
Kevin mencubit hidung Kiara pelan. Sungguh, istrinya ini sangat menggemaskan di matanya.
"Bisakah kau bertahan sedikit lagi? Paling tidak, hingga enam bulan ke depan. Kondisi keuangan butik, masih belum stabil. Meskipun, sudah mulai ada pembeli dan beberapa teman yang ikut membantu promosi, menanamkan modal, atau join." Kiara mengangguk pasrah. Ia paham akan situasinya.
"Tapi jika kau tidak sanggup lagi, keluarlah." Kiara mendongak dan menatap Kevin penuh cinta.
"Tidak, Mas. Aku mengerti kondisimu."
Kiara tersadar dari lamunannya, tepat saat Mike keluar dari ruangan. Pria itu mengingatkannya tentang meeting itu. Tidak lupa, mengedikpan sebelah matanya pada wanita itu. Kiara pun membereskan berkas-berkas yang dibutuhkan
Malam ini, akan ada meeting penting dengan klien disebuah restoran. Kiara sebagai sekretaris, harus mengikuti acara tersebut. Kiara pun mengirimkan pesan pada Kevin, jika ia akan pulang terlambat. Tak butuh waktu lama bagi Kevin untuk menjawabnya.
"Tidak masalah, Sayang. Jika kau ingin dijemput, segera beritahu aku." Isi pesan Kevin tadi.
Sepuluh menit sebelum mereka berangkat, Kiara menuju toilet untuk memperbaiki make up, serta tatanan rambut dan pakaiannya. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke mejanya.
Pintu ruangan Mike pun kembali terbuka. Kali ini, Mike segera menghampirinya. Pria itu bahkan tak sungkan untuk memeluk pinggang Kiara, secara posesif.
"Tolong singkirkan tangan, Anda!" seru Kiara dengan suara rendah. Namun, sarat dengan ketegasan.
"Nikmati saja, apa yang ku lakukan, Sayang," ucapnya lembut.
Kiara bergidik mendengar ucapan Mike. Merasa jijik dengan pria itu. "Jika, Anda, tidak segera menyingkirkan tangan ini, besok akan ada surat resign dari saya."
Dengan segera, Mike menyingkirkan tangannya. Tak ingin membuat wanita yang diinginkannya itu menghilang dari pandangan.
Kau tidak akan bisa lari dariku Kiara. Mike menyeringai.
***
Mike dan Kiara tiba di restoran. Keduanya segera memasuki ruang VIP—tempat rapat dilaksanakan. Sambil menunggu, Kiara kembali membaca materi yang akan dipresentasikan sekali lagi. Mike pun melakukan hal yang sama. Meski sesekali, ekor matanya melirik wanita itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Menampakkan klien yang mereka tunggu.
Mike dan Kiara berdiri dan menjabat tangan mereka. Setelah itu, meeting pun dimulai. Selama setengah jam, Mike menjelaskan semua materi yang sudah dibagikan oleh Kiara dengan lugas. Semua peserta rapat dengan mudah mengerti penjelasan tersebut. Mereka pun tenggelam dalam pembicaraan tentang rencana kerjasama antar perusahaan mereka.
Tanpa terasa, waktu makan malam pun tiba. Kiara memanggil waiters dan mulai menanyakan pesanan para kliennya. Setelah waiters mencatat semua pesanan mereka, ia pun undur diri untuk menyiapkan semua pesanan itu. Sambil menunggu, mereka berbincang santai. Lima belas menit kemudian, hidangan tersedia dihadapan mereka.
Mereka pun mulai menikmati sajian itu. Satu jam kemudian, salah satu investor yang terlihat bergaya barat, mengajak yang lainnya untuk memesan wine. Awalnya Mike menolak, karena dirinya harus menyetir. Namun pria itu terus memaksanya hingga Mike pun menyetujuinya.
"Ayolah pak Mike, kita hanya minum sedikit," pinta pria bule tadi.
"Ah, maaf, Pak. Toleransi saya terhadap alkohol cukup rendah. Saya bisa langsung mabuk meski hanya minum segelas kecil," tolak Mike.
"Sedikit saja. Aku tidak akan memaksamu lebih. Tenang saja," tuturnya.
Mau tidak mau, Mike pun akhirnya menyetujui ide itu. Pelayan pun menghidangkan wine yang sudah di pesan. Kiara mencoba mengingatkan Mike, jika ia tak bisa minum terlalu banyak.
"Cukup, Mike. Kau akan mabuk!" bisik Kiara di telinga Mike.
Namun, Mike justru berbalik dan menatap Kiara lembut. Tatapan yang sama, seperti saat mereka di kantor cabang Surabaya. Kiara pun membuang pandangannya.
Entah sudah berapa kali Kiara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukan tepat setengah sembilan malam. Beberapa kali, ponsel Kiara sudah berbunyi.
Kevin berulang kali menanyakan perihal kepulangannya. Sayangnya, Kiara mengatakan, jika ia belum bisa kembali.
Maaf, Sayang. Aku dan pak Mike masih menemani klien. Maafkan aku. Tapi tolong kau jemput aku jika sudah selesai. Ku mohon, isi pesan Kiara.
Hufth ... baiklah sayang. Pasti akan ku jemput, balas Kevin di pesan terakhirnya.
Tak lama, klien mereka pun berpamitan. Mike meminta maaf tak bisa mengantar. Tubuhnya sudah tak bisa ia kendalikan. Mike sudah mulai mabuk. Padahal Mike hanya meminum tiga gelas wine. Namun, toleransinya terhadap alkohol yang sangat rendah, membuatnya mabuk.
Para klien mereka pun pulang lebih dulu. Kiara sendiri tidak meminum sedikitpun minuman haram tersebut.
"Kiara, apa kau tidak bisa melihat aku? Aku tahu, kau membutuhkan uang 'kan? Usaha suamimu, tengah mengalami kesulitan? Aku bisa membantumu," ucap Mike.
Kiara menatap Mike tak percaya. Entah dari mana pria itu mengetahui masalah yang tengah ia hadapi? Ah, aku lupa. Dia memiliki uang dan kuasa!
"Kau mabuk! Sebaiknya kau pulang dengan taksi. Biar kupesan." Kiara mengambil ponselnya, dan membuka aplikasi taksi online.
Namun, Mike menggenggam tangannya. Rasa hangat mengalir memenuhi pembuluh darahnya. Ia mengangkat pandangannya dan menatap Mike.
"Lihat mataku, Kiara! Lihat! Tidakkah kau menemukan ketulusan hatiku? Aku sungguh jatuh cinta padamu. Aku sangat menginginkanmu," ucap Mike.
Sekejap, Kiara merasa Mike dalam kondisi sadar. Ia pun menatap mata Mike dalam. Apa yang Mike katakan, memang terpancar dengan jelas di sana. Namun, Kiara tahu, ia tak mungkin bisa membalas rasa itu. Ada dinding kokoh, yang menghalangi.
"Sudahlah, Mike! Aku tidak akan pernah membalas perasaanmu. Jadi, lupakanlah!" Kiara kembali memesan taksi.
"Suamimu, tidak seperti yang kau ceritakan!"