Hampir saja

1084 Kata
Naya sedang berjalan sambil bersenandung ria, langkanya yang kesana-kemari lalu ia sambil menenteng dua Kantong yang isinya beberapa cemilan serta bahan-bahan makanan. Karena dia baru saja pulang kerja dan dia sempatkan mampir ke minimarket terlebih dahulu karena dia ingat bahwa stok bahan dan cemilan nya sudah habis. cemilan seperti Yupi, marshmellow, dan juga Oreo yang cemilan kesukaannya masing-masing ia membeli satu. Naya berceloteh terus-menerus dan dilihat oleh pengguna jalan lain yang nampak ingin sekali mencubit pipi yang hampir tumpah dan mirip sekali dengan bakpao itu, sifatnya seperti anak kecil itu rasanya semua orang yang melihatnya merasa ingin sekali memiliki adik seperti Naya. Dug Naya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang karena saking semangat dan bernyanyi, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap siapa yang telah menabraknya. "Eh kakek maafkan saya ya, Naya tidak sengaja kok beneran." Kata Naya membungkuk dan meminta maaf. "Tidak apa-apa, saya yang salah karena tidak memperhatikan jalan." Kata kakek itu yang juga meminta maaf karena telah menabrak Naya. "Kenapa kakek minta maaf sama Naya?" Kata Naya sambil memiringkan kepalanya dan menatap polos kearah sang kakek, serta jangan lupakan dia sedang membawa dua kantong yang masih ia pegang. "Kau imut sekali gadis kecil, apakah kau tersesat." Sang kakek bertanya kepada Naya, dia sambil memegang ponselnya dan percakapan di telepon belum ia matikan. "Naya itu bukan anak kecil kek, umur Naya itu 17 tahun." Kata Naya cemberut malu karena dikira ia masih anak kecil. "Tapi kamu menurut kakek kamu masih 10 tahun kok, tuh lihat saja pipi kamu yang gembul lalu tinggi mu yang hanya sedada kakek. berarti kamu anak kecil tuh bahkan kamu masih suka makan permen." Kata kakek yang melihat isi kantong yang Naya bawa, karena sang kakek tahu jika Naya membawa dua kantong plastik dan di dalamnya terdapat permen serta cemilan lainnya. Masih ingat bukan bahwa Naya itu tidak suka jika dia dikatakan masih kecil atau anak-anak? Karena Naya merasa dia sudah besar, sudah remaja, dan bukan anak kecil lagi. tetapi menurut orang-orang dia terlihat masih anak umur 10 atau anak SMP karena dilihat dari tinggi badan Naya. Bahkan kakaknya saja selalu mengejek serta mengerjai sang adik sampai Naya menangis dan marah kepadanya, namun kakaknya tak selesai sampai situ saja, dia bahkan melanjutkan mengerjai sang adik juga jangan lupakan. karena menurutnya Naya itu seperti anak kecil, little nya princess nya serta hidup dan jiwa raganya. Jiak tidak ada Naya maka ia hidupnya tidak pernah lengkap, sejak kedua orangtuanya meninggal dua tahun yang lalu sifatnya bahkan tak sehangat dulu ketika masih mempunyai orang tua. "Aduh maaf ya kek saya buru-buru, oh ya sekali lagi maafkan Naya ya. kalau begitu Naya pergi dulu, dah kakek hati-hati dijalan." Kata Naya melanjutkan jalannya, dan kembali memakai Headset nya. "Cari tahu gadis tadi, dan segera letakan ke ruangan saya." "Baik tuan besar." Kakek tadi memberi perintah kepada bawahannya untuk mencari identitas Naya sampai akar-akarnya, ia tak mau kelewatan tentang informasi pribadi Naya karena ia seperti merasa nyaman jika berdekatan Naya, seperti ada hubungan keluarga dan seperti ia merasakan ada sosok dari sang anak yang ada di dalam diri Naya. maka dari itu sang kakek mencari tahu semuanya identitas Naya. Sang kakek melanjutkan langkahnya dan masuk ke sebuah Restaurant ternama di kota Jakarta, pakaian jas lengkap seperti bos besar dan jangan lupakan ponsel nya yabg harganya hampir mencapai 25 juta dan harga mobil nya yang fantastis hanya ada 2 di dunia. kekayaan nya tiada Tara sampai 7 turunan pun tidak akan habis. Duk Naya selepas sampai di rumahnya, dia segera masuk dan menuju kamar lalu dia menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu mematikan musik yang ia dengar menggunakan headset. Kemudian Naya berinisiatif untuk mandi karena ia merasa gerah sehabis pulang kerja serta bau keringat meskipun tidak bau badannya tetapi tetap harus mandi. "huaaa terasa segar sekali, seperti berendam di air terjun saja." Naya menutup matanya dan menikmati ritual mandinya. tidak sampai 10 menit Naya selesai mandi, dia segera mengambil baju dari lemari kayu yang sudah usang. meskipun sudah usang dan tidak layak lagi, namun masih bisa dipakai untuk menyimpan pakaian. "Aya lupa kalau ada tugas dari ini, sebaiknya Aya segera mengerjakannya karena sudah malam." Monolog Naya sembari mengeluarkan buku lalu segera mengerjakan tugasnya. Naya mengerjakan tugas yang berisi 25 soal, 20 pilihan ganda dan yang 5 Isian. Naya mengerjakan tugas hampir satu jam lebih dan tenaganya seperti sudah terkuras habis ini mungkin efek dia tak sempat makan tadi dan sudah mengantuk juga. "Akhirnya selesai juga, waktunya Aya tidur. Selamat malam Bunny dan selamat malam kak." Setelah mengatakan selamat malam, Naya pun masuk ke dunia mimpi. Pagi Hari nya, Di kota Tangerang seorang laki-laki sedang bekerja. dengan pakaian yang layaknya kantoran, rambut sedikit panjang dan membawa beberapa berkas penting untuk dibawa ke ruangan penting. "Permisi pak, saya membawakan dokumen yang bapak minta." Kata nya, yang sudah berada di ruang pengurus kantor. "letakan disitu saja." kata beliau dengan ramah dibalik kacamata minus namun terlihat tampan ketika memakai kacamata itu sedikit berkarisma. Dia merupakan orang suruhan atau orang kepercayaan pemilik kantor, karena beliau sedang ada urusan di luar negeri jadi yang mengurus semua perlengkapan dan kebutuhan kantor ialah wakil direktur sekaligus sekertaris nya. "Ada tambahan pekerjaan lagi tidak tuan?" "Apa jadwal saya selanjutnya." "Jadwal anda selanjutnya akan ada rapat dengan petinggi negara, dan nanti sore bapak akan ada pertemuan antar pengusaha untuk mewakili perusahaan ini pak." Jelaskan ya jadwal selama sehari ini. Karena pemilik asli kantor ini sedang ada urusan di luar negeri dan mengurus perusahaan pusat yang terletak di negara lain. dan perusahan cabang akan diambil alih tugasnya oleh wakil direktur merupakan orang kepercayaan untuk mengurus perusahaan cabang yang ada di Tangerang. "Siapkan rapat dengan baik, jika sudah siap semua segera lapor kepada saya." "Baik pak saya akan laksanakan tugas dengan baik. bapak percayakan kepada saya sepenuhnya." Kata atasan dia lalu segera menyiapkan bahan untuk rapat nanti. Dia merupakan kakak dari Naya yang bekerja sebagai sekertaris di perusahaan ternama, dia diterima karena melihat kerja keras serta ketekunan dalam bekerja membuatnya diterima langsung. Bahkan kerja yang dia lakukan sangat membuahkan hasil dan membuat atasannya bangga atas prestasi yang dicapai dan menjadi pekerja terbaik di kantor. "Aya adik kakak semoga kamu baik-baik saja disana, tunggu kakak." Katanya dalam hati, lalu dia berjalan ke ruang rapat dan mengambil serta mempersiapkan semuanya. Karena sebagai kakak harus menyayangi serta memberikan semangat kepada adiknya, apalagi Naya merupakan adik satu-satunya dan adik yang paling ia sayangi dan dia hanya punya Naya saja dalam hidup ini. Meskipun ditinggalkan orangtuanya namun ia harus bertahan demi adik kecilnya, adik manis dan imutnya agar bahagia dan tak pernah kurang sedikitpun kebutuhannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN