Telepon dari Kakak

1092 Kata
Setelah makan bersama dengan Atha, Naya merebahkan badannya di kasur sederhana miliknya. Dia memejamkan matanya, Naya masih memikirkan kejadian akhir-akhir ini setelah dia pindah atau merantau ke Jakarta ya meskipun jarak antara Tanggerang sama Jakarta cukup dekat sekali, bisa dibilang bukan merantau juga sih. hanya butuh beberapa jam saja sampai ke Jakarta kan? entahlah itu namanya apa yang penting dia sekarang singgah di kota besar yaitu Jakarta, tepatnya di bagian pusatnya. Naya sebenarnya kangen sekali dengan sang kakak yang ada di Tanggerang, sudah ia telepon tiga kali namun sang kakak tidak mengangkat nya. mungkin kakaknya disana sedang sibuk, itulah yang dipikirkan oleh Naya saat ini. Meskipun tampangnya ia polos dan lugu, namun dia pekerja keras dan rajin. "Huft apakah kakak sedang sibuk akhir-akhir ini? sampai tak sempat untuk menghubungi ku?" Monolog Naya sedari tadi yang tak sadar ia sudah meneteskan air mata nya. "Bunda, Papa, apakah kalian disana sangat senang? apakah kalian tidak merindukan ku?" Naya teringat dengan kedua orangtuanya, dia membayangkan dimana dia sedang bersama dengan orang tuanya, tertawa, bercanda gurau bersama. Pada saat Naya sedang merenung, ponsel miliknya berdering dan Naya segera mengangkatnya. ia mengusap air matanya yang sudah menetes sampai ke pipi menggunakan tisu yang ada di sebelahnya. "Halo." "Halo dek, ini kakak. Maaf ya jika kakak baru saja menghubungi mu karena ponsel kakak sempat rusak dan sekarang kakak ganti ponsel baru dan nomor baru. untung saja kakak masih menyimpan nomor ponsel mu di buku kakak." Suara isakan terdengar, itu isakan tangis dari Naya. kakak nya merasa bersalah karena tidak memberi tahu kepada sang adik. "K-kakak hiks..hiks.. a-adik kira k-kakak sudah lupa sama a-adik hiks.. hiks.." Naya sudah bisa menahan air matanya yang kini semakin deras saja. "cup cup cup adik kakak yang cantik, jangan nangis nanti dadanya bisa sesak. ini kan kakak sudah menelepon adik, jadi jangan nangis lagi ya. kalau gitu bagaimana jika kakak Minggu depan ke Jakarta saja untuk meredakan rindu adik ke kakak, mumpung kakak Minggu depan ada waktu, gimana?" mendengar kakaknya berkata seperti itu, mata Naya berbinar sekaligus berkaca-kaca karena akhirnya bisa bertemu dengan sang kakak lagi. kapan lagi bisa meluangkan waktu nya untuk bersama dengan sang kakak, bahkan ia akan menceritakan semua kejadian dirinya selama disini. dari mulai aktifitas nya di sekolah, kedekatan nya dengan Atha dan juga tentang pekerjaannya. pokonya semua nya dia akan menceritakan nya semua, tak ada yang terlewat kan. "Beneran? kakak tidak bohong lagi kan?" Tanya Naya kepada sang kakak, pasalnya waktu itu kakaknya mengingkari janji yang akan datang ke Jakarta. "Tidak baby girl, ini kakak serius. karena pekerjaan kakak dipindah ke Jakarta untuk beberapa Minggu jadi kakak akan tinggal bersama adik Abang yang cantik ini." "Kakak bisa saja, ihh adik bukan bayi ya, jangan panggil adik baby." Naya cemberut jika dikatakan bayi oleh sang kakak, pelaku malah tertawa mendengar tutur kata sang adik. Naya memang tingkahnya seperti bayi, bagi kakaknya Naya itu seperti bayi besar yang harus dia jaga dan lindungi. bukan cuma tingkahnya saja, namun juga dengan wajahnya yang baby face membuatnya dia seperti anak SMP padahal dia sudah kelas XI. Naya tidak suka jika ada seseorang yang mengatakan dia Bayi atau anak kecil, baginya dia sudah besar dan dewasa bukan anak kecil lagi. jadi jika kadang dia ngambek dengan sang kakak dan mendiamkannya selama seharian full, namun jika sang kakak membujuk nya dengan cokelat dan juga yupi ia tidak akan menolak dan langsung memaafkan nya. "Beneran ya kak, jangan bohong. kalau kakak bohong Aya akan mogok bicara sama kakak selama sebulan." Ancam Naya kepada sang kakak, karena dirinya pernah dibohongi oleh sang kakak dulu. "iya adik kakak, ya sudah kalau gitu kakak tutup teleponnya dulu ya. tidur yang nyenyak, jangan bergadang dan jangan lupa minum vitamin nya. kakak sayang Aya, love you baby." "Love you too kak." Setelah percakapan telepon yang cukup lama, Naya memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Naya sudah mengerjakan tugas sekolah tadi dan juga ia sudah belajar. Naya senang karena sang kakak akan tinggal bersama dengannya meskipun tak lama, yang terpenting dia akan tinggal bersama lagi. Naya akan menjadi manja jika bersama dengan kakak nya dan orang terdekat dia. Wajah dia yang polos dan juga menggemaskan banyak orang yang ingin sekali mencubit pipinya yang seperti tumpah saja, lalu jangan lupakan mata nya yang seindah lautan dan siapapun yang menatap mata Naya dia akan selalu merasa tenang dan juga nyaman. Naya tinggi badannya hanya 165 cm saja, tinggi Naya hanya sedada kakaknya saja. tinggi badan kakaknya itu lebih tinggi dari Naya dan mencapai 180 cm, Naya dikira masih SMP karena tinggi dan juga wajahnya yang imut. Pagi harinya Naya bersiap untuk berangkat ke sekolah, ia sudah terbangun pukul 5 tadi dan dia membuat bekal agar di sekolah dirinya tidak jajan lagi. karena harga makanan di sekolah cukup mahal dan uang Naya tidak akan cukup, dan Naya lebih memilih tak makan jika tidak membawa bekal dan hanya minum air putih saja. Karena makanan disana bagi kalangan atas saja yang mampu, dan rata-rata siswa-siswi disana kebanyakan anak dari keluarga kaya tidak seperti Naya yang hanya anak beasiswa saja. masih untung bisa bersekolah disana ia sudah bersyukur sekali, tak masalah jika dirinya tak makan atau tidak bisa jajan di sekolah. Naya anaknya yang patuh dan penurut, jika orang yang memerintahkan nya berkata ya maka dia akan menurut saja. anak-anak di kelasnya juga berbicara bahasa yang terkadang tidak dimengerti oleh Naya, Saking polosnya dia bahkan terkadang di bully oleh kakak kelas karena kepintarannya dan juga karena dia anak dari beasiswa. semua murid yang anak beasiswa pasti akan dibully dan disuruh-suruh seperti pembantu. Untung saja ada teman sebangku nya yabg sering menolong dirinya, dan juga teman satu kelasnya yang membela Naya. jika tidak Naya akan selalu dibully dan diperlakukan tak baik. Naya sebenarnya sudah tidak tahan dengan bullying di sekolah ini yang hanya mementingkan kasta saja, jika kastanya lebih tinggi maka yang bawahnya akan dibully sampai mereka puas. Namun karena demi cita-cita nya yang ingin bersekolah disini dan juga pendidikan disini sangat bagus, maka ia akan bertahan sampai lulus dan kuliah. Naya sudah sampai ke sekolah, dan dia memarkirkan sepeda nya yang ia beri nama lili dan dia berjalan dan sampai ke koridor dan ingin menuju ke kelas. pada saat Naya berjalan, Naya menabrak seseorang dan ia terjatuh dan ia menunduk karena takut jika orang yang dia tabrak akan marah. karena Naya berjalan sambil menunduk, itu benar karena juga salah Naya yang berjalan sambil menunduk. "M-maaf a-aya tidak sengaja." Naya menunduk tak berani menatap pelaku. Apa yang akan terjadi setelahnya? siapa dia? dan kenapa orang itu sedari tadi hanya diam dan menatap Naya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN