HAPPY READING Sekali lagi aku menarik napas panjang di depan cermin kamar mandi. Mengangguk dan meyakinkan diri kalau agenda makan malam kali ini bakal berjalan baik-baik saja. Mama tidak mungkin menanyakan masalah perasaanku pada Faris di depan banyak orang. Kalau Tante Firda, aku belum begitu mengenalnya, sih. Namun, semoga saja beliau mengerti. Semoga. "Ira ... ayo, makan!" Mama memanggil dari balik pintu disertai dengan ketukan tiga kali. Aku kembali menarik napas. "Iya, Ma." Oke, Mehira. Ini tidak akan sulit. Apa sulitnya sih, makan malam doang? Tanganku memutar kenop pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Segera saja empat pasang mata menoleh ke arahku. Refleks aku menelan ludah saking gugupnya. Berusaha tersenyum biasa saja dengan kondisi jantung berdegup kencang. Aku be

