Dua Sahabat

1549 Kata
“Lebih tampan Faiz Coy dari pada si itu tu.” Gelak tawa mereka terdengar lirih, dulu Bima sangat serasi dengan temannya Salsa tapi sekarang tidak lagi. Kalah rupa. Lebih cocok Salsa bersanding dengan Faiz sama-sama ganteng dan cantik. Iri di hati Fanya kembali menyeruak. Kenapa dia lagi yang jadi pusat perhatian?. Namun, logikanya terus berkata pria itu hanya lelaki miskin meski tidak bisa memungkiri ia juga mengagumi ketampanan Faiz. Tanpa sengaja mata menangkap ke arah hidangan-hidangan yang sudah orang tuanya sajikan untuk para tamu undangan. Di sana, tanpa malu bapak sekaligus ibu tirinya makan terlebih dulu di saat orang lain hikmat mendengar ceramah manten yang disampaikan kakek sambungnya. Terlihat pula di sekitar dua orang paruh baya itu para tamu memandang rendah orang tuannya. Fanya hanya bisa menutup mata menahan malu. Kenapa dia tidak terlahir menjadi anak kandung pak Hamdi? Biar adiknya saja jadi anak bapaknya. Kenapa dunia ini seperti tidak adil kepadanya? Selalu Salsa, Salsa saja yang beruntung. Acara pernikahan mereka telah usai, semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan. Esok lusa, mereka akan melanjutkan acara selanjutnya iring-iring manten ke rumah mertua si kakak lalu satu minggu lagi baru acara di rumah pak Wisnu ayahnya Faiz. Para manten istirahat di kamarnya masing-masing setelah mereka membersihkan diri dan juga menunaikan salat Zuhur. Faiz tertawa mendekati sahabatnya yang masih saja merajuk kini sudah berganti baju. “Pakai masker, topi juga!” titahnya seraya menunjuk ke arah meja rias, masih saja enggan memandang. Pengantin pria menuruti semua ucapan si istri yang terdengar absurd, setelah memakai baru ikut duduk di pinggiran kasur. “Sudah.” Salsa melirik dengan muka masih saja ditekuk. Kemudian, menggandeng teman karibnya itu keluar kamar tapi Faiz menarik kembali tangannya hendak merapikan pakaian yang sudah rapi. Mereka berdua bergabung dengan keluarga lain di depan televisi yang sedang bercengkerama. Aris tertawa melihat penampilan iparnya kembali memakai masker di cuaca yang panas ini. “Masih saja pakai masker?.” Faiz menunjuk tersangkanya dengan dagu memberitahu ini semua ulah adik Aris sendiri. Mertuanya tersenyum menanggapi kelakuan anak perawan beliau tapi beliau memaklumi. Jangankan putrinya beliau saja dibuatnya syok. “Hem enak, putri salju ini buatan siapa?” Puji Salsa seraya membagi juga untuk Faiz meminta ikut mencoba. Faiz menyambut baik uluran tangan itu, ia mangut-mangut ikut mengakui putri salju tersebut benaran enak. Pengantin pria lain melirik sekilas keromantisan yang tanpa disengaja dilakukan membuat hatinya terbakar cemburu. Dari dulu ini yang tidak disukai hingga ia memilih jalan yang salah hingga terperangkap dalam hubungan tidak sehat. “Sa, Fanya masnya ayo diajak makan!.” *** “Tunggu!.” “Aku tidur di dekat dinding.” Salsa tidak mau tempat favoritnya diambil, dia minta sahabatnya saja yang tidur di pinggir. Faiz yang hendak menaiki kasur mengangkat bahu membiarkan istrinya memilih dulu apa yang dimau, kalau dia terserah saja yang penting ada kipas dan selimut tebal. Dia menengok ke belakang memastikan Salsa sudah terlelap baru melepas topi serta masker. Dipakaikan selimut tipis yang tersusun rapi di bawah kaki untuk menyelimuti wanitanya yang sudah terlelap memeluk guling. Baru terpasang, kaki Salsa mendorong-dorong selimut kain itu agar tidak mengusik tidurnya. Diselimuti lagi kakinya saja supaya tidak kedinginan dan sekali lagi ditendang. Faiz yang emosi sendiri susah sekali dikasih selimut lantas menyelimuti sahabatnya seluruh badan dan dikepal kepala Salsa gemas. “A... Faiz!.” Dengan gerakan cepat Faiz menarik selimut untuk menutupi wajah jangan sampai serigala betina itu mengamuk lagi. Pak Hamdi dan juga istrinya yang sudah terlelap karena terlalu lelah sampai terbangun kaget. Sedangkan, di kamar lain Faiz melihat amarah di wajah sahabatnya yang awut-awutan dibalik celah selimut yang ia buka sedikit langsung cepat-cepat menutup mata pura-pura tertidur. Namun, tangannya tidak bisa diam melempar kain yang bermotif batik tersebut ke arah Salsa. Dengan kesal dengan posisi duduk ditendang balik selimut tipis kembali ke tuannya lalu melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. *** Hari ini, keluarga besar dan beberapa rekan pak Hamdi iring-iring pengantin ke rumah mempelai laki-laki dari pihak si kakak. Fanya terlihat bahagia akhirnya menjadi bagian keluarga dari dosennya yang selama ini selalu jadi impian beberapa temannya. Senyumnya merekah tipis kala mertua menyambut kedatangannya bersama keluarga yang tak lain dosennya dulu beserta sang istri. Ada kebanggaan di dalam hati mendapati rumah mertua terlihat besar dan lebih modern dari pada kediaman ayah sambungnya. Jadi, bisa dipasti suaminya lebih kaya dibanding suami adiknya walaupun masalah wajah Bima kalah jauh. Tanpa ia tahu masih ada kejutan yang menanti setelah ini yang mampu merubah semua nilai dan jalan berpikirnya. Tidak ketinggalan, adik dan juga iparnya ikut pula mengiring kepergiannya ke rumah mertua. Begitu pula nanti, dia akan ikut serta mengantar adiknya ke kediaman orang tua Faiz. Rencana setelah lima hari di rumah mertua ia akan kembali lagi ke Rumah ayahnya. Acara digelar sama mewahnya seperti kala di rumah orang tuanya tapi suaminya sama sekali belum menegur, tidak berbicara jika tidak ditanya. Beruntungnya, ia mempunyai mertua yang baik memaklumi jika menantunya masih malu jadi apa pun kebutuhan disediakan di kamar. Saat membutuhkan sesuatu tidak lagi menunggu ajakan Bima atau pun mencari sendiri keluar kamar. Seperti rencana, hari ini akan melakukan iring-iring manten lagi untuk si bungsu. Di mana pengantinnya menaiki mobil yang dulu pernah buat jemput Salsa saat hendak memotong rambut. Tiga hari setelah Salsa dan juga Faiz sah menjadi suami istri, sopir dari pak Wisnu mengantarkan mobil anak tuannya. Istri maupun ipar masih beranggapan jika mobil itu mobil rental. Pengantin laki-laki sendirilah yang mengendarai mobil membawa si istri ke rumah orang tuanya. Keluarga dan kerabat pak Hamdi beriringan pergi mengantar keduanya. Bima juga membawa mobil sendiri, mobil dinas orang tuanya untuk mengantar istri pulang ke rumah mertua. Hingga mereka berhenti tepat di depan rumah berlantai dua bernuansa putih yang sudah dihias sedemikian rupa. “Apalagi ini? Jangan bilang ini rumah Faiz. Ah mungkin orang tuanya bekerja di sini” tebak Fanya di dalam hati. Tidak cuma ia, beberapa teman kuliahnya yang datang juga dibuatnya tercengang. Si tukang tidur, pelayan cafe memiliki rumah semegah ini? Tidak mungkin atau jangan-jangan selama ini temannya itu sedang menyamar. Seorang Intel?. Salsa awalnya juga penasaran tapi sekali lagi dia masa bodo dengan latar belakang temannya. Teman kuliah pun banyak yang berbincang jika orang tua Faiz bekerja di rumah besar ini. Tidak masalah dia bisa menerima itu seperti sebelum-sebelumnya. Namun, sampai malam tiba mereka tetap berpura-pura. Bagaimana jika tuan mereka datang?. Bahkan kini ia menempati kamar yang cukup luas. Foto apa itu? Teman gondrongnya berfoto dengan memperlihat sedikit tubuh atasnya karena dua kancing kemeja putih dibiarkan terbuka. Apa tidak repot nanti kalau si pemilik datang tiba-tiba harus mencopoti semua foto yang menempel?. Seingatnya tadi di luar juga masih banyak foto keluarga Faiz baik yang menggantung maupun tergeletak rapi di meja. “Iz!.” “Hem” jawab Faiz asal. Tangan masih sibuk memindahkan baju sahabatnya ke lemari. Dilempar dan ambil lagi lempar lagi. “Kamu ini lo foto kayak gitu dipajang, gak malu!.” “Kenapa? Ini kan Kamarku, tidak ada yang lihat." “Sekarang ada Aku, Kamu gak malu?” tanyanya kembali. Salsa berjalan menuju meja belajar, di sana ada beberapa foto mereka berdua ada pula fotonya sendirian. Yang otomatis posisi saat ini membelakangi Faiz. “Iz?.” “Eh maaf Mama ganggu, Mama tunggu di bawah. Ayo makan!.” Banyak hidangan yang tersaji di meja makan gadis itu tidak berani makan banyak meski mertua serta suaminya sudah mengambilkan beraneka lauk. Ia takut nanti tuan rumah datang marah Stok bahan makanan habis dan harus mengganti rugi. Dia tidak ingin keluarga suaminya terkena masalah karenanya. Gara-gara seharian makan cuma sedikit tengah malam perutnya berbunyi terus tidak bisa tidur. Ditekan kepala sahabatnya dibalik selimut hendak membisikkan sesuatu “Iz bangun, Aku lapar.” Pria itu langsung bangun mendengar pengantinnya kelaparan lantas menariknya ke dapur. Dilihat wanitanya menutup mata tidak bergerak lantas dicarilah masker yang selalu tersedia di kamar untuk menutupi wajah. Mata Salsa mengintip sedikit untuk memastikan suaminya sudah memakai masker apa belum. “Kita jangan makan di sini ya, Kita cari di luar. Aku ingin.” Salsa tidak enak hati makan di rumah besar ini ia ingin makan di luar sekaligus ingin merasakan gemerlap kota Jakarta di malam hari yang jarang ia rasakan. Selagi sekarang ada Faiz yang menjaga dan orang tuanya sudah tidak lagi melarang apalagi Abang lelakinya. “Kita naik motor saja ya?.” Mungkin mobil itu milik bosnya bukan rentalan karena sudah beberapa hari bersamanya. “Dingin, Sa. Iya sudah tak ambilkan jaket. Tunggu!.” Muka istrinya ditekuk, tak tega jika harus berdebat kasihan cacing di perut Salsa. “Iz, dompetku di atas meja.” Lelaki tersebut mengangguk tanpa ada niatan membawa, masak sesudah nikah masih saja ia dinafkahi oleh sahabatnya. Benarkan tebakannya gadis itu akan bertanya, dia hanya mengangguk lagi biar tidak panjang ceritanya. Dia beralasan dompet ditaruhnya dibalik jaket kulit hitam yang ia kenakan. Mereka berdua makan di pinggiran jalan yang tidak jauh dari rumah, di mana warung tersebut menjual aneka lalapan. Salsa memesan bebek goreng sedangkan Faiz ayam kampung goreng dan dua bungkus kerupuk. Si pria memesan kembali nasi putih dan juga lauknya lengkap beserta sambal lalapan. “Kenapa tadi makan cuma sedikit? Jadi lapar gini kan” cerca Faiz tidak tega melihat temannya makan sampai seperti itu. Satu porsi dilahapnya habis dalam sekejap tambah satu porsi lagi masih semangat untuk menghabiskan. “Kalau Salsa masih malu nanti Kita makannya di kamar saja. Tidak papa.” “Eh, jangan! Gak usah!.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN