Mereka sampai rumah jam satu malam, Faiz langsung merebahkan diri di kasur sedangkan Salsa masih saja memandangi kasur tidak langsung tidur.
“Sini, tidur di punggungku! Mau sebelah mana, sini apa sana?.”
Dia memahami kegundahan istrinya mencari dinding lantas rela punggungnya dijadikan tempat sembunyi.
Salsa menaiki kasur dengan guling ditangan lalu didesak tubuh sahabatnya yang sudah mentok diujung.
Tidak disangka ternyata istrinya kedinginan dalam lelap dikarenakan suhu kamar yang terlalu rendah.
Faiz membalikkan badan untuk memberi selimut dan sekali disingkirkan.
Mencobanya menumpuk badan Salsa dengan bantal siapa tahu tidak dibuang, syukurlah kali ini niat baiknya tidak ditolak. Tidurlah mereka berdua sampai subuh.
Jangan ditanya, wanita itu kalau sudah terlelap susah untuk bangun tapi kalau sudah waktunya dia akan bangun sendiri seperti otaknya ada alarm.
Dibangunkan Faiz untuk diajaknya salat sebelum berjalan keluar kamar untuk mandi.
“Iz, bangun!.”
Tidak merespon diraih gawai yang tergeletak di bantal Faiz meneliti lebih dulu apa ada pesan masuk dari keluarganya ternyata kosong.
Baru kali ini berpergian lama serasa jauh dari rumah siapa tahu ibunya khawatir ia jauh dari beliau sama seperti yang dirasakan, ada yang mengganjal di hati.
Semalam lelaki di sampingnya mengotak-atik gawai miliknya menghapus semua yang berkaitan dengan Bima termasuk nomor telepon.
“Parah! Sudah nikah juga masak nomornya si curut masih ditulis ayang. Suami sendiri cuma dikasih nama saja,” ngedumelnya tadi malam.
Dengan jengkel nomor whatsappnya diganti nama sendiri dengan nama “Suami tampanku.”
Tawa Faiz cekikian geli sendiri membaca nama yang baru saja ditulis.
“Faiz... Bangun! Sudah mau adzan itu na.”
Ibu mertua dibantu kedua asisten rumah tangga mengantarkan makanan ke kamar untuk sang menantu.
Salsa yang baru saja keluar kamar mandi berjalan tergopoh membantu menyiapkan makanan.
“Ya Allah, Ma. Tidak usah. Salsa makan di ruang makan saja.”
“Tidak papa, Cantik. Makan yang banyak ya, kasihan Bibi masakannya tidak dimakan.”
Diusap pipi menantunya yang malu-malu sebelum mengajak kedua asisten keluar kamar.
Dari lantai atas mata Salsa bergerilya mencari keberadaan suaminya yang izin olah raga sebentar di luar.
Didapati lelaki itu yang tak lagi gondrong sedang melakukan push up di halaman belakang bersama bapak mertua.
Kaos biru dongker pas badan dan juga celana pendek memperlihatkan bodinya yang atletis berkulit putih bersih sesaat membuat Salsa mengagumi perawakan sahabatnya.
“Ganteng juga Faiz kalau seperti itu” akuinya dalam hati seraya menggigit kuku jempol tangan.
Salsa senyum geleng-geleng menepuk jidat masak ia terpesona pada Faiz sahabatnya sendiri.
Akhirnya dia memutuskan menunggu suaminya di dalam kamar saja duduk di atas kursi.
Lamanya Faiz tidak kunjung masuk ke dalam kamar sedangkan dirinya sudah tidak tahan lagi ingin mencoba makanan tersebut yang terlihat menggiurkan.
Hendak memanggil ataupun menelepon, tidak enak hati sama mertua.
Jadi hanya bisa duduk di depan makanan yang terhidang banyak sekali lauk pauk.
Ditutul kerupuk di atas sambal untuk mengobati rasa keinginannya.
Tak berselang lama pemilik kamar yang ditunggu akhirnya datang juga dengan keringat yang membanjiri badan.
“Lama sekali sih?” Omel Salsa tidak tahan memandangi semua makanan di depannya.
Faiz tersenyum meminta istrinya makan lebih dulu selagi si dia membersihkan badan.
Wanita tersebut mengambil secukupnya nasi dan satu lauk yang paling diinginkan di antara banyaknya lauk yang tersedia.
“Kenapa makannya sedikit lagi sih, Sa? Ayo temani Aku makan lagi!.”
Dibopong istrinya dari kasur ke kursi tempat banyak hidangan tersaji “Aku kenyang, Iz!.”
Kabur lagi Salsa ke kasur menuju gawainya yang tergeletak.
Faiz tidak ambil pusing diambilnya satu porsi penuh makanan dengan berbagai lauk dan sambal, kerupuk tanpa sayur.
Diletakkan seporsi makanan yang diambilnya di lantai sebelum menggendong kembali dan diturunkan ke bawah.
Didudukkan wanitanya tepat di depannya dengan kaki dan tangan memenjara.
Sedangkan, satu tangan lagi menyuapkan makanan ke mulutnya serta sahabatnya bergantian hingga isi piring itu tandas.
“Mana lauknya? Masak nasi sama sambal saja!” protesnya, nasi yang dimakan cuma terasa pedas saja.
Faiz tertawa terpingkal katanya kenyang tapi banyak aturan “Sabar! Bibir kecil gitu ya apa muat, satu-satu!.”
“Mana enak, hanyep na...” cicitnya terpotong karena ikan nila bakar sudah mendarat di mulut.
“Makanya jangan ditelan dulu!.”
“Gak mau, dicampur jadi satu nasinya dikecilin!.”
“Kerupuk.”
“Astaga!” Tak hentinya pria itu tertawa lepas.
Bibir sudah mengembung seperti ikan buntal masih bingung suruh masukan yang lain “Ditelan dulu!.”
“Gak mau, gak enak! Nasi lauknya jangan besar-besar! Dikecilin," dita*bok kesal paha suaminya yang dingin.
“His, dingin.”
“Lagi?.”
“Sudah kenyang, lepas!.”
Barulah dilepaskan kekangannya, Salsa dibantu suami membersihkan semua makanan dan diletakkan ke meja kembali.
Lanjut, mereka mencuci piring bekas makan mereka meski bibi yang memegang kendali pekerjaan rumah sudah melarang.
“Aduh mantu Mama, sudah Sayang. Kamu itu Iz, masak mantu Mama diajak cuci piring!.”
“Tidak papa Ma, tinggal sedikit kok.”
[Ini gimana sih, kok? Ah entahlah] gumam Salsa tidak mengerti.
Mereka sekilas memang seperti tuan rumah tapi seandainya Faiz anak orang kaya kenapa harus bekerja keras untuk biaya kuliah?.
Sampai-sampai sering ketiduran saat mata kuliah berlangsung karena terlalu lelah bekerja pagi hingga malam.
Istirahat hanya jika ada jam kuliah ataupun lagi jalan dengannya selain itu maka harinya akan dihabiskan di tempat kerja.
Sering pula ia temui saat video call malam hari mendapati teman lelakinya tersebut tidur di ruko karena lelah jika harus kembali ke rumah dan pagi harinya sudah stand by lagi.
“Mikir apa? Ayo Kita ke kafe! Sudah lama tidak ke sana. Kamu tidak papa kan tinggal di sana?.”
Dia baru sadar jika sahabatnya harus kembali bekerja jangan sampai dipecat karenanya.
“Iya ya. Terus gimana nanti kalau Kamu dipecat? Lama Kamu tidak masuk kerja.”
Faiz yang mendengar tertawa terbahak-bahak.
Jadi selama ini temannya mengatai pelayan karena mengira dia bekerja sebagai pelayan di kafenya sendiri. Tapi ya benar sih.
Gadis itu semakin dibuatnya bingung melihat suami sekaligus sahabat tertawa begitu nyaring. Apa ada yang salah dengan ucapannya?
“Jadi, selama ini Kamu tidak mau pakai uangku sampai jajanku Kamu tanggung gara-gara Aku bekerja sampai malam di kafe Aku sendiri?.”
“Sa... Salsa, hih!.”
Diuyel rambut panjang yang dikuncir kuda lantas ditekan kuat-kuat pipi gemas wanitanya dengan kedua tangan.
“Cafe sendiri? Maksudnya?,” tanya Salsa bingung.
Bukannya langsung dijawab sahabatnya tersebut yang kini sudah sah menjadi suaminya malah tertawa lagi.
“Salsabila, kafe yang dekat kampus itu punyaku sendiri. Kalau gak percaya tanya saja sama Mama. Iya kan, Ma?” Jelas Faiz semakin membuatnya tambah bingung.
Bu Rumi istri pak Wisnu mengangguk tersenyum membenarkan perkataan anak bungsunya.
“Jangan bilang, Kamu tidak berani makan di rumah Kamu juga mengira rumah ini bukan rumah Papa?” tanyanya kembali menyadari pikiran aneh temannya itu.
Semua yang berada di ruang tengah tertawa atas tingkah konyol dirinya selama ini.
“Kan Aku sudah sering bilang Salsabila, uangku banyak...”
“Kamu sudah mengenalku empat tahun masak latar belakangku tidak tahu. Mangkanya tanya, Salsa!.”
“Ginikan Kamu sendiri yang rugi. Parahnya lagi, wajah sahabat sendiri tidak tahu!,” Lanjut Faiz tanpa henti.
Sedangkan, si lawan bicara hanya diam sibuk mencerna semua yang telah terjadi dan didengarnya.
“Nih, akibatnya. Aku harus menutup wajahku terus kalau dekat Kamu. Kalau tidak, habis lengan Au...!” Teriaknya spontan menghentikan cuitannya.
Salsa mencubit kecil paha Faiz yang sejak tadi mengoloknya atas ketidak tahuannya. Salahnya juga sih terlalu cuek.
Faiz juga salah malah lebih parah. Harusnya tanpa ditanya, inisiatif bercerita jika dia orang kaya, kafe itu miliknya, uangnya banyak tidak diam.., saja.
Wajah jangan ditutup terus! Tahu begini Salsa ogah jadi temanya. Terlalu silau.
Pokoknya semua ini terjadi kesalahan sahabatnya bukan dia, dia tidak mencari tahu ya karena berteman dengan Faiz sebab cocok bukan karena yang lain.
“Sudah, ah. Ayo, Kita berangkat!” Ditarik tangan istrinya naik ke lantai atas untuk bersiap-siap.
Sesampainya di kamar Salsa kambuh lagi memarahi Faiz merasa dibohongi.
Sampai dirinya sama sekali tidak bisa menabung, semua uang habis untuk jajan mereka.
Faiz yang terus didesak disalahkan hanya bisa mundur-mundur dan terus tertawa hingga tanpa sadar sudah sampai diujung kasur.
“Iya ya. Maaf, Sa!," tawanya masih menertawakan.
Salsa yang belum puas mencerca tetap saja mendesaknya hingga terpelanting Faiz ke belakang, di sana ada handphone milik Salsa yang tergeletak mengenai kepala belakang.
"Aduh. pelan-pelan na, Sa! Sakit."
Lelaki itu kesal karena ulah kasar istrinya kepalanya terasa sakit “Salah sendiri!,” bentaknya balik.
“Sakit?” tanya Salsa mulai khawatir.
“Faiz!” teriaknya emosi dengan kaki menendang marah teman lelakinya dari belakang tapi sayang tidak kena.
Faiz hanya meniup ubun-ubun mendoakan kembali Salsa saat istrinya hendak memeriksa kepalanya, wanitanya salah mengartikan.
“Pantas diselingkuhi singa betina ternyata” ejek putra pak Wisnu tersebut seraya tertawa berlari menghindari kejaran istrinya yang berubah menjadi monster.
“Apa kau bilang?.”
Dikejarnya terus hingga dapat tapi terlalu jauh langkah suaminya membuatnya susah menangkap.
Dinaiki kasur untuk menghindari kejaran sang istri.
Ketika hendak turun telinga mendengar pintu dibuka seseorang otomatis langkahnya terhenti.
Salsa yang tidak tahu Faiz berhenti mendadak menabrak hingga terpental ke belakang.
Beruntung kasur milik suaminya besar jadi dia tidak sampai terbanting ke bawah lantai.
“Salsa!” teriak bu Rumi khawatir.
Faiz yang kaget teriakan mama langsung menoleh ke belakang membantu Salsa untuk duduk.
Dilihat apa ada luka yang menggores tubuh maupun kepala menantu.
Putri pak Hamdi menggeleng mengisyaratkan jika dia baik-baik saja tidak ada yang terluka.
“Maaf, Ma” Salsa merasa bersalah karena tidak sopan di rumah mertua.
Dibenarkan asal rambut yang berserakan lalu turun menghampiri mertua duduk dipinggir kasur.
“Tidak papa, Salsa tidak terluka?.”
Gadis itu tersenyum menggeleng. Bu Rumi membuka kotak perhiasan yang dipegang untuk mengambil kalung liontin berlian putih lantas dipasangkan ke leher menantunya.
Salsa menatap bingung, kenapa ibu mertua memberikan kalung cantik ini?.
“Tidak papa, Salsa. Semua menantu Mama, Mama berikan kalung sebagai kado dari Mama. Kak Mahya juga. Dipakai ya, sayang!.”
“Terima kasih, Ma.”
Dilihati terus kalung indahnya, baru kali ini ia melihat kalung secantik elegan ini.
“Sudah ayo berangkat! Kita tinggal sebagian baju Kamu di sini. Nanti kalau baju yang Kita bawa kurang Kita beli lagi. Jangan ditolak lagi!.”