“Tapi, kalau Fanya lebih suka baju seperti ini nanti Kita belanja yang banyak ya? Mas suka.” “Deg,” Fanya cukup terkejut mendengar ucapan terakhir kakak tirinya “Mas suka,?” kenapa terdengar agak gimana saat pria di sampingnya berkata begitu? Apa mungkin gara-gara rasa ini. Fanya menunduk kembali tersadar dia siapa, tidak mungkin. Harusnya sudah dari dulu ia buang rasa ini meski sulit apalagi setelah kejadian… pasti yang ada hanya kebencian di hati orang yang dicintai dalam diam. Tidak mau lagi berpikir yang membuatnya terbang sampai lupa daratan lantas diambil baju baru miliknya pemberian ibu tadi untuk minta izin di bawa pulang. Fanya menunduk berjalan lebih dulu ke orang yang banyak jasa selama ini setelah memutuskan pergi dari rumah. “Bu, Saya izin membawa baju yang dibelikan ibu.

