Bandara .... Aku dan mas Hendrik duduk tenang menunggu kedatangan pesawat yang akan membawa kami terbang. Aku masih belum mampu mengungkap misteri tengkorak dalam kuali, aku belum mampu mengungkap motif dari penyekapan Nenek Aminah, aku belum mampu mengungkap semua teka-teki di rumah Nenek Inur. Meski mengungkap memang bukan tugasku tapi setidaknya aku mampu memberikan titik terang. Aku gagal. Terlebih ketika mereka memerintahkan aku pulang ke Jawa. Aku ingin menolak, tetapi mereka mengkhawatirkan keselamatanku. Itu sebabnya aku pasrah. Aku tidak punya pilihan lagi selain mengiyakan saja. Meskipun sia-sia rasanya pulang tanpa membawa hasil. Namun setidaknya aku akan bercerita tentang hal ini pada mamah di rumah. Mamah pasti tidak menyangka. Aku mencoba tenang dengan duduk diam seraya

