NABAWI DI DEPAN MATA

1823 Kata

Jeddah di depan mata. Semua masih terasa biasa saja, tidak ada yang bergetar, tidak ada yang berbeda, semua masih terasa sama seperti di tanah air kemarin. Hanya seperti seseorang yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Hanya begitu saja. Kami naik ke dalam bis masih dengan rombongan. Aku duduk di bangku belakang dengan tenang. Bahkan ketika seorang teman membagikan box kue dan buah aku menerimanya biasa saja seolah tanpa ekspresi. Biasa, sangat biasa. Jeruk manis menjadi santapan pertamaku, semua tetap masih seperti di Indonesia. Oh... Indonesia memang tak pernah tergantikan. Aku juga bingung kenapa badanku letih sekali, seperti remuk. Aku merasa sangat lelah. Kota yang gelap. Sepanjang jalan aku hanya melihat beberapa lampu saja sekali lagi beda sekali dengan Indonesia, Indon

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN