Chapter 3a

818 Kata
Ailee terbangun pada tengah malam karena suara hujan dan mendapati tempat tidur di sebelahnya kosong. Sambil meraba dalam gelap, dirasakannya permukaan kasur yang berada di sebelahnya begitu dingin, menandakan bahwa orang yang sebelumnya berada di sana sudah menghilang sejak lama. Ailee bangun dan menghidupkan lampu. Perlahan ia turun dari tempat tidur dan memanggil suaminya. “Mike, kau dimana?” panggilnya. Tapi tidak ada sahutan yang terdengar. Sambil menyapukan pandangan ke sekeliling Ailee berjalan menuju boks bayi tempat putranya tertidur dan mendapati bayi tersebut tengah terlelap dengan sangat nyaman. Sama sekali tidak terganggu oleh bunyi hujan yang sedang membasahi bumi di luar sana. Setelah dapat memastikan putranya sama sekali tidak terganggu dalam tidur, Ailee melangkah menuju kamar mandi. Tapi saat ia membuka pintu, kamar mandi tersebut terlihat kosong. Tidak terlihat sosok Mike di dalam sana. Sekali lagi ia memanggil Mike untuk memastikan jika pria itu memang sedang tidak berada di sana. Setelah dua kali memanggil nama Mike dan tidak mendapat jawaban apa pun, Ailee memutuskan untuk menyusul Mike ke ruang kerjanya. Siapa tahu suaminya itu teringat akan pekerjaannya yang sempat terlupakan karena mencoba tidur lebih awal atas permintaan Ailee tadi. Setelah mengenakan jubah tidurnya Ailee berjalan menuju pintu. Sambil memegang handle, ia menoleh sekali lagi ke arah boks bayi Aaron untuk memastikan. Setelah ia rasa Aaron memang terlihat baik-baik saja bila ia tinggalkan sebentar, Ailee pun melangkah keluar. Di luar kamar koridor cukup gelap. Hanya ada lampu dinding sebagai penerang jalan. Suara hujan yang turun deras di luar sana yang sesekali disambut dengan tiupan angin membuat Ailee bergidik ngeri. Ia berharap semoga tidak ada petir yang muncul, sehingga Aaron tidak perlu terkejut dari tidurnya dan menangis karena mendengar suara petir itu selama ia sedang pergi menyusul Mike. Ailee melirik ke koridor di belakangnya. Tidak terlihat apa pun di ujung sana karena setelah dinding yang berada di ujung, ada belokan yang mengarah ke loteng tempat penyimpanan barang yang biasanya dibiarkan gelap saat malam hari. Tempat ia tertidur saat dibius Claire dahulu. Merasa tidak yakin jika Mike pergi ke sana, Ailee kembali membalikkan badan dan berjalan menuju ruang kerja Mike. Saat berjalan sepanjang lorong menuju ruang kerja Mike yang juga berada di lantai dua sayap timur, Ailee sesekali melirik ke jendela yang terdapat di salah satu sisi koridor, yang mana memperlihatkan bentangan malam yang sedang diguyur hujan di luar sana. Pohon-pohon yang berbaris di pinggiran hutan bergerak-gerak karena tiupan angin. Dengan ranting kosong yang telah menggugurkan daunnya, serta ditambah guyuran hujan menjadikan pemandangan di luar sana layaknya film horror yang mencekam. Ailee menepis pikiran konyolnya yang membayangkan pohon yang bergerak-gerak itu layaknya seorang monster yang akan datang sambil mengetuk-ngetuk jendela kamar di tengah hujan badai. Ia merutuki imajinasinya yang datang di waktu yang salah itu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan segera berlalu dari jendela tersebut. Setibanya di ruang kerja Mike, Ailee membuka pintu dan mendapati ruangan itu gelap gulita. Sambil meraba pada dinding, Ailee menekan saklar untuk menghidupkan lampu dan berharap menemukan sosok Mike yang tengah tertidur di meja kerjanya atau sofa yang ada disana. Tapi hal itu ternyata tidak terjadi seperti bayangannya, ruang kerja Mike kosong. Bahkan meja kerjanya bersih dari tumpukan kertas, map, dan berbagai atribut lain yang biasa ada di sana saat Mike sedang bekerja. Ailee mematikan lampu sambil mengerutkan dahi. Tidak biasanya Mike pergi diam-diam di tengah malam seperti ini. Ia lalu melangkah keluar sambil berpikir kemana tempat yang akan Mike kunjungi tengah malam seperti ini. Setelah diam di depan ruang kerja Mike selama beberapa saat, Ailee akhirnya menemukan tempat yang paling mungkin dikunjungi Mike di waktu seperti ini. Dapur. Ya, dapur. Mungkin suaminya itu merasa haus atau lapar di tengah malam lalu memutuskan untuk mencari sesuatu di dapur tanpa membangunkannya. Tidak ingin merepotkan dirinya, pikir Ailee. Ailee berjalan menyusuri tangga dan melangkah melewati hall yang gelap menuju dapur. Saat pintu dapur telah tertangkap oleh matanya, Ailee mendapati seberkas cahaya yang tidak terlalu terang muncul dari dalam kegelepan ruangan itu. Segera saja ia melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Setibanya di dapur, seperti dugaannya, Ailee mendapati Mike sedang duduk di depan meja kayu yang biasa dipakai Gloria dan regu memasaknya untuk meletakkan bahan masakan yang akan mereka masak. Mike terlihat seperti tidak menyadari kehadirannya dan sepertinya tengah asik menyantap sesuatu. Ailee perlahan berjalan mendekati Mike dari arah belakang. “Sepertinya kau begitu kelaparan sampai lupa mengenakan jubah tidurmu,” seru Ailee sambil meyentuh pundak Mike yang telanjang. Mike sedikit terlonjak karena kaget, tapi ia tidak berteriak. Membuat Ailee tersenyum dan menarik kursi untuk duduk di sebelahnya. “Sedang makan apa?” tanya Ailee sambil berusaha memokuskan pandangannya pada hidangan yang ada di hadapan Mike dalam penerangan cahaya lampu remang-remang dari dinding di dekat lemari es. Mike mengunyah makanannya lalu susah payah menelan sebelum menjawab. “Kau mengagetkanku,” ujarnya lalu meraih gelas dan minum. “Ini, rasanya enak sekali.” Mike meletakkan gelas di sebelah kirinya lalu menunjuk pada piring kaca persegi yang ada di hadapannya. Ailee mengangkat sedikit punggungnya untuk melihat apa yang ditunjuk Mike agar lebih jelas, dan terpekik pelan saat menyadari apa yang dilihatnya. “Itu daging mentah, Mike! Astaga.” *** Bersambung... Yang udah baca Geheimnis pasti paham nih kenapa. Hehe...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN