Chapter 3b

1988 Kata
Mike menghentikan tangannya yang hendak menyuapkan seiris lagi daging mentah ke dalam mulut lalu menatap ke dalam piring yang ada di hadapannya lekat-lekat. “Benarkah? Astaga… kurasa daging ini sudah dimasak.” “Itu baru saja dibeli Gloria tadi sore dan sedikit dibubuhi garam dan merica untuk diolah besok. Apa kau tidak merasa aneh saat mengunyahnya?” Ailee menarik piring itu dari hadapan Mike dan memeriksanya. “Kau sudah menghabiskan setengahnya?!” pekik Ailee tak percaya. Mike mengangguk kaku. “Tapi… rasanya sungguh enak,” ujarnya dengan wajah bingung. Ailee mencoba menggigit satu potong daging kemudian buru-buru berlari ke bak cuci piring dan memuntahkannya. “Kau tidak apa-apa?” tanya Mike yang berlari menyusulnya dengan khawatir. Ailee mencuci mulutnya dengan air lalu menoleh pada Mike. “Aku tidak apa-apa, tapi apa kau baik-baik saja?” tanya Ailee sambil mengamati wajah Mike. Ia lalu meraih sebuah serbet dan membasahinya untuk membersihkan sisa darah yang menempel di sudut bibir Mike. “Aku? Aku baik-baik saja. Hanya… ya, kelaparan,” ucap Mike ragu. Ia ingin sekali mengatakan kalau ia sepertinya berjalan sambil tidur menuju dapur dan langsung membuka lemari es, menemukan daging itu, memanaskannya sebentar hingga tidak beku lagi, dan memakannya. Tapi ia tidak ingin istrinya khawatir, jadi terpaksa ia menyimpannya seorang diri. “Kalau begitu biarkan aku memasakkan sesuatu untukmu.” Ailee meletakkan serbet lalu berjalan menuju lemari es. “Tidak bisa kupercaya kau telah memakan daging mentah karena lapar.” Mike mengikutinya dari belakang. “Tidak perlu, Honey, aku sudah kenyang,” katanya jujur. Lebih tepatnya lagi karena mendadak merasa mual. Ailee membalik badan dan menatap Mike dengan dahi berkerut. “Bagaimana bisa kau salah ambil makanan? Bukannya daging itu diletakkan Gloria di dalam freezer?” Mike menelan ludah bingung. Sebenarnya ia sendiri tidak ingat bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia hanya ingat tiba-tiba saja mendapati dirinya sudah duduk di dapur dan sedang memakan daging itu. Akan tetapi, seberkas ingatan saat ia membuka plastik wrap dari atas tempat daging tersebut dan memasukkannya ke dalam microwave selama beberapa saat melintas di kepalanya. “Kupikir itu makanan beku,” ujarnya berbohong. “Tapi aku sempat memasukkannya ke dalam microwave tadi.” Ailee menggelengkan kepala dan menghela napas sambil menatap Mike iba. “Sayang, seharusnya kau membangunkanku jika merasa lapar. Lihat akibatnya, kau yang tidak terbiasa di dapur akhirnya salah memilih makanan. Meskipun kau sudah memasukkannya ke dalam microwave, tetap saja dagingnya belum matang. Hanya menghilangkan bekunya saja. Lihat, jika sudah matang tidak mungkin dagingnya masih berdarah dan menempel di sekitar bibirmu seperti tadi,” ujar Ailee sambil mengusap wajah Mike dengan sebelah tangannya. Mike semakin merasa mual mendengar ucapan Ailee yang mengatakan dirinya telah memakan daging mentah yang masih berdarah. “Lagi pula bukannya kau tidak suka daging mentah? Maksudku yang setengah matang saja kau tidak mau memakannya. Kenapa kau tidak bisa membedakan yang sama sekali belum matang seperti tadi?” tanya Ailee lagi yang membuat Mike semakin terpojok. “Ehm… mungkin karena aku merasa sangat lapar sehingga tidak lagi peduli dengan rasa makanan di mulutku,” jawab Mike dengan harapan agar Ailee berhenti menanyainya lagi. “Hmmm… bisa jadi. Sampai-sampai kau lupa mengenakan bajumu juga.” Ailee tertawa sambil mengusap d**a Mike yang tak tertutup apa pun itu. Mike memang terbiasa tidur hanya dengan celana saja, ia tidak suka mengenakan atasan. Tapi ia sama sekali tidak suka jika harus melakukannya di luar kamar. Hal ini benar-benar aneh dan semakin mengganggu pikiran Mike. “Kau tahu,” Ailee mengangkat kepala dan menatap wajah Mike dengan senyum geli, “jika salah seorang pelayan memergokimu dengan hanya mengenakan celana piama dan bertelanjang d**a seperti ini, bisa kupastikan pelayan tersebut akan mimisan, lalu menjerit kemudian pingsan.” Mike seketika langsung tertawa mendengar ucapan istrinya itu lalu menarik Ailee ke dadanya. Kata-kata Ailee barusan membuatnya melupakan sesuatu yang sempat mengganggu pikirannya tadi. Istrinya ini memang benar-benar pengalih perhatian nomor satu. “Kalau begitu cepat tutupi aku!” ucapnya pura-pura panik, seolah-olah memang ada pelayan yang telah memergoki mereka saat itu. Mike menempelkan punggungnya ke pintu lemari es dan memeluk Ailee di dadanya. “Tidak mau.” Ailee berpura-pura ingin melepaskan diri. “Salah sendiri karena tidak membangunkanku,” ujarnya pura-pura merajuk. Mike terkekeh lalu semakin mengeratkan pelukannya sehingga d**a mereka yang berhadapan saling menekan kuat. “Omong-omong, kau sedang tidak mengenakan bra ya?” tanya Mike dengan nada menggoda serta senyum usil. Ailee langsung menunduk malu, membuat Mike akhirnya merasa senang untuk semakin merapatkan tubuh mereka. “Sepertinya aku tahu siapa pelaku yang melepaskannya,” bisiknya seraya menunduk menatap Ailee. Meskipun sekeliling mereka nyaris gelap dan hanya ada satu lampu yang dinyalakan, Mike tahu bahwa wajah istrinya itu kini tengah bersemu merah karena malu. Ailee mencoba memalingkan wajah dan menoleh ke arah samping. Meskipun usia pernikahan mereka telah lebih dari satu tahun, jika Mike telah menggodanya, Ailee masih saja tetap  menampilkan rona merah di wajahnya. Lengan Mike yang mengelilingi tubuh Ailee menariknya semakin mendekat dan membuat Ailee tiba-tiba saja langsung menggigil. Tentu saja bukan karena hawa dingin yang menerpa kulitnya, melainkan karena getaran halus yang muncul akibat dari sentuhan yang baru saja terjadi. Gaun tidur tipis itu tidak dapat menghentikan gelombang kecil yang meletup-letup dan mengalir secara konveksi dari d**a Mike pada dirinya. “Jangan mulai.” Ailee memperingatkan. “Dasar mesum.” Mike menutup  mulutnya untuk tidak tertawa. Istrinya ini memang sangat mudah untuk digoda. Terkadang Ailee akan membalas dan menantang balik godaan Mike, tapi itu sangat jarang terjadi. Ailee lebih sering menunduk malu dengan pipi yang merona dan Mike sangat menyukai hal itu. “Hmmm… kalau begitu posisi kita sama ya,” seru Mike untuk membawa mereka kembali ke topik semula setelah puas menggoda istrinya. “Bagaimana bila seorang pelayan laki-laki melihatmu berjalan dengan gaun tidur tipis yang mencetak lekuk tubuhmu ini? Masih berani berjalan seorang diri tanpa bantuanku untuk menutupinya?” Sebelah tangan Mike mengangkat dagu Ailee agar mereka bisa saling tatap. “Aku mengenakan jubah tidur.” “Tapi tetap saja memperlihatkan lekuk tubuhmu dengan jelas,” bisik Mike tersenyum manis. “Aku tidak mungkin bertemu dengan pelayan laki-laki dalam keadaan seperti ini,” kata Ailee pura-pura galak. “Oh ya? Memangnya kenapa?” “Karena, jika mereka berani melangkah mendekatiku kau pasti telah membunuh mereka lebih dulu,” jawab Ailee lalu menempelkan wajahnya ke d**a Mike. Mike lagi-lagi terkekeh lalu mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala Ailee di dadanya. “Ya dan aku akan menusuk bola mata mereka karena sudah berani kurang ajar menatap tubuh istriku,” desisnya lalu menempelkan satu sisi wajahnya di puncak kepala Ailee. “Jangan keluar dari kamar kita hanya dengan mengenakan gaun tidur seperti ini lagi, oke,” bisik Mike lembut lalu mengecup puncak kepala Ailee. Kepala Ailee bergerak membentuk sebuah anggukan. “Maaf, aku hanya panik karena tiba-tiba terbangun dan kau tidak ada. Saat mendapati ruang kerjamu kosong, aku langsung melangkah menuju dapur tanpa ingat untuk mengganti baju lebih dulu.” Mike mengecup puncak kepala Ailee sekali lagi. “Tidak apa-apa, jangan kau ulangi lagi saja,” ujarnya dengan suara pelan. Ailee mengangguk lalu menoleh ke d**a Mike dan mengecupnya. Membuat Mike tersenyum merasakan bibir hangat istrinya itu menyentuh kulitnya. “Hmmm… sudah lama sekali rasanya,” seru Mike sambil menghela napas. “Apa?” tanya Ailee seraya menengadahkan lagi kepalanya. “Kita berdua berada di dapur pada tengah malam.” Mike tersenyum menatap kedua bola mata istrinya. “Masih ingat? Dulu istriku sering merasa lapar pada tengah malam dan ingin makan sereal.” Ailee tersenyum malu lalu kembali merebahkan kepalanya ke d**a Mike. “I-itu,” ucapnya tergagap. Merasa malu karena saat itu ia begitu membenci Mike dan tidak pernah berbicara lembut padanya selain marah-marah. Sambil tersenyum Mike menggerakkan tangannya untuk mengusap perut Ailee yang kini sudah kembali rata. “Saat itu si kecil Aaron masih berada di sini,” bisiknya lalu mendekap Ailee lebih erat. Ailee bergumam untuk menjawab kata-kata Mike, lalu membalas pelukan suaminya itu sama eratnya. Kejadian waktu itu tentu saja tak bisa dilupakan begitu saja. Mereka berdiri diam dalam beberapa saat dan hanya saling berpelukan. Sama-sama berada dalam pikiran masing-masing untuk mengenang malam itu. Tapi beberapa saat kemudian, dalam suasana nyaman yang melingkupi mereka berdua, tiba-tiba saja Mike menjauhkan tubuh Ailee dan menatapnya panik. “Aaron!” serunya dengan wajah cemas. Ailee tersentak dan seketika tersadar karena ia telah meninggalkan Aaron seorang diri di kamar cukup lama. Ooh, bagaimana bila ia menangis? Paniknya dalam hati. “Ayo kembali ke kamar.” Ailee langsung menarik tangan Mike menuju pintu dapur dan mereka berdua segera bergegas kembali ke sayap timur. Ia mengutuk dirinya yang begitu tega melupakan putra mereka seorang diri di sana dan merasa sangat bersalah. Setibanya di sana, rasa bersalah yang memenuhi pikiran Ailee sejak di dapur tadi segera menguap. Si kecil itu ternyata masih tertidur dengan lelap di dalam boks bayinya. Anak baik yang tidak suka menyusahkan orangtuanya. “Oh, syukurlah.” Ailee menghela napas lega. “Mommy akan merasa sangat bersalah jika sampai membuatmu menangis.” Tangan Ailee mengusap kepala bayinya penuh sayang lalu mengecup kepala si kecil yang mulai bergerak-gerak karena tidurnya terganggu. Setelah Ailee, Mike pun juga melakukan hal yang sama. Direndahkannya kepala ke dalam boks bayi dan mencium kepala lalu pipi tembam Aaron bergantian. “Maafkan Mommy dan Daddy yang terbawa suasana dan melupakanmu,” bisiknya pelan. Ailee meringis mendengar ucapan Mike itu. Ini kali pertama mereka meninggalkan Aaron seorang diri tanpa ada yang menjaganya. “Ah, aku pasti membawa banyak kuman karena makanan yang kumakan tadi,” kata Mike penuh sesal setelah kembali berdiri. Ia yakin sisa darah dari daging yang dimakannya tadi masih menyisakan kuman di bibirnya mekipun telah dihapus istrinya dengan serbet. Ditatapnya Aaron yang kembali diam penuh dengan rasa bersalah. Tapi ternyata bayi kecil itu malah menyunggingkan senyum dalam tidurnya. Ailee melirik Mike dan tersenyum. “Lihat, dia merasa sangat senang menerima ciuman dari ayahnya. Dia pasti tidak akan jatuh sakit hanya karena hal kecil seperti itu.” “Apa tidak apa-apa?” tanya Mike terlihat ragu. “Anak kita adalah bayi yang sehat. Dia sudah memiliki kekebalan tubuhnya sendiri,” ujar Ailee menenangkan. Mike mengangguk tapi sesaat kemudian wajahnya mendadak berubah pucat. Ailee baru saja akan bertanya tapi Mike telah lebih dulu berlari ke kamar mandi. Ailee mengejar suaminya dan mendapati Mike sedang muntah di atas wastafel. “Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Ailee seraya mengusap-usap pundak Mike. Mike mengangkat sebelah tangannya, meminta Ailee menunggu karena ia masih ingin muntah. Dengan sabar Ailee mengusap tengkuk Mike hingga suaminya itu selesai memuntahkan seluruh isi perutnya. “Ternyata reaksinya cukup lambat,” kata Mike dengan wajah pucat setalah ia mencuci mulut dan menatap Ailee lewat pantulan kaca. “Tubuhku baru saja melakukan penolakan dengan makanan yang kumakan tadi.” Ailee mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Mike. “Apa kau yakin sedang tidak demam? Aku takut terjadi hal seperti waktu itu. Tubuhmu panas sekali dan kau juga muntah-muntah.” “Apa tubuhku sekarang terasa panas?” tanya Mike cemas. Ailee menggelengkan kepalanya. “Tidak, suhu tubuhmu saat ini terasa seperti biasanya. Apa kau merasa pusing?” Mike menggeleng. “Ehm… ya, mungkin ini memang seperti semacam penolakan dari tubuhmu atas makanan asing yang kau makan tadi,” kata Ailee membuat kesimpulan. Mike mengangguk satu kali lalu mencuci tangannya dengan sabun. “Kurasa aku harus menyikat gigiku lagi untuk menghilangkan rasa daging mentah yang tertinggal di mulut,” ujarnya kemudian mulai menyikat gigi. Ailee menunggu Mike dengan sebuah handuk bersih di tangan hingga Mike selesai menyikat giginya. “Mungkin aku tidak akan makan daging dalam beberapa hari kedepan,” kata Mike lalu mencuci mukanya. “Aku akan menyiapkan menu lain untukmu,” kata Ailee seraya menyerahkan sebuah handuk bersih pada Mike. “Tapi kau tidak kapok memakan daging kan? Hanya untuk beberapa hari ini saja?” Mike meletakkan handuk sambil menggeleng. “Tidak, tentu saja tidak. Kurasa aku hanya perlu waktu untuk melupakan rasa tidak enak yang entah kenapa bisa kutelan dengan mudah sebelumnya itu,” jawabnya lalu membawa Ailee keluar dari kamar mandi. “Masih mual?” tanya Ailee saat mereka sudah berbaring bersisian di tempat tidur. Mike sepertinya masih merasa tidak nyaman dan tampaknya sulit untuk tidur. “Sedikit,” jawab Mike jujur lalu menarik Ailee ke dalam pelukannya. “Mungkin sebuah pelukan bisa menghilangkannya,” ujarnya dengan senyum usil. “Jangan bercanda,” omel Ailee gemas. “Bagaimana aku bisa membedakan kau yang sakit dan sedang dalam mode usil jika kau selalu bercanda seperti ini setiap saat.” Mike terkekeh lalu mengusap pipi Ailee pelan sambil menatap ke dalam matanya. “Aku memang selalu butuh pelukanmu setiap waktu. Apa kau tidak menyadarinya?” “Tentu saja aku tahu,” jawab Ailee pelan. “Aku hanya mengkhawatirkanmu.” Ailee balas mengusap wajah Mike dengan sebelah tangannya. “Aku baik-baik saja. Aku memang hanya butuh sebuah pelukan.” Mike mengecup dahi Ailee lama. “Aku pasti akan mengadu padamu jika merasa sakit atau merasa tidak nyaman akan sesuatu. Jangan khawatir.” Ailee meraih kepala Mike dan meletakkannya di bawah dagu. “Tidurlah, kau bilang butuh sebuah pelukan bukan? Aku akan memelukmu sepanjang malam, Daddy yang lebih manja daripada Aaron.” Mike tertawa mendengar sebutan yang diberikan istrinya itu lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher Ailee. “Mommy, aku ingin minum susu.” “Berhenti bercanda!” Tawa Mike malah terdengar semakin keras. “I love you!” bisiknya mesra. *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN