Suara Mike dan tawa Aaron terdengar menggema dari arah pintu kamar mandi yang terbuka. Setelah meletakkan pakaian ganti dua orang lelaki yang dicintainya ke atas tempat tidur, Ailee bergegas menuju pintu yang terbuka tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Oke, waktu habis,” seru Ailee sambil menepuk kedua telapak tangannya hingga berbunyi.
Mike dan Aaron yang tadi terlihat sedang asik di dalam bathtub berbentuk setengah lingkaran yang berada di dekat bilik shower pun menoleh ke arah sumber suara. Aaron menjerit senang sambil menepuk-nepukkan tangannya ke atas permukaan air hingga menciptakan cipratan-cipratan kecil saat melihat sosok ibunya yang berdiri tidak jauh dari tempat ia dan ayahnya mandi. Rambut coklat tipisnya menempel sempurna di kulit kepala karena basah oleh air.
“Tidak mau bergabung?” tanya Mike dengan senyum menggoda lalu menggerakkan Aaron kesana kemari di dalam air, menciptakan gelombang kecil hingga membuat bebek-bebek dan kura-kura karet Aaron bergerak-gerak di atas permukaan air.
“Kita tidak akan mandi jika bersama-sama di dalam sana.” Ailee mendekat dengan handuk di tangannya. “Lebih tepatnya kau tidak akan membiarkanku mandi dengan tenang dan Aaron bisa dipastikan akan tenggelam karena orangtuanya punya “pesta bathtub” sendiri.”
Mike tertawa lalu mengangkat tubuh Aaron dari dalam air. Si kecil itu langsung menjerit protes karena merasa belum puas bermain air.
“Oke kali ini cukup jagoan, Mommy sudah menunggumu dengan handuk,” ujar Mike lalu menyerahkan Aaron pada Ailee. “Besok kita akan berendam air hangat lagi.”
Ailee membungkus tubuh Aaron yang sedikit memberontak dengan handuk lalu membawa pipi tembam si kecil ke depan hidungnya. “Hmmm… jagoan Mommy sudah tampan dan wangi,” kata Ailee sambil menggesek hidungnya ke pipi Aaron. “Tapi kenapa wangimu seperti Daddy?” Ailee mengernyit saat mendapati wangi berbeda yang tercium dari tubuh Aaron. Sampo dan sabun bayi milik Aaron sama sekali tidak tercium dari tubuh bayi itu.
Mike keluar dari dalam bathtub tepat saat Ailee mulai menatapnya tajam. “Kenapa?” tanya Mike seraya melilitkan handuk ke pinggangnya.
“Apa kau memandikan Aaron dengan benar?” tanya Ailee dengan mata menyipit curiga sambil mengikuti gerakan Mike.
“Ya, aku sudah menyabuni tubuhnya dan mencuci rambutnya juga,” jawab Mike dengan wajah polos lalu berjalan menuju wastafel.
“Dengan sampo dan sabunmu?” Ailee mengikuti di belakang Mike.
Mike mengoleskan wajahnya dengan krim cukur dan bergumam. Sambil melakukan hal itu, ditatapnya Ailee dari pantulan kaca yang ada di hadapannya. Dikeluarkannya pisau cukur dan mulai mencukur cambang di wajahnya. “Ya, memangnya kenapa?” tanya Mike dengan wajah tanpa dosa lalu menghentikan kegiatannya, menunggu Ailee menjawab.
Ailee mengeringkan rambut Aaron dengan handuk sambil balas menatap Mike. “Kau tahu kan kulit bayi itu sensitif, kenapa kau pakaikan sabun yang bukan untuk anak seusianya?” Ailee menggelengkan kepala tak percaya.
Mike mengangkat kepalanya sedikit ke atas tanda mengerti lalu melanjutkan bercukur. “Oh, itu tadi karena sabun bayi miliknya tidak menghasilkan busa sabun yang banyak. Aku dan Aaron tadi sedang bermain dengan busa sabun, membuat rambut dan janggut di wajahnya dengan busa-busa itu. Karena sabun bayi tidak bisa diandalkan, aku menggantinya dengan sabun dan sampoku. Mungkin sesekali tercium dengan wangi lelaki dewasa tidak masalah untuk Aaron,” jawab Mike santai dengan kekehan pelan.
Mendengar jawaban suaminya itu Ailee langsung mendekat. “Beberapa orang saja dapat menunjukka reaksi alergi pada sabun dan sampo tertentu, apalagi bayi . Jika setelah ini kulit Aaron iritasi atau rambutnya mengeras kau harus bertanggung jawab!” Ailee menepuk b****g Mike yang tertutup handuk dengan gemas lalu berlalu menuju pintu kamar mandi.
“Heiii… nyaris saja pisau ini melukaiku,” seru Mike yang terkesiap kaget. “Tangan yang nakal,” ujarnya sambil memutar tubuh dan menghentikan kegiatan mencukurnya. “Jika saja kau tidak sedang menggendong Aaron, aku akan membuat perhitungan denganmu.”
Ailee memeletkan lidah ke arah Mike yang sedang menunjuknya dengan pisau cukur lalu berjalan keluar dari kamar mandi.
“Awas kau, aku akan membalasmu,” seru Mike dari dalam kamar mandi, membuat Ailee tertawa senang.
“Aku tunggu pembalasanmu,” balasnya lalu membawa Aaron menuju tempat tidur yang sudah dipenuhi dengan perlatan bayi dan mulai mengeringkan si kecil.
Mike muncul beberapa saat kemudian setelah Ailee baru saja selesai memakaikan popok untuk Aaron. “Aku juga ingin dioleskan lotion serta baby oil,” kata Mike lalu duduk di sisi tempat tidur.
Ailee memasangkan jumper pada Aaron lalu mengangkat kepala menatap Mike. “Lalu apa kau juga ingin dipakaikan popok?” godanya lalu memasangkan kaus kaki di kaki Aaron yang bergerak-gerak. “Selesai,” seru Ailee lalu melepaskan kaki si kecil. ”Sekarang kau bebas bermain.” Ailee mengecup pipi Aaron lalu membereskan peralata bayi dari tempat tidur.
Mike mengikuti gerakan istrinya yang berjalan menuju kamar bayi. “Jadi, apa setelah ini giliranku yang dikenakan pakaian?” tanyanya sambil menyerahkan sebuah mainan ke tangan Aaron yang berbaring di dekatnya.
Ailee tesenyum sekilas ke arah Mike sebelum melangkah masuk ke dalam kamar bayi. Tak lama setelah itu ia muncul kembali dan berjalan menuju Mike.
“Baiklah Aaron senior, ini apa?” Ailee menunjuk ke arah pakaian yang terlipat di atas bantal seraya duduk di dekat Mike.
Mike mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ailee dengan tatapan bertanya-tanya. “Pakaianku,” jawabnya bingung lalu kembali menoleh pada Ailee.
“Mana tanganmu?” tanya Ailee dengan nada seperti berbicara dengan Aaron.
Mike mengangkat kedua tangannya seperti anak kecil. “Ini tanganku, Mommy.”
Ailee tersenyum puas dan mengangguk. “Oke, sekarang lepas handukmu.”
Seperti anak kecil yang diperintah ibunya, Mike langsung berdiri dan melepas handuknya seperti yang diperintahkan. Memperlihatkan tubuh polosnya yang kini tidak tertutupi sehelai benang pun itu tepat di depan wajah Ailee.
Sepersekian detik Ailee terdiam sambil menelan ludah karena tergoda dengan pemandangan di depan wajahnya. Lalu saat tersadar beberapa detik kemudian, segera saja ia memalingkan mata ke wajah Mike. Suaminya itu ternyata kini sedang mengulum senyum menahan tawa padanya.
“Apa?” pelotot Ailee jengkel karena Mike sedang tersenyum mengejeknya.
“Tidak ada, hanya merasa senang karena Mommy terpesona dengan tubuhku,” jawab Mike masih dengan senyum mengejeknya.
Ailee menarik napas lalu mengembuskannya dengan tajam. “Oke, coba tolong ambilkan pakaian itu,” perintahnya untuk mengalihkan pembicaraan.
Dengan patuh Mike meraih lipatan pakaian tersebut dan menyerahkannya pada Ailee tanpa mengungkit obrolan mereka sebelumnya. Ia lebih penasaran dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu selanjutnya.
“Coba ambil pakaian mana yang harus kau gunakan lebih dulu.” Ailee mengangkat pakaian di tangannya ke arah Mike yang berdiri di hadapannya.
“Ini.” Mike meraih trunk berwarna hitam dan membukanya di hadapan Ailee.
Ailee mengangguk dan tersenyum puas. “Pintar, sekarang coba pakai.”
Menghela napas karena diperlakukan seperti anak kecil, Mike akhirnya memakai celana dalam tersebut di hadapan Ailee. “Oke sekarang pemandangan bagus telah ditutup. Selanjutnya apa, Mommy?”
Ailee tersenyum geli mendengar kalimat Mike barusan lalu mengulurkan sebuah celana panjang pada suaminya itu. “Sekarang pakai yang ini,” perintahnya. Dengan sabar Mike pun mematuhi perintah itu dengan baik.
“Dan yang ini.” Ailee menyerahkan potongan terakhir pakaian yang berada di tangannya setelah Mike mengancing celananya. Sekali lagi Mike mengenakan baju kaus tersebut dengan sabar.
“Jadi pada akhirnya aku memang harus memakai sendiri pakaianku ya,” gerutu Mike lalu ikut duduk di sebelah Ailee yang sedang menggoda Aaron. Wajahnya menekuk dengan ekspresi yang terlihat begitu sebal.
Ailee tertawa lalu kembali menoleh pada Mike dan tersenyum. “Kau mampu melakukan semuanya, bukan?”
Mike langsung memasang wajah cemberut, membuat Ailee memajukan tubuh dan mencium sudut bibirnya. “Jadi kau masih terus ingin bersaing dengan anakmu ya?” tanya Ailee lalu mengecup sudut bibir Mike yang lain.
“Menurutmu?” tanya Mike balik lalu merebahkan diri dan mulai mengganggu Aaron yang sedang menelungkup asik dengan mainannya.
“Ya, jika benar, itu berarti aku harus mengurus dua orang bayi sekaligus. Yang satu suka menangis dan yang satu lagi sangat manja.” Ailee ikut merebahkan diri di sisi Aaron yang lainnya, sehingga kini si kecil itu diapit oleh kedua orangtuanya.
“Ya dan yang sangat manja ini gemar sekali membuat menangis yang suka menangis,” seru Mike lalu mencium Aaron dengan gemas. Aaron menjerit-jerit marah, tapi ternyata hal itu tidak membuat Mike berhenti. Hidung, pipi, dahi, kepala, leher, pundak, semuanya mendapat serangan ciuman dari Mike, membuat Aaron yang sedang fokus pada mainannya merasa sangat terganggu.
“Oke, Daddy, cukup.” Ailee datang sebagai penyelamat ketika wajah Aaron mulai memerah dan siap untuk menangis. “Kau tidak ingin kita kerepotan seperti minggu lalu kan. Sangat sulit untuk menenangkannya jika sudah menangis.”
Mike menghentikan serangannya lalu menoleh pada Ailee dengan posisi menelungkup seperti Aaron. “Maksudmu?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Malam itu, saat kau sedang demam Aaron menangis sangat lama hanya karena popoknya penuh. Ingat bukan berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk membuatnya berhenti menangis,” ujar Ailee mengingatkan.
“Aa… Aaron menangis sangat lama? Aku tidak ingat,” kata Mike bingung. “Apa kau tidak tidur semalaman karena mengurusku dan si kecil?”
Kini giliran Ailee yang menatap Mike dengan dahi berkerut bingung. “Apa kau lupa, kita menggendongnya secara bergantian selama hampir satu jam karena Aaron tidak juga berhenti menangis.”
Mike menggeleng. Ia sama sekali tidak ingat sedikit pun. “Aku hanya ingat kau mengganti popok Aaron, lalu aku menggendongnya sebentar sehingga ia kembali tenang, kemudian kita pergi tidur. Dan pagi harinya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit.”
“Menggendongnya sebentar? Kau tidak ingat betapa repotnya kita malam itu? Kita menggendong Aaron secara bergilir karena tidak ada satu pun yang bisa membuatnya berhenti menangis.” Ailee menatap Mike tak percaya.
“Bukannya setelah kugendong Aaron berhenti menangis?”
“Dia kembali menangis satu menit setelah itu. Sepertinya sakit kepalamu sangat parah ya hingga membuatmu melupakan hal itu.” Ailee memandang Mike curiga.
“Eee… y-ya, mungkin karena sakit kepala itu. Aku hanya ingat kita menenangkannya sebentar lalu kembali tidur.” Mike tergagap karena mulai merasakan ada sesuatu yang ganjil di sini.
“Kurasa lebih baik kita memeriksakanmu ke dokter. Sudah kuduga kau tidak hanya demam dan terserang sakit kepala biasa malam itu.” Ailee menatap Mike khawatir. “Kau bahkan merasa kelaparan malam kemarin. Jadi apakah kau masih sering pusing atau sakit kepala?” Ailee bangun dan duduk di sisi tempat tidur. “Kurasa aku harus menelepon Ronald.”
“Tunggu.” Mike meraih tangan Ailee, menahannya agar tidak beranjak dari kasur. “Aku ingat… aku hanya sedikit lupa karena malam itu diserang kantuk berat. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah tidak merasa pusing dan sakit kepala lagi,” ujarnya berbohong. Mike mulai merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Tapi tidak ada yang boleh tahu lebih dulu. Ia ingin menyelidikinya sendiri.
“Kau yakin?” tanya Ailee dengan raut wajah penuh kekhawatiran. “Kau sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun di belakangku kan. Ingat janjimu itu, Mike.” Ailee menatapnya penuh harap.
“Ya, Sayang. Aku pasti akan melaporkan padamu bila merasa kembali pusing dan sakit kepala,” ujar Mike dengan perasaan campur aduk.
***
Bersambung....
Teman2 pembaca, tinggalin jejak kalian dong dg komen dan tap love. Saya senang banget baca komen kalian soal cerita yang saya tulis. Komen kalian tuh beneran jadi penyemangat.
Bab ini saya persembahkan untuk Mbak Diah Sulistiowati dan Mbak Noruma Takizawa. Makasih karena selalu setia sama Geheimnis dan Deep Purple ^^ *kirim pelukan online satu2*