Chapter 5a

1466 Kata
“Hey….” Mike menoleh saat Ailee melangkah memasuki ruang kerjanya. “Belum tidur?” Ailee menggeleng lalu melangkah kian mendekat. “Tidak bisa tidur,” jawabnya sedikit malu. Beberapa hari lalu musim gugur telah berganti menjadi musim dingin, dan Ailee merasa tidak nyaman bila ia harus meringkuk seorang diri di balik selimutnya. Jadi malam ini ia memutuskan untuk menyusul suaminya di ruang kerja. Mike tersenyum dengan sorot mata penuh cinta, lalu mengulurkan sebelah tangannya yang langsung disambut oleh Ailee dengan senyum manis. Perlahan, Mike menarik tangan Ailee menuju bibirnya dan mengecup punggung tangan itu. “Apa tidak apa-apa meninggalkan Aaron seorang diri?” Mike menarik Ailee untuk duduk di pangkuannya. “Kurasa tidak apa-apa, aku tidak akan lama.” Ailee duduk dan memainkan kerah jubah tidur Mike. Memusatkan perhatiannya di sana. “Apa kau masih lama? Kau sangat sibuk belakangan ini.” Wajahnya terlihat muram tapi Ailee masih tidak mau menatap wajah suaminya itu. “Ya, masih ada beberapa hal yang harus aku periksa.” Mike meneliti reaksi yang timbul di wajah istrinya saat ia mengatakan hal tersebut. Tampak sekali Ailee tidak suka dengan jawabannya itu. Namun istrinya itu tidak sedikit pun protes dan malah menundukkan wajahnya. “Maafkan aku,” ucap Mike kemudian. Ailee terkejut lalu mengangkat wajahnya. “Kenapa meminta maaf? Seharusnya aku yang mengatakan hal itu karena sudah mengganggumu.” Ia kembali menunduk dengan raut wajah penuh penyesalan lalu kini mulai memainkan kancing piyama Mike. Tersenyum, Mike mendaratkan sebuah ciuman di dahi istrinya. “Maaf karena belakangan telah begitu sibuk dan membiarkan kau tidur lebih dulu seorang diri.” Ditariknya kepala Ailee agar bersandar di dadanya dan dipeluknya dengan sayang. “Tidak apa-apa.” Ailee menggerakkan kepalanya membentuk sebuah anggukan dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di d**a Mike. Tangannya masih sibuk memainkan kancing piyama di d**a suaminya itu. “Kenapa?” “Hmmm?” Ailee menengadahkan kepala menatap suaminya. “Apa?” “Itu, apa ada yang menarik dengan kancing piyamaku?” tanya Mike dengan senyum menggodanya seperti biasa yang langsung membuat Ailee menunduk malu. Mike tahu ada sesuatu yang menganggu pikiran Ailee, tapi istrinya itu tampak enggan untuk mengutarakannya. “Tidak… tidak ada yang menarik dari kancing ini,” jawab Ailee lalu menghentikan tangannya. Ia kemudian menganggkat kaki lalu menggelungkan tubuh di atas pangkuan Mike. Mike tersenyum, menyandarkan punggungnya lebih dalam di sandaran kursi lalu memeluk istrinya lebih erat. “Aimee… Sayangku… Ratuku… Gadis kecilku,“ gumam Mike sambil mengusap lengan istrinya. “Aku bukan gadis kecil lagi,” protes Ailee yang membuat Mike terkekeh. Banyak panggilan sayang yang ia gunakan untuk istrinya itu dan Ailee selalu tidak suka bila ia menyebutnya dengan sebutan “gadis kecil”. “Tapi aku masih sering menemukan wajah gadis kecil itu di wajahmu,” ujarnya sambil mengusap puncak kepala Ailee. Gadis kecil yang menyihirnya tanpa sadar lalu mencuri hati dan pikirannya untuk gadis itu seorang. Mengikatnya dengan sebuah tali tak kasat mata dan muncul dalam setiap mimpi indahnya sepanjang tahun. “Ya, gadis kecil yang telah melahirkan seorang bayi kecil yang tampan,” balas Ailee yang membuat Mike tertawa. Ailee membenamkan wajahnya di d**a Mike dan menghirup wangi suaminya itu dalam-dalam. “Apa aku terlalu berat?” bisiknya pelan. Mike tersenyum menatap  langit-langit. “Hmmm… ya, ugh kau berat sekali. Sampai-sampai kakiku terasa kebas,” jawabnya pura-pura mengeluh. Ailee berdecak dan memukul d**a Mike pelan. “Bohong,” ucapnya dengan nada kesal. Mike tertawa lalu menunduk menatap istrinya yang sedang cemberut. “Kau bertanya apakah tubuhmu berat bukan? Secara tidak langsung kau sudah beranggapan demikian tentang dirimu. Aku hanya membantu meneruskan apa yang kau inginkan tapi kau malah protes.” Ailee masih memasang wajah cemberut, tidak menjawab perkataan Mike. Membuat Mike akhirnya mengusap pipinya dengan gemas. “Jangan marah, aku hanya bercanda. Tubuhmu masih terasa sama seperti saat aku pertama kali menggendongmu. Sama sekali tidak terasa berat,” bisiknya seraya mengangkat dagu Ailee dan mengecup bibir istrinya itu dengan mesra. Ailee tertawa dalam ciuman mereka lalu kembali menyandarkan tubuh ke d**a suaminya itu saat Mike melepaskan bibirnya. “Hmmm… Honey.” Mike mengeringkan tenggorokannya. Merasa mungkin inilah saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang disimpannya selama beberapa hari ini. “Sepertinya aku harus pergi ke Australia dalam waktu dekat.” Ailee menegakkan punggungnya dan menatap Mike hingga mereka berhadap-hadapan. “Ada proyek besar yang akan dikerjakan oleh cabang perusahaan yang ada di sana dan aku akan berada di sana untuk sementara waktu.” “Jadi, aku dan Aaron akan ikut bersamamu dan tinggal di sana beberapa waktu ya?” tanya Ailee polos. Mereka akan tinggal di belahan bumi yang lain untuk sementara waktu. Pikirnya dalam hati. Mike menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Ailee dengan wajah penuh rasa bersalah. “Honey, aku benar-benar minta maaf. Sepertinya aku akan lebih tenang bila kau dan Aaron berada di sini. Di sana aku akan menghabiskan waktu di kantor sepanjang hari dan akan pulang larut malam. Sementara bila kau dan Aaron berada di sini, ada Collin, Claire, dan juga Arthur yang selalu bisa datang untuk menemanimu kapan saja.” “Aku akan menunggumu pulang setiap malamnya.” “Aku tidak ingin kau menungguku setiap malam. Dan juga kau pasti akan merasa bosan hanya berada di apartemen sepanjang waktu.” “Aku bisa mengajak Aaron berjalan-jalan di luar pada siang harinya. Di sana sedang musim panas kan, tidak seperti kita yang sedang mengalami musim dingin di sini.” “Cuaca musim panas di sana tidak sama seperti yang kita dapat di sini. Suhunya bisa saja begitu ekstrim, panas menyengat dan membakar kulit bagi siapa saja yang tidak terbiasa dengan lingkungan itu. Lagi pula aku pasti akan mengkhawatirkan kalian sepanjang hari di kantor dan sulit untuk berkonsentrasi.” Ailee sedikit tersinggung dengan kata-kata Mike barusan. Secara tidak langsung Mike mengatakan dirinya dan Aaron akan sangat merepotkan di sana. Tapi Ailee mencoba untuk mengerti karena mungkin saja Mike memang mengkhawatirkan mereka. “Berapa lama kau akan berada di sana?” tanya Ailee sambil mencoba menghilangkan rasa sakit hatinya. Tadi Mike mengatakan akan berada di sana untuk sementara waktu. Ini pasti tidak sama seperti perjalanan bisnis biasanya. Mike mengerutkan dahi tampak berpikir. “Hmmm… mungkin satu bulan,” jawabnya ragu. Satu bulan? Selama itu? Ailee berkata dalam hati. “Apa memang harus kau yang pergi?” tanyanya dengan nada kecewa. “ Kenapa tidak Ronald saja?” Mike megusap kerutan di dahi istrinya dengan penuh penyesalan. “Dia baru saja kembali dari Jerman. Aku sudah mengirimnya kesana selama beberapa hari sementara istrinya sedang hamil besar. Aku tidak mungkin memintanya lagi untuk pergi ke Australia sementara istrinya sangat membutuhkan dirinya di sini.” Ailee teringat akan kehamilan istri Ronald dan langsung mengangguk setuju. Saat ini usia kandungan istri Ronald itu sudah memasuki bulan ke sembilan. Masa-masa dimana seorang suami harus selalu siaga di samping istrinya. Tapi tetap saja Ailee merasa tidak rela bila harus berpisah dengan Mike selama itu. Seperti bisa membaca pikiran istrinya, Mike berusaha menjelaskan kembali. “Sayang, aku juga tidak sanggup bila harus berpisah selama itu dengan kau dan Aaron. Tapi bagaimanapun ini adalah tanggung jawabku. Jika bisa memercayakannya pada orang lain mungkin sudah kulakukan sejak awal, hanya saja orang yang paling bisa kupercaya hanya Ronald. Aku merasa sangat jahat bila harus memintanya untuk pergi menggantikanku di saat ia dan istrinya sedang menunggu kelahiran putra ke dua mereka. “Aku sudah merepotkan Ronald terlalu banyak sejak ia menikah dulu.  Bahkan saat putra pertama mereka lahir, Ronald sedang pergi bersamaku. Aku tidak ingin membuatnya melewatkan kelahiran anaknya lagi demi kepentinganku.” Mike menghela napas panjang penuh penyesalan. “Akan sangat egois bukan bila aku bisa terus bersama-sama istri dan anakku, sementara ia harus pergi di saat istrinya sangat membutuhkan kehadirannya.” Dalam hati Ailee menyetujui kata-kata Mike. Seketika ia langsung mengutuk dirinya sendiri yang telah begitu egois tanpa memikirkan perasaan Ronald dan istrinya. Ia merasa sangat bersalah karena sempat berpikir meminta Ronald untuk menggantikan Mike tadi. Bagaimana bila dirinya yang berada dalam posisi istri Ronald saat ini. Ia sendiri tidak dapat membayangkan bila harus melahirkan seorang diri sementara sang suami berada di daratan benua yang berbeda. “Maafkan aku.” Ailee mununduk penuh penyesalan. “Sepertinya aku sudah keterlaluan.” Mike menatap  istrinya penuh rasa bersalah. “Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf karena harus meninggalkan kalian.” Mike merengkuh Ailee kembali ke dalam pelukannya. Ailee menggelengkan kepala. “Seharusnya aku bisa mengerti dan tidak menuntut terlalu banyak. Maafkan aku.” Ailee membalas pelukan Mike dengan penuh penyesalan. “Jangan berkata begitu.” Mike mengusap kepala Ailee pelan. “Ini pertama kalinya kita harus berpisah dalam waktu yang lama. Wajar bila kau merasa keberatan seperti itu.” “Tapi….” “Sudah, jangan menyalahkan dirimu lagi. Aku akan sering menghubungi kalian nanti. Kita bisa melakukan video call atau semacamnya.” Ailee mengangguk tanpa protes. Ya, setidaknya mereka masih bisa terus berhubungan bukan, meskipun tidak bisa saling berdekatan. Inilah yang harus ia terima sebagai istri dari orang nomor satu dari sebuah perusahaan raksasa yang memiliki cabang perusahaan yang tersebar di mana-mana. Selama ini ia sudah terbiasa dengan Mike yang pulang teratur dan selalu berada di sisinya saat ia membutuhkan. Jadi wajar bila ada sedikit rasa tidak rela bila mereka harus berjauhan. Ia belum terbiasa. Tapi kali ini dirinya harus siap. Ia kini adalah seorang ibu. Bukan lagi seorang wanita muda manja yang selalu ingin diperhatikan. “Aku pasti akan sangat merindukan kau dan Aaron,” desah Mike, menghentikan Ailee yang sibuk dalam pikirannya sendiri. Lalu tiba-tiba saja ia langsung mengulurkan tangan ke arah macbook-nya dan mematikan benda itu. “Kenapa dimatikan? Bukankah tadi kau bilang masih—aaaaahhh!” Ailee menjerit karena tiba-tiba saja Mike memundurkan kursi lalu berdiri dan mengangkat tubuhnya ala bridal style. “A-apa ini? Kenapa kau menggendongku?” Mike menjawab dengan senyuman lalu melangkah menuju pintu. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN